(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)
Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.
Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.
Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.
Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.
Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 101: Kelinci Putih dan Insting Sang Asura
(VOLUME 7: KEHIDUPAN FANA)
Angin musim semi membawa aroma manis dari bunga persik yang berguguran di halaman Istana Kerajaan Zhao.
Bagi Zhao Xuan yang dulunya adalah Lin Xuan, sang Asura yang ditakuti di Benua Tengah perasaan hembusan angin di kulitnya ini terasa sangat asing. Udara di Dunia Tianyun ini begitu ringan. Tidak ada fluktuasi Qi, tidak ada tekanan spiritual yang membuat dada sesak.
Namun, saat ini, dadanya justru terasa sangat sesak karena alasan yang sama sekali berbeda.
"Xuan'er! Pipi mu sangat empuk hari ini!"
Zhao Ling, gadis kecil berusia tujuh tahun dengan dua cepol rambut yang menggemaskan, sedang memeluk adik bungsunya dari belakang, menggesekkan pipinya ke pipi Zhao Xuan dengan antusiasme yang luar biasa.
"Kak Ling... napasku..." Zhao Xuan memprotes dengan suara cadel khas balita berusia tiga tahun. Ia mencoba meronta, namun tubuh balitanya yang montok dan pendek sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melawan pelukan "beruang" dari anak berusia tujuh tahun.
Jika aku masih memiliki Tulang Emas Asura, batin Zhao Xuan menghela napas pasrah, jangankan pelukan, gunung tingkat Nirvana pun akan kuhancurkan.
Tapi ia tidak memiliki tulang dewa itu lagi. Dan anehnya, meski tubuhnya terjepit dan diperlakukan layaknya boneka, pikiran Zhao Xuan tidak memancarkan setitik pun Niat Membunuh. Aroma bedak bayi dan bunga persik dari pelukan kakaknya mengusir memori anyir darah yang selama ribuan malam menghantui jiwanya.
"Ayahanda, Ibunda! Ling'er, Xuan'er! Aku pulang!"
Sebuah suara remaja yang penuh semangat memecah keheningan taman.
Seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun, mengenakan pakaian berburu miniatur yang terbuat dari kulit rusa dan membawa busur kayu kecil di punggungnya, berlari kegirangan memasuki halaman. Ia adalah Zhao Tian, Putra Mahkota Kerajaan Zhao sekaligus Kakak Sulung yang sangat dibanggakan keluarga.
Di paviliun, Raja Zhao dan Sang Ratu meletakkan cangkir teh mereka dan tersenyum lebar menyambut putra sulung mereka.
"Lihat bagaimana Kakakmu berkeringat, Ling'er, Xuan'er. Cepat beri dia salam," Sang Ratu tertawa pelan, suaranya selembut sutra.
Zhao Ling segera melepaskan pelukannya (membuat Zhao Xuan nyaris terjungkal ke depan karena kehilangan keseimbangan) dan berlari menghampiri Zhao Tian.
"Kak Tian! Mana janjimu? Mana kelinci putihnya?!" tuntut Zhao Ling sambil melompat-lompat.
Zhao Tian membusungkan dadanya dengan bangga. Di tangan kirinya, ia mengangkat sebuah sangkar bambu kecil. Di dalamnya, seekor kelinci putih gemuk dengan telinga panjang sedang mengendus-endus bingung.
"Tentu saja aku membawanya! Siapa aku? Pemanah terbaik di Hutan Barat!" seru Zhao Tian menyombongkan diri. "Kelinci ini sangat lincah, bahkan pengawal kerajaan nyaris kehilangannya. Tapi panah tumpulku menghentikannya tanpa melukainya sedikit pun. Ini untuk kalian berdua!"
Zhao Tian meletakkan sangkar itu di atas rumput. Zhao Ling dengan tidak sabar berjongkok dan langsung membuka pintu sangkar bambu tersebut.
"Halo, kelinci man—"
WUUUSSH!
Bahkan sebelum kalimat Zhao Ling selesai, kelinci gemuk itu menendang pintu sangkar dan melesat keluar layaknya anak panah putih. Insting bertahan hidup hewan liar itu sangat kuat. Ia melompat zig-zag melewati kaki Zhao Ling, melompati bebatuan taman, dan membuat kekacauan.
"Ah! Kelincinya kabur! Tangkap!" jerit Zhao Ling panik.
"Hei! Jangan biarkan dia lari ke kolam teratai!" Zhao Tian segera melempar busurnya dan ikut mengejar.
Dua anak anggota kerajaan itu berlarian ke sana kemari di halaman belakang yang luas, mencoba menangkap bola bulu putih yang sangat gesit tersebut. Beberapa pelayan yang berjaga di sudut taman mencoba ikut membantu, namun Raja Zhao mengangkat tangannya sambil tertawa terbahak-bahak, mengisyaratkan para pelayan untuk membiarkan anak-anaknya bermain.
