Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Ara demam lagi. Bukan demam ringan seperti kemarin, kali ini lebih tinggi. Elena menempelkan punggung tangannya ke dahi Ara dan langsung merasakan panas yang menyengat kulitnya. Ia bangkit dari sisi tempat tidur, mengambil termometer kecil dari laci meja yang sudah somplak pegangannya, dan menempelkannya di ketiak Ara yang merengek tidak mau diam.
Tiga puluh delapan koma delapan. Elena menarik napas dalam.
"Sakit, Bu." Ara meringkuk di kasur, menarik selimut sampai ke dagunya meski keringat sudah membasahi bajunya. Boneka kelincinya dipeluk erat seperti biasa.
"Ibu tahu, Sayang." Elena mengusap rambut anaknya pelan. "Ibu ambilkan obat dulu ya."
Ia berdiri dan pergi ke dapur. Di atas meja dapur ada plastik obat dari warung yang ia beli kemarin, tinggal satu bungkus yang isinya hanya satu butir lagi. Elena menatapnya sebentar. Satu bungkus untuk satu kali minum. Ia berdoa mudah-mudahan Ara sembuh setelah minum obat lagi. Tapi tetap saja ia harus berjaga-jaga, harus ada obat lagi untuk nanti malam.
Ia membuka dompetnya. Dan ternyata kosong. Elena membalik dompet itu, mengibas-ibaskannya siapa tahu ada uang receh yang terselip di lipatan dalam. Tidak ada. Ia merogoh saku celananya. Tidak ada. Ia berjalan ke kamar, menggeledah tas kecilnya yang sudah lusuh. Menemukan koin lima ratus perak satu biji di sudut terdalam tas.
Lima ratus perak tidak bisa membeli obat. Tidak bisa membeli beras. Tidak bisa membeli apapun yang berarti. Elena menutup tangannya.
Hari ini harusnya ia bekerja. Setiap Selasa dan Kamis Elena membantu Bu Sari, tetangga dua pintu dari kontrakan mereka, membersihkan rumah dan mencuci tumpukan baju keluarganya. Upahnya lima puluh ribu per hari. Tidak seberapa, tapi cukup untuk makan dua hari dan sedikit sisanya untuk jajan anak-anak nya.
Tapi hari ini Ara demam. Dan Elena tidak bisa meninggalkan anak yang demam sendirian di rumah.
Elena mengambil ponselnya, mengetik pesan ke Bu Sari.
"Bu, maaf hari ini saya tidak bisa datang. Ara demam lagi."
Balasannya datang cepat.
"Ya sudah tidak apa-apa. Semoga cepat sembuh."
Singkat. Tidak ada tawaran bantuan. Elena meletakkan ponselnya. Ia tidak menyalahkan Bu Sari. Tapi hari ini tidak bekerja artinya tidak ada uang masuk. Dan tidak ada uang masuk artinya obat Ara yang tinggal satu bungkus itu adalah satu-satunya yang ia punya sampai entah kapan.
Elena menatap tempat beras di sudut dapur, beras pun tinggal segenggam di dasarnya. Ia mengeluarkan semuanya, mencucinya, lalu memasak bubur di panci kecil dengan api kecil agar beras yang sedikit itu bisa mengembang lebih banyak. Tidak ada lauk. Hanya bubur putih polos dengan sedikit garam.
Satu genggam beras untuk tiga orang. Elena mengaduk bubur itu pelan dengan tatapan yang kosong, kosong bukan karena tidak merasakan apa-apa, tapi karena terlalu banyak yang ia rasakan sampai semuanya terasa mati rasa.
Setelah Ara makan bubur dan minum obat, Elena menidurkan anaknya kembali. Ia duduk di sisi tempat tidur, memandangi Ara yang perlahan terlelap dengan napas yang masih sedikit berat, boneka kelincinya terselip di bawah lengannya.
Elena mengusap pipi anaknya yang panas dengan punggung jari, sangat pelan agar tidak membangunkannya.
Maaf ya, Nak, ia berkata dalam hati. Maaf kamu lahir di tengah semua ini.
Ia berdiri dan keluar dari kamar. Elena menarik napasnya tiga kali sebelum melangkah keluar dari kontrakan dan berjalan ke rumah Bu Sari.
Ini bukan hal mudah. Tidak pernah mudah. Setiap kali Elena harus meminta tolong, apalagi meminjam uang, ada sesuatu di dalam dirinya yang memberontak keras. Sisa-sisa harga diri dari perempuan yang dulu tidak pernah kekurangan apapun, yang dulu tidak perlu mengetuk pintu siapapun karena semua selalu tersedia. Tapi hari ini Ara demam. Obat hampir habis. Beras sudah habis.
