NovelToon NovelToon
Universe Network

Universe Network

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Zombie / Fantasi
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: Candra S

Beberapa bulan setelah Leon lulus dari SMA, gurunya menawarkan Leon untuk bekerja di villa sang guru. Setahun setelah itu, Leon berhasil menembus tahap pemurnian qi level satu, dan secara resmi dijadikan murid oleh sang guru. Pada malam peresmian murid, gurunya memberikan sebuah bola hitam misterius kepada Leon. Keesokan harinya, kehidupan Leon mulai berubah secara drastis!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Mendirikan Perusahaan

"Kamu sangat kuat, kak Leon."

"Hohhh, apakah Elisaku sudah tergila-gila terhadap kakak?"

"Wilona...."

Setelah mengalahkan semua orang, Leon mengikuti kedua gadis berkeliling kampus.

"Baiklah, mari kita duduk di taman itu. Karena biasanya kakak yang mentraktir kami berdua, kali ini kami yang akan mentraktir kakak!"

"Mentraktirku?"

"Ayolah, ikuti saja!"

Setelah duduk di atas bangku taman, Wilona dan Elisa mengeluarkan bekal makan siang mereka dari dalam tas. Kemudian, Wilona mengeluarkan sebuah kotak makan lain yang diisi penuh dengan nasi. Sementara Elisa mengeluarkan satu kotak makan lagi yang berisi lauk pauk disertai sayuran.

"Bukankah kalian hanya mengisinya dari warung makan mama?"

"Hehehehe."

Elisa menunduk malu sementara Wilona menepisnya dengan tawa.

"Kalau begitu mari kita makan siang bersama."

"""Mari makan."""

Di tengah makan siang bersama, sebuah rombongan yang terdiri dari lima pria dan dua wanita berjalan mendekati tempat duduk mereka.

Seorang pria yang terlihat seperti pemimpin rombongan mulai berbicara.

"Kalau bukan duo gadis cantik Wilona dan Elisa. Apa kalian sedang makan?"

...

...

...

...

"Iya."

Balas Wilona singkat, setelah melahap makanannya dengan santai kemudian menelannya.

"Dan siapa pria ini?"

...

...

...

...

"Kakakku."

Leon memutar mata terhadap pria tersebut. Tidak bisakah pria ini merasakan adiknya tidak berniat menanggapi?

"Kakakmu? Kalau begitu kita dapat berteman. Senang berkenalan denganmu."

"Aku sedang makan."

Karena adiknya terlihat risih , Leon menjawab pria tersebut dengan dingin.

"Ohh... Kalau begitu kita dapat berkenalan nanti. Apa kalian bertiga ingin minuman?"

"Tidak perlu. Kami membawa air minum."

Balas Leon lagi.

Melihat balasan dingin Leon lagi, pria itu mengerutkan keningnya.

"Baiklah kalau begitu. Maaf sudah mengganggu kalian. Ayo pergi teman-teman."

Setelah rombongan pergi, Leon bertanya kepada adiknya.

"Siapa mereka?"

"Geng kaya di jurusan kami. Mereka sering pamer kekayaan secara tidak langsung, dan selalu ingin memperoleh perhatian lebih dari yang lain. Khususnya orang tadi."

"Sekelompok anak manja."

Karena Elisa dan Wilona memiliki kelas jam dua, Leon lebih dahulu pulang ke rumah. Tidak memiliki rencana lain, dia memutuskan untuk menjual semua batangan emas yang tersisa di dalam inventory.

Sonya memiliki kontak ibunya. Jadi Leon tidak berniat menjual emas yang tersisa di toko Sonya. Jika Sonya bertanya-tanya kepada ibunya darimana Leon memperoleh satu kilogram emas, ibunya mungkin akan khawatir.

"Baru kali ini rekeningku menyentuh angka satu miliar."

Tabungan Leon sebelumnya hanya sedikit di atas seratus juta, yang sebagian besar dia tanamkan ke dalam investasi. Berkat pekerjaan dan kehidupan tanpa pengeluaran di villa sang guru, dia berhasil menyentuh angka tersebut. Meskipun dia juga membantu kebutuhan kehidupan kampus Wilona, itu tidak banyak.

Wilona sendiri sama seperti Elisa, mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi. Para penerima beasiswa bidikmisi dapat menempuh pendidikan di universitas secara gratis. Bahkan mereka diberikan uang saku setiap bulan sekitar satu juta rupiah. Namun tentunya itu tidak cukup memenuhi kebutuhan mahasiswa. Jadi sesekali, Leon akan mentransfer uang kepada Wilona.

Kini, rekening Leon sudah di atas dua miliar. Karena itu dia dapat lebih tenang mengenai kondisi keuangan keluarga.

"Halo ma."

"Ada apa Leon?"

Suara ibunya terdengar melalui headset yang dia pakai.

"Mama mau makan apa malam ini? Leon akan membeli makanan enak untuk makan malam kita."

"Aduh kamu ini. Kalau begitu mama mau makan hidangan seafood."

"Oke ma."

Karena Leon membawa ransel untuk menutupi pengeluaran emas dari dalam inventory sebelumnya, Leon berniat menggunakannya juga untuk menyimpan makanan yang sudah jadi ke dalam inventory.

