Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 SEDIKIT RAGU
Di luar, suara adzan maghrib mulai terdengar dan Danu akhirnya pamit pulang
Ia menutup pintu perlahan dan berjalan ke ruang tamu. Duduk di sofa, Ara menatap ponsel yang masih menyala. Ia membuka chat Danu sekali lagi:
Ara: Udah sampe rumah, kan?
Tidak lama, pesan masuk:
Danu: Iya. Sampai dengan selamat.
Ara tersenyum kecil. Ia menulis lagi:
Ara: Makasih ya, hari ini… aku merasa lebih tenang.
Danu membalas cepat:
Danu: Bagus… itu yang penting. Kita sama-sama kuat, Ra.
Ara menatap layar lama. Lalu menambahkan:
Ara: Tapi kadang aku masih kepikiran komentar orang…
Danu: Gue juga denger, Ra. Tapi mereka cuma omongan. Kita nggak nikah buat ekspektasi orang.
Ara tersenyum sendiri, mengetik lagi
Ara: Iya… dan aku nggak mau berdiri di atas kamu. Kita sejajar.
Danu: Setuju. Kita sama-sama tegak, sama-sama saling dukung.
Ara memejamkan mata sebentar. “Teguh… dia teguh. Teguh dan nggak goyah,” gumamnya pelan.
Setelah itu, Ara menaruh ponsel di meja, berjalan ke dapur, menuang air, dan duduk di tepi meja sambil menatap gelasnya.
Ia memikirkan semua komentar yang masuk
Ia memandang ke luar jendela, langit malam gelap tapi bertabur bintang. Angin malam lembut menerpa wajahnya.
“Kalau aku hidup buat menenangkan omongan orang, capeknya nggak ada habisnya,” gumamnya sendiri.
Tidak lama, suara langkah kaki terdengar dari lantai dapur. Ibu Ara keluar dari kamar, tersenyum lembut.
“Belum masuk kamar, Ra?” tanyanya.
“Iya ” jawab Ara sambil menoleh.
Ibu Ara duduk di kursi dekatnya. “Banyak orang yang Ngomongin Danu, ya?”
Ara mengangguk. “Iya… Tapi pas Mas Danu kerumah rasanya lega, tapi juga aneh, Bu. Sejak unggahan lamaran itu, semua orang kayak pengen ngeremehin kita.”
Ibu Ara tersenyum tipis. “Orang memang suka membandingkan. Tapi yang penting, Nak, kalian saling percaya. Dunia luar nggak akan mengubah itu.”
Ara menatap mata ibunya. “Aku tahu, Bu… tapi capek juga, kadang pengen kabur dari semua komentar itu.”
Ibu Ara menepuk bahu Ara lembut. “Capek itu wajar. Tapi kamu nggak sendiri. Danu ada di sampingmu, kan?”
“Ada, Bu. Dia… dia tetap teguh. Bikin aku ikut tenang,” jawab Ara.
Ibu Ara menatapnya lama. “Nak… kamu tau nggak, dulu aku dan ayahmu juga sering dibanding-bandingin sama orang lain. Tapi yang penting, kalian berdiri tegak, saling mendukung. Itu yang bikin beda.”
Ara mengangguk. “Aku ngerti, Bu. Aku pengen kita berdua… sama-sama kuat.”
Ibu Ara tersenyum hangat. “Itu baru anakku. Tapi jangan lupa, Nak… orang lain boleh ngomong apa pun. Jangan biarkan itu merusak hati kalian.”
Ara menghela napas panjang. “Iya, Bu. Aku janji.”
Setelah ibu Ara kembali ke kamar, Ara duduk sendiri di tepi jendela. Ia menatap langit malam. Cahaya lampu jalan memantul di kaca jendela, memberi bayangan-bayangan lembut di dinding kamar. Ia menutup mata sejenak, membayangkan Danu pulang, tersenyum, dan tetap teguh meski komentar orang datang dari mana-mana.
