NovelToon NovelToon
Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mila julia

Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8.Melindungi Queen

“Apa Queen mau melakukannya sekarang?” ucap laki-laki itu lembut, tanpa nada menggoda—hanya kejujuran polos seorang “raja kecil” yang merasa haknya belum terpenuhi.

Tok… tok… tok…

Suara ketukan pintu kamar mendadak memecah ketegangan di antara mereka.

Lora tersentak. Seolah tersadar dari posisi yang terlalu dekat dan terlalu berbahaya itu, ia segera berdiri dan keluar dari bathtub. Air menetes dari gaunnya yang sudah basah kuyup, rambutnya melekat di pipi dan leher.

“Devon, sepertinya ada yang mencari Queen. Kita lakukan nanti, ya.”

“Nanti? Kapan…? Epon nggak suka janji palsu!” ucap Devon, memanyunkan bibirnya, menatap Lora dengan kesal dan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Saat Devon sudah dewasa nanti,” ucap Lora, mencoba terdengar tenang.

“Tapi kata kepala pelayan Devon sudah besar, hanya ingatan Devon yang masih kecil.”

“Nah, kalau begitu kita akan melakukannya nanti setelah ingatan Devon kembali dewasa lagi, bagaimana?”

“Tidak! Epon tidak mau. Epon ingin melakukannya dengan Queen.” Mata Devon kembali berair, dadanya naik turun, pertanda tangisan besar siap meledak.

Lora langsung panik. Ia benar-benar tidak ingin kembali mendengar teriakan yang bisa mengguncang seisi kamar.

“Baiklah, baik… Queen akan melakukannya setelah Devon mandi dan kita bersiap untuk tidur nanti,” jelas Lora cepat.

Seketika wajah Devon berubah cerah. Senyum lebar mengembang polos di wajahnya.

“Benarkah? Queen janji?” ucapnya, mengacungkan jari kelingking.

Lora menghela napas tipis, lalu menautkan jari kelingkingnya dengan cepat.

“Janji.”

Ia segera meraih kimono handuk dan membalut tubuhnya yang basah. “Begitu selesai mandi, Epon gunakan handuk ini, ya, dan keluar dari kamar mandi. Tunggu Queen di ruang ganti. Queen ingin menemui seseorang dulu di depan kamar.”

Devon mengangguk patuh.

Ceklek.

Lora membuka pintu kamar.

Di sana, berdiri Vino.

Pria yang selama enam bulan terakhir mengisi hatinya. Pria yang ia kira bisa menyembuhkan lukanya atas masa lalu bersama Devon. Namun nyatanya—pria itu justru menorehkan luka yang jauh lebih dalam.

“Ada apa kamu ke sini? Apa belum jelas apa yang aku ucapkan tadi?” ucap Lora dingin, menatapnya sinis.

Vino berdiri dengan wajah bersalah, rambutnya sedikit berantakan, sorot matanya redup.

“Aku tidak mempermasalahkan ucapanmu barusan. Aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang sudah aku lakukan. Aku yakin kamu pasti sangat sakit hati, kecewa, serta hancur sekarang,” jelas Vino dengan suara berat.

Namun Lora tidak lagi termakan oleh ekspresi bersalah itu.

Dulu mungkin ia akan luluh. Dulu mungkin ia akan menangis dan memaafkan.

Tapi sekarang—

Yang ada hanya dendam. Dan rencana.

“Kamu salah besar, Vino. Aku sama sekali tidak merasakan apa yang kamu katakan barusan. Justru sebaliknya,” ucap Lora, menggantungkan kalimatnya.

Vino mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

“Berkat kamu, aku jadi kembali dengan laki-laki yang sangat aku cintai. Laki-laki dari masa lalu yang belum sepenuhnya hilang dari hati ini. Cintaku sangat besar kepadanya—jauh dibandingkan cintaku yang hanya seupil padamu,” jelas Lora tegas.

Rahang Vino mengeras.

“Apa maksud kamu, Lora… Jangan bilang jika Devon adalah cinta pertama yang sering kamu ceritakan kepadaku? Pria yang meninggalkanmu tanpa kejelasan itu?”

“Tepat sekali,” jawab Lora tanpa ragu. “Berkat kamu aku menemukannya kembali, bahkan bisa menikah dengannya. Kamu tahu? Ini adalah impianku bersamanya.”

Kalimat itu seperti tamparan bagi Vino.

“Jadi tidak perlu merasa bersalah lagi, Vino. Aku tidak hancur atau menderita karena ulahmu. Justru aku sangat bahagia kali ini karena baru saja menemukan cinta pertamaku lagi.”

Lora melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya sejengkal.

Tatapannya tajam, menusuk.

“Nikmatilah pernikahanmu dengan gundik murahanmu itu. Jangan mengharapkanku lagi atau mengganggu kehidupanku dengan cinta pertamaku yang merupakan pewaris sah perusahaan Morrix ini,” ucap Lora penuh penekanan.

Merasa harga dirinya tercoreng, Vino menatap Lora dengan penuh kemarahan. Urat di lehernya menegang, rahangnya mengeras.

“Wah, ternyata benar apa kata Vely. Kamu memang sama murahannya—tidak hanya murahan tapi juga matre dan gila harta! Kamu pikir apa yang bisa dilakukan anak angkat cacat itu? Apa yang kamu katakan barusan tidak akan pernah terwujud. Dia tidak akan pernah bisa menjadi pewaris resmi perusahaan Morrix selama kondisinya masih idiot seperti itu,” ucap Vino meyakinkan, suaranya bergetar oleh amarah dan rasa terhina.

