Dunia Andini Kharisma Sulistia (21 tahun) runtuh seketika saat kecelakaan maut merenggut nyawa suaminya, Keenan Adiwijaya. Di tengah duka yang masih basah, Andini harus menghadapi kenyataan pahit tanpa sosok pendamping. Namun, hadirnya Farhady Sastranegara (41 tahun) membawa kebimbangan baru.
Farhady bukanlah orang asing; ia adalah mantan ayah mertua yang ternyata hanyalah ayah sambung Keenan. Meski tak ada ikatan darah, lamaran Farhady memicu badai emosi dan stigma sosial yang tajam. Terjebak antara kesetiaan pada mendiang suami dan kasih sayang tulus Farhady, Andini harus menentukan arah hatinya dalam balutan dilema cinta yang rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istikharah Cinta
Kesejukan pagi di Lembang tidak lagi mampu mendinginkan gejolak yang berkecamuk di dalam dada Andini. Pengakuan Farhady di beranda tempo hari, meski membawa kelegaan, ternyata juga membuka pintu menuju labirin kebimbangan yang lebih rumit. Sebagai seorang wanita yang tumbuh dalam didikan keluarga yang menjunjung tinggi etika dan nilai-nasionalisme religius, Andini merasa perlu mencari pijakan yang lebih kokoh daripada sekadar perasaan cinta.
Ia tidak ingin melangkah di atas tanah yang retak. Maka, dengan ditemani Melisa, Andini menempuh perjalanan menuju sebuah pesantren di pinggiran Bandung untuk bertemu dengan seorang Ustazah yang dikenal bijak dalam urusan keluarga.
"Ustazah," suara Andini bergetar di dalam ruang konsultasi yang bersahaja itu. "Bagaimana hukumnya jika seorang wanita mencintai mantan ayah mertuanya sendiri? Apakah ini sebuah aib? Apakah saya sedang mengkhianati mendiang suami saya?"
Melisa menggenggam tangan Andini, memberikan kekuatan diam. Sang Ustazah menatap Andini dengan tatapan teduh, tidak ada penghakiman di matanya. Beliau menjelaskan dengan bahasa yang lembut namun lugas bahwa secara hukum agama, hubungan antara menantu dan mertua adalah mahram muabbad—sebuah ikatan mahram yang bersifat selamanya. Sekali seorang pria menjadi ayah mertua, ia menjadi mahram bagi menantunya, yang berarti mereka tidak boleh menikah meskipun sang suami telah tiada.
Mendengar penjelasan itu, dunia Andini seolah runtuh untuk kedua kalinya. Ia merasa sesak yang luar biasa. Cintanya yang baru saja bersemi kini terbentur pada tembok syariat yang tidak mungkin ia robohkan.
"Tapi Ustazah," sela Melisa dengan hati-hati, mencoba mencari celah bagi sahabatnya. "Bagaimana jika sang mertua sebenarnya adalah ayah sambung? Bukan ayah biologis dari suaminya?"
Ustazah tersebut terdiam sejenak, lalu menjelaskan bahwa jika tidak ada hubungan darah sama sekali (bukan ayah kandung) dan tidak ada hubungan persusuan, maka secara hukum fiqih, status mahram itu mengikuti akad pernikahan. Namun, kompleksitas sosial dan etika di masyarakat tetap akan menjadi ujian yang berat. Ada beban moral yang besar yang harus dipikul jika mereka tetap memilih jalan itu.
Sepulangnya dari kajian, Andini tenggelam dalam diam yang panjang. Di dalam mobil, Melisa hanya bisa mendengarkan tumpahan air mata sahabatnya.
"Mel, aku merasa seperti berada di persimpangan jalan menuju surga dan neraka," isak Andini. "Secara hukum mungkin ada celah karena Mas Keenan adalah anak angkat, tapi bagaimana dengan pandangan orang? Bagaimana dengan perasaanku sendiri yang setiap kali menatap Ayah Farhady, aku masih melihat sosok yang dulu aku panggil 'Ayah'?"
Melisa mendengarkan dengan setia, membiarkan Andini mengeluarkan semua racun di hatinya. "Din, cinta memang tidak pernah memilih tempat yang mudah. Tapi kamu harus jujur pada dirimu sendiri. Apakah kamu siap menghadapi badai ini? Ataukah rasa sakit karena menjauh justru lebih menghancurkanmu daripada gunjingan orang?"