Di tengah kekacauan itu, Zhao Xuan masih berdiri diam di atas tikar bambunya.
Mata hitamnya yang setajam elang malam mengikuti pergerakan kelinci tersebut. Pikiran mantan dewa kematiannya secara otomatis mulai bekerja.
"Jika aku menggunakan Langkah Bayangan Berat... Ah, tunggu. Aku tidak punya Qi." Batin Lin Xuan
Kelinci putih itu baru saja berhasil mengecoh Zhao Tian yang terjatuh hingga wajahnya menabrak rumput, lalu melompat menghindari tangkapan Zhao Ling. Dalam kepanikannya, kelinci itu berbelok tajam dan melesat lurus ke arah tempat Zhao Xuan berdiri.
Zhao Xuan tidak bergerak sedikit pun. Wajah balitanya sangat datar. Saat kelinci itu melompat ke udara tepat di depannya untuk melewati tikar bambu, Zhao Xuan hanya mengulurkan tangan mungilnya ke depan dengan perhitungan waktu yang sangat presisi, seolah-olah ia sudah tahu persis di mana kelinci itu akan berada.
Hap.
Tangan kecil nan montok itu mencengkeram tepat di kaki kelinci putih tersebut. Gerakan kelinci itu terhenti seketika di udara, kakinya menendang-nendang tak berdaya.
Zhao Xuan berdiri di sana, memegang kelinci gemuk yang ukuran tubuhnya nyaris setengah dari tinggi badannya, dengan ekspresi sedingin bongkahan es.
Keheningan melanda taman. Zhao Tian yang wajahnya dipenuhi rumput dan Zhao Ling yang rambut cepolnya sedikit berantakan, menatap adik bungsu mereka dengan mulut terbuka.
Di paviliun, Raja Zhao tersedak tehnya sendiri, sementara Sang Ratu menutup mulutnya dengan saputangan, matanya membelalak takjub.
"X-Xuan'er..." Zhao Tian bergumam tak percaya. "Kau... menangkapnya? Bahkan pengawal elit butuh waktu setengah jam untuk menyudutkannya!"
"Xuan'er kita hebat sekaliii!"
Seketika, Zhao Ling berlari dan menerjang Zhao Xuan lagi. Kali ini, pelukannya begitu kuat hingga Zhao Xuan dan kelinci di tangannya jatuh berguling ke atas rumput yang empuk. Zhao Tian ikut berlari dan menubruk mereka berdua dari atas, bergabung dalam pelukan raksasa persaudaraan.
"Ugh... tulang rusuk fana-ku..." Zhao Xuan merintih pelan di bawah tumpukan kedua kakaknya, wajahnya terjepit di antara perut kelinci dan lengan Zhao Ling.
Raja Zhao dan Sang Ratu akhirnya tidak bisa menahan tawa mereka lagi. Suara tawa yang lepas, hangat, dan tanpa beban bergema memenuhi taman sore itu. Raja Zhao berdiri, berjalan mendekati ketiga anaknya yang sedang bergulat di rumput, lalu mengangkat Zhao Xuan (yang masih memegang kelinci) tinggi-tinggi ke udara.
"Ini dia pahlawan kecil kita! Penakluk Binatang Buas Putih!" seru Raja Zhao bangga, wajahnya memancarkan kasih sayang seorang ayah yang tulus.
Diangkat tinggi-tinggi ke udara, di bawah langit senja yang mulai berwarna keemasan, Zhao Xuan menatap wajah ayahnya yang tersenyum lebar. Ia lalu menatap Zhao Ling yang sedang tertawa memegang kaki kelinci, dan Zhao Tian yang sedang membersihkan rumput dari wajahnya sendiri sambil tersenyum bangga pada adiknya.
Tidak ada pisau yang disembunyikan di balik senyum mereka. Tidak ada racun di dalam teh yang diminum ibunya. Tidak ada intrik, tidak ada pengkhianatan, dan tidak ada hierarki kekuatan yang menindas.
Jauh di dalam dadanya, bayangan kelam mengenai pengorbanan Jian Wuhen dan kejamnya dunia kultivasi perlahan tertutupi oleh selimut kehangatan yang nyata.
Mata hitam pekat balita itu perlahan menyipit. Sudut bibir mungilnya tertarik ke atas.
Zhao Xuan, sang mantan pembantai dewa, akhirnya tertawa.
Tawanya bukan tawa mengejek atau tawa kegilaan di tengah medan perang, melainkan tawa renyah seorang anak berusia tiga tahun yang sedang menikmati sore hari bersama keluarganya.
Mendengar tawa langka dari si bungsu yang biasanya kaku dan pendiam, seluruh keluarga Zhao terdiam sesaat, sebelum akhirnya ikut tertawa bersamanya dengan hati yang membuncah bahagia.