NovelToon NovelToon
Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Riichann

Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

350 Koin Emas

Si pelayan pun memulai bicara, "Jadi..."

'Duakkk.. bughhh... Brakkkk' Suara keras itu menghentikan sesaat si pelayan untuk bicara. Namun dia mencoba untuk melanjutkannya, "Jadi penghuni sebelah itu adalah pemilik markas pembunuh bayaran yang paling terkenal di area ini. Tak ada satupun yang berani mengusiknya. Jadi untuk keselamatan diri, sebaiknya tetap diam dan jangan menganggunya. Kuingatkan jangan mengganggunya. Sudah itu saja yang penting yang perlu kau ketahui, aku pergi dulu untuk melanjutkan pekerjaan yang lainnya." Si pelayan langsung pergi.

Theo pun tak menahannya, dia mencicipi makanan yang ada di depannya dan mencoba untuk memakannya, Namun terdengar suara kembali dan kali ini lebih gaduh, 'Plak...buaghh..brukkkk' Terdengar suara sesuatu terjatuh begitu keras serta teriakan,"Kau memang harus dikasih pelajaran supaya sadar posisimu, Kau itu hanyalah budak! Jangan sok punya harga diri. Cepat lepas pakaianmu itu! Kuhitung sampai tiga, atau gak kucabut kedua tangan dan kakimu itu!"

Hal ini mengusik Theo, dia mengambil resiko untuk mengetuk pintu kamar sebelah. 'Tok.. tok' Suara ketukan pintu yang tidak begitu keras, "Halo, tetangga. Bisa buka pintumu sebentar?"

Pintu terbuka, dan ada seorang laki-laki bertubuh besar dan sedikit lebih tinggi dari Theo, "Kau ingin mati?"

"Tentu tidak, ada banyak hal baru yang ingin kucoba. Aku pasti mati suatu hari, namun tidak sekarang. Jadi kau tak perlu repot-repot membuatku mati, lho. Makasih untuk tawaranmu, tapi maaf harus kutolak." (Theo mencoba tersenyum semanis mungkin dan mencoba terlihat bodoh).

Lelaki itu geram dan menggebrak pintu dengan kepalan tangan hingga membuat lubang di pintu. Dia menatap tajam seolah akan mencabik-cabik Theo seketika. Theo merinding oleh tekanan yang dirasakan dari lelaki itu. Lalu mencoba bersikap bodoh, "Wah, Anda kuat sekali bisa menjebol pintu dengan tangan kosong..."

"Aku sudah kesal membuang banyak uang untuk membeli budak sialan dan tak berguna itu. Jadi enyah kau, mumpung aku masih bersikap baik padamu." Ucap lelaki itu.

Theo masih dengan wajah tersenyum namun berusaha untuk mengintip ke dalam, dia terkejut melihat seorang wanita meringkuk tanpa pakaian dan banyak memar ditubuhnya. Dia benar-benar tak bisa mengabaikannya. Dia pun memutar otak, sebab dia tau akan kalah jika harus bertarung dengan si lelaki itu,"Bagaimana kalau kita melakukan kesepakatan aja, tetangga? Kurasa ini tak merugikanmu."

"Hah.. apa yang bisa kau tawarkan. Dilihat darimanapun, kau itu tak bermanfaat." (Si lelaki itu bicara lantang dengan menyeringai serta tatapan yang menghina).

"Hmmm.. seperti yang anda sebutkan sebelumnya bahwa kesal sudah membeli budak, bahkan anda membuang banyak uang kan untuk membelinya. Coba sebutkan apa yang membuat anda melakukan hal impulsif seperti itu?"

"Untuk apa aku memberitahumu?" (Tanya si lelaki sambil melotot dengan arogan dan suara tinggi).

"Yah untuk tau seberapa bernilainya budak itu, sampai-sampai anda membelinya."

"Tak ada yang spesial dari budak itu. Makanya aku kecewa dan kesal!"

"Oh, kalau begitu bisa kubeli dong. Saya bisa bayar sejumlah uang yang telah anda keluarkan untuk membeli budak itu. Sebab saya memang butuh budak untuk membawa barang-barangku. Jadi saya tak perlu cari tempat peperangan budak. Jika ada budak yang bisa saya beli sekarang, Bagaimana tuan? Uang anda bisa kembali lagi kan secara tidak langsung. Ini tawaran yang menguntungkan anda loh." Bujuk Theo pada lelaki itu. Lelaki itu terlihat termenung lalu mengatakan, "Bayar dua kali lipat. Aku membelinya seharga 300 koin emas, jadi jika kau menginginkannya bayar 600 koin emas."

"Apaaaa? 600 koin emas?" Theo pura-pura terkejut dan berekspresi sedih, "Tapi, tuan. Saya hanya memiliki 350 koin emas. Jadi saya tak bisa membeli budak yang saya butuhkan dong? Apa harga budak di sini memang semahal ini ya? Sayang sekali budak saya telah mati karena saya tak memberinya makan selama sebulan. Harusnya saya tak melakukan itu ya, huft.. saya menyesal. Jika dia masih hidup, saya tak perlu kesusahan cari budak baru kan." Theo memasang wajah memelas.

"Ambil saja dia, sebagai gantinya serahkan semua 350 koin emas yang kau miliki itu! Aku sedikit kasihan dengar ceritamu, jadi aku berbaik hati padamu." Ucap si lelaki itu dengan bangga dalam hatinya berkata,'Bodoh banget. Buat apa beli budak sampai harga 300 koin emas. Aku beli budak itu hanya seharga 30 koin emas. Dasar tolol, gampang banget ditipu.'

