Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perisai Batin yang Rapuh
Suara langkah kaki di loteng malam itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia menetap di langit-langit, di balik dinding, dan di bawah ubin, berdenyut seperti jantung raksasa yang tidak terlihat. Tiga hari telah berlalu sejak dalang itu memperlihatkan diri, dan selama tiga hari itu pula, Lauren merasa hidupnya perlahan-lahan diperas keluar dari pori-pori kulitnya.
Dunia berputar hebat saat Lauren mencoba bangkit dari tempat tidur. Kepalanya terasa seberat batu, sementara anggota tubuhnya seringan kapas yang basah. Ia meraba wajahnya. Pipinya cekung. Kulitnya, yang biasanya memiliki rona kehidupan, kini berubah menjadi pucat keabu-abuan.
"Jangan dipaksakan, Lauren. Berbaringlah," bisik Herza. Arwah itu muncul di ujung tempat tidur, wajahnya tampak muram. Pendar birunya tidak lagi cerah; ia tampak ikut meredup, seolah ikut terseret oleh pusaran energi yang menguras Lauren.
"Aku harus sekolah, Herza. Kalau aku di rumah terus... Mama akan makin histeris," suara Lauren parau, nyaris hilang di tenggorokan.
Ia menoleh ke arah plafon. Simbol Sentinel di sana masih berdenyut kusam. Setiap kali Lauren bernapas, ia bisa merasakan untaian energi birunya tertarik secara halus ke arah simbol itu. Ia adalah baterai yang sedang bocor, dan dalang di atas sana sedang menikmati setiap tetes kekuatannya.
Lauren menyeret kakinya menuju kamar mandi. Di cermin, ia melihat monster yang berbeda. Matanya merah karena kurang tidur, dan di bawah kelopak matanya terdapat lingkaran hitam yang dalam. Ia tampak seperti seseorang yang sedang digerogoti penyakit mematikan.
"Lauren? Kamu sudah bangun, Sayang?" Maria mengetuk pintu dengan pelan. Suaranya gemetar, penuh dengan kecemasan yang ditahan selama berhari-hari.
"Iya, Ma. Lauren lagi cuci muka."
Saat ia keluar, Maria sudah berdiri di sana memegang segelas susu hangat. Begitu melihat putrinya, Maria hampir menjatuhkan gelas itu. Ia menutup mulut dengan tangan, air mata langsung menggenang.
"Tuhan... Lauren, kamu makin kurus. Kita ke dokter ya? Papa sudah minta izin kantor untuk mengantarmu."
Lauren memaksakan senyum yang lebih mirip ringisan kesakitan.
"Hanya kurang tidur, Ma. Lauren mau sekolah saja. Di sana lebih... ramai. Lebih hangat."
Lebih aman daripada sangkar ini, batin Lauren pahit.
Bram menunggu di meja makan dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia tidak lagi membaca tabletnya. Ia hanya menatap piringnya dengan pandangan kosong. Saat Lauren duduk, Bram segera meraih tangan putrinya. Tangan Lauren sangat dingin, sedingin es yang baru keluar dari pembeku.
"Pa, aku oke," bisik Lauren sebelum ayahnya sempat bicara.
"Papa akan menjemputmu lebih awal," kata Bram tegas.
"Jika kamu merasa pusing sedikit saja, langsung telepon."
Di sekolah, kondisi Lauren tidak membaik. Ia duduk di barisan belakang kelas, mencoba memfokuskan matanya pada papan tulis yang tampak kabur. Suara guru sejarah terdengar seperti dengungan lebah di kejauhan. Lauren merasa batinnya terisolasi dalam sebuah ruang kedap suara. Ia bisa melihat teman-temannya tertawa, berbisik tentang idola baru atau rencana akhir pekan, namun semua itu terasa seperti film bisu dari dimensi lain.
Mereka sangat beruntung, pikirnya.
Mereka tidak tahu bagaimana rasanya ditandai untuk disembelih.
Saat jam istirahat, Lauren tetap di kelas, menyandarkan kepalanya di atas meja yang keras. Hawa dingin mulai merambat kembali dari ubin lantai. Ia tahu mereka ada di sini. Mengintai di balik lemari buku, bergelantungan di lampu neon, menunggu Lauren benar-benar runtuh.
"Lauren? Kamu sakit ya?"
Sebuah suara lembut memecah kesunyian. Lauren mendongak sedikit. Siska berdiri di samping mejanya, memegang sekotak susu cokelat dan roti. Siska adalah gadis populer yang biasanya tidak pernah menoleh padanya. Namun hari ini, di mata Siska, Lauren melihat rasa kasihan yang tulus.
"Muka kamu pucat banget, Ren. Ini, minum dulu. Kamu belum ke kantin, kan?" Siska menyodorkan susu kotak itu.
Lauren menatap tangan Siska. Di sana, ia melihat aura kuning cerah yang hangat. Energi kehidupan yang normal. Sesaat, Lauren ingin merengkuh tangan itu, mencari sedikit kehangatan manusiawi. Namun, sebuah penglihatan mendadak menghantamnya.
Ia melihat bayangan hitam besar merayap di belakang Siska, menjulurkan lidah panjangnya yang penuh duri tepat ke arah leher gadis malang itu. Bayangan itu menatap Lauren, menyeringai, seolah berkata: Sentuh dia, dan aku akan menghisapnya juga.
Lauren tersentak mundur hingga kursinya berderit nyaring.
"Jangan!" teriaknya.
Siska tertegun, tangannya masih menggantung di udara.
"Ren? Aku cuma mau bantu..."
"Pergi, Siska! Jangan dekat-dekat aku!" Lauren berdiri dengan napas memburu. Jantungnya berdentum menyakitkan di dadanya yang kurus.
"Tapi kamu lemas banget, aku panggilin guru ya?" Siska mencoba mendekat lagi, tampak khawatir.
"Aku bilang pergi! Aku tidak butuh bantuanmu! Jangan sentuh aku!" suara Lauren melengking, menarik perhatian beberapa siswa yang masih ada di dalam kelas.
Siska mundur, wajahnya memerah karena malu dan sakit hati. "Oke. Maaf. Aku cuma peduli."
Siska berbalik dan pergi dengan langkah cepat. Lauren kembali jatuh terduduk di kursinya. Air mata panas mulai mengalir di pipinya yang dingin. Ia ingin berteriak meminta maaf, ingin mengatakan bahwa ia hanya mencoba melindungi Siska dari kegelapan yang menempel pada dirinya. Namun ia tidak bisa.
Ini harganya, bisik sebuah suara di dalam kepalanya.
Kesendirian adalah satu-satunya perlindunganmu.
"Tindakan yang benar, tapi menyakitkan," Herza muncul di kursi kosong sebelah Lauren. Matanya menatap lantai dengan sedih.
"Energi gelap di sekitarmu mulai tidak stabil. Kamu menjadi magnet bagi segala hal yang buruk."
"Sampai kapan, Herza?" isak Lauren pelan, menyembunyikan wajahnya di lipatan lengan.
"Aku tidak kuat lagi. Tubuhku rasanya mau pecah. Medali itu... dia makin berat di saku ku."
Herza tidak menjawab. Ia tahu bahwa medali itu bukan sedang menambah berat fisik, melainkan sedang menuntut energi yang tidak dimiliki Lauren saat ini. Sang dalang sedang melakukan pengurasan sistematis. Ia ingin Lauren menyerah secara sukarela. Ia ingin Lauren merasa bahwa kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari rasa sakit ini.
Pulang sekolah, Lauren hampir pingsan di gerbang. Bram menangkapnya tepat sebelum kepalanya menghantam aspal. Sepanjang perjalanan pulang, Lauren hanya bisa memejamkan mata, merasakan getaran mobil yang membuatnya mual.
Malam itu, Lauren kembali berada di kamarnya. Lampu menyala, namun baginya ruangan itu tetap gelap. Simbol di langit-langit seolah berpendar lebih terang, menertawakan ketidakdayaannya. Lauren berbaring telentang, menatap plafon dengan mata kosong.
"Herza," panggil Lauren lirih.
"Iya, Lauren?"
"Jika aku menyerah... apa mereka akan melepaskan Papa dan Mama?"
Herza tersentak. Ia melayang mendekati wajah Lauren, menatap pupil mata gadis itu yang tampak mulai kehilangan binar birunya.
"Jangan bicara begitu. Kita sudah berjanji untuk melawan."
"Melawan apa? Aku bahkan tidak bisa memegang pulpen," Lauren tertawa kecil, suara yang terdengar pecah dan kering.
"Aku bukan petarung, Herza. Aku cuma gadis dua belas tahun yang ketakutan. Takdir ini... takdir ini salah pilih orang."
Lauren membalikkan tubuhnya, memunggungi Herza dan meringkuk seperti bayi. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba mencari kehangatan yang sudah lama hilang dari tubuhnya. Di bawah tempat tidur, suara cakar yang menggores kayu kembali terdengar, lebih berani, lebih dekat.
Herza berdiri diam di tengah ruangan. Untuk pertama kalinya sejak ia menjadi arwah pemandu, ia merasa sangat tidak berguna. Ia melihat Lauren—muridnya, temannya, mercusuarnya—perlahan-lahan padam. Esensi arwahnya sendiri terasa teriris melihat keputusasaan yang begitu pekat menyelimuti Lauren.
"Maafkan aku, Lauren," bisik Herza. Suaranya pecah oleh emosi yang seharusnya tidak lagi dimiliki oleh makhluk mati.
"Aku seharusnya melindungimu lebih baik."
Lauren tidak menjawab. Napasnya terdengar pendek dan berat. Di kegelapan batinnya, Lauren mulai membiarkan dinding-dinding pertahanannya runtuh satu per satu. Ia sudah terlalu lelah untuk terus memegang kunci yang berat itu.
Tiba-tiba, lampu di kamarnya berkedip. Bukan berkedip karena tegangan listrik, melainkan berkedip dalam irama yang sangat pelan, mengikuti detak jantung yang berat dari arah loteng.
Dug. Dug. Dug.
Pintu lemari Lauren terbuka perlahan dengan sendirinya, mengeluarkan aroma tanah pemakaman yang basah. Dari dalam kegelapan lemari itu, sepasang mata merah yang sangat besar perlahan-lahan terbuka, menatap Lauren dengan penuh kemenangan.
Lauren melihat mata itu dari balik bahunya, namun ia tidak lagi berteriak. Ia hanya menatap mata merah itu dengan pandangan menyerah, seolah-olah ia sedang menyambut tamu yang sudah lama ia tunggu untuk mengakhiri penderitaannya.