Pada pukul sembilan malam setelah ibunya menutup warung makan, keempatnya berkumpul bersama menikmati kue sambil menonton televisi.

"Wilona, kapan kelas kalian besok selesai?"

"Besok kami hanya ada kelas jam delapan sampai jam sepuluh."

"Kalau kalian besok pulang sebelum jam sebelas, kakakmu akan membelikan motor untukmu."

"Ummm....."

"Leon!"

Sementara Wilona bingung, ibunya menegur Leon. Wilona tidak masalah menerima niat baik kakaknya dalam segala hal. Karena dia tahu kakaknya mengetahui apa yang dibutuhkan Wilona.

Jika Wilona menolaknya, itu akan melukai harga diri kakaknya yang sudah bersedia untuk tidak melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA, melainkan langsung mencari kerja demi biaya pendidikannya.

"Tidak apa-apa ma. Lagipula mama pasti repot jika butuh sesuatu ketika mereka membawa motor ke kampus."

"Tapi kalau itu mengganggu rencanamu di masa depan..."

"Ma, yakinlah pada Leon."

Melihat keyakinan Leon, kemudian ibunya mengangguk setuju.

Di showroom motor, Leon bersama dengan Wilona dan Elisa melihat-lihat motor yang tersedia.

"Berapa budgetnya kak?"

"Kamu bisa memilih yang mana saja."

Pada akhirnya, Wilona memutuskan untuk membeli motor Voria dengan warna yang cukup feminim, dengan harga 27 juta.

Setelah Leon membayar jumlah tersebut, Wilona mengisi dokumen yang diperlukan dengan bantuan staf. Wilona dapat mengambil motornya besok. Karena Elisa juga dapat mengendarai motor, keduanya dapat pergi tanpa bantuan Leon.

Sehari setelahnya, Leon pergi ke sebuah warung tenda pinggir yang berjejer di luar sebuah universitas swasta terkemuka bernama Universitas Prahayangan.

"Leon, lama tidak bertemu kawan!"

"Kamu terlihat aneh memakai kacamata Rey"

"Hei, bukankah aku menjadi seperti orang pintar?"

Leon memeluk pundak sahabatnya yang sudah dia kenal sejak kecil. Namanya adalah Reynold, adik laki-laki dari Sonya, pemilik toko emas.

Karena Reynold berkuliah di Universitas Prahayangan mengambil jurusan hukum, Leon berniat untuk menjalankan rencananya dengan bantuan sahabatnya ini.

"Sudah makan?"

"Tentu saja belum."

"Kalau begitu aku pesan dulu."

Leon memesan dua porsi nasi goreng kambing kepada pemilik warung.

"Bagaimana kabar cewekmu?"

"Hahhh.... Kami masih belum jadian. Kamu sudah tahu sifat Arini, dia adalah tipe gadis yang memasang dinding besi jika berada di dekat laki-laki."

Arini adalah teman satu angkatan mereka berdua semasa sekolah. Keluarga Arini memiliki sedikit kemiripan dengan keluarga Leon, yaitu keduanya sama-sama memiliki ayah yang tidak baik.

Ayah Leon adalah tipe pria bejat yang secara terbuka berselingkuh dengan banyak wanita. Ketika Leon duduk di bangku SMP, ayahnya dijebak oleh lawan bisnisnya melalui wanita. Leon tidak tahu seluk-beluk hal tersebut. Bahkan dia mendengarnya dari Reynold yang menguping pembicaraan orang dewasa.

Setelah bisnis ayah Leon hancur lebur, ayahnya menyerah, menyisakan ibu dan adiknya.

Sedikit berbeda dengan keluarga Leon, ayah Arini berselingkuh secara diam-diam. Ketika hal itu diketahui, ibunya mengajukan surat perceraian. Arini dan ibunya dapat tetap menjalani kehidupan dengan uang yang melimpah. Dan meski Arini benci ayahnya, dia tidak dapat menolak surat perjanjian yang menyatakan bahwa ayahnya akan menyediakan kebutuhan hidup Arini hingga usia yang ditentukan.

Namun karena ayahnya itu, Arini memiliki rasa tidak percaya terhadap laki-laki. Meskipun saat ini Arini tidak menghindari Reynold seperti halnya pria lain, Reynold sudah berkali-kali ditolak untuk berpacaran.

"Kalau begitu bagaimana dengan mempekerjakan Arini?"

"Maksudmu?"

"Jika dia menjadi asistenmu atau sesuatu seperti itu, maka dia tidak akan kemana-mana."

"Kamu berbicara terlalu jauh bung. Meskipun kakekku adalah pemilik yayasan itu, dia tidak akan memberikanku jabatan penting begitu saja."

"Maksudku bukan itu. Jadi begini, aku berniat untuk memulai sebuah perusahaan bisnis dan properti. Tentu saja kamu adalah orang pertama yang terlintas dalam pikiranku untuk menjalankan perusahaan tersebut."

"Bisnis dan properti? Kamu sudah kaya sekarang?"

"Bisa dibilang begitu. Tapi aku masih menyembunyikannya dari ibu dan adikku. Bagaimana, apa kamu tertarik?"

"Ceritakan rencananya kepadaku!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!