Lora tidak mundur selangkah pun. Tatapannya justru semakin mantap.

“Aku pastikan dia akan sembuh di tanganku. Kamu tidak tahu betapa besarnya kekuatan cinta. Mengingat cinta kami berdua yang begitu besar dan sangat penuh kenangan, dengan cinta hal yang mustahil pun bisa terwujud meskipun kamu bersikeras mengatakan itu semua tidak mungkin,” ucap Lora dengan penuh keyakinan.

Kepercayaan dirinya justru semakin membakar emosi Vino.

“Tidak aku sangka kamu begitu licik. Kamu sudah merencanakan ini semua, kan?” tanya Vino, menuduhnya dengan tatapan tajam.

“Jika memang aku sudah merencanakannya, mungkin yang akan aku pacari bukan kamu tapi Devon sejak awal. Jangan mencoba menyalahkanku karena perbuatanmu sendiri, Vino. Yang berselingkuh dan pengkhianat di sini itu kamu,” tegas Lora.

Kata-kata itu seperti menampar harga diri Vino.

Tiba-tiba ia mencengkeram bahu Lora, mengguncangnya keras hingga tubuh Lora terhuyung.

“Aku tidak percaya! Pasti kamu sudah tahu, bukan, tentang Devon adalah abang angkatku? Kamu sengaja berpura-pura berpacaran denganku hanya supaya bisa kembali dengan dia!”

“Bagaimana aku bisa tahu jika di semua artikel kalian menyamarkan nama dan wajahnya?” ucap Lora, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Vino dari bahunya.

Namun Vino justru semakin mengguncangnya.

“Alah Bulshitt ....Cepat katakan sejak kapan kamu tahu jika Devon adalah pewaris perusahaan Morrix, dan sejak kapan kamu tahu jika dia adalah abang angkatku! JAWAB!” teriak Vino penuh emosi, mengguncang bahu Lora hingga memerah.

Teriakan itu terdengar sampai ke dalam kamar.

Devon yang baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah dan tubuhnya hanya dibalut handuk, seketika menoleh ke arah sumber suara. Begitu melihat Lora disakiti, sorot polos di matanya berubah tajam.

Tanpa berpikir panjang, ia meraih pedang mainannya.

Dengan langkah cepat dan tubuh besar yang berotot, Devon berlari menghantam Vino. Tubuh kurus Vino terpental keras, tak mampu menahan dorongan dari tubuh tegap Devon.

Devon segera memeluk Lora, melindunginya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengarahkan pedang mainan tepat ke arah Vino yang terduduk di lantai.

“Apa Queen baik-baik saja?” tanya Devon, memeluk Lora erat seolah takut wanita itu kembali tersakiti.

“Devon…” ucap Lora, tubuhnya masih gemetar akibat amukan Vino.

“Devon, lepaskan dia. Aku masih perlu bicara dengan dia.”

“Tidak! Epon tidak akan melepaskan Queen. Epon pasti akan melindunginya,” ucap Devon dengan wajah khas anak kecil yang menjaga mainan berharganya.

Vino berdiri dengan wajah memerah. “Kamu berani melawanku?”

Devon perlahan melepaskan pelukannya dari Lora, lalu berdiri tegap di depannya.

“Tentu saja,” ucap Devon singkat.

Dalam satu gerakan sigap, ia mengayunkan kakinya dan menendang Vino keras. Tubuh Vino terlempar keluar, menghantam dinding dengan bunyi keras.

“Yeeaayyy, gol!” teriak Devon bahagia seperti anak kecil yang mencetak skor dalam permainan.

Tanpa memberi kesempatan Vino bangkit, Devon segera menutup pintu kamar dan menguncinya rapat.

Klik.

Ia berbalik dengan wajah berseri-seri.

“Epon hebat, kan, Queen?” ucapnya tertawa polos, menatap Lora yang masih berdiri kaku dengan napas belum stabil.

Lora menatapnya—antara terharu dan tak percaya.

Devon mendekat lagi dengan santai, seolah baru saja menyelesaikan permainan.

“Ayo kita ganti baju dan bersiap-siap untuk tidur. Queen kan sudah janji akan mencium Epon,” ucapnya lagi, polos tanpa beban.

.

.

.

💐💐💐Bersambung💐💐💐

Bisa - bisanya si Vino di kira bola sama Devon mana sampai terbang gitu lagi apa nggak retak tu tulangnya😂

Lanjut Next Bab ya guys😊

Lope lope jangan lupa ya❤❤

Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤

1
Allea
mo balas dendam tapi kewaspadaan kurang piye toh thor 🤭
Mila Julia: mo bikin kesel duluuu mbak eee
total 2 replies
Allea
👍👍👍👍👍
Allea
heyyyy Epon kamu ga lelah pura2 terus 🤭
Wulan Azka
dealer beras ? baru kali ini dengar istilah dealer beras 🤔..dealer itu cuma buat kendaraan..kalau beras mah distributor
Mila Julia: tapi makasih sarannya KK ntar di oerbaiki🫶🫶😅
total 2 replies
Allea
Devon kamu pura2 kembali ke usia anak2 kan 😁
Mila Julia: aduhhh bener ngk yaaa🤭🤭
total 1 replies
Allea
jgn2 Devon pergi ninggalin Lora krn Devon kecelakaan y
Mila Julia: iyaa ngk yaaa🤭😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!