NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Hujan dan Ruang Editing

​Langit Jakarta sore itu tidak memberikan peringatan. Dalam hitungan menit, warna biru pucat berubah menjadi abu-abu pekat, lalu tumpah dalam bentuk hujan badai yang sangat dahsyat. Suara guntur menggelegar, beradu dengan bunyi hantaman air di atap seng gudang studio yang tinggi.

​"Pak, listrik di area depan padam! Jalanan di luar juga banjir sebetis, taksi tidak ada yang mau masuk," lapor salah satu kru dengan panik.

​Arlan menghela napas, menatap jendela besar yang kini buram oleh air. "Semua kru yang sudah selesai, tetap di sini. Jangan memaksakan pulang. Adelia, pastikan ada stok mi instan dan selimut di gudang kostum untuk mereka."

​Setelah memastikan kenyamanan para kru, Adelia kembali ke lantai dua. Ruang editing adalah satu-satunya ruangan yang masih dialiri listrik karena menggunakan generator khusus untuk menjaga server data. Di sana, ia menemukan Arlan sedang duduk sendirian, menatap monitor yang menampilkan potongan gambar Adelia saat sedang mengetes pencahayaan tadi siang.

​Adelia mengetuk pintu terbuka. "Pak, kru di bawah sudah aman. Saya bawakan teh hangat. Listrik di sini mungkin tidak akan bertahan lama kalau badainya terus begini."

​Arlan menoleh, lalu memberi isyarat agar Adelia masuk. "Duduklah. Di luar sangat dingin, kamu bisa menggigil."

​Adelia duduk di kursi sebelah Arlan. Keheningan di antara mereka terasa berbeda sekarang—bukan lagi keheningan yang penuh tekanan, melainkan ketenangan yang nyaman, ditemani suara ritmis hujan di luar.

​"Kenapa Bapak masih melihat klip itu? Itu kan hanya klip tes," tanya Adelia, memecah kesunyian.

​Arlan terdiam sejenak, jemarinya memainkan jog dial pada mesin editing. "Kamu terlihat sangat alami di depan kamera. Kadang saya berpikir, kenapa kamu memilih jadi asisten yang disuruh-suruh daripada berdiri di depan sana?"

​Adelia terkekeh kecil, menyandarkan punggungnya. "Dunia di balik layar lebih jujur, Pak. Di depan kamera, orang-orang memakai topeng. Di belakang layar, kita melihat keringat, air mata, dan usaha keras yang sebenarnya. Saya lebih suka menjadi bagian dari proses menciptakan keajaiban daripada menjadi keajaiban itu sendiri."

​Arlan menoleh sepenuhnya, menatap Adelia dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu orang pertama yang bicara seperti itu kepada saya. Biasanya, semua orang yang saya temui hanya ingin terkenal."

​Tiba-tiba, peterrr! Suara guntur yang sangat keras menggetarkan seluruh gedung. Lampu generator berkedip sekali, lalu padam total. Ruangan itu jatuh ke dalam kegelapan pekat.

​"Aduh!" Adelia refleks menarik kursinya mendekat ke arah Arlan karena terkejut.

​"Tetap di tempatmu, Adel. Jangan bergerak," suara Arlan terdengar tenang di kegelapan.

​Adelia bisa merasakan gerakan Arlan yang mencari sesuatu di atas meja. Tak lama kemudian, cahaya dari ponsel Arlan menyala, menyinari wajah mereka berdua dari bawah. Bayangan mereka terpantul raksasa di dinding ruangan.

​"Maaf, saya kaget saja," bisik Adelia. Jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter. Ia bisa melihat pantulan cahaya ponsel di bola mata Arlan.

​"Tidak apa-apa," sahut Arlan. Suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. "Duduklah di sini. Sampai hujannya agak reda."

​Mereka duduk bersisian di dalam kegelapan yang hanya diterangi satu lampu ponsel. Tanpa layar monitor dan tanpa naskah, mereka hanyalah dua orang manusia yang terjebak badai.

​"Pak Arlan," panggil Adelia pelan. "Boleh saya tanya sesuatu? Tapi jangan marah."

​Arlan mendengus pelan, tapi tidak terdengar tersinggung. "Tergantung pertanyaannya."

​"Foto di tablet Anda... wanita itu. Kenapa ada coretan silang di sana? Padahal dia punya senyum yang sangat mirip dengan Anda."

​Suasana mendadak menjadi sangat dingin, lebih dingin dari udara AC. Adelia merutuki keberaniannya. Ia sudah siap jika Arlan akan membentaknya dan menyuruhnya keluar di tengah hujan.

​Namun, Arlan justru menghela napas panjang. Ia menyandarkan kepalanya ke tembok. "Itu ibu saya. Wanita yang mengajari saya bahwa kesempurnaan adalah segalanya, tapi dia juga yang menghancurkan definisi kesempurnaan itu dengan meninggalkan saya demi pria lain saat saya paling membutuhkannya."

​Adelia tertegun. Ia tidak menyangka Arlan akan sejujur itu.

​"Coretan itu... adalah pengingat," lanjut Arlan, suaranya bergetar tipis. "Bahwa tidak ada yang abadi, termasuk cinta atau dedikasi. Itu sebabnya saya selalu marah jika ada orang yang bekerja setengah-setengah. Saya tidak ingin kecewa lagi."

​Adelia merasakan dadanya sesak. Ia secara spontan menyentuh punggung tangan Arlan yang terkepal di atas lutut. "Pak, kesalahan satu orang tidak seharusnya membuat Anda menghukum seluruh dunia—termasuk diri Anda sendiri. Anda layak mendapatkan hasil yang bagus karena Anda hebat, bukan karena Anda takut kecewa."

​Arlan tidak menarik tangannya. Sebaliknya, ia membalik telapak tangannya dan menggenggam jemari Adelia. Genggamannya erat, seolah ia sedang mencari pegangan di tengah badai hidupnya.

​"Kenapa kamu baik sekali pada saya, Adelia? Setelah semua yang saya lakukan?"

​Adelia menatap Arlan dalam kegelapan. "Karena di balik layar si tukang marah ini, saya melihat seseorang yang hanya ingin dimengerti."

​Arlan bergerak mendekat. Adelia bisa merasakan hembusan napas Arlan di keningnya. Di tengah suara hujan yang mulai mereda menjadi rintik pelan, Arlan membisikkan sesuatu yang membuat pertahanan Adelia runtuh.

​"Jangan pergi, Adel. Tetaplah di balik layar saya."

​Sebelum Adelia sempat menjawab, lampu generator tiba-tiba menyala kembali. Cahaya terang benderang memenuhi ruangan, memaksa mereka untuk segera melepaskan tangan masing-masing dengan canggung.

​Arlan berdehem, kembali memasang wajah datarnya, meski telinganya sedikit memerah.

"Ehem. Hujannya sudah reda. Kamu... sebaiknya periksa kru di bawah lagi."

​Adelia berdiri dengan jantung yang masih berpacu tidak keruan. "Baik, Pak. Permisi."

​Saat Adelia berjalan menuju pintu, ia tidak menyadari bahwa Arlan terus menatapnya hingga ia menghilang di balik tikungan lorong. Arlan menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantung yang sudah lama tidak ia rasakan—detak yang jauh lebih kuat daripada amarah mana pun.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!