NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.

Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.

"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."

Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.

Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.

Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.

"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.

Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.

"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."

Ruang itu bersinar.

Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 - KERJA PERTAMA

Lily tidak langsung bereaksi terhadap informasi Bibi Rah.

Dia melanjutkan memotong bahan masakan, menyiapkan makan siang, bergerak di dapur dengan ritme yang sama seperti setiap hari. Karena kalau ada yang memantau dari luar, perubahan rutinitas adalah informasi juga.

Tapi di kepalanya, dia menghitung.

Seseorang parkir di ujung jalan dari pagi, ganti-ganti posisi tapi jarak tetap. Itu bukan orang yang menunggu teman atau yang kebetulan ada urusan di area itu. Itu pengintai yang terlatih cukup untuk tidak terlalu mencolok, tapi tidak cukup terlatih untuk lolos dari perhatian Bibi Rah yang sudah dua puluh tahun mengamati setiap perubahan kecil di lingkungan rumah ini.

Yang perlu Lily putuskan adalah, apakah ini berarti Reinaldo sudah dapat informasi dan sedang mempersiapkan sesuatu, atau apakah ini cara mereka mengumpulkan informasi karena mereka belum dapat yang mereka cari.

Perbedaan itu penting. Yang pertama berarti Lily perlu bergerak lebih cepat. Yang kedua berarti Lily masih punya sedikit ruang.

Jam dua belas, Lily menyajikan makan siang dan bergerak ke ruang makan dengan nampan seperti biasa. Di sana, ayahnya sudah duduk. Tante Sari di sebelahnya. Nindi tidak turun, masih sibuk di atas dengan bayinya.

Makan siang berlangsung dalam keheningan yang berbeda dari keheningan hari-hari biasa. Lebih berat. Lebih penuh dengan hal-hal yang tidak diucapkan.

Waktu Lily kembali ke dapur untuk mengambil lauk tambahan, ayahnya mengikutinya.

"Lily."

Lily meletakkan piring di counter dan berbalik. "Iya, Yah."

Ayahnya berdiri di pintu dapur dengan cara yang sudah dia lakukan lebih sering belakangan ini. Setengah masuk, setengah di luar, seperti tidak pernah sepenuhnya memutuskan apakah mau ada di dalam percakapan atau di luarnya.

"Kamu tidak aman di sini," katanya.

Kalimat itu keluar pelan tapi jelas, dan ada sesuatu di caranya mengucapkan yang tidak terdengar seperti ancaman. Lebih seperti pernyataan dari seseorang yang baru selesai menerima sebuah kenyataan.

"Aku tahu," kata Lily.

Ayahnya menatapnya. "Kamu sudah tahu sejak kapan?"

"Sejak malam Ayah mengurung aku di gudang."

Tidak ada kata-kata yang muncul setelah itu dari ayahnya, dari Lily. Keheningan itu berlangsung cukup lama untuk mengatakan lebih dari yang bisa diungkapkan dengan kalimat apapun.

Ayahnya akhirnya masuk ke dapur sepenuhnya dan berdiri di depan jendela yang menghadap ke halaman belakang.

"Ada orang di luar rumah," katanya. "Dari tadi pagi."

"Aku tahu."

Dia berbalik. "Kamu tahu dari siapa?"

"Bibi Rah."

Ayahnya mengeluarkan napas yang terdengar seperti sesuatu yang sudah lama ditahan. "Ini karena Reinaldo."

"Iya."

"Lily---" dia berhenti. Memulai lagi. "Ada hal-hal yang aku tidak bisa ceritakan sekarang. Bukan karena aku tidak mau. Tapi karena ceritanya lebih panjang dari yang kita punya waktu untuk sekarang, dan ada konsekuensi dari cerita itu yang..." dia menggeleng sedikit. "Aku butuh waktu."

Lily menatap ayahnya, laki-laki yang sudah hampir tujuh tahun tidak pernah melihatnya sebagai anak yang perlu dilindungi, yang memilih diam waktu Lily seharusnya dibela, yang malam itu menutup pintu gudang dan memasang gerendel dari luar.

