Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Seminggu telah berlalu sejak pemeriksaan terakhir dengan Dokter Santi. Hari ini adalah jadwal kontrol berikutnya. Sejak tadi malam, Raya sudah mengingatkan dirinya untuk memberi tahu Arya, namun hingga pagi ini, kata-kata itu belum juga terucap. Ada rasa segan. Dalam hatinya, Raya berbisik, "Ini anakku... bukan anak Arya. Dia sudah menerimaku saja sudah lebih dari cukup. Aku tidak boleh terlalu bergantung."
Saat sarapan, suasana meja makan tampak hangat. Bu Atika dan Pak Harun tampak antusias membicarakan pesta pernikahan megah salah satu sepupu Arya yang baru saja digelar di hotel bintang lima.
"Ya ampun, dekorasinya mewah sekali. Undangannya saja pakai box akrilik, loh," ujar Bu Atika bersemangat.
"Dan tamunya datang dari luar negeri juga. Hm, kayaknya kita juga harus bikin pesta yang nggak kalah, ya, Bu?" timpal Pak Harun sambil tersenyum ke arah Raya.
Raya hanya menunduk pelan. Ada perasaan tidak enak yang menjalar di hatinya. Pesta megah seperti itu... pastilah impian setiap orang tua untuk putra semata wayangnya. Bukan untuk pernikahan pura-pura seperti mereka..., batinnya getir.
Tiba-tiba, Bu Atika menoleh ke arah Raya dan berkata, "Kalau nanti si baby sudah launching eh, maksud Ibu lahir kita bikin pesta pernikahan kalian besar-besaran, ya. Biar semua orang tahu kalau kalian ini pasangan sah!"
Arya tersedak kecil. Dia buru-buru meletakkan gelasnya dan berkata, "Nggak usah, Ma. Orang-orang nanti malah bingung. Masa sudah ada anaknya dulu baru nikah?"
Pak Harun langsung menjawab dengan santai, "Sudah kami pikirkan. Jawabannya gampang, tinggal bilang kalau kalian menikah diam-diam karena ingin privasi. Sekarang tinggal buat pestanya saja."
Raya menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca. Ia kembali kagum dengan cara Pak Harun dan Bu Atika yang begitu bijak dan terbuka. Meski hubungan mereka pura-pura, namun keluarga Arya memperlakukannya begitu tulus dan hangat.
Arya menatap kedua orang tuanya, lalu tersenyum kecil. "Ya sudah, atur saja, Ayah, Mama. Aku ikut aja."
Kemudian dia menoleh ke arah Raya, "Kalau kamu gimana, Ra?"
Raya sempat terdiam sejenak, gugup.
Tangannya menggenggam sudut baju tidurnya yang longgar. Ia lalu mengangguk pelan.
"Sama seperti Mas Arya... saya ikut saja, Bu, Pak..." jawabnya dengan suara canggung.
"Bagus," sahut Bu Atika bahagia. "Kita mulai diskusikan konsepnya minggu depan, ya. Ibu pengennya pakai adat, tapi yang elegan dan modern juga."
Tak lama setelah itu, Arya berdiri dan merapikan jasnya.
"Kalau begitu, aku pamit dulu. Ada meeting pagi ini," katanya, lalu menatap Raya dengan lembut. "Jangan lupa sarapan yang banyak."
Raya hanya tersenyum dan mengangguk. Tapi di balik senyumnya, hatinya kembali bimbang. Ia mengusap perutnya perlahan. Kontrol hari ini... aku pergi sendiri saja, tak apa...
Pagi itu, mobil Arya melaju pelan di tengah lalu lintas yang mulai padat. Saat berhenti di lampu merah, pandangannya tak sengaja tertuju pada sisi kiri jalan. Sebuah toko perlengkapan ibu dan bayi berdiri mencolok, dihiasi etalase warna pastel dengan boneka, pakaian mungil, dan perlengkapan bayi lainnya.
Arya memandangi etalase itu cukup lama. Ada senyum tipis yang mengembang di wajahnya tanpa ia sadari. Pikirannya langsung tertuju pada perut Raya yang semakin membesar... dan tendangan kecil yang ia rasakan beberapa hari lalu.
"Apa anak itu suka warna biru atau pink, ya?"
batinnya tiba-tiba muncul dengan sendirinya, membuat Arya mengernyit heran pada dirinya sendiri.
Namun, lamunannya terputus saat ponselnya berdering. Nama "Dr. Santi" muncul di layar.
"Assalamualaikum dokter?" jawab Arya,
langsung serius.
"Walaikumsalam, Pak Arya. Maaf mengganggu. Saya hanya mengingatkan bahwa hari ini jam delapan adalah jadwal kontrol untuk Bu Raya. Saya sudah menyampaikan ke beliau agar mengajak Bapak. Akan sangat baik untuk perkembangan janin jika ayahnya ikut hadir."
Arya sedikit terkejut, menegakkan tubuhnya. "Oh, begitu, Dok. Terima kasih banyak ya sudah mengingatkan. Saya akan datang."
Setelah menutup telepon, Arya menarik napas dalam. Ia memandangi kembali toko bayi yang perlahan mulai tertinggal di belakang mobilnya.
Tanpa ragu, ia menekan tombol panggil di mobilnya dan menyambungkan ke nomor asistennya. "Irsayd, batalkan semua meeting pagi ini. Undur jadi jam dua siang. Aku harus ke rumah sakit, temani Raya kontrol kandungan."
Suara Irsayd di seberang langsung terdengar menggoda, "Wah, wah, wah... Bos makin perhatian sekarang ya. Dulu-dulu mah paling suruh asisten yang temani."
Arya mengerutkan kening, tapi senyumnya tak tertahan. "Banyak omong kamu. Fokus ke jadwal. Aku mau kamu siapin dokumen presentasi juga siang ini."
"Okee, siap, Pak! Bapak tahu gak? apa yang ada di pikiran saya saat ini?"
"Apa?"
"Bapak itu keren. Bukan hanya sebagai Bos yang cerdas tetapi juga menjadi suami siaga, siap antar jaga, hahahaha."
Arya tertawa kecil, kemudian memutus panggilan sambil menggeleng pelan. Tapi ada kilasan hangat yang tertinggal di wajahnya. Mungkin, dirinya pun mulai menikmati peran yang dulu hanya sekadar perjanjian semu.
Sesampainya di rumah, Arya segera turun dari mobil dan menyuruh sopirnya untuk tetap bersiap. Wajahnya tampak sedikit kesal, bukan karena marah, tapi lebih pada rasa kecewa yang tak ia mengerti sepenuhnya. Dalam hati, ia bertanya-tanya, "Kenapa Raya tidak bilang soal kontrol hari ini? Apakah dia masih merasa ini semua hanya kewajiban semata?"
Langkahnya cepat menuju pintu utama. Begitu masuk, Bu Atika yang sedang menata vas bunga langsung terkejut melihat putranya kembali pulang.
"Arya? Kenapa pulang lagi? Ada yang tertinggal?"
Arya langsung menjawab datar, "Hari ini jadwal kontrol Raya. Aku mau antar dia ke rumah sakit."
Mata Bu Atika langsung berbinar. Senyum lebar terukir di wajahnya. "Wah, Mama senang dengarnya. Kamu makin perhatian, Nak."
Ia hendak bergegas memanggil Raya, tapi Arya menahan tangan ibunya dengan lembut. "Biar aku saja yang panggil, Ma. Mama lanjutkan saja aktivitas Mama."
Bu Atika mengangguk pelan, hatinya makin senang melihat Arya yang mulai mengambil peran lebih. Ia pun melanjutkan pekerjaannya sambil tersenyum kecil.
Arya melangkah menuju kamar Raya. Saat tangannya hendak mengetuk, tiba-tiba pintu kamar terbuka dari dalam. Raya yang tampaknya hendak keluar langsung terkejut melihat Arya berdiri di hadapannya.
"A-Arya?"
Arya menatapnya lurus. "Kenapa kamu tidak bilang kalau hari ini ada jadwal kontrol?"
Raya menunduk. Belum sempat ia menjawab, Arya sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Dia menoleh kanan dan kiri, memastikan tak ada yang mendengar, lalu membisik di telinga Raya dengan suara pelan namun tajam menembus perasaan.
"Secara biologis mungkin aku bukan ayah dari bayi ini... Tapi secara nyata, sekarang aku adalah papanya."
Raya membeku di tempat. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan itu. Ada sesuatu yang hangat namun juga membuatnya ingin menangis. Ucapan itu bukan sekadar kalimat, tapi pengakuan. Pengakuan dari seseorang yang selama ini hanya ia anggap 'berperan' kini mulai merasuk lebih dalam.
Arya menarik tubuhnya mundur dan menatap Raya dengan ekspresi datar yang coba disembunyikan dari rasa hangatnya sendiri.
"Ayo, kita harus berangkat sekarang," ucapnya singkat.
Raya hanya mengangguk pelan, tak mampu berkata apa pun. Ia mengambil tas kecilnya dan berjalan di samping Arya, mengikuti langkah laki-laki itu menuju mobil. Di balik keheningan mereka, hanya detak jantung yang saling menyuarakan isi hati pelan, tapi pasti.
Sesampainya di samping mobil, Arya membuka pintu depan dan bersiap masuk. Namun sebelum itu, ia menoleh pada sopirnya yang berdiri menunggu arahan.
"Pak, istirahat saja dulu. Saya yang nyetir ke rumah sakit. Nanti siang baru antar saya ke kantor."
Sopir itu mengangguk patuh, "Baik, Pak Arya." Ia lalu menyerahkan kunci mobil kepada Arya dengan penuh hormat.
Arya menerima kunci itu, tetapi sebelum sempat membuka pintu, suara Pak Harun dari beranda terdengar memanggil.
"Eh, Arya! Kalau mau ajak Raya ke rumah sakit, pakailah mobil dia. Biar dia juga ngerasain mobil barunya."
Arya spontan menoleh ke arah ayahnya, lalu ke arah Raya yang tampak sedikit kikuk.
"Mobil kamu?" tanya Arya singkat dengan nada setengah bercanda.
