Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Mobil hitam anti peluru melaju kencang di atas jalan layang Roma. Lampu-lampu kota berpendar memanjang di kaca jendela seperti garis-garis cahaya yang berlarian. Di bawah jembatan, sungai besar mengalir deras, memantulkan kilau lampu keemasan yang bergetar mengikuti arus.
Di kursi depan, Patrick menggenggam setir dengan rahang mengeras, mata waspada memindai setiap sudut melalui kaca spion. Dua mobil pengawal Serigala Hitam mengapit di kiri dan kanan, membentuk formasi rapat.
Di kursi belakang, suasana jauh lebih kacau. Alecio bersandar di jok kulit hitam, tetapi tubuhnya tidak setenang biasanya. Cairan “peluru khusus” yang mengenai jaketnya masih terasa basah di lengan, dan sesuatu yang asing mengalir di nadinya. Denyut panas merambat dari bahu ke dada, lalu naik ke leher.
Napasan Alecio berubah lebih berat dan cepat. Tatapannya, yang biasanya setajam pisau, kini menyala dengan bara yang tidak ia kenali.
Sandrina yang duduk di sudut kursi juga merasakan yang sama. Namun, dia masih kuat imannya. Dirinya tidak mau dekat-dekat dengan pria asing.
Sabrina duduk sejauh mungkin dari Alecio. Punggungnya menempel ke pintu mobil, kedua tangan mencengkeram tali tas seperti hendak menjadikannya perisai. Ia juga merasakan hal aneh.
Sandrina merasakan jantungnya berdetak terlalu cepat. Kulitnya merinding dan kepala terasa ringan, tetapi tubuhnya justru tegang seperti pegas siap melompat. Ia menatap lengannya. Tidak ada luka hanya kain gamis yang sedikit basah.
“Apa ini, ya?” gumam Sandrina lirih.
Sebelum Sandrina sempat berpikir lebih jauh, Alecio menoleh ke arahnya. Perubahan itu terjadi secepat kilat. Rahangnya mengeras, tatapan matanya melembut, tetapi bukan karena marah, karena ada keinginan untuk melakukan sesuatu.
Alecio perlahan condong ke samping, jarak di antara mereka menyempit.
Sandrina mundur refleks. “Hei, jangan dekat-dekat!”
Alecio tidak mendengar. Atau lebih tepatnya, tidak peduli. Tangan besar itu terangkat, nyaris menyentuh bahu wanita itu.
Sandrina langsung bereaksi. “JANGAN PEGANG AKU!”
Dalam satu gerakan cepat, ia menangkap pergelangan tangan Alecio dan memelintirnya dengan teknik silat yang rapi. Ruang sempit mobil membuat tubuh Alecio terdorong ke sandaran kursi.
Mobil sedikit berguncang. Patrick melirik kaca spion. Alisnya bertaut.
Alecio meringis, tetapi bukannya mundur, ia malah menyeringai tipis. “Wanita liar, bisa diam, tidak?! Jangan melawan!” ucap Alecio dengan suara rendah dan serak. Ia mencoba lagi, kali ini menarik pinggang Sandrina.
Sandrina tidak tinggal diam. Kakinya melesat, tendangan taekwondo cepat yang menghantam paha Alecio. Bukan titik vital, tetapi cukup membuatnya menggeram kesal.
“JANGAN SENTUH AKU, MAFIA GILA!” teriak Sandrina.
Alecio balas meraih lengan Sandrina.
Sandrina menyikut dada Alecio.
DUG!
Mobil berguncang lebih keras. Patrick nyaris membanting setir. “Apa kalian bisa DIAM?!” teriaknya dalam bahasa Italia, suaranya penuh frustrasi.
Patrick kembali melirik kaca spion dan hampir tersedak. Bosnya, Ketua Mafia Serigala Hitam, sedang berusaha memeluk seorang wanita berjilbab. Sementara wanita itu menendang, memukul, dan hampir menjambak balik. Mobil mulai sedikit oleng.
Sandrina berteriak lagi, panik sekaligus marah. “JANGAN PEGANG AKU!”
Alecio justru semakin mendekat, tangannya berusaha menarik Sandrina ke dadanya.
Sandrina mengangkat lutut, hampir menghantam hidung Alecio.
“BOS, HATI-HATI!” teriak Patrick panik.
Patrick sudah tidak tahan lagi. Ia membanting setir ke kiri dan menepikan mobil di bahu jalan layang, tepat di atas sungai besar yang mengalir deras di bawah.
Ban berdecit keras. Mobil berhenti mendadak.
Patrick langsung melompat keluar dan berlari ke pintu belakang. Ia membukanya cepat-cepat.
“NANTI DULU, KALIAN—”
BUK!
Kepalan tangan Sandrina melayang refleks dan mendarat telak di hidung Patrick. Serangan tak terduga barusan membuatnya terhuyung ke belakang, darah langsung mengalir.
“PORCA MISERIA! MA CHE DIAVOLO?!” (Sialan! Apa-apaan?!) umpat Patrick kasar.
Sandrina berdiri setengah keluar dari mobil, napas terengah, posisi kuda-kuda siap menyerang. Matanya tajam, tubuh tegang seperti harimau yang siap menerkam.
Di dalam mobil, Alecio masih duduk di kursi belakang, tetapi tubuhnya condong ke depan, tangannya terulur hendak meraih Sandrina lagi.
Entah karena dorong-mendorong sebelumnya, atau karena Patrick membuka pintu terlalu lebar, pintu di sisi Alecio ikut terbuka.
Kesempatan itu tidak disia-siakan Sandrina. Ia berputar cepat dan melayangkan tendangan penuh tenaga ke dada Alecio.
BRUK!
Alecio kehilangan keseimbangan. Tubuh tinggi itu terjungkal keluar dari mobil dan jatuh keras ke aspal bahu jalan.
“BOS!” teriak Patrick ngeri, menahan hidungnya yang berdarah.
Saat itu juga, mobil pengawal berhenti. Anak buah Serigala Hitam turun dengan senjata terangkat, moncong pistol mengarah lurus ke Sandrina.
“Mau apa kalian?!”
Sandrina bereaksi cepat. Ia melompat keluar, mencengkeram kerah Alecio yang masih setengah sadar, lalu menariknya berdiri menjadikannya tameng manusia.
Alecio menggeram, berusaha melepaskan diri, tetapi efek “peluru khusus” masih membuat tubuhnya berat dan reaksinya lamban.
Patrick maju selangkah. “LEPASKAN BOS!”
Sandrina menoleh sekilas ke arah sungai di bawah. Air mengalir deras, gelap, berkilau oleh pantulan lampu. Otaknya bekerja terlalu cepat dan terlalu nekat.
“Kalau kalian berani menembak aku, maka akan aku lempar bos kalian ke sungai,” ucap Sandrina dengan lirikan mata ke arah sungai, sebagai bahasa isyarat.
DOR!
Namun, salah seorang dari mereka malah menembakan peluru ke atas sebagai peringatan.
“Oh, kalian nantangin, ya!”
Sandrina yang mengira itu tanda menyerang, langsung saja mengeksekusi ancamannya tadi. Dengan satu dorongan kuat, ia mendorong tubuh Alecio melewati pembatas jalan layang.
Waktu seolah melambat. Semua anak buah Alecio membeku. Mata mereka membelalak.
Alecio sempat menatap Sandrina. Dia terkejut, marah, dan entah kenapa masih ada bara aneh di matanya.
Lalu—
BYUUUUUR!
Tubuh Ketua Mafia Serigala Hitam menghilang ditelan arus sungai. Suasana di sana hening seketika. Beberapa detik penuh kebisuan mencekam.
Patrick berdiri mematung, hidung berdarah, mulut ternganga. Max menjatuhkan pistolnya ke aspal. Tidak ada yang berani bersuara.
Karena barusan, seorang turis Indonesia yang tersesat, wanita berjilbab rapi, yang sebelumnya hampir jadi tawanan mereka. Kini, telah melempar Ketua Mafia Serigala Hitam ke sungai.
Sandrina berdiri terengah-engah, jilbabnya sedikit berantakan, dada naik turun, tangan terkepal. Ia menatap arus sungai yang bergolak di bawah.
Lalu, dengan suara lirih yang nyaris tertelan angin malam, ia berbisik, “Ya Allah ...! Apa yang baru saja aku lakukan?! Semoga saja dia bisa berenang.”
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu