Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Dewa Palsu
Fajar yang menyingsing di atas situs Gunung Padang membawa suasana yang asing. Langit tidak lagi menampakkan sisa-sisa ledakan asteroid, melainkan dihiasi oleh garis-garis emas yang turun dari lapisan eksosfer. Itu bukan meteor, bukan pula puing-puing Icarus. Itu adalah kapsul pendaratan individu milik para Arc.hon. Mereka turun dengan keanggunan yang mengerikan, mendarat di pusat-pusat peradaban yang sedang rapuh, memilih lokasi yang secara historis memiliki nilai spiritual tinggi bagi manusia.
Liora berdiri di teras tertinggi Gunung Padang, tangannya yang terbalut kain kasa masih berdenyut nyeri. Ia menatap salah satu garis emas yang mendarat tidak jauh dari lembah Cianjur.
"Liora, mereka sudah di sini," suara Adam bergema, namun kali ini ada getaran kecemasan yang mendalam. "Aku bisa merasakan distorsi di dalam jaring bumi. Kehadiran mereka bukan sekadar beban fisik, tapi beban eksistensial. Mereka membawa frekuensi yang dirancang untuk membuat setiap manusia yang mendengarnya merasa kecil, berdosa, dan butuh penyelamat."
"Apa yang harus kita lakukan, Adam? Jika mereka mulai bicara, orang-orang yang sedang ketakutan ini akan berlutut pada mereka," sahut Liora sambil menyiapkan senjatanya, meski ia tahu peluru mungkin tidak akan berguna melawan "dewa".
"Kita harus mengaktifkan 'Perisai Nurani'. Aku akan mencoba memancarkan frekuensi pengingat dari Borobudur, tapi jangkauanku terbatas karena sebagian besar energi habis untuk menghancurkan asteroid. Kau harus menjadi saksi mata. Kau harus menunjukkan pada orang-orang bahwa mereka bukan dewa, tapi hasil dari laboratorium yang penuh darah."
Liora turun dari gunung, memacu jipnya menuju titik pendaratan. Saat ia sampai di sebuah alun-alun kota kecil yang dipenuhi warga yang sedang berkumpul, ia melihat pemandangan yang membuatnya mual. Sebuah objek berbentuk cakram emas setinggi tiga meter berdiri tegak di tengah lapangan. Pintu objek itu terbuka, mengeluarkan kabut putih yang beraroma bunga surgawi.
Dari dalamnya keluar sesosok pria. Ia tidak mengenakan baju besi. Ia hanya memakai jubah putih yang tampak terbuat dari cahaya cair. Wajahnya begitu sempurna, matanya bersinar dengan kearifan semu yang sangat menghipnotis. Inilah Arc.hon pertama yang turun ke tanah Jawa.
"Anak-anak bumi yang kelelahan," suara pria itu terdengar tanpa pengeras suara, merasuk langsung ke dalam sanubari setiap orang di sana. "Kami kembali untuk menyembuhkan luka yang dibuat oleh para pemberontak. Kami membawa ketertiban yang abadi. Berhentilah berjuang, dan biarkan kami memikul beban hidup kalian."
Liora melihat orang-orang di sekelilingnya mulai bersimpuh. Air mata mengalir di wajah mereka, wajah-wajah yang selama ini tertekan oleh kegelapan dan kelaparan pasca-kiamat teknologi. Bagi mereka, pria ini adalah jawaban atas doa-doa mereka.
"Jangan dengarkan dia!" teriak Liora, suaranya pecah di tengah keheningan yang magis itu. "Dia bukan penyelamat! Dia adalah produk dari Unit 731! Dia adalah mesin yang dibungkus dengan kulit manusia!"
Sang Arc.hon menoleh perlahan ke arah Liora. Senyumnya tidak berubah, tetap lembut namun sangat dingin. "Liora... anak yang malang. Kau membawa kebencian di tempat yang seharusnya penuh dengan cinta. Kau adalah bagian dari kebisingan yang merusak harmoni bumi."
Arc.hon itu mengangkat tangannya. Seketika, orang-orang di alun-alun itu berdiri dan berbalik menatap Liora dengan tatapan benci. Mereka tidak lagi memiliki kendali atas emosi mereka; frekuensi dari sang Arc.hon telah membajak sistem limbik di otak mereka.
"Liora, pergi dari sana sekarang! Dia sedang mencoba mengarahkan kemarahan kolektif mereka kepadamu!" teriak Adam di dalam batin Liora.
Liora tidak mundur. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah proyektor mikroskopis yang ia ambil dari data drive Dr. Maru. "Lihat ini! Lihat asal-usul 'dewa' kalian!"
Liora menyalakan proyektor itu. Sebuah gambar holografik besar muncul di udara, menampilkan rekaman hitam putih dari laboratorium Unit 731. Gambar-gambar operasi tanpa bius, janin-janin yang diawetkan dalam toples, dan dokumen-dokumen yang menunjukkan bahwa garis keturunan para Arc.hon ini dibangun di atas tumpukan mayat tawanan perang.
"Itu adalah kebohongan dari masa lalu yang sudah kami sucikan," Arc.hon itu berkata tenang, namun Liora melihat sedikit distorsi pada aura cahayanya.
"Dia terganggu, Liora! Terus tekan dia dengan fakta fisik! Frekuensi mereka hanya bisa bekerja jika kebohongan mereka dianggap sebagai kebenaran mutlak!"
Adam mulai membantu dari Borobudur. Ia mengirimkan getaran frekuensi rendah yang menyebabkan hologram Liora menjadi lebih stabil dan terang. Suara teriakan para korban dari masa lalu mulai terdengar, beradu dengan suara lembut sang Arc.hon.
Orang-orang di alun-alun mulai bingung. Mereka melihat kesempurnaan di depan mata mereka, namun telinga mereka mendengar jeritan sejarah yang mengerikan. Konflik batin ini mulai merusak sinkronisasi frekuensi yang dibangun oleh Arc.hon.
"Hentikan kebisingan ini!" Suara Arc.hon itu mendadak berubah, menjadi berat dan penuh distorsi logam. Wajah sempurnanya bergetar sejenak, menampakkan struktur mekanis di balik kulit sintetisnya.
Melihat itu, warga tersentak. Rasa takut mulai mengalahkan hipnotis.
"Dia bukan manusia!" teriak salah satu pemuda desa sambil melempar batu ke arah sang Arc.hon.
Batu itu menghantam dahi sang Arc.hon, merobek sedikit kulitnya. Tidak ada darah merah yang keluar, melainkan cairan biru kental yang bercahaya bio lubrikan mesin.
Kedoknya terbuka. Sang Arc.hon tidak lagi tersenyum. Ia mengangkat tangannya, dan kali ini bukan kasih sayang yang keluar, melainkan gelombang kejut destruktif yang meratakan bangunan di sekitar alun-alun.
"Jika kalian menolak untuk diselamatkan," geram sang Arc.hon, "maka kalian akan dianulir dari eksistensi."
Liora segera melemparkan granat MP terakhirnya. Ledakan biru menyelimuti sang Arc.hon, membuatnya kaku sejenak.
"Lari, Liora! Bawa orang-orang ini ke bunker di bawah Gunung Padang! Aku akan mencoba mengalihkan perhatian Arc.hon lain yang mulai mendarat di Jakarta dan Surabaya!"
Liora menarik beberapa warga dan menyuruh mereka naik ke truk-truk yang tersedia. "Cepat! Ikuti instruksiku jika kalian ingin tetap menjadi manusia!"
Sambil memacu kendaraannya meninggalkan alun-alun yang kini hancur, Liora melihat ke spion. Sang Arc.hon berdiri di tengah reruntuhan, menatap kepergian mereka dengan mata yang kini menyala merah darah.
Di dalam batinnya, Liora bisa merasakan Adam sedang berjuang keras. Borobudur kini menjadi target serangan dari orbit. Elit di Bulan tidak lagi bermain sembunyi-sembunyi; mereka sedang melakukan invasi terbuka.
"Adam, kau harus bertahan," bisik Liora.
"Aku akan bertahan selama ada satu manusia yang masih menolak untuk berlutut, Liora. Tapi kau harus tahu... para Arc.hon ini hanyalah gelombang pertama. Pemegang Kendali di Bulan... dia sedang bersiap untuk turun sendiri. Dan dia tidak membawa tubuh mesin, tapi dia membawa sesuatu yang jauh lebih buruk."
"Apa?"
"Dia membawa 'The Silence'. Frekuensi yang akan menghapus seluruh kesadaran di planet ini, meninggalkan bumi sebagai bola batu yang kosong."
Liora menginjak gas lebih dalam. Perjalanan menuju Gunung Padang kini menjadi perjalanan untuk mengumpulkan sisa-sisa jiwa manusia. Mereka harus bersiap untuk pertempuran frekuensi terakhir, di mana senjatanya bukan lagi laser atau nuklir, tapi kekuatan ingatan dan kehendak untuk tetap merdeka.
Di Bulan, sang Pemegang Kendali menatap Bumi yang mulai dihiasi oleh titik-titik ledakan. "Biarlah mereka melawan. Semakin mereka melawan, semakin murni kesunyian yang akan aku berikan."