NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:442
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Logika di Atas Logika

​Hari kedua short course bukan lagi tentang perkenalan fasilitas, melainkan tentang pembuktian kapasitas. Pagi itu, para peserta dikumpulkan di Strategic Room, sebuah ruangan melingkar dengan layar holografik di tengahnya. Di sini, tidak ada buku tulis, setiap meja dilengkapi dengan konsol antarmuka yang terhubung langsung ke server pusat sekolah.

​"Hari ini, kalian akan menghadapi Simulasi Manajemen Krisis," ujar Kolonel Hendrawan, salah satu instruktur senior. "Skenarionya sederhana, sebuah desa di kaki gunung terisolasi karena tanah longsor. Sistem komunikasi mati, pasokan listrik terputus, dan ada ancaman wabah karena sanitasi yang buruk. Kalian memiliki anggaran terbatas dan waktu simulasi selama dua jam untuk menyelamatkan penduduk."

​Bima segera mengambil kendali. Jari-jarinya bergerak cepat di atas konsol, memanggil data topografi dan spesifikasi teknologi drone. "Aku akan mengambil peran sebagai Komandan Logistik. Kita akan mengirimkan drone kargo otonom untuk menyuplai makanan dan membangun menara BTS portabel untuk memulihkan sinyal 5G. Dengan anggaran ini, kita bisa menyewa satelit swasta selama satu jam."

​Senara, yang duduk di sampingnya, mengerutkan kening melihat grafik anggaran yang dihabiskan Bima dalam hitungan menit. "Bima, satelit itu terlalu mahal. Kalau kita pakai satelit, kita tidak akan punya sisa uang untuk obat-obatan dan air bersih."

​Bima mendengus, matanya tidak beralih dari layar. "Sinyal adalah segalanya, Senara. Tanpa koordinasi digital, kita buta. Teknologi akan menyelesaikan masalah ini dalam sekejap. Kamu diam saja dan perhatikan bagaimana sistem bekerja."

​"Tapi penduduk desa tidak butuh sinyal 5G saat mereka haus, Bima!" protes Senara.

​"Logikamu terlalu sempit," balas Bima pedas. "Ini simulasi tingkat tinggi. Para instruktur ingin melihat bagaimana kita menggunakan teknologi mutakhir, bukan bagaimana kita menjadi relawan PMI."

​Satu jam simulasi berjalan, rencana Bima mulai menunjukkan retakan. Dalam sistem simulasi yang sangat realistis itu, badai susulan muncul. Drone kargo milik Bima tidak bisa terbang karena angin kencang. Menara BTS portabelnya tertimbun longsor susulan. Penduduk desa di layar mulai menunjukkan status kritis karena kelaparan dan penyakit.

​"Kenapa sistemnya tidak merespons?" Bima memukul meja, wajahnya memerah karena frustrasi. "Aku sudah memasukkan algoritma distribusi tercepat!"

​"Karena algoritmamu mengasumsikan jalanan rata dan cuaca cerah," ujar Senara. Ia menarik konsol di depannya, mengambil alih otoritas di sektor kesehatan dan lingkungan. "Minggir, Bima. Kamu sudah menghabiskan 70% anggaran untuk teknologi yang sekarang hanya jadi rongsokan di atas gunung."

​Bima ingin membalas, namun ia terdiam saat melihat angka kematian penduduk desa di layar mulai meningkat. Ia terpaksa mundur dan membiarkan Senara memegang kendali.

​Senara tidak memanggil satelit. Ia tidak menyewa drone. Ia menggunakan sisa anggaran yang ada untuk hal-hal yang bagi Bima terlihat primitif.

​"Aku akan membatalkan semua pesanan drone," perintah Senara pada sistem. "Ganti dengan pembelian bahan baku filter air berbasis keramik lokal dan antibiotik generik. Untuk komunikasi, kita gunakan sistem transmisi radio amatir (ORARI) yang bisa dirakit dari komponen elektronik bekas di balai desa. Biayanya hampir nol."

​"Radio amatir?" Bima tertawa meremehkan. "Kamu bercanda? Itu teknologi zaman kakekku!"

​"Teknologi zaman kakekmu itulah yang tetap menyala saat satelitmu tertutup badai, Bima," balas Senara tajam.

​Senara terus bekerja. Ia memasukkan instruksi untuk membangun sistem penampungan air hujan sederhana dan menggunakan tenaga hewan (sapi dan kerbau) yang ada di desa untuk menarik logistik lewat jalur setapak yang tidak bisa dilewati drone. Ia memprioritaskan daya tahan daripada kecepatan.

​Tiga puluh menit kemudian, keajaiban terjadi di layar monitor besar. Status kesehatan penduduk desa perlahan berubah dari merah menjadi kuning, lalu hijau. Sistem komunikasi radio amatir berhasil menghubungkan tim medis dengan pusat desa. Filter air sederhana buatan Senara berhasil mencegah wabah kolera tanpa harus mendatangkan mesin purifikasi mahal.

