NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 — Ujian Pertama

Jam menunjukkan pukul 09.55 ketika mobil hitam itu berhenti di depan gedung utama Wijaya Group.

Alya turun lebih dulu kali ini, tanpa menunggu pintu dibukakan sepenuhnya. Gaun kerja warna emerald yang dikenakannya jatuh elegan hingga lutut. Rambutnya digerai setengah, rapi namun tidak kaku. Riasannya lebih tegas dibanding hari-hari sebelumnya.

Bukan untuk terlihat cantik.

Untuk terlihat kuat.

Bima turun di sisi lain. Jas hitam dengan dasi gelap membuat auranya semakin dominan. Tatapannya lurus ke depan.

Tidak ada sentuhan tangan hari ini.

Tidak ada gestur romantis.

Rapat ini bukan panggung publik.

Ini medan formal.

Mereka berjalan berdampingan memasuki lobi. Tatapan karyawan mengikuti langkah mereka, namun tidak ada yang berani berbisik terang-terangan.

Lift khusus direksi membawa mereka langsung ke lantai atas.

Suasana di koridor utama lebih sunyi dari biasanya.

Di depan ruang rapat utama, dua sekretaris berdiri. Pintu kayu besar itu tertutup rapat.

“Semua sudah hadir, Pak,” ucap salah satu sekretaris.

Bima mengangguk.

Ia melirik Alya sekilas.

“Siap?”

Alya menarik napas sekali.

“Siap.”

Pintu dibuka.

Ruangan luas dengan meja panjang berbentuk oval menyambut mereka. Delapan pria dan dua wanita sudah duduk di kursi masing-masing. Wajah-wajah berpengalaman. Tatapan tajam.

Beberapa mengangguk formal pada Bima.

Beberapa mengarahkan pandangan langsung pada Alya.

Mengukur.

Menilai.

Bima berjalan ke kursi utama. Alya duduk di sisi kanannya.

Belum ada yang berbicara.

Namun tekanan sudah terasa.

Direktur tertua, pria berambut perak dengan suara berat, membuka rapat.

“Kami ingin klarifikasi mengenai keputusan pribadi Anda yang berdampak pada perusahaan.”

Nada formal.

Tapi jelas mengarah.

Bima menjawab tanpa ragu. “Pernikahan saya tidak memengaruhi stabilitas perusahaan.”

“Pasar tidak selalu melihatnya seperti itu.”

Tatapan pria itu beralih ke Alya.

“Terutama ketika publik belum mengenal latar belakang istri Anda.”

Hening sesaat.

Inilah momen yang ditunggu.

Alya tidak langsung menjawab.

Ia mengingat pelatihan Ratna.

Diam dua detik.

Kontrol.

“Saya memahami kekhawatiran tersebut, Pak,” ucapnya tenang. “Karena itu saya hadir di sini hari ini, agar Bapak dan Ibu tidak perlu menilai saya hanya dari berita media.”

Beberapa pasang mata berubah.

Tidak menyangka ia langsung berbicara.

Direktur lain menyilangkan tangan.

“Latar belakang Anda bukan dari keluarga konglomerat. Tidak memiliki pengalaman di posisi eksekutif tinggi. Apa yang membuat Anda yakin bisa mendampingi CEO di level ini?”

Pertanyaan tajam.

Menyerang kompetensi.

Alya menatap pria itu lurus.

“Saya tidak lahir di keluarga konglomerat, benar. Tapi saya memahami operasional perusahaan ini dari bawah. Saya pernah berada di posisi staf, melihat langsung sistem berjalan, dan mengetahui titik lemah yang sering tidak terlihat dari meja direksi.”

Beberapa orang saling pandang.

Ia melanjutkan.

“Keputusan Pak Bima menikah bukan keputusan impulsif. Saya tidak duduk di sini untuk mengambil alih. Saya duduk di sini untuk mendukung stabilitas.”

Direktur wanita di ujung meja mengangkat alis.

“Dan bagaimana Anda memastikan tidak akan ada konflik kepentingan?”

“Saya tidak memiliki saham pribadi di luar yang diberikan melalui pernikahan ini. Semua keputusan tetap berada di tangan CEO dan dewan. Peran saya adalah menjaga citra dan kesinambungan.”

Jawaban ringkas.

Tidak defensif.

Tidak emosional.

Direktur berambut perak kembali berbicara.

“Pasar sensitif terhadap isu nepotisme.”

Alya mengangguk.

“Karena itu saya tidak meminta jabatan struktural. Saya siap menjalani evaluasi kinerja publik seperti eksekutif lainnya.”

Kalimat itu membuat ruangan hening.

Itu bukan jawaban yang biasa diberikan oleh seseorang yang baru masuk lingkaran elite.

Bima tetap diam.

Namun sorot matanya berubah tipis.

Direktur lain membuka berkas di depannya.

“Saham perusahaan memang stabil sejak pengumuman pernikahan. Tidak ada penurunan signifikan.”

“Investor asing juga tidak menarik dana,” tambah yang lain.

Diskusi mulai bergeser dari menyerang pribadi menjadi membahas data.

Alya tidak lagi menjadi pusat tembakan.

Ia hanya duduk, mendengarkan, sesekali menjawab jika ditanya langsung.

Tiga puluh menit kemudian, nada rapat berubah.

Bukan lagi interogasi.

Lebih seperti klarifikasi formal.

Direktur tertua menutup mapnya.

“Kami berharap keputusan pribadi tidak mengganggu profesionalisme.”

Bima menjawab tegas, “Tidak akan.”

Tatapan pria itu beralih terakhir kali pada Alya.

“Buktikan.”

Alya menahan pandangannya.

“Dengan senang hati.”

Rapat ditutup.

Satu per satu direksi berdiri dan keluar ruangan. Beberapa mengangguk kecil pada Alya. Bukan penerimaan penuh.

Tapi bukan lagi penolakan terang-terangan.

Ketika pintu tertutup dan hanya tersisa mereka berdua, ruangan terasa jauh lebih lega.

Alya baru menyadari telapak tangannya sedikit dingin.

“Kamu tidak gemetar,” ucap Bima.

“Saya gemetar di dalam.”

Bima menatapnya beberapa detik.

“Kamu menjawab lebih baik dari yang saya perkirakan.”

“Apakah itu pujian?”

“Fakta.”

Alya tersenyum tipis.

“Itu cukup.”

Mereka berjalan keluar ruang rapat bersama.

Di koridor, beberapa staf menunduk hormat. Kali ini tatapan mereka berbeda.

Bukan lagi rasa penasaran kosong.

Ada pengakuan samar.

Di dalam lift, suasana sunyi.

Beberapa detik kemudian Bima berkata pelan, “Kamu tahu tadi mereka sengaja memancing emosi.”

“Saya tahu.”

“Kenapa tidak terpancing?”

Alya menatap pantulan diri mereka di cermin lift.

“Karena kalau saya marah, mereka menang.”

Sudut bibir Bima bergerak tipis.

Lift berhenti di lantai eksekutif.

Sebelum pintu terbuka sepenuhnya, Bima berkata pelan, “Mulai hari ini, mereka tidak akan lagi melihatmu sebagai kelemahan.”

Pintu terbuka.

Alya melangkah keluar lebih dulu.

Langkahnya mantap.

Ia tidak merasa menang.

Belum.

Tapi ia telah melewati ujian pertama tanpa jatuh.

Dan itu cukup untuk hari ini.

Menjelang siang, berita internal perusahaan mulai beredar bahwa rapat berjalan lancar. Tidak ada perubahan struktur. Tidak ada gejolak saham.

Stabil.

Sore itu, ketika mereka kembali ke rumah, Alya berdiri di ruang keluarga yang luas.

Ia melepas heels-nya perlahan.

Hari ini ia tidak hanya berdiri sebagai istri.

Ia berdiri sebagai bagian dari keputusan besar seorang CEO.

Bima menghampirinya.

“Kita tidak akan selalu seberuntung ini.”

“Saya tidak berharap keberuntungan.”

“Apa yang kamu harapkan?”

Alya menatapnya lurus.

“Kesempatan.”

Hening sesaat.

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi, ada rasa hormat yang jelas di antara mereka.

Bukan karena kontrak.

Bukan karena citra.

Melainkan karena kemampuan.

Hari ini Alya tidak hanya mempertahankan statusnya.

Ia memperkuat posisinya.

Dan mulai saat ini, siapa pun yang ingin menjatuhkannya—

harus berhadapan langsung dengannya.

Bukan lagi bersembunyi di balik asumsi.

Bukan lagi berbicara lewat sindiran.

Hari ini, Alya sudah menunjukkan bahwa ia tidak akan runtuh hanya karena tekanan ruang rapat.

Ia berdiri di tengah ruang keluarga yang luas itu, membiarkan sunyi menyelimuti sesaat. Bukan sunyi yang melemahkan. Melainkan sunyi setelah badai kecil yang berhasil dilewati.

Bima masih berdiri beberapa langkah darinya.

“Direktur Surya bukan tipe yang mudah menyerah,” katanya akhirnya.

Alya menoleh.

“Yang berambut perak?”

“Ya. Dia menguji semua orang yang masuk lingkaran ini.”

“Termasuk Anda dulu?”

Tatapan Bima berubah sedikit.

“Terutama saya.”

Jawaban itu tidak panjang, tapi cukup menjelaskan.

Alya menyadari satu hal penting—Bima tidak lahir langsung menjadi sosok tak tergoyahkan. Ia pun pernah diuji. Pernah diragukan.

Dan mungkin, masih terus diuji sampai hari ini.

“Kalau begitu,” ucap Alya tenang, “saya hanya perlu melewati proses yang sama.”

Bima menatapnya lebih lama dari biasanya.

“Kamu tidak marah mereka meragukanmu?”

“Marah itu mudah,” jawabnya. “Membuktikan diri lebih efektif.”

Ada jeda tipis di antara mereka.

Untuk pertama kalinya, bukan hanya Bima yang mengamati Alya.

Alya juga mulai membaca pria itu.

Cara Bima berbicara tentang dewan direksi.

Cara ia memperingatkannya tanpa berniat meremehkan.

Cara ia membiarkannya duduk di ruang rapat, bukan menyuruhnya menunggu di luar.

Itu bukan sikap pria yang menganggap istrinya sekadar formalitas.

Itu sikap seseorang yang perlahan mengakui kapasitas.

“Alya.”

Ia mengangkat wajahnya.

“Gala minggu depan akan lebih rumit dari rapat tadi. Di sana bukan hanya direksi. Ada pesaing.”

“Pesaing bisnis?”

“Dan pribadi.”

Kalimat itu membuat udara sedikit berubah.

Alya tidak bertanya lebih jauh.

Ia hanya menyimpan informasi itu di dalam pikirannya.

Jika hari ini ia diuji oleh orang dalam, maka minggu depan ia mungkin diuji oleh orang luar.

Dan ia tidak akan terkejut lagi.

Malam semakin larut.

Alya berjalan menuju tangga, langkahnya ringan namun pasti.

Di tengah anak tangga, ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Bima yang masih berdiri di bawah.

“Terima kasih sudah memberi saya kesempatan duduk di sana hari ini.”

Bima menjawab tanpa ragu.

“Kamu yang mempertahankan kursimu sendiri.”

Itu bukan pujian berlebihan.

Itu pengakuan.

Alya naik ke lantai dua dengan perasaan berbeda dari pagi tadi.

Jika kemarin ia masih menyesuaikan diri sebagai Nyonya Wijaya,

hari ini ia mulai memahami arti berada di posisi itu.

Ia tidak lagi merasa seperti orang luar yang tersesat di dunia mewah.

Ia merasa seperti pemain baru yang sedang mempelajari aturan permainan.

Dan ia tidak takut pada permainan itu.

Karena mulai hari ini—

ia bukan sekadar nama di samping Bima Wijaya.

Ia adalah bagian dari keputusan besar.

Bagian dari kekuasaan.

Dan siapa pun yang ingin menggoyahkan posisinya,

tidak akan lagi menemukan wanita ragu yang mudah ditekan.

Mereka akan menemukan Alya Wijaya.

Yang berdiri.

Yang siap.

Dan yang tidak akan mundur.

1
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!