“Esok hari… kita pasti masih diomongin orang,” bisik Ara dalam hati. “Tapi yang penting… aku dan Danu, kita udah sama-sama. Kita teguh. Kita saling mendukung. Kita siap menghadapi dunia.”
Ia menaruh ponsel di samping bantal, memejamkan mata, dan tersenyum. Malam itu terasa panjang tapi hangat, seperti janji yang tidak perlu diucapkan keras janji yang sudah tertanam kuat di hati mereka berdua. Hari di mana mereka tidak lagi ragu, tidak lagi minder, dan siap menghadapi komentar orang, dengan satu sama lain di sisi masing-masing.
Pagi itu, jam menunjukkan pukul 10. Ara baru saja selesai beres-beres rumah. Tangannya sedikit berdebu, tapi hatinya terasa ringan. Ia menepuk-nepuk tangan, tersenyum kecil.
“Hmm… pengen sesuatu yang manis. Pisang keju Mak Eti kayaknya pas banget hari ini,” gumamnya sendiri.
Ia membuka dompet, mengambil beberapa lembar uang, lalu berjalan ke rumah Mak Eti. Jalanan pagi masih sepi, udara hangat tapi segar. Di tengah perjalanan, ia menarik napas panjang. Rasanya beberapa hari terakhir setelah unggahan lamaran viral cukup melelahkan, tapi pagi ini, ia ingin menikmati sesuatu yang sederhana.
Sesampainya di rumah Mak Eti, aroma pisang keju hangat langsung menyapa. Mak Eti yang sedang menata pisang di etalase menoleh, wajahnya terlihat kaget tapi segera tersenyum.
Aroma pisang keju yang baru diangkat dari wajan memenuhi teras kecil itu. Minyak masih berdesis pelan ketika Ara datang dan berdiri di depan etalase.
Ara tersenyum ringan. “Mak, pesen pisang keju kayak biasa ya.”
Mak Eti yang sedang membalik gorengan menoleh. Matanya langsung menyipit jahil. “Ehh… Ara baru kesini? Aura baru lamaran udah kelihatan nih.” Tangannya tetap lincah memegang sutil.
Ara terkekeh kecil, senyumnya berubah canggung. “Ah, Mak… bisa aja sih kamu.”
“Halah, Nak. Dari senyummu aja udah beda. Orang habis dilamar itu kelihatan dari matanya.”
Ara menggeleng pelan. “Mak tau aja…”
“Lah, ibumu update status WA panjang banget. Ibunya Danu juga bikin. Mak kan punya nomornya. Jadi ya tahu.”
Ara menepuk keningnya pelan. “Pantesan… dari tadi yang ketemu di jalan pada senyum-senyum sendiri.”
Mak Eti terkekeh. “Hehe… kampung kita mah gitu. Satu kabar bisa muter lebih cepat dari motor Danu.”
Ara langsung menahan tawa. “Mak… jangan sebut-sebut motornya dong.”
“Loh kenapa? Malu?”
“Bukan malu…” Ara menunduk sedikit. “Cuma ya… takut pada ngomong macem-macem lagi.”
Mak Eti mematikan kompor, lalu menatap Ara lebih serius. “Ngomong apalagi?”
Ara menarik napas pelan. “Ya itu… soal beda ini itu. Soal aku yang katanya ‘anak kota’, soal Danu yang kerja bengkel…”
Mak Eti mendecak pelan. “Halah. Nak… orang itu kalau nggak ada bahan, tetap aja nyari bahan. Kamu capek kalau dengerin semua.”
Ara mengangguk kecil. “Iya sih, Mak… cuma kadang masuk ke hati juga.”
Mak Eti tersenyum hangat, membungkus pisang keju dengan rapi. “Masuk boleh. Tinggal lama jangan.”
Ara terdiam sebentar, memikirkan kalimat itu. “Mas Danu tadi juga bilang begitu.”