"Wah, Anda bermurah hati sekali, tuan. Saya sangat terbantu." Theo menyodorkan sekantung uang pada lelaki itu. Lelaki itu menerima dan membuka serta menghitungnya. Setelah selesai menghitung dan jumlahnya pas dia berkata, "Bagaimana bisa kau memiliki uang sebanyak ini? Padahal tampangmu jelas tampang pecundang. Bawalah pergi budak itu dari sini."

"Saya mengumpulkannya bertahun-tahun. Saya pergi ke banyak tempat menerima pekerjaan apapun. Yah lebih tepatnya budak saya yang telah mati itu yang melakukan semua pekerjaannya, saya tinggal terima upahnya. Lalu surat budaknya, tuan? Saya membutuhkannya sebagai bukti kepemilikan budak jika saya bertemu petugas pengecekan setiap saya datang ke tempat lain." Jawab Theo meyakinkan.

"Kau benar-benar iblis sesungguhnya, tak kukira tampang pecundang sepertimu adalah iblis sejati." Lelaki itu memuji Theo sambil memberikan surat budak dari balik jubahnya. Theo menerimanya dan mendekati budak yang tak sadarkan diri itu dan si lelaki itu pergi lebih dulu meninggalkan Theo dan budak itu. Theo menutup badan budak itu dengan selimut dan melilitkannya pada tubuh budak lalu mengangkat pelan dan menggendongnya penuh hati-hati menuju kamarnya. Sesampai di kamarnya, dia membaringkan budak itu di atas tempat tidurnya. Dia menunggu budak itu tersadar untuk bisa mengobatinya. Karena dia merasa lancang jika menyentuh tubuh wanita yang tak sadarkan diri meskipun hanya bertujuan mengobati. Selagi menunggu dia memakan makanan yang sudah dingin. Baru beberapa suapan saja, dia mendengar bunyi perut yang cukup kencang,'Kruyukkkkk...'

 "Eh.. kurasa bukan bunyi perutku", Gumamnya. Lalu Theo menoleh ke arah budak wanita itu dan berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan mendekatinya. Budak itu terlihat memaksakan diri memejamkan mata dengan kuat, hal itu membuat Theo sadar bahwa budak wanita itu sudah sadarkan diri. Namun perutnya berbunyi lagi, 'Kruyuuuukkkkkk'.

"Sebaiknya kau berhenti pura-pura tidur. Dan isi perutmu itu. Sebelum terjadi gempa karena suara perutmu itu". Ucap Theo sambil berjalan mengambil makanan dingin di meja dan menyodorkan pada budak wanita itu, "Makanlah, meskipun sudah dingin tapi masih layak untuk dimakan. Yah aku sudah mengicipnya beberapa suap. Maaf hanya bisa memberimu makanan sisaku, sebab semua uangku habis untuk membelimu dari pria menakutkan tadi."

Budak wanita itu terbangun dan duduk di kasur, dia hendak mengeluarkan salah satu tangannya untuk menerima sodoran piring dari Theo. Namun saat salah satu tangannya keluar dari lilitan selimut, belahan dada budak itu terlihat, dan Theo hampir sepenuhnya melihat dada budak itu, dia panik dan refleks, "Sudah-sudah, kau diam aja. Akan kusuapi."

Budak wanita itu mengangguk nurut. Saat beberapa suapan, budak wanita itu mengatakan sesuatu tapi pelan, "Terima kasih."

"Apa yang barusan kau bilang? Aku tak mendengarnya, katakan lagi lebih keras." Kata Theo

"Te-terima kasih, sudah menyelamatkan saya." Ucap budak wanita itu.

"Hah.. kukira apa. Gak usah sungkan, aku pasti melakukan hal yang sama jika ada orang lain di posisimu seperti tadi. Bahkan jika ada belasan atau puluhan, aku pasti akan menolong. Apa kau punya nama?"

"Nama? Nama.. namaku Maerin." Jawab budak wanita itu.

"Maerin ya, nama yang cukup unik. Seharusnya jika kau ragu, kau tak harus memberitahukan namamu loh."

"Bukan karena itu, hanya saja tak ada satupun yang menanyakan namaku sejak...."Maerin terdiam dan tak melanjutkan perkataannya.

"Ya baiklah, jika sulit untukmu untuk mengatakannya sekarang. Tak usah memaksa diri untuk memberitahu. Oh ya, kau bisa panggil aku Theo." Kata Theo mencoba membuat Maerin nyaman.

"Baik, tuan Theo. Akan saya ingat." Jawab Maerin

"Cukup Theo aja. Gak usah pakai tuan."

"Tapi.. saya adalah budak anda, dan anda adalah tuan saya."

"Budak ya..." (Theo mengeluarkan gulungan kepemilikan budak atas Maerin, dan merobeknya di depan Maerin, lalu berkata, "Sekarang kau bukan lagi budak. Kau sudah bebas. Jadi kau bukanlah budak ."

Maerin terkejut atas tindakan yang dilakukan Theo, namun dalam hatinya merasa sangat lega, 'Memang paling benar aku mengikuti firasatku untuk menarik perhatian sampah biadab tadi. Karena dengan itu, aku bisa bertemu dengan Theo. Entah kenapa firasatku mengatakan bahwa aku harus mengikuti kemanapun Theo pergi".

"Nah baiklah, sekarang minumlah. setelah itu aku akan mengobati luka-lukamu." Ucapan Theo membuyarkan lamunan Maerin. Setelah semua memar dan luka di sekujur tubuh Maerin terobati, "Tidurlah Maerin, pulihkan tenagamu. Besok kita akan pergi dari sini. Selamat malam."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!