Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 Penjara Emas
Sabtu pagi aku bangun pukul lima lebih sepuluh.
Bukan karena alarm — aku bahkan tidak menyetel alarm untuk hari ini, karena tubuhku rupanya sudah memutuskan sendiri bahwa ini bukan jenis pagi yang bisa dilewati dengan tidur sampai siang. Aku berbaring di kasur yang sama yang sudah aku tiduri dua tahun, menatap langit-langit yang sudah aku hapal setiap retaknya, dan membiarkan diri ada di sana selama beberapa menit sebelum harus mulai bergerak.
Dua koper besar dan tiga kotak kardus. Itu total semua yang kumiliki setelah dua puluh empat tahun hidup — atau setidaknya, semua yang cukup penting untuk dibawa. Sisanya sudah aku sortir sejak Kamis: baju yang tidak muat di koper disumbangkan ke kotak donasi di minimarket ujung gang, buku-buku yang tidak akan aku baca lagi dititipkan ke Nara yang akan meneruskannya ke perpustakaan komunitas dekat rumahnya, dan barang-barang kecil yang tidak masuk kategori manapun dimasukkan ke kantong hitam dengan perasaan yang lebih ringan dari yang kukira.
Yang tidak bisa aku letakkan di manapun selain tas jinjingku: foto Bapak dari dinding, lilin kecil dari kue ulang tahun yang entah mengapa sudah aku simpan tanpa berniat menyimpannya, dan notes buku kecil berwarna hijau tua yang sudah aku isi setengahnya dengan coretan kerja dan ide-ide desain yang belum jadi.
Barang-barang yang tidak punya kategori logistik tapi punya kategori lain yang lebih penting.
Kenzo tiba tepat pukul sepuluh.
Aku sudah siap sejak pukul delapan — semua koper dan kardus sudah di dekat pintu, kunci cadangan sudah kuletakkan di meja untuk Ibu kos, dan aku sudah berkeliling kamar satu kali terakhir dengan cara yang kulakukan bukan untuk memastikan tidak ada yang tertinggal, tapi lebih seperti perpisahan yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.
Ibu kos — Ibu Ratna, perempuan enam puluhan yang tidak pernah banyak bicara tapi selalu memastikan ada air panas di dispenser koridor setiap pagi — menunggu di depan pintu ketika Kenzo dan dua orang yang dibawanya mulai mengangkat barang.
"Mau ke mana, Nak?" tanyanya.
"Pindah, Bu. Sudah menikah." Kalimat itu keluar dengan sangat mudah — dan aku sadar itu karena secara teknis bukan kebohongan. Hanya tidak lengkap.
Ibu Ratna mengangguk dengan ekspresi yang campur aduk antara terkejut dan tidak terkejut — seperti orang tua yang sudah lama menduga sesuatu tapi tetap perlu momen untuk menyesuaikan diri ketika dugaannya terbukti. "Selamat ya, Nak. Hati-hati di tempat baru."
"Terima kasih, Bu. Maaf kalau selama ini ada yang kurang."
"Tidak ada." Dia menepuk tanganku sekali, singkat. "Kamu anak yang baik."
Aku tidak menjawab karena tenggorokanku tiba-tiba memutuskan ini waktu yang tepat untuk tidak berfungsi dengan normal.
Perjalanan ke penthouse memakan waktu empat puluh menit — Kenzo bilang biasanya tiga puluh, tapi Sabtu siang ada acara di kawasan Sudirman yang membuat lalu lintas lebih padat dari biasa. Aku duduk di kursi belakang mobil, menatap jendela, dan membiarkan otak beristirahat dari semua yang sudah dikerjakannya sejak Rabu.
"Pak Revano sedang ada di kantor," kata Kenzo dari kursi depan. "Beliau akan pulang sekitar pukul tiga."
"Di kantor hari Sabtu?"
"Pak Revano hampir selalu di kantor hari Sabtu, Bu." Dikatakan dengan nada yang netral sempurna — bukan mengeluh, bukan membanggakan, hanya menyampaikan fakta tentang orang yang sudah dia kenal tujuh tahun. "Hari ini ada presentasi internal yang tidak bisa dipindah jadwalnya."
Aku mengangguk dan kembali ke jendela.
Jadi aku akan tiba di tempat yang belum pernah kulihat, dengan barang-barangku yang tidak banyak, di apartemen pria yang belum benar-benar kukenal, dan dia tidak akan ada di sana.
Entah itu lebih mudah atau lebih susah — aku belum memutuskan.
