Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak angkat laki-lakinya itu.
Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.
Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.
Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?
ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Ber Enam
Waktu istirahat pertama pun tiba. Lea langsung menyeret Vanya dan Rain untuk ke Kantin. Lea sudah janjian dengan Tian lewat pesan singkat.
"Aduh pelan pelan njir" keluh Rain.
"Ayo ah cepet. Gw mau kenalin kalian" ucap Lea dengan semangat.
Setelah sampai di kantin, Lea langsung menghampiri Tian dan seorang teman nya yang sudah duduk di kursi kantin.
"Sini sini" ajak Tian.
Lea pun duduk di sebelah Tian. Sedangkan Vanya duduk di sebelah teman Tian yang ternyata adalah Vano. Sedangkan Rain duduk di seberang Lea dengan kursi kosong di sebelah nya. Mereka berlima duduk melingkar.
"Temen gw satunya lagi pesen makanan" jelas Tian tanpa Lea minta.
"Kalian berdua mau pesen apa?" tawar Rain.
"Gw nggak" jawab Vanya cuek.
"Gak gak! Lo harus makan. Tadi kak Fian chat gw katanya lo nggak sarapan. Lo pengen sakit ya Van?" ucap Rain sambil melirik tajam ke arah Vanya.
"Idih sok perhatian banget! Padahal lo kan udah di tolak" sinis Lea.
Saat Vanya ingin merespon ucapan Lea, tiba-tiba Surya datang ke arah meja mereka lalu menghampiri Vanya.
"Vanya, ini coklat buat lo" Surya menyodorkan kotak coklat berbentuk hati warna hijau ke arah Vanya.
"Gak" tolak Vanya dengan nada galak.
"Plisss terima ya. Ini coklat asli dari dubai. Gw nitip sama saudara gw yang habis liburan dari sana" mohon Surya.
"Yaelah gitu doang. Vanya bisa beli sendiri woi" sinis Lea.
"Gan!" peringat Vanya sambil menatap tajam ke arah Lea.
"Ya maksudnya Rain yang beliin. Dia kan kaya, dari keluarga Wiradjaya. Pasti mau lah beliin Vanya. Iyakan Rain?" tanya Lea kepada Rain.
"Iyalah.Vanya ga butuh coklat dari buaya kayak elo" Rain ikut menimpali.
"Sana pergi! Jangan sampe gw hajar lo di sini!" ancam Vanya dengan nada serius.
Surya yang sudah tau akan kehebatan bela diri Vanya pun ahirnya langsung pergi begitu saja. Saat Surya pergi, Radit datang dengan 2 pelayan dibelakang nya sambil membawa pesanan Trio Edun.
"Sini Dit, duduk! Gw mau kenalin lo sama tunangan gw dan dua besti nya" perintah Tian.
"Dit, Van, ini Azalea tunangan gw. Aza, kenalin ini Radit terus yang itu Vano. Sahabat gw" Tian memperkenalkan mereka satu-satu.
"Kalo ini sahabat gw namanya Vanya. Kalo yang itu namanya Rain" Lea ikut memperkenalkan kedua sahabatnya.
Reaksi Vanya dan Vano sama-sama biasa saja. Bahkan cuek seperti baru pertama kali bertemu. Sedangkan Radit dan Rain sama-sama saling menatap tajam satu sama lain.
"Lo kan cewe waktu itu" ucap Radit dengan nada sinis.
"Apa? Lo cowo sombong waktu itu kan? Sorry ya, duit lo udah gw kasih semua ke pengemis. Gw ga butuh duit lo!" balas Rain tak kalah tajam.
"Ada apaan nih? Kalian pernah ketemu?" tanya Lea.
"Gak" jawab Radit dan Rain bersamaan.
"Ngomong aja kompak" ledek Tian.
Rain dan Radit langsung melengos ke arah lain sambil bersedekap dada.
"Udah udah jangan ribut kalian berdua. Btw kita belum pesen makanan loh girl" ucap Lea sambil menatap ke arah Vanya dan Rain.
"Rain, pesen ke Pak Joko cepet! Biar ngga usah antri-antri segala" perintah Vanya.
"Iya iya"
"Pak Joko siapa?" tanya Vano penasaran.
"Beliau kepala koki di sekolah ini. Rain masih satu keluarga sama Wiratmadja, jadi dia bisa pesen makanan di kantin ini dengan mudah" jelas Lea.
"Kalau lo satu keluarga sama Wiratmadja, berarti lo kenal dong dengan putri tunggal nya?" tanya Vano lagi.
"Em y-ya jelas kenal. Tapi identitas sepupu gw di rahasia kan. Dia nggak pengen orang-orang tau siapa dia" ucap Rai sedikit terbata. Diam-diam Vanya menatap tajam ke arah Rain agar jangan sampai salah bicara.
"Kenapa di rahasiakan?" tanya Vano lagi dan lagi.
"Banyak nanya lo!" sinis Vanya.
Bukannya marah, Vano malah tertawa pelan karena ucapan sinis Vanya kepadanya.
Tak lama, pesanan Rain, Lea dan Vanya datang diantar oleh 2 pelayan.
"Woah di kantin ada rawon juga?" tanya Tian.
"Kalau pengen makanan apa aja sih biasanya bisa request sama koki nya. Tapi nggak semua murid di sini bisa loh ya" ucap Lea memperingati.
"Kalo kalian pengen apa, request bilang ke Rain aja. Biar nanti di sampai in ke pak Joko" lanjutnya.
"Loh kok gw? Mereka cuman mau nurut sama.... " belum sempat Rain menyelesaikan ucapannya, kaki nya yang berada di bawah meja di tendang oleh seseorang.
