Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.1 Mimpi yang Tak Pernah Hilang
Dua hari setelah Festival Cahaya Bulan berubah jadi neraka, Eldoria Luminaris masih terasa seperti kota yang kehilangan napas.
Pagi itu matahari sudah naik tinggi, tapi cahayanya terasa redup, seperti disaring asap tipis yang masih menempel di udara. Bau belerang samar-samar mengikuti setiap hembusan angin, bercampur dengan bau kayu hangus dan kain basah yang baru dicuci orang-orang. Jalanan yang biasanya ramai sekarang lebih sepi dari biasanya. Beberapa stan makanan yang dulu penuh warna sekarang tinggal kerangka kayu hitam, tiang lampion roboh berserakan di pinggir jalan, dan kain hiasan bulan yang indah kemarin kini jadi sobekan-sobekan kotor yang diinjak-injak orang lewat. Penjaga kota masih sibuk membersihkan, tapi wajah mereka tegang—ada yang bilang beberapa warga hilang malam itu, dan yang selamat banyak yang terluka karena terinjak-injak atau terkena serpihan api hitam yang aneh itu.
Aku duduk di tepi kasur, katana tergeletak di pangkuan. Dua hari ini aku hampir nggak tidur nyenyak. Setiap kali mata terpejam, aku ingat suara teriakan massa, bau asap hitam, dan tangan kecil Nyx yang gemetar mencengkeram lenganku. Aku nggak tahu kenapa, tapi rasanya lebih berat daripada saat lawan ogre atau bandit biasa. Mungkin karena kali ini ada orang yang aku lindungi—bukan sekadar misi guild, tapi Nyx.
Dia masih tidur di kasur, tapi tidurnya gelisah. Telinga kucing hitamnya bergerak-gerak kecil setiap ada suara angin di luar jendela. Ekornya melengkung ketakutan di bawah selimut, sesekali bergetar seperti sedang lari dalam mimpi. Napasnya cepat dan terputus-putus. Aku nggak berani bangunin dia. Aku cuma duduk di sana, memandanginya, sambil tanganku tanpa sadar memegang gagang katana lebih erat.
Malam tadi dia teriak lagi. Suaranya kecil, tapi penuh ketakutan. Aku langsung bangun, duduk di sampingnya, pegang bahunya supaya nggak jatuh dari kasur. Dia nangis tersedu, tubuhnya basah keringat dingin. Aku peluk dia pelan, usap punggungnya, dan bilang berulang kali, “Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana.” Dia akhirnya tenang setelah hampir setengah jam, tapi nggak cerita detail mimpi buruknya. Cuma bisik, “Bayangan itu… bilang aku kunci lagi… darahku kunci…”
Aku nggak tanya lebih lanjut waktu itu. Aku tahu dia butuh waktu. Aku cuma peluk dia sampai napasnya kembali teratur, lalu biarkan dia tidur lagi di pangkuanku. Pagi ini dia sudah bangun lebih dulu. Dia duduk di tepi jendela, lutut dipeluk erat, mata kuningnya menatap kota yang rusak di bawah. Cahaya matahari menyentuh wajahnya yang pucat, membuat telinga hitamnya terlihat lebih kecil dan rapuh.
“Kak Ely…” suaranya kecil, hampir tenggelam di suara angin yang masuk lewat celah jendela. “Kota… jadi begini gara-gara aku?”
Aku berdiri pelan, taruh katana di meja, lalu duduk di sampingnya di tepi jendela. Lantai kayu dingin menyentuh telapak kakiku. Aku nggak langsung jawab. Aku cuma pandang ke bawah, ke alun-alun yang masih penuh puing-puing dan noda hitam.
“Bukan gara-gara kau,” kataku pelan. “Mereka yang nyerang. Kau cuma kebetulan ada di sana. Mereka yang bawa api hitam itu. Mereka yang rusak kota ini.”