Harga diri adalah kemewahan yang tidak selalu bisa ia pertahankan.
Ia mengetuk pintu. Sebentar kemudian pintu terbuka. Bu Sari muncul dengan daster bermotif bunga dan rambut diikat sembarangan, tangannya masih memegang serbet dapur. Perempuan itu menatap Elena sebentar dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.
"Ada apa, Elena?"
"Maaf mengganggu, Bu." Elena tersenyum tipis. "Ara masih demam, obatnya sudah hampir habis. Saya...." ia berhenti sedetik, menelan apapun yang menyangkut di tenggorokannya. "Saya mau pinjam uang dulu, Bu. Dua puluh ribu saja untuk beli obat dan beras. Nanti kalau sudah kembali kerja pasti saya kembalikan."
Bu Sari menatapnya. Lama.
Dengan cara yang membuat Elena ingin mundur selangkah, tapi ia tidak melakukannya.
"Pinjam uang lagi?" Bu Sari menaikkan sebelah alisnya. "Bulan lalu belum dikembalikan, Bu Elena."
"Iya, saya tahu. Maaf, Bu. Saya akan kembalikan semuanya sekaligus begitu...."
"Begitu kapan?" Bu Sari memotong dengan nada yang tidak lagi berusaha terdengar ramah. "Suami Bu Elena ke mana? Bukannya dia kerja di kota? Masa istrinya di sini sampai minta-minta ke tetangga?"
Elena diam. Kata minta-minta itu menghantam sesuatu di dalam dadanya yang langsung terasa nyeri.
"Saya tidak minta, Bu. Saya meminjam. Ada bedanya." Suara Elena tetap tenang meskipun di dalam dadanya ada sesuatu yang mendidih pelan.
"Sama saja." Bu Sari melipat tangannya di depan dada. "Kalau pinjaman yang lama belum dikembalikan, mana bisa saya kasih pinjaman baru. Saya juga bukan bank, Elena. saya juga punya keperluan."
"Saya mengerti, Bu. Tapi ini untuk obat anak saya yang sakit. Bukan untuk yang lain."
Bu Sari mendengus pelan, bukan dengus yang keras, tapi cukup untuk terdengar, cukup untuk menyampaikan apa yang tidak ia ucapkan dengan kata-kata.
"Harusnya suami yang tanggung jawab, bukan istrinya yang keliling minjam uang ke tetangga. Itu namanya suami tidak becus." Bu Sari menggeleng pelan. "Dulu saya sudah bilang sama kamu, Elena waktu baru pindah ke sini, kalau butuh apa-apa bilang. Tapi kalau sudah jadi kebiasaan, saya juga tidak bisa terus-terusan."
Elena menelan ludah. Kalimat itu saja sudah cukup untuk membuat wajahnya memanas meskipun ia tidak menunjukkannya.
Ia pernah meminjam tiga kali. Tiga kali dalam satu tahun. Dan setiap kali ia pinjam, ia kembalikan meskipun kadang molor beberapa minggu. Itu bukan kebiasaan. Itu bertahan hidup.
Tapi Elena tidak berkata apapun. Karena ia butuh uang itu.
Dan kadang untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan, seseorang harus menelan lebih banyak dari yang seharusnya.
"Baiklah, Bu." Elena mengangguk pelan. "Maaf sudah mengganggu."
Ia berbalik sebelum Bu Sari sempat berkata apapun lagi.
Langkahnya terukur, punggungnya tegak, kepalanya tidak menunduk, ia tidak akan memberikan kepuasan kepada siapapun untuk melihatnya berjalan dengan kepala tertunduk.
Tapi begitu ia masuk ke dalam kontrakan dan pintu tertutup di belakangnya, Elena berdiri di ruang tamu yang kecil itu sendirian.
Dan sesuatu di dalam dadanya runtuh. Ia tidak menangis langsung. Ia berdiri dulu. Menarik napas dulu. Mencoba menyusun kembali sesuatu yang barusan berantakan.
Tapi tidak bisa. Air mata itu keluar sebelum ia sempat menahannya, air matanya mengalir di pipinya.
Minta-minta. Bu Sari menyebutnya minta-minta.
Elena yang dulu bisa membeli apapun yang ia mau, yang dulu tidak pernah melihat harga sebelum membeli sesuatu, yang rela meninggalkan semua itu demi cinta yang ia percaya, sekarang dibilang minta-minta oleh tetangganya sendiri karena meminjam dua puluh ribu rupiah untuk membeli obat anaknya yang demam.