"Iya iya sama gw" ucap Rain pasrah.
Mereka berenam pun makan dalam diam. Setelah makanan habis, barulah mereka memulai obrolan.
"Tadi pagi pada heboh banget loh sama kita. Sekarang kok pada biasa aja?" tanya Vano memulai obrolan.
"Kalian deket sama kita. Mereka nggak akan berani bersaing. Apalagi mereka tau siapa Rain" jelas Lea.
"Emang keluarga lo se berpengaruh itu ya?" Radit bertanya sinis sambil menatap Rain dengan tatapan menantang.
"Emang lo nggak tau keluarga Wiradjaya? Lo dari keluarga mana emang hah?!" balas Rain tak mau kalah.
"Sorry ya, keluarga Pramono gw juga kaya" pamer Radit dengan bangga.
"Haduh! Kalian berdua ni ributin apasih? Se kaya kaya nya kalian, tetep kalah tuh sama Wiratmadja" ucap Vano dengan wajah berbinar.
"Nama lo Vano kan? Lo tertarik sama keluarga itu?" tanya Lea.
"Banget. Bahkan mama gw ngefans sama Nyonya Wiratmadja. Gimana sih caranya biar bisa ketemu?" tanya Vano penasaran.
"Minta tolong aja tuh sama si Rain" ucap Lea dengan santai.
"Emang boleh?" tanya Vano lagi.
"Sama Vanya aja tuh. Pasti bakalan ketemu" balas Rain.
"Dia? Vanya kerja kah di keluarga itu?" tunjuk Vano ke arah Vanya yang duduk di samping nya.
"Pffttt" Lea dan Rain kompak menahan tawanya.
"Ya" jawab Vanya dengan nada galak.
"Bantuin gw dong ketemu sama bos lo, ya ya" mohon Vano.
"Cuman gara-gara pengen ketemuin tante Ria sama nyonya Wiratmadja, seorang Vano memohon sama orang lain? What?" heboh Tian. Vano hanya membalas dengan tatapan sinis nya.
"Hm"
"Wah makasih loh. Lo kasih tau aja waktu di sekolah kalo nyonya Wiratmadja ada waktu" ucap Vano sambil tersenyum lebar.
"Eh iya, kalian di kelas IPS berapa?" tanya Lea.
"IPS satu" jawab Tian.
"Kalian satu kelas dong sama si playboy cap kadal?" tanya Rain.
"Siapa tuh?" tanya Vano balik.
"Itu loh yang tadi ngasih coklat ke dia" jawab Lea sambil menunjuk ke arah Vanya yang sedang asyik bermain ponsel.
"Oalah cowo itu? Iya kita satu kelas sama dia. Katanya dia ketua Tim basket ya di sekolah ini?" tanya Tian.
"Iya. Lo mau masuk ke tim basket sekolah juga?" tanya Lea balik.
"Pengen nya sih. Kalian berdua mau ikut nggak?" tanya Tian kepada dua sahabatnya.
"Gw sih pengen, tapi males juga" jawab Vano.
"Ah plin-plan lo najis!" sinis Tian.
"Gw ikut. Tapi males jadi tim inti. Males terkenal lagi kaya di HCL Jaya" ucap Radit cuek namun dengan gaya sombong nya.
"Najis! Sombong banget" sindir Rain.
"Lo nyindir gw?!" tanya Radit dengan ngegas.
"Gak usah kepedean deh lo" balas Rain acuh tak acuh.
"Kalian berdua nih ribut mulu. Awas ati-ati ntar ujung-ujungnya jadi yang paling bucin loh" ledek Vano.
"Cih najis" ucap Rain dengan sinis.
"Gw juga ogah kalik" balas Radit tak kalah sinis.
"Eh balik yuk, sepuluh menit lagi bel masuk loh" ajak Lea.
Mereka ber enam pun mulai beranjak pergi saling bersisihan. Di tengah perjalanan, seseorang menghadang langkah mereka. Mereka ber enam pun reflek langsung berhenti bebarengan.
"Vanya, nanti pulang sekolah mau nggak ikut gw lagi? Gw tau Cafe yang enak-enak makanannya" ucap orang yang menghadang jalan mereka. Orang itu ternyata adalah Raza.
"Sibuk" balas Vanya cepat.
"Kalau lain kali?" tanya Raza penuh harap.
"Gak bisa! Minggir gak lo!" ucap Vanya dengan nada galak.
Mau tak mau Raza pun menyingkir agar mereka ber enam bisa lewat.
"Temen kalian yang itu galak banget ya" ucap Tian dengan nada bercanda.
"Haha dia emang begitu kalo sama cowo. Makannya sampe sekarang ga pernah pacaran. Semua cowo dia tolak" balas Lea ikutan bercanda.
"Brisik" sinis Vanya.
Diam-diam Vano mengulum senyumnya 'Tuh cewe gila nggak pernah pacaran ternyata. Sekalinya suka sama orang malah patah hati sampe kabur dari rumah '
"Kenapa lo senyum-senyum? Udah gila lo ya?" tanya Radit sambil menatap Vano dengan pandangan aneh.
"Hah enggak. Gw cuman seneng aja sama suasana di sini" alibi Vano.
"Eh kita pisah di sini ya. Kelas kalian kan masih ke sana lagi" ucap Lea.
Kelas XI IPA dan Kelas XI IPS masih berada di satu lantai yang sama. Namun letak ruangan nya sedikit berjauhan karena terhalang oleh toilet dan juga perpustakaan.
Mereka ber enam pun ahirnya berpisah untuk menuju ke kelas mereka masing-masing.