Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabrakan di Ambang Obsesi
Di sisi lain Apartemen mewah Clara. Clara sedang menenggak wine dengan tangan gemetar. Di atas mejanya berserakan foto-foto Shaneen.
"Rambut itu..." gumam Clara histeris. "Warna Black Ash Grey itu... tidak mungkin kebetulan. Tapi Shaneen itu bodoh! Dia manja! Dia tidak mungkin wanita iblis yang membunuh mereka semua di depan mataku!"
Clara ingat betul bagaimana wanita bertopeng itu menoleh ke arah pilarnya setelah pertempuran usai. Mata di balik topeng itu seolah tahu Clara ada di sana, namun wanita itu hanya berlalu pergi, meninggalkan Michael yang berusaha meneriakinya kembali.
"Kalau Michael sampai tahu bahwa pelindungnya adalah Shaneen... posisiku tamat," desis Clara. "Aku harus membuat Michael percaya bahwa akulah yang memanggil bantuan malam itu. Aku harus mengarang cerita sebelum wanita iblis itu benar-benar melenyapkanku."
Jauh sebelum semua drama ini terjadi, ada moment tiga tahun yang lalu dimana Clara jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Michael. Pertemuan yang tak disengaja itu menumbuh rasa cinta yang begitu obsesi.
Di sebuah restoran paling prestisius di pusat The Golden Coast, yang dikenal sebagai The Grand Aurum, suasana sedang mencekam bagi seorang wanita muda bernama Clara.
Tiga tahun lalu, di tempat yang sama, Clara berlari kencang melewati pintu putar kristal restoran tersebut. Napasnya tersengal, gaun sutranya sedikit koyak karena ia baru saja melompat dari mobil ayahnya yang sedang melaju. Di belakangnya, tiga pengawal berbadan tegap—orang-orang suruhan ayahnya yang diperintah untuk menyeretnya ke sebuah pertunangan paksa—berteriak menyuruhnya berhenti.
Clara tidak melihat ke depan. Ia hanya ingin bebas. Ia memutar kepalanya ke belakang untuk memastikan jarak para pengejar itu, dan saat ia kembali menoleh ke depan untuk berlari...
DUAK!
Wajah dan tubuh kecil Clara menghantam sesuatu yang sangat keras, kokoh, dan beraroma kayu cendana yang mahal. Ia merasa seperti menabrak dinding baja yang dibalut kain kasmir terbaik. Clara terhuyung ke belakang, hampir terjatuh ke atas lantai marmer yang licin jika sebuah tangan besar yang kuat tidak segera melingkar di pinggangnya, menahan tubuhnya dengan stabilitas yang luar biasa.
Clara mendongak dengan napas terputus-putus. Matanya langsung terkunci pada sepasang mata elang yang dingin, tajam, namun memberikan rasa aman yang instan.
Itu adalah Michael Reins Miguel.
Michael baru saja melangkah masuk untuk sebuah pertemuan bisnis tingkat tinggi. Ia berdiri tegak, auranya mendominasi seluruh lobi The Grand Aurum. Michael tidak menatapnya dengan penuh nafsu, melainkan dengan tatapan penguasa yang terganggu kenyamanannya.
"Hati-hati, Nona," suara bariton Michael terdengar rendah, bergetar tepat di depan wajah Clara yang memucat.
Tiga pengawal ayah Clara tiba di belakang mereka, namun mereka langsung mengerem langkah seolah-olah baru saja menabrak tembok api. Mereka mengenali sosok di depan mereka—satu-satunya pria yang kekuasaannya bisa melenyapkan karier dan nyawa mereka dalam satu jentikan jari.
"Tuan Miguel... maaf, wanita itu... dia harus ikut kami," salah satu pengawal bicara dengan nada gemetar.
Michael tidak melepaskan dekapannya pada pinggang Clara. Ia menatap para pengawal itu dengan tatapan yang bisa membekukan darah di pembuluh nadi siapa pun.
"Dia menabrakku. Itu artinya dia mengusik urusanku," desis Michael dingin. "Pergilah sebelum aku membuat kalian menyesal karena sudah merusak suasana makan siangku di gedung ini."
Hanya dengan satu kalimat itu, para pengawal tersebut mundur perlahan tanpa berani membantah. Michael lalu melepaskan pinggang Clara, merapikan jasnya yang sedikit berkerut, lalu menatap Clara dengan pandangan datar yang sangat acuh.
"Kau aman. Jangan lari-lari lagi," ucap Michael singkat, lalu ia melangkah pergi melewati Clara tanpa menoleh lagi, seolah Clara hanyalah butiran debu yang kebetulan menempel di jasnya.
Clara terpaku di tempatnya. Baginya, momen itu bukan sekadar pertolongan. Itu adalah penaklukan. Ia jatuh cinta pada dada bidang yang baru saja ia tabrak, pada tangan yang menahan pinggangnya, dan pada otoritas yang membuat pria-pria jahat itu lari ketakutan.
"Dia milikku," bisik Clara pada kegelapan. "Pria itu... harus menjadi pelindungku selamanya."
Inilah yang membuat Clara sangat membenci Shaneen Tizon sekarang. Baginya, Shaneen adalah pencuri. Shaneen tidak berhak memiliki dada bidang itu, tidak berhak memiliki perlindungan Michael, karena Clara merasa dialah yang lebih dulu "diselamatkan" oleh Michael di hari itu.
Namun, cinta Clara yang buta dimanfaatkan oleh Don. Pria paruh baya yang haus kekuasaan itu mendekati Clara dengan sebuah bisikan.
"Michael tidak akan pernah melihatmu selama Shaneen masih bernapas, Clara," bisik Don sambil menyesap cerutunya. "Jika kau membantuku meruntuhkan SM Corporation, Michael akan jatuh miskin dan kehilangan segalanya. Saat itulah, kaulah satu-satunya orang yang bisa membantunya bangkit. Dia akan bersujud di kakimu."
Itulah alasan mengapa mereka mencoba menghabisi Michael di The Iron District setahun lalu. Don ingin Michael lumpuh agar dia bisa menguasai aset Tizon, sementara Clara ingin Michael hancur agar Michael "butuh" pada cintanya.
***
Ruang Makan Mension Tizon.
Shaneen sedang menyesap tehnya sambil mendengarkan Michael bercerita tentang rencana pertemuan bisnis mereka minggu depan. Shaneen tersenyum manis, namun matanya berkilat saat ia menyadari Michael sengaja menyebut nama The Grand Aurum.
"Michael... kenapa kita harus ke restoran itu?" tanya Shaneen manja. "Katanya di sana banyak kenangan buruk ya?"
Michael terhenti sejenak, ia menatap Shaneen dalam-dalam. "Hanya sebuah tabrakan kecil di masa lalu, Shaneen. Tidak ada yang penting."
Tabrakan kecil yang membuat seorang wanita gila ingin membunuhku, kan Michael? batin Shaneen sambil tersenyum lebar.
Shaneen tahu segalanya. Ia tahu tentang Clara, ia tahu tentang Don, dan ia tahu tentang obsesi berdarah yang sedang mengintai mereka. Namun bagi Shaneen, ini hanyalah bagian dari permainan "Naga dan Singa".