NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 TIDAK SEPADAN???

Dulu, saat SMA, Danu hanya sosok kakak kelas yang jarang bicara. Sementara Ara dikenal cukup selektif, bahkan sering menolak saat ada yang mendekati.

Tak ada yang tahu kalau di waktu yang sama, Danu pernah diam-diam menyimpan rasa lalu menguburnya karena merasa tidak cukup.

Kini, justru ia yang datang melamar.

Siang itu, Ara dan Danu akhirnya saling menelepon.

“Kamu juga ramai?” tanya Ara lebih dulu.

Danu tertawa kecil “Lumayan”

“Aku sampai ditanya kenapa nggak pernah publish”

“Kamu jawab apa?”

Ara tersenyum.

“Aku bilang nggak semua yang serius harus diumumkan dulu”

Danu terdiam beberapa detik.

“Dek”

“Iya?”

“Kamu keberatan nggak kalau orang-orang mulai tahu?”

Ara berpikir sejenak.

“Enggak. Selama kita tetap sama”

“Maksudnya?”

“Selama kita nggak berubah cuma karena sekarang orang tahu”

Danu mengangguk pelan, meski Ara tak bisa melihatnya

“Aku nggak mau hubungan ini jadi tontonan”

Ara tersenyum lembut “Aku juga”

Hening sejenak.

Lalu Ara berkata pelan “Mas… kamu kepikiran nggak?”

“Apa?”

“Dulu kamu pendiam waktu SMA. Sekarang orang-orang justru kaget kamu yang melamar aku”

Danu tertawa kecil, tapi ada napas panjang di baliknya.

“Aku nggak peduli kagetnya mereka”

“Lalu?”

“Aku cuma peduli kamu nggak pernah lihat aku dari latar belakang”

Ara terdiam.

“Aku lihat kamu dari cara kamu konsisten dan berani” jawabnya pelan.

Di seberang sana, Danu tersenyum tanpa sadar.

Sore harinya, satu unggahan lagi baru muncul.

Bukan dari sepupu.

Bukan dari teman.

Tapi dari Ara sendiri.

Foto sederhana cincin di jarinya dengan latar belakang cahaya matahari sore.

Caption-nya singkat:

“Bismillah. Langkah baru, pelan-pelan.”

Tidak ada tag berlebihan.

Tidak ada cerita panjang.

Hanya itu.

Dalam hitungan menit, komentar berdatangan.

Ucapan selamat.

Doa-doa.

Emoji hati.

Danu melihat unggahan itu beberapa menit kemudian.

Ia tidak langsung berkomentar.

Ia hanya menekan tombol like.

Lalu mengirim pesan pribadi.

Danu: Pelan-pelan ya

Ara: Iya.

Danu: Aku nggak mau kita kebawa euforia

Ara: Iya maaf ya ini foto terakhir kok yang di post hehehe.....

Malamnya, saat suasana kembali tenang, Ara duduk sendirian di kamar.

Ia memikirkan satu hal

Hari ini, banyak orang tahu tentang status barunya.

Tapi tidak satu pun dari mereka benar-benar tahu

Di sisi lain, Danu menatap layar ponselnya yang kini lebih sepi.

Ia teringat masa SMA.

Saat hanya bisa memandang dari jauh.

Saat merasa selera Ara terlalu tinggi untuk anak petani sepertinya.

Dan ia datang dengan itu.

Sebelum tidur, Danu mengirim satu pesan lagi.

Danu: Dek

Ara: Iya?

Danu: Kangen heheheh...

Ara tersenyum di balik layar.

Ara: Iya

Tak lama, pesan dari Ara masuk.

Ara: Mas?

Danu: Iya?

Ara: Maaf ya

Danu mengernyit kecil.

Danu: Maaf kenapa?

Ara: Tadi malam aku post dan tag kamu. Nggak bilang dulu.

Danu tersenyum tipis.

Danu: Kamu takut aku nggak nyaman?

Ara: Sedikit

Beberapa detik berlalu sebelum balasan datang.

Danu: Aku nggak masalah

Ara menatap layar cukup lama.

Danu: Justru aku senang kamu nggak sembunyiin aku tapi jangan terlalu terumbar banget

Kalimat itu membuat dada Ara terasa hangat.

Ara: Iya...

Pagi harinya kabar lamaran mereka benar-benar menyebar luas di lingkaran pertemanan.

Grup alumni SMA ramai dari semalam waktu Ara tidur

“INI SERIUS DONG?”

“Danu yang dulu pendiem itu?”

“ARA SELERANYA TURUN APA NAIK NIH?”

Komentar terakhir membuat Ara menghela napas.

Ia menunjukkan layar ponselnya pada Nisa yang sedang video call.

“Kenapa sih orang masih suka bercanda kayak gitu?” gumam Ara pelan

Nisa mengangkat bahu “Namanya juga netizen lingkaran sendiri. Jangan diambil hati”

Ara terdiam.

Di sisi lain, Danu juga menerima pesan serupa.

Teman lama: Wah bro, keren juga ya akhirnya dapet Ara.

Kalimat itu terasa aneh.

Bukan karena Ara bukan sosok yang membanggakan.

Tapi karena seolah-olah ini kompetisi.

Danu membaca pesan itu tanpa membalas panjang.

Ia hanya menjawab “Bukan dapet. Kita sama-sama milih”

Sore harinya, Ara dan Danu akhirnya menelepon.

“Kamu baca komentar yang aneh-aneh?” tanya Ara pelan

“Baca” jawab Danu jujur.

“Kamu kesel?”

“Enggak”

Ara terdiam.

Danu melanjutkan "Dulu aku mungkin bakal minder karena dulu selera kamu CEO”

Ara langsung menegakkan duduknya “Ihhh itu mah dulu sekarang cintanya sama mas montir hahahah"

"Kalo Sekarang?” ucap Ara kelanjutannya

“Sekarang aku tahu kamu milih aku bukan karena komentar orang”

Hening sejenak.

Ara berkata pelan “Mas… aku nggak pernah lihat kamu dari latar belakang”

“Aku tahu”

“Dan aku nggak pernah merasa kamu ‘beruntung dapet aku’. Kita cuma sama-sama beruntung ketemu di waktu yang pas”

Danu tersenyum.

“Itu yang bikin aku tenang”

Setelah selesai beberapa menit telfonan

Bunyi pesan masuk di hp Ara

Danu: Kalau nanti makin banyak yang komentar, jangan sampai kita berubah ya.

Ara: Berubah gimana?

Danu: Jadi terlalu ingin terlihat baik-baik saja

Ara menatap layar cukup lama sebelum menjawab.

Ara: Kalau ada masalah, kita selesaikan di dalam. Bukan di kolom komentar.

Danu tersenyum puas.

Danu: Deal.

Setelah itu Ara memandangi foto yang ia unggah tadi malam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menyembunyikan hubungan ini.

Bukan untuk pamer.

Tapi untuk mengakui.

Bahwa ia bangga dengan pilihan hatinya.

Dan di sisi lain kota, Danu mematikan lampu kamar dengan satu pikiran yang jelas

Dulu ia menyembunyikan rasa karena merasa tak cukup.

Hari kedua setelah unggahan itu, suasana mulai berubah.

Bukan di antara Ara dan Danu.

Tapi di sekitar mereka.

Ara baru saja duduk di meja kerjanya ketika ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan ucapan selamat. Bukan emoji hati.

Sebuah tangkapan layar.

Dari Nisa.

Nisa: Ra… kamu kuat baca ini?

Ara mengernyit. “Apa lagi…”

Ia membuka gambar itu.

Sebuah percakapan di grup alumni—yang kebetulan bukan grup tempat ia berada. Seseorang mengirim ulang unggahan lamaran Ara, lalu komentar-komentar mulai bermunculan.

“Serius Ara sama dia?”

“Bukannya dia anak kota banget?”

“Katanya cowoknya dari keluarga petani ya?”

“Yakin cocok?”

Ara membaca sampai bawah.

Tangannya terasa sedikit dingin.

Bukan karena malu.

Tapi karena nada meremehkan yang halus itu terasa jelas.

Ia menarik napas panjang.

Belum sempat ia membalas Nisa, pesan lain masuk.

Kakak sepupunya Mba Raina mengirim voice note.

“Ra, tante-tante tadi juga sempat ngomong… katanya kamu bisa dapat yang ‘lebih sepadan’. Aku kesel dengarnya.”

Ara menutup mata sejenak.

Lebih sepadan.

Ukuran siapa?

Di rumah, ibu Ara sedang menerima telepon dari salah satu kerabat jauh.

“Iya, benar sudah lamaran,” jawab ibunya tenang.

Di seberang sana terdengar suara yang terdengar ragu.

“Tapi… Ara kan dari kecil di kota. Kuliahnya juga bagus. Kerjanya juga mapan. Kok pilihnya…?”

Kalimat itu menggantung.

Ibu Ara tersenyum tipis, meski yang di telepon tak bisa melihat.

“Kok pilihnya apa?” tanyanya lembut tapi tegas.

“Iya maksudnya… Danu kan dari keluarga petani, ya?”

Ibu Ara menarik napas pelan.

“Petani bukan berarti tidak layak. Ayah Ara juga dulu awal ngerintis ternak juga petani dulu sampai punya ternak kaya sekarang? Dari dulu kami juga kerja dari bawah”

1
Irmha febyollah
ko di ulang2 kk
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!