Sementara itu, ketegangan lain sedang memuncak di kantor Sastranegara Group. Tony secara mengejutkan datang menemui Farhady tanpa janji temu. Ia masuk ke ruangan kerja Farhady dengan langkah besar dan wajah yang memerah karena amarah yang tertahan.
"Om Farhady, kita perlu bicara," ujar Tony tanpa basa-basi, mengabaikan asisten Farhady yang mencoba menghalanginya.
Farhady bangkit dari kursi kebesarannya, menatap Tony dengan ketenangan yang dingin. "Duduklah, Tony. Apa yang begitu mendesak sampai kamu harus bersikap seperti ini?"
Tony tidak duduk. Ia berdiri di depan meja Farhady, mencengkeram tepian kayu jati itu. "Saya tahu apa yang terjadi di Lembang. Saya tahu Om merawat Andini dan saya mendengar rumor tentang perasaan Om kepadanya. Sebagai teman dekat Keenan, saya menuntut Om untuk tidak menikahi Andini!"
Farhady menaikkan alisnya sebelah. "Tuntutan? Atas dasar apa kamu bicara seperti itu?"
"Atas dasar kehormatan Keenan!" seru Tony, suaranya naik satu oktav. "Andini itu menantu Om! Keenan memuja Om sebagai ayahnya. Bagaimana mungkin Om tega mengambil istri dari putra Om sendiri? Dunia akan mencemooh Om, dan yang lebih penting, Om akan merusak memori Keenan di hati Andini. Jika Om benar-benar menyayangi Andini, lepaskan dia! Biarkan dia memulai hidup baru dengan orang yang seusianya, yang tidak membawa beban masa lalu sesak seperti ini!"
Farhady terdiam, kata-kata Tony menghujam tepat di titik terlemahnya. Ego seorang pria dewasa dan rasa tanggung jawab sebagai ayah angkat kini berperang hebat. Ia melihat kebenaran dalam kata-kata Tony, namun ia juga merasakan egoisme Tony yang sebenarnya hanya ingin memiliki Andini untuk dirinya sendiri.
"Kamu bicara seolah-olah kamu tahu apa yang terbaik untuk Andini, Tony," suara Farhady merendah, namun penuh dengan otoritas yang menekan. "Andini bukan barang yang bisa dilepaskan atau diberikan. Dia memiliki hak atas perasaannya sendiri. Dan jika kamu datang ke sini hanya untuk menakut-nakuti saya dengan 'gunjingan dunia', kamu salah alamat. Saya sudah melewati badai yang lebih besar dari sekadar omongan orang."
"Tapi ini salah, Om!" Tony bersikeras. "Ini menjijikkan bagi sebagian orang!"
"Keluar, Tony," perintah Farhady singkat. "Jangan pernah lagi menggunakan nama Keenan untuk kepentingan pribadimu. Kamu tidak lebih baik dariku jika caramu mendapatkan wanita adalah dengan memojokkan walinya sendiri."
Malam itu, dilema melanda luar biasa. Di rumahnya masing-masing, empat jiwa ini tidak ada yang bisa memejamkan mata. Andini bersimpuh di atas sajadahnya, mencari jawaban dalam istikharah yang panjang. Ia merasa trenyuh mengingat betapa tulusnya Farhady, namun ia juga ngeri membayangkan konsekuensi sosial yang harus dihadapi.
Farhady sendiri duduk di ruang kerjanya yang gelap, memutar-mutar pena tanpa menuliskan apa pun. Kata-kata Tony tentang "merusak memori Keenan" menghantuinya. Ia mulai ragu. Apakah cintanya ini adalah anugerah, ataukah justru bentuk egoisme yang terselubung?
Tony, di sisi lain, merasa frustrasi karena kegagalannya mengonfrontasi Farhady. Ia merasa semakin terasing dari dunia Andini. Sedangkan Cindy, yang mendengar tentang kemarahan Tony, hanya bisa menghela napas dari kejauhan, merasa sedih melihat pria yang ia cintai kian terpuruk dalam obsesi yang mustahil.
Lembang dan Bandung malam itu seolah tertutup kabut tebal yang tidak memberikan celah sedikit pun bagi cahaya bulan. Tidak ada kepastian, tidak ada resolusi yang mudah. Semuanya sedang menimbang di atas timbangan hati dan logika yang kian berat. Andini menyadari bahwa cintanya pada Farhady bukan lagi sekadar romansa picisan, melainkan sebuah ujian iman dan keteguhan prinsip yang akan menentukan sisa hidupnya.