Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Musim dingin di Saint Petersburg selalu membawa kemegahan yang dingin, selaras dengan arsitektur sekolah elit Saint Vladimir Academy. Di koridor-koridor yang dilapisi marmer putih dan ukiran emas, Theodore Volkov berjalan dengan langkah tenang dan wajah yang sulit ditebak. Di sekelilingnya, anak-anak oligarki Rusia, pewaris takhta minyak, hingga keturunan keluarga Romanov, berlalu-lalang dengan mantel bulu dan sepatu buatan tangan Italia.
Bagi mereka, Theodore hanyalah putra pengusaha logistik menengah dan seorang desainer perhiasan pesanan yang "tidak cukup terkenal" di panggung mode dunia. Di mata anak-anak yang terbiasa memamerkan jet pribadi, kehidupan Theodore terlihat sangat biasa, bahkan cenderung sederhana. Namun, mereka tidak tahu bahwa di balik kesederhanaan itu, Theodore menyimpan rahasia besar: darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah pewaris tunggal kekaisaran bisnis Texas yang telah dibuang.
Theodore tidak pernah merasa iri. Ia melihat teman-temannya yang memamerkan kekayaan dengan tatapan iba. Baginya, mereka hanyalah anak-anak yang hidup di atas tumpukan emas orang tua, sementara ia melihat ayahnya, Nikolai, membangun dunia dari reruntuhan dengan tangannya sendiri. Itu adalah kebanggaan yang tidak bisa dibeli dengan rubel atau dolar mana pun.
Kepintaran Theodore adalah legenda tersendiri di Saint Vladimir. Ia tidak hanya cerdas; ia memiliki otak strategis yang tajam warisan Nikolai, dan ketelitian artistik dari Rose. Ia telah menguasai kalkulus tingkat lanjut dan teori ekonomi makro saat teman sebayanya masih berkutat dengan fungsi linear dasar. Namun, Theodore cukup cerdik untuk tidak menonjol di hadapan para guru. Ia lebih suka menjadi arsitek di balik layar.
Sore itu, di sudut perpustakaan yang sunyi, Theodore duduk di tempat paling tersembunyi. Beberapa saat kemudian, tiga remaja laki-laki—putra menteri energi dan pemilik bank terbesar di Rusia—mendekat dengan wajah cemas.
"Kau sudah menyelesaikannya, Theo?" bisik Dimitri, anak seorang miliarder baja, sambil melirik ke sekeliling dengan waspada.
Theodore tidak mendongak dari bukunya. Ia hanya menggeser sebuah tablet tipis ke arah mereka. Di dalamnya terdapat analisis komprehensif tentang pergerakan pasar saham global yang menjadi tugas akhir kelas ekonomi—tugas sebulan yang diselesaikan Theodore dalam satu malam.
"Itu kunci jawabannya. Bukan hanya jawaban, tetapi simulasi algoritmanya juga ada di sana. Kalian tidak akan terdeteksi melakukan plagiarisme karena aku membuat tiga versi logika yang berbeda," ucap Theodore datar.
Dimitri menelan ludah. "Berapa?"
"Seperti biasa. Masukkan ke akun kripto anonim yang kuberikan. Dan ingat, aku tidak butuh uang tunaimu. Aku ingin akses ke data logistik pelabuhan utara yang dikelola ayahmu," jawab Theodore.
Itulah Theodore. Ia tidak tertarik pada uang jajan tambahan. Ia menggunakan kecerdasannya untuk mengumpulkan informasi yang bisa membantu bisnis logistik ayahnya secara diam-diam. Teman-teman elitnya menganggap Theodore adalah penyedia jasa "joki" akademik paling andal, namun bagi Theodore, mereka hanyalah pion untuk memperkuat benteng pertahanan keluarganya.
Meskipun status sosialnya dianggap "menengah", Theodore adalah salah satu murid paling populer. Ia tidak memiliki musuh karena ia adalah juru selamat bagi mereka yang otaknya tidak secepat jarinya dalam menghabiskan uang. Theodore memiliki karisma yang tenang; ia bisa berbicara tentang seni perhiasan abad pertengahan dengan anak-anak bangsawan, lalu beralih membahas strategi pengiriman kontainer dengan para putra pengusaha.
"Theo, kenapa kau tidak pernah membeli mobil sport baru? Ayahmu kan punya bisnis logistik yang stabil," tanya Alexei sambil memamerkan kunci Bugatti-nya.
Theodore hanya tersenyum tipis, senyum yang sangat mirip dengan Nikolai saat sedang merencanakan sesuatu yang besar. "Untuk apa mobil yang hanya bisa melaju cepat di jalanan macet Saint Petersburg? Aku lebih suka investasi yang tidak terlihat oleh mata, Alexei."
Teman-temannya tertawa, menganggap Theodore hanyalah anak yang terlalu hemat. Mereka tidak sadar bahwa "investasi tidak terlihat" yang dimaksud Theodore adalah sistem keamanan siber yang ia bangun sendiri untuk melindungi studio ibunya dan jalur pengiriman ayahnya dari pelacakan kakeknya di Texas.
Di rumah, Theodore tetap menjadi anak laki-laki yang manis. Ia sering duduk di studio ibunya, memperhatikan Rose yang sedang merangkai berlian kecil di bawah mikroskop.
"Bagaimana sekolahmu, Theo? Apa ada yang mengganggumu karena latar belakang kita?" tanya Rose suatu malam, suaranya selalu dibayangi kecemasan.
Theodore mendekati ibunya, lalu mengecup keningnya dengan lembut. "Tidak ada, Ma. Mereka sangat menghormatiku. Bahkan, mereka sangat bergantung padaku."
Theodore tidak bercerita bahwa ia baru saja meretas sistem perbankan kecil untuk memastikan tidak ada aliran dana mencurigakan dari Texas yang masuk ke Rusia. Ia tidak ingin ibunya khawatir. Ia tahu ayahnya sudah cukup lelah menghadapi pengkhianat di kantor, maka Theodore mengambil peran sebagai pelindung digital bagi keluarga mereka.
"Ayah bilang, kita memulai dari nol," ucap Theodore saat Nikolai bergabung di ruang tengah. "Tetapi menurutku, Ayah memulai dari keberanian. Dan itu adalah modal yang lebih besar daripada seluruh harta kakek di Texas."
Nikolai menatap putranya dengan bangga. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih cerdas dan terkendali. Nikolai tahu, jika suatu saat nanti badai dari Texas kembali datang, ia tidak lagi berdiri sendirian. Theodore adalah senjata rahasia yang tidak pernah diduga oleh Viktor Volkov.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