Nyx menggeleng pelan. Telinganya merunduk lebih dalam. “Tapi mereka bilang aku kunci… mereka bilang darahku kunci… kalau aku nggak ada, mungkin festival nggak rusak… orang nggak terluka… Lyre nggak harus bersihin noda hitam di depan penginapan setiap pagi…”
Aku diam sebentar. Dadaku terasa sesak. Aku tahu dia lagi nyalahin diri sendiri—trauma lama yang kumat lagi. Aku tarik napas dalam, lalu usap rambut hitam pendeknya pelan, seperti yang biasa aku lakukan akhir-akhir ini.
“Nyx. Lihat ke bawah. Orang-orang lagi bersihin kota. Mereka nggak nyalahin kau. Mereka takut sama orang jubah hitam itu. Dan kalau mereka target kau… berarti ada sesuatu yang mereka mau dari kau. Bukan karena kau salah. Kau cuma… ada di tempat yang salah waktu itu.”
Dia menoleh ke aku. Matanya basah lagi, tapi kali ini dia nggak langsung menangis. Dia cuma menggigit bibir bawah, seperti sedang menahan sesuatu yang besar di dalam dada.
“Aku takut… kalau mereka datang lagi… kalau mereka beneran mau darahku… aku nggak mau Kak Ely ikut terluka gara-gara aku.”
Aku pegang tangannya erat. Jari-jarinya kecil dan dingin. “Nyx. Lihat aku. Mereka nggak akan berhasil. Aku di sini. Cae juga. Lyre juga. Kau nggak sendirian lagi. Dan aku… aku nggak akan biarkan mereka ambil kau. Janji.”
Dia diam lama. Lalu dia mengangguk pelan, meski air mata akhirnya jatuh juga. Aku tarik dia pelan ke pelukanku. Dia bersandar di dada aku, tubuh kecilnya masih gemetar sedikit. Aku nggak bilang apa-apa lagi. Aku cuma usap punggungnya pelan-pelan, sampai napasnya kembali tenang. Bau rambutnya yang masih harum sabun Lyre bercampur dengan bau asap samar dari luar jendela.
Setelah agak lama, aku berdiri dan tarik dia pelan dari jendela.
“Ayo turun. Sarapan dulu. Lyre pasti sudah siapkan sesuatu yang enak. Kita nggak boleh lemah perut kalau mau cari tahu apa-apa nanti.”
Kami turun tangga pelan-pelan. Tangga kayu berderit kecil seperti biasa, tapi hari ini suaranya terasa lebih berat. Lantai bawah penginapan lebih sepi dari biasanya. Beberapa tamu biasa nggak datang—mungkin takut atau lagi pulih dari luka. Anak kembar Lyre duduk di sudut, yang satu lagi membersihkan meja dengan muka datar, yang satunya lagi memandang keluar jendela dengan wajah khawatir.
Lyre berdiri di konter, matanya merah karena kurang tidur, tapi senyumnya masih hangat saat lihat kami.
“Ely, Nyx. Pagi. Aku buat sup hangat dan roti ekstra hari ini. Ada telur juga. Duduk dulu, ya.”
Kami duduk di meja sudut favorit. Supnya masih mengepul, aroma daging dan rempah tercium kuat, tapi entah kenapa hari ini rasanya agak berbeda—mungkin karena bau asap yang masih menempel di udara. Nyx makan pelan, tapi aku bisa lihat dia cuma main-mainkan sendok. Pikirannya masih di festival malam itu.
Lyre duduk sebentar di sebelah kami, suaranya pelan seperti sedang berbagi rahasia.
“Kota lagi kacau. Penjaga bilang mereka tangkap beberapa penyusup jubah hitam, tapi yang lain kabur ke hutan. Ratu sudah panggil rapat darurat di istana. Katanya… ini bukan serangan biasa. Ada yang bilang mereka kultus sesat. Ordo Gerhana. Nama lama yang sudah lama hilang.” Hasil dari rapat istana langsung dipublikasikan melalui koran, agar semua orang lebih berwaspada kepada orang yg terlihat mencurigakan.
