NovelToon NovelToon
SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ruby Jingga

Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
​Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
​Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jaring-Jaring Halus

​Cahaya matahari pagi menyelinap masuk, namun kali ini Gendis tidak membiarkannya terasa menindas. Ia bangun lebih awal dari biasanya, bahkan sebelum alarm di ponsel Indra berbunyi. Dengan gerakan yang sangat tenang, ketenangan yang hanya dimiliki oleh seseorang yang sedang menyusun strategi perang, ia menyiapkan sarapan.

​Nasi goreng wagyu kesukaan Indra tersaji rapi di atas meja makan, lengkap dengan kopi hitam tanpa gula yang aromanya memenuhi ruangan. Gendis berdiri di balik konter dapur, mengenakan apron linen krem, wajahnya dipulas riasan tipis yang segar. Tak ada jejak mata sembab dari semalam.

​"Pagi, Mas," sapa Gendis saat Indra muncul dengan wajah bantal dan rambut yang masih berantakan.

​Indra bergumam tidak jelas, matanya menyipit terkena cahaya. Ia tampak mempelajari ekspresi Gendis, mencari-cari apakah ada sisa kemarahan dari interogasi singkat semalam. Namun, ia hanya menemukan senyum manis istrinya yang seperti biasa.

​"Pagi. Kamu sudah bangun dari tadi?" tanya Indra ragu, sambil menarik kursi makan.

​"Iya. Aku pikir kamu butuh asupan protein lebih setelah meeting panjang semalam," jawab Gendis, memberikan penekanan yang sangat halus pada kata meeting. "Ini kopinya."

​Indra menyesap kopinya, tampak lega karena Gendis terlihat sudah tenang.

"Makasih, Dis. Maaf ya soal semalam. Aku cuma capek banget, tekanan kerjaan lagi tinggi."

​"Aku mengerti, Mas. Karier kamu memang yang utama sekarang, kan?" Gendis berkata sambil membelakangi Indra, tangannya sibuk mencuci sutil. Matanya dingin, kontras dengan suaranya yang lembut.

​Begitu Indra berangkat kerja dengan kecupan di dahi yang kini terasa seperti sengatan listrik bagi Gendis, suasana rumah langsung berubah. Gendis tidak lagi menyentuh sapu atau kemoceng. Ia melangkah menuju ruang kerjanya yang sudah berdebu, menyalakan laptop yang sudah jarang ia sentuh.

​Sebagai mantan analis di sebuah bank bergengsi, Gendis tahu bahwa setiap orang pasti meninggalkan jejak, sekecil apa pun itu. Ia memulai pencariannya dengan nama yang ia lihat semalam: Cindy.

​Dengan kata kunci "Cindy", "Club X", dan beberapa filter lokasi di Jakarta Selatan, Gendis mulai menyisir profil-profil Instagram. Tak butuh waktu lama. Seorang wanita dengan rambut pirang bleaching yang mencolok dan gaya foto yang provokatif muncul. Nama akunnya @Cindyy_Sweet69.

Gendis melihat daftar pengikutnya. Di sana, di antara ribuan akun pria, terselip satu akun privat dengan foto profil pemandangan gunung, akun kedua Indra yang bahkan Gendis tidak tahu keberadaannya.

​Gendis mencatat setiap detail. Ia melihat highlight cerita Cindy. Ada foto sebuah jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan wanita itu dengan caption Thanks for the gift, My Generous Daddy.

​Gendis mengenali jam itu. Itu adalah jam yang diklaim Indra hilang di tempat gym tiga bulan lalu. Jam seharga satu unit mobil.

​Gendis tahu ia tidak bisa hanya diam di rumah jika ingin bukti yang tak terbantahkan. Ia menghubungi seorang kawan lama, seorang mantan kolega di bank yang kini beralih profesi menjadi konsultan keamanan swasta.

​"Rian, aku butuh bantuan. Bukan sebagai teman, tapi sebagai klien," ujar Gendis melalui sambungan telepon.

​Sore harinya, Gendis keluar rumah. Ia tidak memakai daster. Ia mengenakan trench coat tipis berwarna navy, kacamata hitam besar, dan mengendarai mobil yang selama ini hanya ia gunakan untuk belanja bulanan.

​Ia memarkirkan mobilnya di sebuah gedung perkantoran di seberang "Club X", sebuah kelab malam eksklusif yang hanya terbuka bagi anggota atau mereka yang berkantong tebal. Dari balik kaca mobil yang gelap, Gendis menunggu.

​Pukul sembilan malam, mobil milik Indra meluncur masuk ke area parkir VIP kelab tersebut. Jantung Gendis mencelos, namun ia segera mengambil ponselnya, membidikkan lensa kamera dengan zoom maksimal.

​Tak lama kemudian, seorang wanita keluar dari pintu samping kelab. Rambut pirang jagung itu berkilau tertimpa lampu neon. Wanita itu, Cindy, langsung menghambur ke pelukan Indra. Gendis melihat suaminya tertawa, tawa lepas yang sudah lama tidak ia lihat di rumah. Indra mengecup dahi wanita itu, lalu mereka masuk ke dalam kelab bersama-sama, tangan Indra posesif melingkar di pinggang Cindy.

​Gendis mencatat di ponselnya segera.

Lokasi: Club X. Waktu: 21.15. Target mengonfirmasi hubungan fisik di depan publik. Bukti foto 01-05 tersimpan.

​Gendis pulang sebelum Indra. Ia menyimpan semua foto dan tangkapan layar di dalam folder cloud yang terenkripsi. Saat ia kembali menatap dirinya di cermin, ia merasa sel-sel dalam tubuhnya yang sempat mati selama lima tahun kini mulai bergejolak kembali.

​Ia bukan lagi Gendis sang Ratu Rumah Tangga yang pasif. Logika analisnya telah kembali. Ia sedang menghitung aset, mengumpulkan bukti perselingkuhan, dan memetakan aliran dana yang dialirkan Indra kepada wanita itu. ​Suara pesan masuk di ponsel Gendis berbunyi. Itu dari Indra.

"Masih di kantor, Sayang. Jangan tunggu aku, tidur duluan ya. Love you."

​Gendis menatap pesan itu dengan senyum miring yang mengerikan. Ia membalasnya dengan tenang.

"Iya, Mas, semangat kerjanya ya. I love you too."

​Gendis meletakkan ponselnya, lalu berjalan menuju lemari pakaian. Ia mengambil gunting kecil. Di bagian paling belakang lemari, ia memotong sedikit kain dari daster yang ia pakai, sebagai simbol bahwa masa-masa penindasan ini akan segera berakhir dengan caranya sendiri.

1
Susilawati Arum
Up lagi dong thor..maaf kemaruk thor
Susilawati Arum
Terimakasih banyak author untuk update terbarunya
july: sama² kak, bntr lagi aku up lagi ya
total 1 replies
Susilawati Arum
Baru kali ini baca novel pemeran utama wanitanya terbaik pokoknya..Ter the best lah Gendis
Susilawati Arum
Ceritanya bagus banget...msh update nggak author
Ruby Jingga: update kak sorean dikit yaaa
total 1 replies
arniya
makin seru....
arniya
tunggu tanggal mainnya indra.....
arniya
mampir kak
Ruby Jingga: makasih kakak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!