“Nah,” Mak Eti menyerahkan bungkusan itu. “Berarti dia ngerti kamu.”
Ara menatap bungkus hangat di tangannya, lalu tersenyum tipis. “Iya… dia ngerti.”
Mak Eti mengangguk puas. “Kalau begitu, kamu nggak usah takut sama omongan luar. Yang penting kalian satu suara. Itu lebih kuat dari apa pun.”
Ara mengangguk pelan. Kali ini senyumnya bukan lagi canggung—lebih tenang, lebih yakin.
Mak Eti meniup pelan bungkusan kertas cokelat itu sebelum menyerahkannya.
“Ini, pesanannya. Pisangnya udah jadi. Masih panas, hati-hati ya.”
Ara menerima dengan dua tangan. Hangatnya langsung terasa sampai ke telapak. “Makasih, Mak… wanginya enak banget.”
Mak Eti tersenyum bangga. “Ya iyalah. Resep lama ini. Dari dulu kamu juga sukanya yang keju agak banyak, kan?”
Ara tertawa kecil. “Mak masih hafal aja.”
“Lah, kamu dari SMA beli di sini terus. Masa Mak lupa.”
Ara membuka sedikit lipatan kertasnya, uap tipis masih keluar. “Kayaknya memang dari dulu, kalau lagi banyak pikiran, ujung-ujungnya ke sini.”
Mak Eti mengamati wajahnya. “Berarti sekarang juga lagi banyak pikiran?”
Ara diam sebentar, lalu tersenyum jujur. “Sedikit, Mak. Tapi nggak seberat kemarin.”
Mak Eti mengangguk pelan. “Bagus. Hidup itu nggak usah dibawa berat-berat. Kalau ada yang bikin ragu, ingat lagi alasan kamu milih.”
Ara menatap pisang kejunya, lalu mengangguk kecil. “Aku tahu alasannya, Mak.”
“Ya sudah. Pegang itu. Jangan dilepas cuma karena suara orang lain lebih keras.”
Ara tersenyum lebih mantap. “Iya, Mak.”
“Sekarang pulang sana. Makan yang manis-manis. Biar pikiran juga ikut manis.”
Ara tertawa pelan. “Mak ini ada-ada aja.”
Mak Eti ikut tersenyum. “Bahagia itu sederhana, Nak. Kadang cuma dari pisang keju hangat dan hati yang nggak lagi ragu.”
Ara mengangguk, membayar lalu melangkah pelan meninggalkan teras kecil itu. Hangat bungkusan di tangannya terasa seperti pengingat—bahwa tidak semua hal harus dijawab dengan pembuktian. Kadang cukup dengan keyakinan yang dijaga baik-baik.
Ara melangkah pelan menyusuri jalan kampung. Bungkusan pisang keju masih hangat di tangannya. Angin pagi menyentuh ujung rambutnya, membawa suara samar obrolan dari beberapa ibu-ibu yang duduk di teras rumah.
Beberapa pasang mata menoleh.
Ada yang tersenyum biasa.
Ada yang tersenyum penuh arti.
Ara membalas dengan anggukan kecil. Ia tidak berhenti. Tidak juga mempercepat langkah.
Di tikungan dekat warung kosong, dua perempuan setengah baya sedang berbincang pelan. Suaranya cukup jelas terdengar.
“Ya bagus sih dilamar… tapi sayang aja. Ara itu kan kuliah jauh, pernah tinggal di kota dan orang tuanya punya ternak banyak masa dapatnya kaya Danu minimal anak kades lah”
“Iya… Danu cuma punya bengkel. Beda jauh”
Langkah Ara melambat sepersekian detik.
Hanya sepersekian detik.
Lalu ia kembali berjalan seperti biasa.
Tangannya menggenggam sedikit lebih erat bungkusan itu, lalu perlahan mengendur lagi.