NovelToon NovelToon
Gugatan Dari Suami Yang Tertindas

Gugatan Dari Suami Yang Tertindas

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
​Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
​Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
​Ketika Reina akhirnya mengu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Runtuhnya Menara Gading

​Malam itu menjadi saksi bisu berakhirnya kesabaran seorang Dimas Alvaro. Setelah meninggalkan rumah dengan tas kecil berisi pakaian, ia tidak pergi ke hotel mewah miliknya. Ia justru memarkirkan mobil di depan sebuah gedung tua yang sunyi, tempat kantor pengacara pribadinya berada. Di bawah lampu jalan yang temaram, Dimas menandatangani beberapa berkas yang selama ini ia biarkan mengendap.

​"Lakukan secara bertahap," instruksi Dimas melalui telepon kepada asisten pribadinya. "Mulai dari pembatalan kontrak suplier bahan baku cafe milik Reina. Jangan biarkan dia tahu siapa pelakunya. Biarkan dia merasa dunianya sedang runtuh karena nasib sial."

​Setelah menutup telepon, Dimas menyandarkan kepalanya di setir mobil. Ia merasa sedikit bersalah, namun ingatan akan makian Reina terhadap Kathryn dan penghinaan terhadap harga dirinya sebagai suami menghapus keraguan itu. Dimas kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit, memutuskan untuk tidur di ruang pribadinya yang tersembunyi di lantai paling atas gedung VVIP.

​Keesokan harinya, di kediaman Danola, suasana terasa jauh lebih hangat. Paul sedang duduk di ruang makan, menyesap kopi hitamnya sembari membaca laporan bisnis. Kathryn sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk Sean yang sudah mulai rewel meminta roti selai kacang.

​"Onty Kath! Roti Sean mana?" teriak Sean dari kursi tingginya.

​"Sabar, Sayang. Ini sedang Onty siapkan," sahut Kathryn dengan suara yang ceria.

​Paul menatap adiknya dengan tatapan menyelidik. "Kamu terlihat lebih bahagia pagi ini, Kath. Apa karena Paman Doktel kemarin mampir ke sini?"

​Kathryn menghentikan gerakannya sejenak, wajahnya merona merah. "Kak Paul, jangan mulai. Dokter Dimas itu orang baik, tapi ingat... dia sudah punya istri. Aku hanya merasa senang karena Sean ada teman baru."

​Paul meletakkan korannya, wajahnya berubah serius. Ia teringat percakapannya dengan Dimas kemarin sore. "Kamu tahu, Kath? Kakak melihat sesuatu yang aneh pada pria itu. Dia seperti sedang memikul beban seluruh dunia di pundaknya. Istrinya yang kemarin kamu ceritakan di rumah sakit... dia benar-benar wanita yang mengerikan."

​Kathryn duduk di samping kakaknya, memberikan sepiring roti panggang. "Kenapa ya ada orang yang tega bersikap seperti itu pada suami sendiri? Padahal Dokter Dimas sangat sabar."

​Paul menghela napas panjang. Bayangan masa lalunya kembali muncul. "Sifat manusia terkadang sulit diprediksi saat mereka merasa di atas angin. Dulu, mantan istri Kakak juga begitu sebelum akhirnya dia mengkhianati pernikahan kita. Dia merasa status sosialnya lebih penting daripada kesetiaan."

​Kathryn mengusap lengan kakaknya dengan lembut. "Maaf, Kak. Aku tidak bermaksud mengingatkan Kakak pada hal itu."

​"Tidak apa-apa. Kakak sudah sembuh. Tapi soal Dimas... Kakak rasa dia tidak akan bertahan lama di rumah itu. Seseorang dengan aura sekuat dia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak selamanya. Ada sesuatu yang dia sembunyikan, Kakak yakin itu," ujar Paul penuh misteri.

​Di sisi lain kota, Reina Darmawanti baru saja sampai di cafe miliknya dengan langkah angkuh. Ia berniat mengadakan pertemuan dengan beberapa sosialita untuk merencanakan pesta ulang tahun cafenya yang ke-5. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu masuk.

​Beberapa truk pengangkut barang terlihat sedang parkir di depan cafenya. Beberapa orang berseragam hitam tampak sedang mengeluarkan kursi-kursi mewah dari dalam.

​"Heh! Apa-apaan ini? Siapa yang menyuruh kalian mengeluarkan barang-barangku?" teriak Reina histeris.

​Seorang pria bersetelan rapi menghampirinya sambil membawa map. "Maaf, Ibu Reina Darmawanti? Kami dari pihak manajemen gedung. Kami baru saja menerima instruksi dari pemilik baru bangunan ini bahwa kontrak sewa cafe Anda telah dibatalkan secara sepihak karena pelanggaran klausul penggunaan aset."

​"Pemilik baru? Apa maksudmu? Aku sudah menyewa gedung ini selama lima tahun!" Reina merampas map tersebut dengan tangan gemetar.