Dan yang sekarang berdiri di dapur dengan sesuatu di matanya yang terasa berbeda dari biasanya.

"Aku tidak butuh cerita kamu sekarang, Yah," kata Lily akhirnya. "Tapi aku butuh satu hal."

"Apa?"

"Jangan halangi apa yang sedang aku lakukan."

Sore itu Lily melakukan sesuatu yang sudah dia pikirkan dari awal minggu, sesuatu yang tertunda terus karena selalu ada yang lebih mendesak.

Dia melamar kerja.

Bukan ke sembarang tempat. Dia sudah riset selama tiga hari terakhir. Perusahaan yang tidak ada hubungannya dengan nama Reinaldo atau perusahaannya, tidak ada hubungannya dengan keluarga Dimas, dan cukup jauh dari lingkaran yang sudah terlalu penuh dengan orang-orang yang sudah tahu terlalu banyak tentangnya.

PT Cakrawala Mandiri, perusahaan distribusi yang lagi membuka posisi magang administrasi. Bukan besar, bukan glamor. Tapi punya nama yang bersih dan lokasinya cukup jauh dari semua titik yang ada di peta Lily sekarang.

Lily mengisi formulir lamaran di ponselnya, sambil duduk di teras belakang yang tidak kelihatan dari jalan depan, dengan suara bayi Nindi yang sesekali terdengar dari lantai atas sebagai latar belakang.

Kolom riwayat pendidikan: hanya SMA. Kolom pengalaman kerja: kosong, tidak ada yang bisa dituliskan dari tujuh tahun menjadi pembantu di rumah sendiri.

Tapi di kolom keterampilan, Lily menulis dengan jujur: administrasi dokumen, manajemen rumah tangga, koordinasi kebutuhan logistik, pengolahan data sederhana.

Semua hal yang dia pelajari bukan dari sekolah tapi dari bertahun-tahun mengerjakan semuanya tanpa bantuan dan tanpa apresiasi.

Dia kirim.

Tidak ada jaminan dipanggil. Tidak ada jaminan diterima. Tapi mengirimkan lamaran itu adalah pernyataan ke dirinya sendiri bahwa pergerakan yang ada di rencananya bukan hanya soal bertahan. Tapi soal membangun sesuatu yang baru di luar dari semua ini.

Sabtu pagi, balasan datang.

Bukan penolakan. Undangan tes dan wawancara... Senin, jam sepuluh pagi.

Lily membaca email itu dua kali, lalu tiga kali, bukan karena tidak percaya isinya tapi karena butuh memastikan ini nyata dan bukan sesuatu yang dia harap-harapkan.

Nyata.

Dia menyimpan ponsel dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama, ada sesuatu kecil di sudut dadanya yang terasa seperti ringan.

Bukan senang yang berlebihan. Lebih ke jenis ringan yang datang dari tahu bahwa ada satu pintu yang terbuka di arah yang benar.

Bibi Rah ada di dapur dan menatap Lily dengan cara yang tidak bisa dibaca. Tapi ada sesuatu di sudut matanya yang Lily pikir, kalau dipaksakan untuk diberi nama, bisa disebut kepuasan yang hati-hati.

"Bibi," kata Lily pelan sambil mengambil bahan dari kulkas. "Orang di ujung jalan masih ada?"

"Sudah ganti orang." Bibi Rah mengaduk kuah sambil matanya ke kompor. "Tapi masih di sana."

"Berapa orang?"

"Dua. Bergantian."

Dua orang bergantian, itu bukan pengintaian cepat. Itu pengawasan jangka panjang yang dipersiapkan. Artinya Reinaldo tidak berencana bertindak segera, tapi sedang mengumpulkan pola kapan Lily keluar, ke mana, dengan siapa, berapa lama.

Senin Lily harus pergi untuk wawancara. Dengan pengawas di luar, setiap pergerakannya akan dipantau dan dilaporkan.

Lily meletakkan bahan masakan di counter dan berpikir.