Gedungnya ada di jantung kawasan Sudirman — bukan gedung tertinggi di sana, tapi salah satu yang paling sunyi dari jalan raya, tersembunyi di belakang lobi yang pintu masuknya menggunakan sistem akses kartu dan wajah resepsionis yang berbeda dari kebanyakan gedung apartemen biasa.
Bukan sekadar apartemen mewah. Ini jenis gedung yang tidak memasang baliho iklan karena penyewanya tidak perlu tahu dari baliho.
Resepsionis — perempuan muda dengan seragam yang potongannya lebih bagus dari kebanyakan pakaian kerja yang pernah kumiliki — menyambut Kenzo dengan pengenalan yang sudah jelas bukan pertama kalinya.
"Selamat datang, Ibu Ariana." Dia menatapku dengan senyum yang tulus tapi terlatih. "Kartu akses Ibu sudah siap."
Kartu itu diserahkan dalam amplop kecil berwarna krem — kartu hitam tipis dengan chip di dalamnya. Tidak ada nama di permukaannya, hanya logo gedung yang embossed halus di sudut.
Kenzo menekan tombol lift dengan kartu aksesnya sendiri. Lift terbuka — interiornya cermin dua sisi dengan pegangan tangan dari kuningan yang dipoles, lantainya marmer hitam tipis. Tidak ada musik.
Kami naik ke lantai tiga puluh dua.
Pintu penthousenya bukan pintu biasa.
Maksudku — secara teknis itu pintu. Tapi tingginya nyaris tiga meter, materialnya kayu gelap yang berat dengan aksen logam di tepiannya, dan cara ia terbuka ketika Kenzo mendekatkan kartu akses membuatnya terasa lebih seperti membuka portal ke dimensi lain daripada masuk ke tempat tinggal.
Aku masuk.
Dan berdiri di sana selama beberapa detik, membiarkan semua yang ada di depanku masuk ke dalam kepala dengan kecepatan yang tidak bisa dipercepat.
Ruang utama — ruang tamu dan ruang makan yang menyatu — luasnya mungkin empat kali luas total kamar kosku. Langit-langitnya tinggi, dengan jendela dari lantai sampai plafon yang menghadap pemandangan Jakarta dari tiga sisi. Pada siang hari seperti ini, cahaya masuk dari semua arah dengan cara yang membuat seluruh ruangan terasa seperti berada di atas awan.
Furniturnya bukan jenis yang dibeli karena murah atau karena mudah. Semuanya punya kepribadian yang konsisten — gelap, bersih, tidak berlebihan, tapi mengisyaratkan bahwa setiap item dipilih dengan sangat sengaja. Sofa abu-abu tua yang ukurannya cukup untuk menidurkan empat orang dewasa. Meja makan kayu panjang untuk delapan kursi yang permukaannya sudah ada bunga segar di tengahnya — putih, sederhana, diletakkan dalam vas bening yang tinggi.
Di sudut kiri ada rak buku yang tingginya dari lantai sampai plafon, dengan buku-buku yang tersusun rapi tapi bukan jenis rapi yang dibuat untuk foto — ada buku yang sedikit miring, ada yang terlalu keluar dari barisannya, ada tanda baca yang menyembul di antaranya.
Revano membaca. Itu informasi baru.
"Wing kiri ada di sana, Bu." Kenzo menunjuk ke arah koridor yang membelah ruangan. "Wing kanan adalah kamar Pak Revano dan ruang kerjanya. Dapur dan ruang keluarga kecil ada di tengah, bisa diakses dari kedua wing."
"Ada batas yang tidak boleh aku lewati?"
Kenzo mempertimbangkan sebentar. "Tidak ada batas yang eksplisit disebutkan, Bu. Tapi ruang kerja Pak Revano di wing kanan biasanya tertutup ketika beliau sedang bekerja."
Biasanya tertutup. Bukan selalu tertutup — tapi pesan di baliknya cukup jelas.
"Mengerti," kataku.
Wing kiriku adalah ruang yang, dalam kondisi lain, akan membuatku berdiri di pintu dan mengatakan ada kesalahan karena ini terlalu besar untuk satu orang.
Kamar tidurnya tiga kali ukuran kamar kosku. Kasur kingsize dengan headboard kayu gelap yang tinggi, linen putih bersih yang kelihatannya baru diganti, lampu samping tempat tidur di kanan dan kiri yang cahayanya hangat. Jendela besar menghadap ke arah timur — artinya matahari pagi akan masuk dari sini, dan itu satu-satunya hal di ruangan ini yang terasa seperti sesuatu yang akan aku suka tanpa perlu waktu untuk menyesuaikan diri.
Kamar mandinya ada di dalam, dengan bathtub terpisah dari shower, dan wastafel ganda yang salah satunya tidak akan pernah kupakai tapi ada di sana karena standar ruangan ini memang seperti itu.
Ruang kerja terpisah ada di sebelah kamar — pintunya terbuka ke dalam kamar tidur, ukurannya cukup untuk meja besar, rak, dan satu sofa kecil di pojok yang tampaknya sudah ada sejak furniturnya diatur. Di atas meja ada satu tanaman kecil — sukulen dalam pot keramik putih kecil. Hidup. Baru dipindahkan ke sana, bisa kulihat dari tanah yang masih sedikit basah di pinggirnya.
Aku menatap sukulen itu.
Tidak ada catatan. Tidak ada penjelasan tentang siapa yang meletakkannya di sana. Tapi dia ada — kecil, hidup, di meja ruang kerja yang jelas disiapkan untuk aku gunakan.
Aku memutuskan tidak akan menganalisis ini terlalu dalam sekarang.
Kenzo dan dua orang pembantunya memindahkan koper dan kardus ke kamar dalam waktu yang sangat singkat — efisiensi yang aku apresiasi lebih dari yang bisa kutunjukkan. Setelah semuanya masuk, Kenzo berdiri di pintu kamar dengan ekspresi yang untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya tidak sepenuhnya netral.
"Bu Ariana," katanya pelan. "Jika ada yang perlu dibantu — apapun, besar atau kecil — nomor saya ada di ponsel Anda. Bukan hanya untuk urusan Pak Revano."
Aku menatapnya. "Terima kasih, Kenzo."
"Pak Revano tidak selalu mudah untuk dibaca," lanjutnya — dan itu kalimat paling personal yang pernah dia ucapkan kepadaku, disampaikan dengan cara yang sangat hati-hati seolah dia menimbang setiap kata sebelum keluar. "Tapi beliau bukan orang yang buruk."
"Aku tahu," kataku.
Kenzo mengangguk. Lalu pergi.
Aku sendirian di wing kiriku.
Duduk di tepi kasur yang terlalu besar, menatap koper-koper dan kardus yang belum dibuka, mendengarkan keheningan yang terasa berbeda dari keheningan kamar kosku. Dulu keheningan di sana adalah keheningan yang sudah kukenal — suara motor yang lewat di gang, suara TV Ibu Ratna dari bawah, suara tetangga kamar sebelah yang kadang batuk malam hari. Keheningan yang punya teksturnya sendiri karena sudah dua tahun membentuknya.
Keheningan di sini bersih. Terlalu bersih. Seperti ruangan yang belum pernah menyimpan suara yang cukup untuk memberikan karakternya sendiri.
Aku mengeluarkan foto Bapak dari tas jinjing. Berdiri, berkeliling mencari tempat yang tepat — dan menempatkannya di meja ruang kerja, di sebelah sukulen kecil. Dua benda kecil di atas meja besar yang kosong, tapi cukup untuk membuat ruangan itu terasa sedikit lebih seperti milikku.
Lalu aku mulai membongkar koper.
Pukul dua siang aku selesai membereskan semua barang. Baju sudah di lemari, buku-buku sudah di rak kecil di ruang kerja, perlengkapan kerja sudah tersusun di meja. Ruang kerja itu mulai terasa bisa dihuni — tidak nyaman sepenuhnya, tapi tidak asing juga.
Aku keluar dari wing kiri, berjalan ke dapur yang ada di tengah.
Dapurnya — tentu saja — luar biasa. Island counter marmer putih di tengah, peralatan masak yang semuanya sama mereknya dan sama bijaknya dengan seluruh ruangan ini, kulkas dua pintu yang ketika aku buka isinya sudah diisi seseorang dengan bahan-bahan dasar yang rapi tersusun.
Ada note tempel kecil di pintu kulkas bagian dalam — tulisan tangan yang sama dengan di kertas kecil hari Rabu:
Ada makanan di laci bawah kalau lapar. Pulang sekitar jam tiga.
— R
Aku membuka laci bawah kulkas. Ada beberapa kotak makan siang yang masih tertutup rapi — dari restoran yang logonya aku kenali sebagai salah satu yang tidak pernah masuk jangkauan budget harianku.