​"Gedung ini telah berpindah tangan dua hari yang lalu, Ibu. Dan pemilik barunya meminta agar lokasi ini segera dikosongkan untuk renovasi rumah sakit satelit di bawah naungan Medika Group," jelas pria itu tanpa ekspresi.

​Reina terduduk lemas di aspal. Medika Group? Itu adalah jaringan rumah sakit terbesar di kota ini. Bagaimana mungkin mereka bisa membeli gedung cafenya tanpa pemberitahuan? Ia segera merogoh ponselnya, berniat menelpon Dimas untuk mengadu dan meminta bantuan, meskipun selama ini ia meremehkan pria itu.

​Namun, panggilannya tidak dijawab. Dimas sengaja mematikan ponselnya.

​Malam itu, Dimas berada di kantornya di rumah sakit. Ia sedang melihat data pasien saat pintu ruangannya diketuk. Paul Danola masuk dengan wajah yang tampak lelah namun membawa sebuah kotak kecil.

​"Dokter Dimas? Maaf mengganggu jam tugasmu," ujar Paul.

​Dimas berdiri, mempersilakan Paul duduk. "Ada apa, Paul? Apa Sean baik-baik saja?"

​"Sean baik-baik saja. Kathryn yang tidak baik-baik saja," jawab Paul sambil meletakkan kotak itu di meja. "Dia bersikeras memintaku mengantarkan ini padamu. Dia bilang ini kue kesukaanmu, katanya sebagai permintaan maaf karena kejadian di rumah kami kemarin."

​Dimas tersenyum, menyentuh kotak kue itu dengan lembut. "Dia tidak perlu melakukannya."

​Paul menatap Dimas dalam-dalam. "Aku sudah dengar soal penyegelan cafe di pusat kota hari ini. Kabarnya, Medika Group yang membelinya. Kamu tahu sesuatu tentang itu, Dokter?"

​Dimas terdiam sejenak, lalu ia menatap Paul dengan tatapan yang sangat jujur. "Terkadang, Paul, kita perlu meruntuhkan sebuah bangunan tua yang sudah keropos untuk membangun sesuatu yang jauh lebih kokoh di atasnya. Istriku... dia perlu belajar bahwa dunia tidak berputar di sekelilingnya."

​Paul tersenyum tipis, ia mulai paham sekarang. "Jadi dugaanku benar. Kamu bukan sekadar dokter, kan? Aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya, tapi aku harap kamu tahu apa yang kamu lakukan terhadap Kathryn. Dia mulai peduli padamu, Dimas. Dan itu bisa sangat berbahaya baginya."

​"Aku akan melindunginya, Paul. Aku janji," ucap Dimas dengan nada yang sangat serius.

​Di luar ruangan, Kathryn sedang menunggu di dalam mobil Paul. Ia menatap ke arah jendela rumah sakit yang terang benderang. Di dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang besar yang akan terjadi. Ia tidak tahu siapa Dimas yang sebenarnya, namun ia merasa bahwa pria itu sedang menyiapkan sebuah panggung besar untuk sebuah perubahan.

​Dimas dari dalam ruangannya menatap ke arah parkiran, seolah bisa melihat Kathryn di sana. Ia tahu, secara perlahan tapi pasti, ia sedang menghancurkan hidup Reina. Namun di saat yang sama, ia juga sedang membangun jembatan menuju hati seorang gadis yang telah memberinya alasan untuk berhenti menjadi suami yang tertindas.

1
Anonymous
ayo up terus thor makin seru niii
Yensi Juniarti
lama2 saya GK suka sifat ketryin ini ...
terlalu berlebihan
Yensi Juniarti
maaf ya tor.. itu terlalu childrens..
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Dwi Winarni Wina
kayaknya dokter dimas sangat cocok sama khatrin, daripada istrinya itu selalu menghina dan rendahkan...
Dwi Winarni Wina
istri durhaka berani melawan suami, dosanya besar Sekali itu...
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ira Janah Zaenal
ayo Dimas tinggalkan berkasmu segera ke rumah kediaman Dharmawangsa ... kath sedang membutuhkanmu😍😍
Sri Khayatun
ceritanya bagus ..suami yg sabar dan istrinya durhaka..saya suka
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 🙏🏻
total 1 replies
Sri Khayatun
semoga dia jadikan kahtrin sebagai istrinya kelak...
Sri Khayatun
aku mampir thorr
Ira Janah Zaenal
up up up💪💪💪
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Ira Janah Zaenal
semangat dokter Dimas meraih hati ount kathryn😍😍💪💪
jajangmyeon
up
brawijaya Viloid
😎😎
brawijaya Viloid
keren nihh ceritanya
Anonymous
mulai tumbuh ni benih" cinta 🤭
Anonymous
krg ajar bgt, lgian dimas terlalu sabar
Anonymous
waw keren ada gambarnyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!