Cara keluar tanpa terlihat keluar, ada beberapa opsi. Tapi yang paling aman butuh bantuan dari seseorang di luar rumah.

Dia mengambil ponsel dan mengirim pesan ke satu-satunya nomor yang, sejauh ini, belum pernah dia pertaruhkan secara langsung dalam rantai informasi yang mungkin bocor:

[Sinta Wardhani. Aku terima tawaran bicara. Tapi aku butuh bantuan kecil dulu sebelum itu.]

Balasan datang dalam delapan menit. [Apa yang kamu butuhkan?]

Lily mengetik. [Senin pagi. Aku perlu keluar tanpa ada yang tahu ke mana. Kamu bisa bantu itu?]

Tiga titik muncul. Lama.

Lalu. [Bisa. Tapi kamu harus percaya aku setidaknya untuk dua jam.]

Lily menatap layar ponselnya.

Mempercayai Sinta Wardhani, pengacara internal Reinaldo yang baru keluar dari lingkaran itu dua bulan lalu untuk dua jam adalah pertaruhan yang dua minggu lalu tidak akan pernah dia pertimbangkan.

Tapi dua minggu lalu, Lily bukan orang yang sama.

Dua jam, balas Lily. Tidak lebih.

Bersambung ke Bab 33...

1
sunaryati jarum
Ayah pengecut membiarkan putri kandung jadi pembantu untuk ibu tiri dan adik tiri di rumah peninggalan neneknya
sunaryati jarum
Semoga semua yang menjadi hakmu kembali
sunaryati jarum
Berarti ayahmu,Sari,Nindi dan Wulan tidak punya hak atas rumah peninggalan nenekmu.Benar- benar ayah tidak tahu diri
sunaryati jarum
Emak bingung terlambat dua puluh tahun, maksudnya
Erchapram: Maksudnya terlambat mengakui selama 20 tahun lamanya
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga tidak membayakan dirimu , Lyli
sunaryati jarum
Itu berita untuk membuat kamu goyah Lyli, teruslah maju
WeGe
kenapa ruang rahasia di gudang jadi nggak aman? semoga memindahkan dokumen ke kantor pak Syarif bukan sebuah jebakan. 😐
WeGe
ya karena ketahuan. coba kalau Lily diam sj, kan keenakan punya pembantu gratis. hukum juga sari ini lah Thor. enak aja lolos gitu doang/Smug/
WeGe
semoga
WeGe
aku masih nggak percaya padanya Lily. jangan lengah.
WeGe
pasti ada saja rencana jahat nya. hati" Lily.
asih
sudah masuk 40 bab .. mau ngejar baca tp waktunya g ada .. sudah sampai 70 bab sekarang ..Thor jangan ngebut updatenya
Erchapram: Gpp santai saja, baca kalo ada waktu. Aku kejar mau tamat sebelum lebaran. Terima kasih.
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah ada firasat bahwa gugatan Lyli akan berhasil
sunaryati jarum
Reynaldo selalu mengawasi Lyli,Lyli jadi semakin kuat dan tangguh serta selalu waspada
sunaryati jarum
Reynaldo mulai takut kalah ,semua nego untuk Lyli ditolak, orang tamak kini saatnya kau kalah dari generasi ketiga Nenek Suwarni
sunaryati jarum
Semakin menarik namun berat bagi emak
sunaryati jarum
Ayah pengecut tidak bisa melindungi istri dan putrinya pilih meyelamatkan diri, sekarang waktunya kau menebus Suharto walau kau masuk bui lakukan!!!
sunaryati jarum
Banyak dokumen resmi untuk mengambil hak Lyli yang diklaim orang lain, semoga bermanfaat,Lyli dan ada titik terang
sunaryati jarum
Ayah durhaka putri kandung dijadikan pembantu anak tiri dijadikan ratu, diakhir cerita ayah Lyli, Sari dan Nindi harus mendapatkan karma.Untuk Reynaldo dan kroninya harus dapat balasan setimpal
sunaryati jarum
Segera selesai dengan selamat, semua hak Lyli dapat dimilikinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!