Aku mengambil satu kotak, memanaskannya di microwave yang butuh waktu tiga puluh detik untuk kutemukan cara kerjanya karena panel kontrolnya lebih rumit dari ekspektasiku, dan makan sendirian di meja makan panjang yang terasa absurd untuk satu orang.
Delapan kursi. Satu yang terpakai.
Aku makan menghadap jendela, menatap Jakarta dari ketinggian tiga puluh dua lantai, dan berpikir bahwa ini adalah pemandangan yang orang-orang impikan sementara yang ada di baliknya adalah seseorang yang makan kotak siang sendirian di meja yang terlalu besar sambil belum tahu cara kerja microwave di dapur yang bukan miliknya.
Ironi tidak pernah kehilangan kreativitasnya.
Revano tiba pukul tiga lewat dua puluh.
Aku mendengar pintu utama terbuka dari ruang kerjaku — aku sedang mencoba mulai mengerjakan revisi proyek klien yang sudah kutunda sejak Rabu, dengan tingkat konsentrasi yang tidak bisa disebut berhasil. Aku berhenti mengetik dan duduk diam sebentar, tidak yakin apakah perlu keluar atau tidak.
Terdengar suara langkah di koridor. Berhenti di depan wing kiriku — pintunya terbuka, aku memang membiarkannya terbuka.
Revano berdiri di pintu. Masih memakai jas — abu-abu gelap yang berbeda dari hari Rabu, dengan dasi yang sudah sedikit dilonggarkan. Ekspresinya lelah dengan cara yang tipis, tapi cukup untuk kelihatan kalau kamu tahu harus melihat ke mana.
Matanya menyapu ruangan sebentar — koper yang sudah tidak ada, rak yang sudah ada buku-bukunya, foto Bapak di meja kerja, sukulen yang dipindahkan sedikit ke kiri karena aku merasa posisi originalnya terlalu di tengah.
"Sudah beres?" tanyanya.
"Sudah dari tadi siang."
"Makanannya—"
"Sudah kumakan. Terima kasih."
Dia mengangguk. Matanya berhenti sebentar di foto Bapak di meja kerja — satu detik, tidak lebih — lalu beralih kembali ke aku.
"Ada yang perlu diubah atau ditambah di kamar?"
"Tidak untuk sekarang."
"Kalau ada, bilang Kenzo."
"Oke."
Dia berdiri di sana selama dua detik lagi — seperti ada sesuatu yang ingin dikatakan atau ditanyakan tapi tidak menemukan bentuknya — lalu mengangguk sekali dan berbalik.
"Revano."
Dia berhenti.
"Makan malam nanti—" aku tidak tahu kenapa aku mulai kalimat ini, "—kita makan bersama atau masing-masing?"
Dia tidak langsung menjawab. Punggungnya masih menghadapku, tangannya di kusen pintu.
"Masing-masing untuk sekarang," katanya akhirnya. "Kalau tidak keberatan."
"Tidak keberatan," jawabku.
Dan dia pergi ke wing kanannya.
Malam itu aku makan roti yang kutemukan di laci dapur, duduk di sofa ruang tamu yang menghadap jendela besar, menatap Jakarta malam yang gemerlapnya berbeda dari yang biasa kulihat dari jendela gang kosan.
Di suatu tempat di wing kanan, aku bisa mendengar samar-samar suara langkah. Sesekali suara pintu. Keheningan yang punya seseorang di dalamnya meski tidak terlihat.
Lebih baik atau lebih buruk dari keheningan yang kosong — aku masih belum bisa memutuskan.
Aku mengambil ponselku. Ada pesan dari Nara yang dikirim sore tadi:
"Hei. Gimana hari pertamanya? Masih hidup?"
Aku mengetik balasan:
"Masih hidup. Tempat tidurnya terlalu besar dan microwave-nya terlalu rumit."
Balasan Nara datang dalam hitungan detik: "ARIANA DEWI tinggal di penthouse dan yang dikeluhkan microwave-nya. Aku tidak akan pernah memahaminya."
Aku tersenyum — kecil, ke arah layar ponsel, sendirian di sofa yang terlalu mewah di ruang tamu yang terlalu sunyi.
Tapi senyum yang nyata.
Dan malam pertama itu berlalu dengan cara yang tidak dramatis dan tidak mudah — seperti kebanyakan hal yang penting dalam hidup, yang jarang datang dengan satu atau yang lain, tapi hampir selalu datang dengan keduanya sekaligus.
— Selesai Bab 7 —