​Saat peluit tanda berakhirnya simulasi berbunyi, tim Bima dan Senara mendapatkan skor tertinggi di antara seluruh peserta. Namun, ada catatan khusus di bawah nilai mereka.

​Catatan Instruktur:

Efisiensi Anggaran: 95% (Terbaik). Ketahanan Sistem: Maksimal. Solusi Inovatif: Berbasis Kearifan Lokal dan Logika Praktis.

​Seluruh ruangan memberikan tepuk tangan, namun Bima merasa seperti baru saja ditampar di depan umum. Kemenangan ini adalah kemenangan ide Senara, bukan idenya. Semua teknologi mahal yang ia banggakan justru menjadi beban dalam simulasi tersebut.

​Kolonel Hendrawan berjalan mendekati mereka. Ia menatap Bima, lalu menatap Senara. "Bima, kamu punya visi yang hebat tentang masa depan, tapi kamu buta terhadap realitas lapangan. Senara, kamu punya pemahaman luar biasa tentang bagaimana cara bertahan hidup dengan apa yang ada di tanganmu. Itulah yang kami cari di Garuda."

​Bima hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja. Rasa malunya semakin menjadi-jadi saat ia menyadari bahwa teman-teman dari sekolah elit lain kini mulai menatap Senara dengan rasa kagum yang murni, bukan lagi dengan pandangan meremehkan.

​Selesai ujian, mereka berjalan keluar menuju koridor asrama. Bima tidak tahan lagi, ia menarik tangan Senara dan membawanya ke sudut yang sepi di dekat perpustakaan digital.

​"Kamu sengaja melakukannya, kan?" desis Bima, suaranya bergetar karena amarah. "Kamu ingin membuatku terlihat seperti orang bodoh yang hanya tahu cara menghabiskan uang!"

​Senara melepaskan tangannya dengan sentakan kuat. "Aku tidak pernah berniat membuatmu terlihat bodoh, Bima! Aku hanya ingin misi kita berhasil. Aku hanya ingin penduduk desa itu, yang meskipun hanya dalam simulasi, tetap hidup!"

​"Dengan cara mempermalukanku?" Bima tertawa sinis. "Kamu menggunakan cara-cara kelas rendahmu untuk menang di tempat yang seharusnya memuja teknologi tinggi! Kamu merusak standar tempat ini!"

​"Standar apa yang kamu bicarakan?" tantang Senara, matanya kini berkilat penuh keberanian. "Standar di mana orang kaya sepertimu boleh sombong meskipun gagal, sementara orang sepertiku harus selalu sempurna hanya untuk dianggap ada? Sains itu bukan tentang seberapa mahal alatmu, Bima. Sains itu tentang seberapa efektif otakmu bekerja dalam tekanan!"

​Bima mendekat, tatapannya sangat tajam hingga seolah ingin menembus jantung Senara. "Dengar baik-baik, Senara. Kamu mungkin menang di simulasi ini karena keberuntungan dan sedikit insting 'orang miskin' yang kamu punya. Tapi ini SMA Garuda, ujian sesungguhnya bukan di layar monitor, tapi di dunia nyata. Aku tidak akan membiarkanmu merasa di atas angin lebih lama lagi."

​"Kamu tahu, Bima?" Senara tersenyum tipis, senyuman yang sangat tenang namun menyakitkan. "Kasihan sekali kamu. Kamu punya segalanya, tapi kamu tidak punya ketenangan. Kamu selalu merasa terancam hanya karena seseorang yang kamu anggap 'rendah' ternyata lebih mampu darimu. Kamu tidak sedang melawanku, Bima, kamu sedang melawan rasa takutmu sendiri."

​Kata-kata itu menghantam Bima tepat di ulu hati. Ia ingin membalas, ingin meneriaki Senara, namun tenggorokannya terasa tercekat. Ia hanya bisa menatap punggung Senara yang berjalan menjauh dengan kepala tegak.

​Malam itu, di kamar asramanya yang sepi, Bima tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Senara. Ia merasa egonya retak. Selama ini ia percaya bahwa dunia bisa dikendalikan dengan parameter dan angka. Namun hari ini, seorang gadis dengan ransel butut membuktikan bahwa ada variabel kemanusiaan dan logika praktis yang tidak bisa ia beli dengan kartu kredit ayahnya.

​Di sisi lain, Senara duduk di ranjangnya, menatap jendela yang menampilkan pemandangan pegunungan. Ia merasa bangga, namun ia juga merasa lelah. Ia menyadari bahwa di tempat ini, setiap kemenangan akan diikuti oleh kebencian yang lebih besar dari Bima, dan mungkin teman-teman yang lainnya.

​"Ini bahkan belum genap satu minggu," gumam Senara.

​Pertarungan di semester ini telah berpindah ke level yang lebih personal dan filosofis. Di bawah atap SMA Garuda Nusantara, persaingan mereka bukan lagi soal siapa yang paling pintar, tapi soal siapa yang paling mampu memahami dunia yang sebenarnya, dunia yang tidak selalu sebersih lantai marmer atau secanggih satelit 5G.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!