Raya mengangguk pelan, "Iya... tapi kuncinya di kamar."
Pak Harun yang tak mau repot, segera memanggil salah satu asisten rumah tangga yang kebetulan lewat di dekat taman, "Dian, tolong ambilkan kunci mobil Bu Raya di kamarnya, ya."
"Asiiap, Pak!" jawab Dian ceria, langsung bergegas masuk ke dalam.
Beberapa menit kemudian, Dian kembali sambil mengulurkan kunci yang gantungannya masih dihiasi boneka kecil berbentuk bayi lucu. Raya menerimanya sambil tersenyum malu.
Arya langsung mengambil alih kunci dari tangan Raya. "Ayo," katanya singkat, lalu berjalan menuju mobil baru itu.
Raya mengikuti langkahnya, dan saat Arya membuka pintu mobil untuknya terlebih dahulu, Raya menatap sejenak diam-diam kagum pada sikapnya yang gentleman.
"Silakan, Ibu Pemilik Mobil," ucap Arya pelan, disertai anggukan kecil yang membuat Raya tersenyum tanpa sadar.
Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Arya menyalakan mesin dan perlahan keluar dari halaman rumah. Di dalam mobil, hening sejenak, hanya suara musik lembut dari radio yang mengalun.
Raya mencuri pandang ke arah Arya yang menyetir dengan tenang. Ada rasa aneh yang tak bisa dia jelaskan. Bukan lagi sekadar rekan dalam perjanjian tapi kini, dia seperti benar-benar seorang suami yang tulus.
Di rumah keluarga Hartawan, Laras masih terlihat kesal dan jengkel. Wajahnya kusut, rambut diikat asal-asalan, dan napasnya memburu. Tapi tiba-tiba, sebuah ide terlintas di kepalanya. Dengan cepat ia bangkit, lalu berteriak sekuat tenaga dari arah ruang tengah:
"Ular! Ada ular! Masuk ke rumah!"
Teriakannya menggema ke seluruh penjuru rumah. Bu Rina yang sedang duduk lemas di sofa langsung tersentak. Dengan koyo masih menempel di pelipis dan syal melilit leher, ia bangkit dan berlari keluar dengan panik.
"Mana?! Mana ularnya?!"
Laras berdiri sambil tertawa kecil dan berkata dengan enteng, "Bohong... Nggak ada ular, Bu."
Bu Rina sontak terdiam. Wajah pucatnya memerah karena marah. "Apa?! Kamu main-main?!"
Laras menyilangkan tangan dan berseru lantang, "Kalau aku nggak teriak gitu, Ibu nggak bakal keluar dari kamar! Aku tahu Ibu pura-pura sakit!"
Mata Bu Rina menyipit. Dia mendekat dan menatap Laras tajam. "Kamu pikir aku main drama? Semalam aku nggak sengaja dengar kamu ngomong sendiri soal rencana busukmu. Kamu bohongin Daffa cuma biar bisa kabur dari urusan rumah!"
Laras melotot dan hendak membalas, namun tiba-tiba ia memegangi perut bagian bawahnya.
Wajahnya berubah pucat, napasnya tercekat.
"Aduh... Aduh perutku sakit...!"
Bu Rina mendengus, "Jangan-jangan kamu acting lagi, ya? Nggak lucu, Laras. Kalau kamu mau tipu-tipu lagi, jangan lebay!"
Namun, dalam hitungan detik, darah mulai menetes dari sela-sela kaki Laras, membasahi bagian bawah rok dan menetes hingga ke betis.
Bu Rina terbelalak, "Ya Tuhan! Laras?!"
"Aku nggak main-main... Sakit, Bu... Tolong..." isak Laras, tubuhnya mulai melemas.
Bu Rina panik. Ia mencoba menopang tubuh Laras yang mulai ambruk. "Astaga! Kamu pendarahan!"
Laras menjerit pelan, menahan sakit sambil menggenggam tangan Bu Rina sangat erat. Bu Rina menoleh ke sekitar, bingung harus berbuat apa.
"Telepon taksi, Bu... Cepat..." rintih Laras.
"Udah nggak sempat! Tahan, Laras!" Bu Rina lalu berlari keluar rumah, menjerit ke arah tetangga. "Tolong! Tolong! Anak saya pendarahan! dia butuh ke rumah sakit!"
Tak lama kemudian, salah satu tetangga datang dengan mobilnya. Beberapa warga ikut membantu membawa Laras ke dalam mobil. Bu Rina ikut naik, duduk di samping Laras sambil terus menggenggam tangan menantunya itu.
Meski tubuhnya sendiri masih lemah, Bu Rina tetap kuat menahan sakit akibat genggaman erat Laras. Dengan satu tangan gemetar, ia mengeluarkan ponsel dan segera menelepon Daffa.
"Daffa... Cepat ke rumah sakit... Laras... dia pendarahan... sekarang kami sedang dalam perjalanan ke RS kasihsayang Bunda..."
Suara Bu Rina bergetar, tapi tegas. Detik itu juga, rasa bencinya pada Laras tak penting lagi yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan nyawa ibu dan calon cucunya.