Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amuk Sang Jagoan Api
Kabut tipis melewati lembah utara Gunung Lawu saat fajar masih berupa garis abu-abu di ufuk timur.
Subosito mendaki jalan setapak yang jarang dilalui, sebuah jalur yang hanya dikenal oleh mereka yang memiliki hubungan dengan maut.
Tubuhnya terasa ringan, bukan ringan karena bugar, melainkan karena jiwanya seolah mulai terpisah dari raga manusianya. Segel Garuda Paksi di punggung bergetar hebat, mengeluarkan frekuensi rendah yang membuat hewan-hewan hutan menyingkir karena ketakutan.
Langkah Subosito berhenti di depan sebuah gapura kayu besar yang dihiasi tengkorak hewan hutan dan ukiran burung gagak yang menyeramkan—Padepokan Gagak Hitam.
Di balik pagar tinggi itu, terdengar suara dentingan senjata dan tawa kasar para pria yang tidak tahu bahwa ajal mereka sedang berdiri di depan pintu.
"Siapa kau, bocah?" teriak seorang penjaga dari atas menara kayu. "Ini bukan tempat untuk pengemis! Pergilah sebelum kepalamu kujadikan hiasan!"
Subosito tidak mendongak, pemuda itu hanya terus melangkah. "Aku datang untuk menghentikan kegelapan ini," suaranya tenang dan berat, membuat udara di sekitar mulai bergoyang karena distorsi panas.
"Hah! Kau dengar itu?" Penjaga itu tertawa ke arah temannya, lalu melepaskan anak panah.
Anak panah itu melesat cepat menuju dada Subosito. Tepat satu jengkal sebelum anak panah itu menyentuh kulitnya, anak panah kayu itu meledak menjadi serpihan bara dan abu.
Subosito terus melangkah. Pintu gerbang kayu yang tebal itu tiba-tiba membara, lalu meledak hancur saat Subosito hanya menyentuhnya dengan ujung jari.
Di dalam padepokan, puluhan murid dan tentara bayaran Gagak Hitam berhamburan keluar. Mereka dipimpin oleh seorang pria bertubuh raksasa dengan tato gagak di seluruh wajahnya—Suro Digdoyo, sang wakil ketua padepokan.
“Jadi, kau adalah 'Anak Terkutuk' yang dibicarakan Kromo Widjojo?” Suro Digdoyo melengus, menghunuskan pedang besarnya yang hitam legam ke depan, ke arah Subosito. "Majikan kami akan sangat senang mendapatkan jantungmu. Serang dia!"
Sekelompok pria bersenjata pedang dan tombak menerjang dari segala arah. Disambut Subosito yang mencoba melakukan bela diri dasar yang dia pelajari secara otodidak.
Setiap kali Subosito menangkis, api menyambar keluar dari pori-porinya. Pemuda itu hanya ingin memberi pelajaran kepada mereka, Subosito telah bersumpah tidak ingin menjadi pembunuh.
Namun, Garuda Paksi punya kemauan lain, kekuatan itu adalah kekuatan kuno yang tidak mengenal belas kasih. Baginya, setiap ancaman harus dimurnikan dengan api.
"Jangan mendekat! Pergi!" teriak Subosito, suaranya tenggelam dalam deru api yang mulai berkobar di telapak tangannya.
Seorang prajurit bayaran menyerang dengan parang yang masih terbungkus sarungnya. Subosito menangkis dengan lengan bagian bawah.
Alih-alih hanya berbenturan, panas dari tangan Subosito merambat melalui logam parang itu.
Dalam sekejap mata, tangan si penyerang melepuh hingga ke tulang, dan parang itu mencair, menetes ke tanah menjadi cairan besi yang membara.
"Arghhh! Setan! Dia bukan manusia!"
Ketakutan itu memicu detak jantung Subosito, dan detak jantung yang semakin cepat adalah bahan bakar bagi segel di punggungnya.
Pandangan Subosito mulai menguning. Di matanya, warna dunia berubah menjadi gradasi oranye dan merah.
Kesadarannya mulai tenggelam ke dalam lautan lava di dalam jiwa.
Subosito merasa seolah-olah sedang tenggelam, sementara sesuatu yang lain—sesuatu yang berdekatan dengan api dan bermata matahari—mengambil alih tubuhnya.
Pembantaian itu dimulai bukan dengan kebencian, melainkan dengan ketidakberdayaan seorang pemuda menahan beban dewa.
Subosito melompat ke tengah kerumunan, dan saat telapak kaki menyentuh tanah, gelombang kejut api menyebar secara teratur. Tanah bergetar, bangunan-bangunan kayu di sekitarnya runtuh dan langsung dilahap api.
Para murid padepokan yang mencoba melarikan diri tak kuasa menahan radiasi panas yang luar biasa. Pakaian mereka terbakar di badan, rambut mereka menguap menjadi asap hitam.
Ini bukan lagi pertarungan; ini adalah bencana alam dalam wujud manusia.
Subosito bergerak seperti kilat jingga. Setiap kali pemuda itu menyentuh lawan, bukan luka tebas yang ditinggalkan, melainkan lubang hangus yang menembus raga.
Suara jeritan kesakitan memenuhi seisi padepokan, tetapi di telinga Subosito, suara itu terdengar jauh, hanya seperti suara angin.
Subosito melihat tangan-tangan yang memohon belas kasihan, tanpa sadar tangannya sendiri bergerak di luar kendali, melepaskan pilar-pilar api yang meruntuhkan menara-menara pengawas.
Suro Digdoyo mencoba menusuk Subosito dari belakang. Namun, sebelum pedang mencapai punggung Subosito, sayap api raksasa muncul dari segel itu.
Sayap tersebut mengepak sekali, melepaskan badai api yang menyapu habis seluruh bangunan utama padepokan.
Suro Digdoyo menghilang dalam sekejap, tubuhnya menjadi abu bahkan sebelum dirinya sempat berteriak.
"Berhenti, aku mohon, berhenti!" batin Subosito merintih di dalam kegelapan relung kepalanya sendiri.
Namun, sang Garuda di nadinya sedang menari. Garuda Paksi telah terkurung terlalu lama dalam diam, dan kini Garuda Paksi merayakan kebebasannya dengan menghancurkan segala sesuatu yang ada di depannya.
Segala kegelapan, segala rencana jahat, segala keangkuhan Padepokan Gagak Hitam, semuanya terbakar habis tanpa sisa.
Udara di lembah itu menjadi begitu panas hingga burung-burung yang terbang tinggi di atas pun jatuh mati karena sesak napas.
Oksigen seolah disedot habis oleh api Subosito yang rakus.
Matahari semakin meninggi, tempat yang dulunya menjadi simbol ketakutan di lereng Lawu berubah menjadi kawah abu yang mengerikan.
Saat matahari mencapai puncaknya, kemarahan si ‘Anak Terkutuk’ mulai mereda.
Subosito berdiri di tengah-tengah puing yang masih membara. Tidak ada lagi suara teriakan, tidak ada lagi penyok senjata. Hanya ada suara derak kayu yang terbakar dan desis angin yang membawa abu manusia.
Subosito menatap tangannya yang masih bergetar dan mengeluarkan uap panas. Kulitnya kini tampak lebih gelap, guratan permanen berwarna merah yang bersinar redup.
Kesadarannya kembali sepenuhnya, dan pemandangan yang menyambutnya membuatnya jatuh terpuruk.
"Apa yang telah aku lakukan?" bisiknya lirih.
Subosito melihat sekeliling, tidak ada satu pun bangunan yang tegak. Padepokan Gagak Hitam telah rata dengan tanah. Pemuda itu datang untuk menghentikan kejahatan, sekaligus baru saja menghapus ratusan nyawa dengan cara yang paling mengerikan.
Meski mereka adalah orang jahat, pemandangan tumpukan abu dan tanah yang menghitam tetap menghancurkan batin pemuda delapan belas tahun itu.
Subosito adalah inang dari monster. Dia adalah senjata yang tidak memiliki pengaman.
Subosito menangis, lagi-lagi air matanya menguap sebelum jatuh ke pipinya yang masih panas. Subosito merasa sangat kotor, bukan karena debu, melainkan karena kekuatan yang dimiliki.
Kekuatan ini tidak memberikan kebebasan; kekuatan ini hanya memberikan jenis kesetaraan yang baru—kesepian seorang penghancur.
Tiba-tiba, Subosito mendengar suara derap kuda di perjalanan. Apakah itu bala bantuan Gagak Hitam? Atau warga desa yang mengikutinya?
Subosito tidak sanggup menghadapi siapa pun sekarang. Dengan sisa tenaganya, pemuda itu berlari menjauh dari lembah kematian itu, menembus kabut yang mulai turun kembali.
Subosito meninggalkan jejak kaki yang membara di atas tanah, sebuah tanda bahwa "Jagoan Api" telah bangkit, dengan harga yang sangat mahal bagi sisi manusianya.
Beberapa kilometer dari sana, di perbatasan desa tetangga yang lebih makmur, berita tentang hancurnya Padepokan Gagak Hitam segera menyebar dengan sendirinya.
Namun, bukan rasa syukur yang muncul, melainkan ketakutan baru. Mereka tidak melihat Subosito sebagai pahlawan yang membebaskan mereka dari hal tersebut, melainkan sebagai ancaman baru yang jauh lebih mengerikan dari apa pun yang pernah mereka bayangkan.
***
Di sebuah pasar yang ramai di Desa Karanganyar, seorang pria berpakaian mewah berdiri di atas panggung kayu, memegang sebuah gulungan yang baru saja ditandatangani oleh para tetua adat.
"Dengarkan warga! Setan telah lahir di Gunung Lawu! Setan itu telah membantai satu padepokan dalam satu malam! Siapa pun yang bisa membawa kepalanya atau memberikan informasi tentang keberadaannya, akan mendapatkan imbalan seribu keping emas!"
Subosito kini bukan lagi sekadar anak terkutuk dari Desa Hargodalem. Pemuda itu adalah buronan nomor satu di seluruh wilayah lereng Gunung Lawu.
Kehancuran Padepokan Gagak Hitam ternyata hanya awal dari penderitaan Subosito. Di tengah rasa bersalah yang menghantui, dia harus menghadapi kenyataan bahwa kini seluruh dunia memburunya.
Bagaimana Subosito bertahan hidup saat setiap sudut desa kini memasang posternya? Siapa sosok pemburu bayaran misterius yang mulai melacak jejak panas yang ditinggalkannya?
Ikuti kelanjutannya di 'Sayembara Desa Sebelah.'