Aku menoleh. “Ordo Gerhana?”
Lyre mengangguk. “Iya. Mereka percaya ada kekuatan kuno yang akan bangun lagi. Dan… mereka selalu cari beastkin kucing hitam. Katanya darah mereka punya kekuatan khusus. Beberapa orang di pasar bilang mereka cari ‘kunci’. Aku nggak tahu apa maksudnya, tapi… setelah kejadian kemarin, banyak yang mulai takut lagi sama beastkin.”
Nyx berhenti makan. Sendoknya jatuh ke mangkuk dengan bunyi kecil yang terdengar keras di ruangan sepi itu. Matanya melebar, tangannya gemetar.
“Darah… kucing hitam… kunci…”
Lyre langsung sadar dia keceplosan. “Nyx, maaf… aku nggak bermaksud bikin kau takut—”
Nyx menggeleng cepat. Air matanya menetes lagi ke sup. “Aku… aku tahu. Di mimpi… bayangan itu bilang aku kunci. Darahku kunci. Mereka mau darahku… mereka bilang aku yang akan membuka sesuatu…”
Aku pegang bahunya erat. “Nyx. Lihat aku. Kita nggak tahu pasti apa maksud mereka. Tapi yang pasti, mereka nggak akan dapat kau. Aku janji. Kita akan cari tahu bareng. Mungkin… kita harus ke reruntuhan desa lamamu. Kalau ada catatan lama keluarga kau, mungkin kita bisa paham kenapa mereka bilang kau kunci.”
Nyx diam lama. Dia usap air mata dengan lengan baju, lalu mengangguk pelan.
“Aku… mau ke sana. Aku mau tahu kenapa mereka bilang aku kunci. Aku nggak mau terus takut seperti ini.”
Aku mengangguk. “Baik. Kita persiapan dulu. Besok pagi berangkat. Lyre, boleh pinjam kuda dan bekal?”
Lyre tersenyum kecil, meski matanya masih khawatir. “Tentu. Aku siapkan yang terbaik. Kalian hati-hati ya. Kota lagi tegang. Banyak yang bilang Ordo Gerhana ini cuma awal. Yang lebih besar mungkin akan datang.”
Kami makan dalam diam setelah itu. Nyx akhirnya habiskan supnya, meski pelan. Anak kembar Lyre sesekali melirik kami dari kejauhan, tapi nggak berani mendekat. Suasana penginapan terasa lebih berat dari biasanya.
Setelah sarapan, aku ajak Nyx ke halaman belakang. Angin pagi masih dingin, tapi matahari sudah hangat. Nyx berdiri di rumput, tangannya terangkat pelan.
“Aku… mau latihan buff lagi. Biar besok di perjalanan aku bisa bantu Kak Ely.”
Aku mengangguk. “Coba saja. Pelan-pelan.”
Dia menutup mata. Mana mengalir lagi. Kali ini aku rasain kekuatan yang lebih stabil. Aku coba angkat batu besar di sudut halaman—biasanya berat, tapi kali ini terasa lebih ringan. Aku tersenyum kecil.
“Bagus. Kau semakin kuat.”
Nyx membuka mata, tersenyum tipis meski masih lelah. “Aku… nggak mau lemah lagi.”
Aku mengacak rambutnya pelan. “Kau nggak lemah. Kau sudah sangat kuat.”
Kami duduk di rumput lagi, sama seperti pagi-pagi sebelum festival. Tapi kali ini suasananya berbeda. Kota di belakang kami masih rusak, dan bayangan jubah hitam masih mengintai di pikiran kami berdua.
Aku tahu perjalanan ke Desa Nocturne nggak akan mudah. Tapi aku juga tahu, kalau kita nggak cari jawaban sekarang, bayangan itu akan terus datang—dan kali ini mungkin nggak cuma di mimpi.