#Mertua Julid
Amelia, putri seorang konglomerat, memilih mengikuti kata hatinya dengan menekuni pertanian, hal yang sangat ditentang sang ayah.
Penolakan Amelia terhadap perjodohan yang diatur ayahnya memicu kemarahan sang ayah hingga menantangnya untuk hidup mandiri tanpa embel-embel kekayaan keluarga.
Amelia menerima tantangan itu dan memilih meninggalkan gemerlap dunia mewahnya. Terlunta-lunta tanpa arah, Amelia akhirnya mencari perlindungan pada mantan pengasuhnya di sebuah desa.
Di tengah kesederhanaan desa, Amelia menemukan cinta pada seorang pemuda yang menjadi kepala desa. Namun, kebahagiaannya terancam karena keluarga sang kepala desa yang menganggapnya rendah karena mengira dirinya hanya anak seorang pembantu.
Bagaimanakah Amelia menyikapi semua itu?
Ataukah dia akhirnya melepas impian untuk bersama sang kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Bertemu camer
.
Raka kemudian menggandeng tangan Amelia dan membawanya menuju pintu rumah yang terbuka lebar, seakan memang sudah menunggu kedatangan mereka
"Assalamualaikum," ucap Raka dan Amelia bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab Pak Wiranto yang sudah menunggu di depan pintu. "Nak Amel. Mari, silakan masuk!" Pak Wiranto menyambut Amelia dengan senyum hangat dan begitu antusias, seakan Amelia lah yang akan jadi penyelamat hidupnya.
Raka dan Amelia masuk ke dalam rumah bersama Pak Wiranto. Mereka disambut oleh Bu Sundari dan Widuri yang sudah menunggu di ruang tamu.
Bu Sundari tersenyum ramah kepada Amelia. "Selamat datang di rumah kami, Amelia," ucapnya sambil tersenyum. Senyum yang sebenarnya dipaksakan.
Amelia mengerutkan kening melihat perubahan sikap Bu Sundari, namun ia membalas senyum itu meski sedikit ragu.
Pak Wiranto menyambut mereka dengan hangat. "Ayo, Nak Amelia, silakan duduk. Jangan sungkan-sungkan," ucapnya.
Raka membawa Amelia duduk di salah satu sofa panjang. Bu Sundari dan Widuri juga ikut duduk di dekat mereka.
"Amelia, bagaimana kabarmu?" tanya Bu Sundari dengan nada yang begitu halus.
Amelia kembali dibuat terkejut dengan sikap ramah Bu Sundari. Benarkah yang ada di hadapannya saat ini adalah Bu Sundari?
"Alhamdulillah, baik, Bu." Meski begitu Amelia menjawab dengan sopan.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Bu Sundari. "Raka memang selalu begitu. Dia selalu memastikan orang-orang yang dia sayangi merasa nyaman dan bahagia."
Amelia tersenyum tipis mendengar ucapan Bu Sundari. Ia merasa ada sesuatu yang janggal dari sikap Bu Sundari. Senyuman itu terlihat aneh. Tapi ia tak ambil pusing. Selama Bu Sundari bersikap baik, walaupun ia tahu itu cuma pura-pura, maka dia akan membalasnya baik pula.
Widuri juga ikut tersenyum kepada Amelia. "Selamat datang di keluarga kami, NakAmelia," ucapnya begitu manis. Ada Raka di antara mereka, maka dia harus bisa cari muka. Raka tidak boleh menganggapnya menentang agar hidupnya damai sentosa.
Amelia membalas senyuman Widuri. "Terima kasih," jawab Amelia singkat. Rupa-rupa topeng manusia yang pernah dihadapi oleh Amelia dalam pergaulannya yang luas. Apalagi setelah dia dikecewakan oleh sikap tiga sahabat baiknya. Ia jadi lebih pandai menilai. Dan ia tahu, Widuri, sama sifatnya dengan Bu Sundari .
Suasana di ruang tamu terasa canggung. Tidak ada yang berbicara lagi. Semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing.
Raka menyadari kecanggungan suasana itu. Ia kemudian berdehem dan mulai berbicara. "Ayah," ucap Raka dengan nada serius. "Aku ingin memperkenalkan Amelia kepada kalian sebagai calon istriku."
Amelia yang mendengar hanya nama Ayah yang disebut oleh Raka, tanpa menyebut Ibu, mengerutkan kening. Tapi ia juga tak mau menyela. Sepertinya hubungan Raka dengan ibunya memang tidak baik.
Pak Wiranto tersenyum lebar mendengar ucapan Raka. "Ayah merestui pilihanmu, Nak," ucapnya. "Ayah sangat senang kamu menemukan wanita yang kamu cintai."
Bu Sundari juga tersenyum, meskipun senyumnya terlihat dipaksakan. "Ibu juga senang, Nak," ucapnya. "Ibu harap, kamu dan Amelia bisa bahagia selalu."
"Terima kasih, Ayah," ucap Raka
Kening Amelia kembali berkerut. Lagi-lagi hanya Ayah yang disebut oleh Raka. Padahal Bu Sundari juga ikut bicara.
“Nak Amelia," ucap Pak Wiranto sambil menatap Amelia dengan tatapan lembut. "Selamat datang di keluarga kami. Bapak harap, kamu bisa betah tinggal di sini dan menjadi bagian dari keluarga ini."
Amelia mengangguk dan tersenyum. Ia merasakan ketulusan dalam ucapan pria tua itu. Bahkan di antara semua orang yang ada di ruangan itu, Amelia menyadari bahwa yang terlihat benar-benar tulus hanya Pak Wiranto.
