Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Aku meraba saku blazer dengan tangan gemetar, mencari ponsel di tengah isak tangis yang mulai tak terkendali. Di lantai rooftop yang dingin ini, aku merasa seperti remah-remah yang tak lagi berharga. Kata-kata Baskara—bahwa aku tak lebih dari sekadar rekan kerja yang menyebalkan—terasa lebih tajam daripada belati mana pun.
Aku menekan tombol panggilan cepat. Hanya satu orang yang tahu setiap inci kebusukan sikapku di masa lalu, satu orang yang tetap tinggal meski aku berkali-kali menjadi manusia paling egois.
"Danesha..." suaraku nyaris hilang, tertelan angin malam.
"Na? Aruna? Kamu kenapa? Kok nangis?" Suara Danesha di seberang sana langsung berubah cemas.
"Bisa ketemu? Di tempat biasa. Aku... aku nggak kuat, Dan."
Tiga puluh menit kemudian, aku sudah duduk di pojok kafe remang-remang di daerah Senopati. Di hadapanku, Danesha menatapku dengan iba sambil menggeser segelas cokelat panas ke arahku. Aku sudah menceritakan semuanya—tentang Baskara yang satu kantor denganku, tentang Rasya, dan tentang ledakan di rooftop tadi.
"Kamu sudah dengar sendiri kan dari mulutnya?" Danesha menghela napas panjang. "Dia sudah sembuh, Na. Dia sudah menemukan orang yang menghargai kehadirannya. Sesuatu yang nggak pernah kamu kasih selama dua tahun itu."
Aku menunduk, memandangi pantulan wajahku yang berantakan di permukaan air. "Aku tahu aku salah, Dan. Tapi melihat dia sedingin itu... melihat dia melindungi Rasya seolah aku ini monster... itu sakit banget."
"Dulu dia yang sakit, Aruna," Danesha mengingatkanku tanpa ampun. "Kamu ingat berapa kali dia nunggu kamu di depan kelas kuliah sampai hujan-hujanan, sementara kamu asyik tertawa sama Rian di dalam? Kamu ingat berapa kali kamu sengaja nggak balas pesannya sampai berhari-hari cuma karena kamu 'bosan'?"
Aku terdiam. Gema kenangan itu berputar lagi.
"Sikap cuekmu dulu adalah pilihanmu, Na. Dan sekarang, sikap dingin Baskara adalah konsekuensinya," lanjut Danesha sambil menggenggam tanganku. "Kamu nggak bisa memaksanya untuk tetap menjadi Baskara yang hangat kalau kamu sendiri yang memadamkan apinya."
"Jadi aku harus gimana? Aku harus resign?" tanyaku putus asa.
"Jangan jadi pengecut lagi," cetus Danesha tegas. "Selesaikan proyek itu. Buktikan kalau kamu benar-benar profesional. Berhenti menyerang Rasya hanya karena kamu iri Kalau kamu mau dimaafkan, mulailah dengan memaafkan dirimu sendiri dan biarkan dia bahagia. Itu satu-satunya cara supaya gema rasa bersalah itu berhenti menghantui kamu."
Aku menyandarkan punggung ke kursi, menatap lampu jalanan yang berpendar di luar jendela. Danesha benar. Aku sudah terlalu lama bersembunyi di balik topeng dingin dan cuek. Mungkin sudah saatnya aku menghadapi kenyataan bahwa aku memang sudah kehilangan dia, dan itu adalah murni kesalahanku.
"Aku akan mencoba, Dan. Meski rasanya seperti harus bernapas di dalam air."
"kamu pasti bisa kok,cukup bekerja dengan profesional, anggap saja ini adalah konsekuensinya beramai lah run ,aku tahu kamu menyesal kamu di hantui rasa bersalah semua itu sudah berlalu kan? Kamu yang memutuskan pergi,jadi selesaikan proyek ini jangan lari lagi " ucap danesha pelan
Aku mengangguk lemah, mencerna setiap perkataan Danesha yang terasa seperti obat pahit namun menyembuhkan. "Terima kasih, Dan. Aku butuh didengar tanpa pembelaan malam ini."
Setelah berpamitan, aku melajukan mobilku menembus kemacetan Jakarta yang mulai mereda. Pikiranku kosong, hanya ada sisa-sia percakapan di rooftop yang masih terngiang.