di bawah umur di larang membaca.
Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Rina tidak menunggu Rohman menyelesaikan wiridnya. Begitu salam kedua berakhir, nyali Rina yang tadinya setinggi langit langsung anjlok ke dasar bumi. Bayangan tatapan "intens" Rohman sebelum mandi tadi benar-benar membuatnya ngeri-ngeri sedap. Tanpa mencium tangan suaminya terlebih dahulu, Rina menyambar bagian bawah mukenanya agar tidak tersandung, lalu melesat keluar kamar secepat kilat.
Rohman yang baru saja hendak memutar tubuh untuk menyalami istrinya, hanya bisa melongo menatap pintu kamar yang terbuka lebar dan bayangan putih yang terbang menjauh.
"Rina?" panggil Rohman bingung, namun yang terdengar hanya suara langkah kaki yang terburu-buru.
BRAKK!
Rina mendobrak pintu kamar orang tuanya tanpa mengetuk. Ayah dan Bunda yang baru saja selesai melipat sajadah tersentak kaget melihat putri mereka berdiri terengah-engah dengan mukena yang miring ke kiri.
"Lho, Nak? Kok di kamar Bunda dan Ayah pagi-pagi begini?" tanya Bunda bingung sambil memegang dadanya karena kaget.
Rina langsung menghambur ke arah ranjang, bersembunyi di balik punggung Ayah yang masih duduk di tepi tempat tidur. "Ayah... Bunda! Tolong! Mas Rohman mau mesum ke aku! Tolongin Rina!" teriaknya dengan wajah yang sudah merah padam karena malu bercampur panik.
Ayah mengerutkan kening, menatap putri bungsunya yang kelakuannya memang sering di luar nalar. "Mesum gimana? Dia kan sudah jadi suamimu, Rina. Sah secara agama dan negara. Kok malah lapor Ayah?"
"Ya tapi... tapi dia serem, Yah! Tatapannya kayak mau nelan aku hidup-hidup!" rengek Rina sambil mengeratkan pegangannya pada daster Bunda.
Tak lama kemudian, Rohman muncul di ambang pintu. Ia masih mengenakan baju koko dan sarung, tampak sangat tenang namun sorot matanya menunjukkan bahwa ia sedang menahan tawa melihat tingkah istrinya yang kabur ke markas perlindungan.
"Assalamu'alaikum, Ayah, Bunda. Mohon maaf atas keributan ini," ucap Rohman dengan suara yang sangat santun, berbanding terbalik dengan aura "singa" yang ia tunjukkan di kamar tadi.
"Wa'alaikumussalam, Nak Rohman. Ini istrimu katanya kamu mau... anu," Ayah menggantung kalimatnya, merasa canggung membahas "urusan kamar" pagi-pagi buta.
Rohman berjalan mendekat, menatap Rina yang masih bersembunyi di balik tubuh Bunda. "Saya hanya ingin menagih janji, Ayah. Tadi malam ada yang sangat berani menggoda saya di mobil dan di kamar, bahkan bilang mau 'unboxing'. Tapi begitu saya siap, dia malah lari ke sini."
Bunda seketika tertawa kecil sambil menepuk tangan Rina. "Oalah Rina... kamu itu yang mulai, kamu yang takut sendiri. Ayah sama Bunda nggak mau ikut campur ya, itu urusan kalian berdua."
"Ayah! Bunda! Kok gitu?!" seru Rina histeris.
Ayah bangkit berdiri, melepaskan pegangan tangan Rina di bahunya. "Ayah mau ke masjid depan dulu, mau ikut pengajian Subuh. Nak Rohman, silakan dibawa istrinya. Kalau dia rewel, ikat saja pakai sajadah.".
"Ayah pengkhianat!" teriak Rina putus asa.
Rohman melangkah maju, tangannya terjulur ke arah Rina dengan senyum yang sangat manis namun penuh intimidasi. "Ayo, Sayang. Kembali ke kamar. Malu dilihat Bunda, kita sudah dewasa, kan? Masih ada hutang penjelasan soal 'dua hari haid' yang harus kamu selesaikan."
Rina menatap tangan Rohman, lalu menatap pintu keluar yang sudah dijaga oleh Rohman. Ia sadar, pelariannya telah berakhir.
"Mas... jangan galak-galak ya?" gumam Rina pasrah sambil meraih tangan Rohman.