Ia merosot pelan dan duduk di lantai dengan punggung menempel di pintu. Air matanya masih mengalir.
Di dalam kamar, suara Ara yang mengigau dalam tidurnya terdengar sayup-sayup. Memanggil nama yang tidak ada di sini.
Ayah.
Elena mendengarnya dan dadanya terasa seperti ada yang meremas dari dalam, mencengkram dadanya sangat keras, tanpa ampun, tanpa memberi waktu untuk bernapas dengan benar.
Ia menangis untuk semuanya sekaligus. Untuk dua puluh ribu rupiah yang tidak bisa ia pinjam.
Untuk kata minta-minta yang terasa seperti tamparan. Untuk Ara yang demam dan memanggil ayah dalam tidurnya.
Untuk satu tahun yang ia habiskan menunggu orang yang bahkan tidak mau membalas pesannya.
Untuk dirinya sendiri, untuk perempuan yang dulu punya segalanya dan sekarang tidak punya apa-apa, bahkan tidak punya dua puluh ribu rupiah untuk membeli obat.
Ia menangis lama di sana. Di lantai kontrakan kecil itu. Sendirian. Tanpa ada yang tahu, tanpa ada yang datang, tanpa ada yang menepuk bahunya dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Karena tidak ada yang bisa menjanjikan itu.
Ketika Evan pulang sekolah sore itu, ia langsung masuk ke kamar dan duduk di sisi tempat tidur Ara yang masih terbaring lemah.
"Ara masih sakit?" ia bertanya pelan.
"Masih." Elena mengangguk lemah.
Evan diam sebentar. Lalu ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar uang lima ribuan yang sudah lusuh dan terlipat-lipat.
"Ini, Bu." Ia menyodorkan uang itu ke Elena yang berdiri di ambang pintu kamar. "Uang jajan Evan yang tidak Evan pakai. Buat beli obat Ara."
Elena menatap uang lima ribuan lusuh di tangan anaknya. Tenggorokannya langsung tercekat.
Anaknya baru tujuh tahun dan sudah menyimpan uang jajannya untuk adiknya yang sakit.
"Evan..."
"Evan tidak lapar kok di sekolah, Bu." Evan memotong cepat dengan nada yang berusaha terdengar santai. "Jadi Evan simpan saja uangnya."
Elena tahu itu bohong. Evan tadi pagi makan hanya alakadarnya, mana mungkin saat di sekolah tidak terasa lapar.
Tapi Evan menatapnya dengan mata yang tidak mau dikasihani.
Elena mengambil uang itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Lalu ia menarik Evan ke dalam pelukannya, memeluknya erat, tanpa kata-kata, dengan cara yang membuat Evan sedikit kaku karena tidak biasa dipeluk mendadak seperti itu.
"Makasih, Kak." Suara Elena serak hampir tidak terdengar.
Evan menepuk-nepuk punggung ibunya dengan canggung. "Ibu jangan nangis. Malu dilihat Ara."
Elena tertawa kecil di sela tangis yang ia tahan. "Ibu tidak menangis."
"Bohong." Tapi Evan tidak melepaskan pelukannya.
Malam itu setelah Evan dan Ara tertidur, Elena duduk sendirian di dapur dengan lampu yang remang. Uang lima ribuan lusuh itu sudah ia tukarkan untuk membeli obat dan satu bungkus mie.
Elena membuka WhatsApp Adrian.
Terakhir dilihat: 22.05. Aktif. Seperti biasa.
Tangannya mengetik pelan. Ia tidak menulis dengan amarah tapi hanya menyampaikan kenyataan yang ia tuliskan apa adanya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Adrian, Ara demam lagi. Aku tidak punya uang untuk beli obat. Aku tidak punya uang untuk beli beras besok. Aku tidak meminta banyak. Aku hanya minta kamu ingat bahwa kamu punya anak."
Terkirim. Seperti biasa dibaca.
Elena menunggu. Tidak ada balasan.
Elena meletakkan ponselnya menghadap bawah di meja dapur. Ia menatap langit-langit yang retak di sudut atasnya dalam keheningan yang panjang.
Dan di sudut matanya yang sudah hampir kering itu, air mata mengalir lagi untuk kesekian kalinya hari ini.
Bukan karena ia lemah. Tapi karena malam ini, untuk pertama kalinya, Elena benar-benar tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan.