Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan Hambar di Meja Makan
Pagi di mansion Makati dimulai dengan kesunyian yang mencekik. Tidak ada foto pernikahan yang terpajang di dinding, tidak ada sisa kelopak bunga mawar, apalagi ucapan selamat dari kolega bisnis. Pernikahan mereka hanyalah tumpukan dokumen di atas meja birokrasi Calapan. Sebuah rahasia yang terkunci rapat.
Dulu, Ibu Lee Young Ae hampir menangis memohon agar setidaknya ada acara privat di gereja kecil atau makan malam keluarga yang hangat. Namun, Matthias menolaknya dengan ledakan amarah yang jarang ia tunjukkan.
"Cukup, Ibu! Berhenti mengatur hidupku!" teriak Matthias waktu itu. "Ayah sudah memaksaku membuang gitar dan membusuk di Oxford demi bisnis ini. Sekarang, bahkan setelah dia tiada, dia masih ingin mengatur siapa yang tidur di rumahku? Aku akan menikahinya, tapi jangan harap ada pesta."
Mengingat itu, Matthias yang sedang mengancingkan manset kemeja mahalnya, menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menghela napas panjang. Sebenarnya, ia sangat menyayangi ibunya. Ia tahu betapa besarnya pengorbanan wanita Korea itu—meninggalkan Seoul, beradaptasi dengan budaya Filipina yang asing, demi cinta pada ayahnya yang keras kepala. Matthias sering berpikir, ayahnya sangat beruntung mendapatkan wanita selembut ibunya. Namun, rasa hormat itu tidak lantas membuatnya mau didikte dalam urusan ranjang dan hati.
Di ruang makan bawah, Sheena sudah duduk lebih dulu. Ia mengenakan hoodie abu-abu dan celana jeans, rambutnya dikuncir kuda asal-asalan. Di depannya bukan sarapan mewah, melainkan buku tebal Anatomy & Physiology. Ia tampak sibuk menandai saraf-saraf manusia dengan stabilo kuning.
Matthias turun dengan langkah tegap. Ia duduk di kursi ujung, sejauh mungkin dari Sheena. Pelayan meletakkan kopi hitam di hadapannya.
"Ibu meneleponku tadi pagi," Matthias membuka suara tanpa menoleh, suaranya dingin seperti es di kutub. "Dia bertanya apakah kita sudah mulai terbiasa satu sama lain. Aku bilang iya, jadi jangan hancurkan kebohonganku saat dia berkunjung lagi."
Sheena tidak mendongak dari bukunya. Mulutnya yang pedas langsung beraksi. "Oh, jadi CEO SM Corp yang agung ini ternyata bisa berbohong demi ibunya? Manis sekali. Tenang saja, Tuan Smith. Aku mahir dalam hal mengabaikan orang, jadi berpura-pura kau tidak ada adalah keahlianku."
Matthias mengeratkan pegangan pada cangkir kopinya. "Bagus. Kita jalani hidup masing-masing. Kau dengan kesibukanmu yang entah apa itu, dan aku dengan perusahaanku. Jangan campuri urusanku, dan aku tidak akan peduli kau pulang jam berapa."
Sheena akhirnya menutup bukunya dengan bunyi BRAK yang cukup keras. Ia menatap Matthias, kacamata bulatnya sedikit melorot ke ujung hidung.
"Sepakat. Bagiku, kau hanyalah pajangan rumah yang kebetulan berukuran raksasa," ucap Sheena tajam. "Aku berangkat. Jangan sampai kau merindukanku, karena itu akan sangat menjijikkan."
Sheena bangkit, menyampirkan tas ranselnya yang berat di bahu mungilnya, lalu melenggang pergi meninggalkan ruang makan. Ia tidak peduli Matthias tahu atau tidak bahwa ia sedang berjuang mati-matian di semester III kedokteran Makati. Baginya, Matthias adalah orang asing yang kebetulan berbagi alamat rumah.
Matthias terdiam sejenak setelah Sheena pergi. Ruangan itu kembali sunyi. Ia merogoh saku jasnya, menyentuh sapu tangan yang selalu ada di sana. Ada kerinduan yang mendalam di matanya.
Di mana kau, gadis kecil? batinnya.
Ia membayangkan gadis itu pasti tumbuh menjadi wanita yang lembut seperti ibunya, bukan wanita bermulut tajam seperti Sheena yang baru saja mengatainya "pajangan rumah".
Matthias tidak pernah tahu, di dalam diri Sheena tersimpan sebuah bakat suara yang setara dengan Billie Eilish dan hati yang pernah menyelamatkannya belasan tahun lalu. Mereka benar-benar menjadi dua insan yang saling memunggungi, meski takdir sudah mengikat mereka dalam satu nama keluarga yang sama.