"Terima kasih banyak, Pak," ucap Amelia dengan nada penuh hormat. "Saya juga berharap bisa menjadi bagian dari keluarga ini."
"Baguslah kalau begitu," ucap Pak Wiranto. "Mulai sekarang, anggap saja rumah ini seperti rumahmu sendiri. Jangan sungkan-sungkan untuk datang ke sini lain kali."
Amelia mengangguk dan tersenyum. Ia merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar ucapan Pak Wiranto.
Bu Sundari tiba-tiba berdeham untuk menarik perhatian semua orang. "Baiklah, karena Amelia sudah datang, bagaimana kalau kita makan siang saja?" ucapnya dengan nada manis. "Saya sudah menyiapkan hidangan spesial untuk menyambut Amelia."
Pak Wiranto membenarkan ajakan istrinya. Dan Raka pun segera mengajak Amelia menuju ruang makan.
Bu Sundari tersenyum meskipun kesal. Sejak tadi keberadaannya dianggap bagai angin oleh Raka. Apalagi Raka melakukan itu di hadapan Amelia. Apa Raka Ingin menunjukkan jika dirinya sama sekali tak memiliki arti di rumah itu?
Widuri mengikuti mereka dari belakang dengan tatapan penuh iri. Ia tidak suka melihat Amelia diperlakukan dengan baik oleh Raka. Andai saja semua orang tahu. Dirinya pernah jatuh cinta pada kakak tirinya itu. Dan bahkan masih memendam perasaan hingga saat ini. Namun, sikap Raka yang begitu dingin dan selalu menjaga jarak, akhirnya membuatnya menyerah.
Saat tiba di ruang makan, Amelia dibuat terpukau oleh hidangan yang tersaji di atas meja. Aneka kuliner tradisional khas Karangsono tertata rapi, membangkitkan selera. Lontong yang sudah dipotong dalam piring besar, sayur tahu kentang dengan kuah kuning yang menggoda, dan panggang ayam kampung yang bumbunya terlihat begitu menggiurkan.
Ada juga wedang cemue hangat dengan aroma santan dan roti yang menenangkan. Tak ketinggalan, camilan renyah Keripik Tempe khas Karang Tengah Prandon dan Ledre yang manis gurih dengan aroma pisang yang khas turut meramaikan meja makan. Ia jadi ingat kenangan ketika masih kuliah, dan suka keluyuran cari destinasi kuliner tradisional.
"Wah, banyak sekali makanannya," ucap Amelia tanpa sadar.
"Saya sengaja menyiapkan banyak makanan karena saya tahu Amelia pasti lapar," ucap Bu Sundari dengan senyum manis. Dalam hati wanita itu mencibir, mengira Amelia gadis yang tak pernah tahu makanan enak.
Seorang pembantu, wanita tua dengan rambut yang digelung, yang sudah hampir seluruhnya memutih datang membawa semangkuk sambal terasi.
“Maaf sambelnya ketinggalan, Mas," ucapnya sambil meletakkan mangkuk itu tepat di hadapan Raka.
"Nggak papa, Mbok,” ucap Raka, mendongak ke atas, menatap wajah wanita tua itu sambil tersenyum hangat.
Amelia tertegun. Nada bicara Raka terhadap wanita tua itu benar-benar jauh berbeda dengan ketika bicara dengan pak wiranto saat di ruang tamu tadi.
“Oh, iya, Mbok. Nih, kenalin, calon istri Raka." Raka berucap lalu menoleh ke arah Amelia yang duduk di sebelahnya.
“Sayang, kenalin, ini Mbok Fatma. Mbok Fatma ini yang mengasuh aku sejak kecil. Beliau sudah kaya ibuku sendiri."
Amelia sedikit tak mengerti, namun ia berdiri dari kursinya dan menghampiri wanita tua itu. "Assalamualaikum, Mbok. Saya Amelia," ucap Amelia sambil meraih tangan Mbok Fatma dan menciumnya takzim.
“Gusti Allah, ayune (cantiknya).…” Mbok Fatma mengulurkan tangannya menyentuh pipi Amelia.
"Yo ayu, to, Mbok. Nek ora ayu aku emoh, (cantik, dong, Mbok. Kalo gak cantik aku gak mau)," kelakar Raka yang tertawa senang. Tawa yang lagi-lagi membuat Amelia tertegun. Sejak tadi bersama pak Wiranto dan Bu Sundari, sikap Raka begitu kaku. Tapi dengan Mbok Fatma? Seperti apa sebenarnya hubungan antar keluarga ini?
“Hush! Ora pareng ngono, cah bagus. Ayu utowo olo kui gur rupo. Sing penting becik atine (Tidak boleh seperti itu anak tampan. Cantik atau jelek itu hanya wajah. Yang penting baik hatinya),” nasehat Mbok Fatma.
“Nggih, Mbok, nggih," jawab Raka dengan wajah yang dibuat cemberut.
Di kursinya tangan Bu Sundari terkepal. Dengan seorang pembantu Raka bersikap begitu, sedangkan pada dirinya? Amelia juga, kenapa dengan pembantu sampai cium tangan segala? Padahal waktu dengannya gadis itu sama sekali tak punya sopan santun.
Untuk kedua tokoh utama Amel dan Raka pun sama-sama memliki pemikiran dewasa, yang kalau ada apa-apa diselesaikan dengan pembicaraan baik-baik.
Amel yang selalu bisa menyelesaikan masalah dengan caranya. Raka yang selalu memprioritaskan istrinya.
Bahagia selalu untuk mereka berdua...
Semangat selalu untuk ceritanya, dan sukses selalu💪🥰❤❤❤
Sundari jangan sampai kau membuat kesalahan lagi ya! Klo gk pengen diusir