seorang anak kecil yang baru berusia 5tahun, ia ingin melakukan dendam akibat tantenya meninggal karna menyelamat kan nya. setelah ia beranjak remaja ia memulai melakukan dendam tersebut, dan rencananya ia akan bikin anak dari sang pembunuh jatuh cinta padanya dan meninggalkan nya. tetapi ia malah jatuh cinta pada gadis itu, dan siapa sangka ia tidak bisa melanjutkan balas dendam tersebut. tetapi karna permintaan sang mamah dan tidak akan membuat mamahnya kecewa ia akan melakukan balas dendam itu, walaupun harus merelakan orang yang ia cintai. namun ia tidak bisa untuk menyakiti hati orang yang ia cintai tapi apalah dayanya mamahnya selalu memaksa ia untuk melakukan balas dendam. dan ia semakin di buat bingung oleh keadaan, ia harus memilih salah satu ANTARA CINTA ATAU BALAS DENDAM.
penasaran sama ceritanya? sini dibacaa
jangan lupa follow dan vote di setiap bab nya ya gayss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 | Arti dari kata sang pembunuh
happy reading all🤞🤞
seiring berjalannya waktu, hari ini. hari dimana pertunangan yang tak diinginkan telah tiba.
Clarissa, menatap dirinya di pantulan cermin dengan senyum yang lebar.
"gue seneng banget hari ini, karna hari ini hari pertunangan gue dan afan"
"setelah tunangan terus gue bakal nikah sama Afan, dan Afan dia bakalan jadi milik gue sepenuhnya. dan Lo dev, lo kalah dari gue karna gue bakalan tunangan dengan Afan. apa sekarang hati Lo lagi ancur banget yaa?" gumamnya dengan senyum mengejek
di kediaman baskara, Afan terdiam mematung di kamarnya. hari ini? hari yang tak ia inginkan telah tiba. hari dimana ia dan-- tunggu Afan tak mau menyebutnya dengan nama, tetapi nenek lampir, itu nama yang bagus seperti orangnya, licik.
tok tok tok
"Afan?" panggil voke dari balik pintu kamar afan
"kamu udah siap siap fan?"tanya voke
"udah"
"oke kalo udah kamu turun ke bawah kita bakal segera berangkat ke acaranya"
"iya"
"kenapa mamah selalu maksa gua?"gumamnya lirih
devi, menatap kertas undangan pertunangan Afan dan Clarissa dengan tatapan yang sendu. apakah dirinya akan datang kesana atau tidak? tetapi jika ia datang hatinya akan terselimuti oleh rasa sedih, kesal, tak terima, semuanya menjadi satu. seperti es campur.
"gak nyangka Lo udah mau tunangan aja fan"
"harusnya yang ada diposisi ini itu gue bukan dia"
"lo licik Clarissa, licikk" teriaknya frustasi, ia mengacak acak rambutnya. Salma yang mendengar suara putrinya ia segera berlari dan menuju ke kamar devi.
tok tok tok
"devia? hey? kamu tidak papa kan?"tanya Salma khawatir
"aku gapapa Bun"jawabnya berbohong
"kamu yakin dev?"
"iya Bun"
"apa gue datang ke pertunangan nya Afan dan si nenek lampir itu aja ya?"tanyanya
"kalo gue datang hati gue bakal sakit, tapi mau bagaimana pun juga gue harus lupain Afan"
tungkling
suara notifikasi dari polsel devi
"Afan?"batinnya
ia segera mengambil ponselnya dan menjawab pesan afan.
Afan (17:35): dev Lo datang ke pertunangan gue kan?
Afan (17:36): sorry dev, gue gabisa buat ngegagalin pertunangan sialan ini
Afan (17:36): mamah gue selalu maksa
Devi (17:36): iya
hanya tiga kata itu yang mampu ia ketik, ia seharusnya tak datang kan? tapi devi punya rencana sesuatu, yang menyebabkan ia harus datang ke pertunangan sialan itu.
Devi keluar dari dalam mobilnya dengan gaya yang elegan, rambutnya yang panjang dan hitam ia biarkan tergerai dan tertiup angin. dress merah maroon melekat sempurna di tubuh devi. devi melangkah dengan tenang menuju tempat pertunangan afan dan clarissa, walaupun langkah devi tenang tetapi tidak dengan hati Devi.
devi berjalan dan terus berjalan, hingga langkahnya tiba tiba berhenti ketika ia melihat voke sedang menatap devi penuh kebencian.
"wauu sepertinya ada orang yang datang tak di undang nih"ejek voke
"maksud Tante?"tanya devi
"saya tidak di undang? terus undangan ini berasal dari mana kalo saya tidak di undang Tante voke?" devi memperlihatkan undangan pertunangan afan dan Clarissa itu, di depan voke.
"Afan yang undang kamu?" tanya voke geram, mengapa Afan malah mengudang Devi? fikir voke.
"Tante voke fikir apakah Devi tak boleh di undang nyonya baskara."tanya mala yang baru datang dengan vio di sampingnya
"tentu TIDAK!" jawabnya
"dia tak sepatutnya hadir di pertunangan afan, dia hanya anak dari sang pembunuh adik saya. dan itu dia tak boleh datang kesini!"tekannya
deg
"Tante bilang sang pembunuh?"tanya devi, ia berjalan mendekat tepat di hadapan voke.
tanpa sepatah katapun ia mengambil sebuah pisau lipat warna pink yang berada di dalam tas nya. dan mengarahkan nya tepat di hadapan wajah voke, dan itu membuat voke terdiam ketakutan.
(pisau lipat Devi)
"Tante mau tau apa arti dari kata sang pembunuh?"tanya Devi dengan senyum smirk nya
"jika Tante ingin tau apa arti dari kata sang pembunuh, pisau ini akan menancap tepat di leher Tante. dan akan merenggut nyawa Tante mungkin?"
"devi, apa yang kamu lakukan?"tanya voke was was, takut jika pisau itu akan menancap pada lehernya, seperti apa yang Devi bilang padanya.
"apa yang saya lakukan? saya hanya menunjukkan apa arti dari sang pembunuh saja. apakah itu salah, Tante?"tanya devi, ia masih mencodongkan pisau lipat tersebut di hadapan wajah voke.
"dev udah dev"cegah mala
"dev kok Lo bisa gini?"tanya vio, ia terkejut devi berani mencodongkan pisau ke arah voke? di depan umum seperti ini?
Devi melipat kembali pisau lipat tersebut dan memasukkan nya ke dalam tas lagi. ia mendekat ke arah voke tepat di telinganya, dan membisikkan sesuatu. "apakah Tante ingin kejadian tadi terulang lagi? jika ingin saya bakalan beneran nancapin pisau itu ke leher Tante"
voke sontak membeku di tempat, ia tak menyangka jika devi bisa berani mengancamnya seperti ini.
setelah membisikkan kalimat tersebut, devi langsung melangkah menjauh dari voke tanpa sepatah kata pun. ia berjalan dengan langkah yang tenang seolah hal tadi tak pernah terjadi. ia duduk di tempat yang sudah di sediakan untuk para tamu yang berdatangan.
"dev dev" panggil mala dan vio
"Lo kok berani banget si ngancem tante voke kek tadi"tanya vio
"kenapa gue harus gak berani?"tanya devi
"ihh tapi kan devv, Tante voke itu istri dari keluarga baskara"ucap vio
"gak perduli"jawab devi bodo amat
"gua kira Lo orangnya cuman bisa random dan suka hal hal yang lucu, gak nyangka banget gue kalo tadi itu beneran Lo"ucap mala
"yaa abisnya sii, Tante voke nyebelin banget"Jawab Devi
"mana dibilang dari anak sang pembunuh, yaudah lah sekalian gua tunjukin apa arti dari sang pembunuh, ketar ketir kan diaa, mamposss"ejek devi
"dev dev" gumam mala yang heran dengan tingkah Devi yang selalu berubah rubah seperti bunglon