NovelToon NovelToon
Melati Diantara Lima Cinta

Melati Diantara Lima Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.

Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.

Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.

Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: UPAYA PELARIAN YANG GAGAL

Malam di markas Kenpeitai selalu terasa lebih sunyi daripada seharusnya.

Sunyi yang bukan karena tidak ada suara, melainkan karena semua suara ditahan. Langkah sepatu yang teratur. Bisikan perintah. Derit pintu kayu. Bahkan angin pun seperti belajar berjalan pelan agar tidak mengganggu kekuasaan yang berdiam di dalam tembok-tembok itu.

Di taman belakang paviliun, Melati duduk sendirian.

Lampion kecil menggantung di cabang pohon kamboja. Cahayanya redup, memantulkan bayangan patah di batu taman yang dingin. Kolam kecil memantulkan langit malam yang tidak membawa jawaban.

Ia memeluk lututnya.

Kimono yang diberikan Kenjiro terasa semakin ringan di tubuhnya, tetapi semakin berat di jiwanya.

Setiap malam ia berdoa dengan kalimat yang sama.

Bukan agar diselamatkan.

Agar tidak mati sebelum mengerti mengapa semua ini terjadi.

Angin berdesir.

Melati menutup mata.

Lalu—

Langkah.

Bukan langkah sepatu militer.

Langkah yang ragu.

Tubuh Melati menegang.

Ia menoleh perlahan.

Dan dunia seperti berhenti.

“Melati…”

Suara itu pecah sebelum kata selesai.

Aris berdiri di balik bayangan pohon.

Lebih kurus. Lebih pucat. Pakaian priyayi yang dulu rapi kini sederhana, nyaris seperti rakyat biasa. Tetapi mata itu—mata yang selalu menatapnya dengan lembut—tidak berubah.

Melati berdiri terlalu cepat.

“Mas… Aris?”

Suara itu keluar seperti sesuatu yang lama terkubur.

Aris mendekat beberapa langkah, lalu berhenti. Seolah takut menyentuh kenyataan.

“Ya Tuhan…” bisiknya. “Apa yang mereka lakukan padamu…”

Melati ingin tersenyum. Tidak bisa.

Aris menutup jarak itu akhirnya. Tangannya gemetar ketika menyentuh ujung lengan kimono Melati, seperti memastikan ia tidak akan hilang.

“Kau dingin,” katanya pelan.

“Aku masih hidup,” jawab Melati.

Kalimat itu membuat Aris menunduk. Bahunya bergetar.

“Aku terlambat,” katanya. “Aku selalu terlambat.”

Melati menggeleng cepat.

“Tidak… jangan bilang begitu…”

Aris tertawa kecil—tawa yang patah.

“Aku pangeran di rumahku sendiri, tapi pengecut di dunia nyata,” katanya. “Aku tidak melawan keluargaku. Tidak melawan penjajah. Dan ketika aku akhirnya berani… kau sudah dibawa ke neraka ini.”

Melati menahan air mata.

Ia ingin mengatakan bahwa kehadiran Aris saja sudah terasa seperti cahaya. Tetapi kata-kata itu terasa terlalu berat untuk dunia yang kejam.

“Kenapa kau datang?” bisiknya.

Aris menatapnya lurus.

“Aku datang menjemputmu.”

Sunyi pecah di dada Melati.

Aris melanjutkan cepat, seperti takut waktu akan mencurinya.

“Ada jalan belakang. Pelayan pribumi membantu. Kita bisa keluar sebelum pergantian jaga. Aku punya tempat aman di desa pegunungan. Kita tidak perlu kekuasaan. Tidak perlu gelar. Hanya… hidup.”

Kata terakhir hampir tidak terdengar.

Melati ingin percaya.

Tuhan, ia ingin percaya.

Tetapi bayangan Kenjiro berdiri di antara harapan itu.

“Mas Aris…” suaranya bergetar. “Ini bukan tempat yang bisa ditinggalkan begitu saja.”

“Aku tahu,” kata Aris. “Aku takut. Aku bodoh. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu mati pelan di sini.”

Air mata akhirnya jatuh dari mata Aris.

Melati belum pernah melihatnya menangis.

“Aku melihat desa dibakar,” katanya. “Aku melihat orang-orang dibawa jadi romusha. Dan setiap kali aku menutup mata… aku melihat wajahmu. Aku tidak bisa hidup dengan itu.”

Melati menangis diam.

Aris mengangkat tangannya, ragu, lalu menyentuh pipi Melati dengan lembut—sentuhan yang tidak menuntut apa pun.

“Kau tidak kotor,” bisiknya. “Apa pun yang terjadi, kau tidak kotor.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam Melati.

Ia menutup mata, bersandar sesaat pada kehangatan yang sudah lama hilang.

“Aku takut,” katanya.

“Aku juga,” jawab Aris. “Tapi aku lebih takut tidak mencoba.”

Angin bergerak lebih kencang.

Lampion bergoyang.

Jauh di dalam markas, terdengar suara sepatu.

Melati membuka mata.

“Kalau kita tertangkap—”

Aris tersenyum tipis.

“Setidaknya aku akhirnya melakukan sesuatu yang benar.”

Melati memegang tangan Aris.

Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa seperti manusia yang memilih.

“Ayo,” bisiknya.

Mereka melangkah.

Hanya beberapa langkah.

Lalu—

“Berhenti.”

Suara itu tidak keras.

Tetapi semua udara di taman seakan runtuh.

Melati membeku.

Aris memutar badan perlahan.

Kenjiro berdiri di jalur batu, tidak terburu-buru, tidak marah dalam bentuk yang mudah dikenali. Lampion memantulkan kilau dingin di matanya.

Di belakangnya, dua tentara.

Sunyi menjadi sesuatu yang tajam.

“Aku bertanya-tanya,” kata Kenjiro tenang, “berapa lama sebelum seseorang mencoba mengambilmu.”

Melati merasakan tangan Aris menegang.

Aris melangkah sedikit ke depan Melati.

Gerakan kecil. Naluriah.

Kenjiro melihatnya.

Dan sesuatu berubah di wajahnya.

“Kau,” katanya pelan. “Priyayi.”

Aris tidak mundur.

“Aku datang untuk membawanya pulang.”

Kenjiro tersenyum tipis. Tidak ada humor di sana.

“Pulang?” ulangnya. “Menarik. Kau mengira tempat yang pernah ia tinggali masih ada?”

Melati berbisik, “Kenjiro—”

Ia tidak selesai.

Kenjiro mengangkat tangan sedikit.

Tentara bergerak cepat. Aris ditangkap sebelum Melati sempat bernapas.

“Jangan!” Melati maju.

Kenjiro menatapnya. Tatapan yang lebih menyakitkan daripada teriakan.

“Kau menyentuhnya,” kata Kenjiro pada Aris.

Aris berjuang, tetapi tidak melawan membabi buta.

“Aku mencintainya,” katanya.

Sunyi.

Itu kalimat paling berbahaya yang bisa diucapkan.

Mata Kenjiro menggelap.

“Cinta,” ulangnya pelan, seperti mencicipi kata yang tidak ia percayai. “Kata yang mahal untuk seseorang tanpa kekuasaan.”

Melati menangis.

“Dia tidak melakukan apa-apa—”

Kenjiro tidak melihat Melati.

Ia mendekat ke Aris.

“Berani,” katanya. “Atau bodoh.”

Aris menatap balik.

“Kadang itu sama.”

Kenjiro memberi isyarat kecil.

Pukulan pertama terdengar seperti kayu patah.

Melati menjerit.

“Berhenti!”

Aris jatuh berlutut, tetapi masih mencoba bangkit.

Kenjiro berdiri sangat dekat, mengamati bukan dengan amarah liar—melainkan dengan fokus yang dingin, posesif, menakutkan.

“Aku tidak keberatan orang ingin sesuatu yang indah,” katanya pelan. “Tapi aku tidak mentoleransi orang mengambilnya.”

Pukulan kedua.

Melati berlari, ditahan tentara.

“Kenjiro tolong… tolong…”

Kenjiro menoleh padanya.

Dan di matanya ada sesuatu yang lebih berbahaya daripada marah:

Ketakutan kehilangan yang berubah menjadi kekerasan.

“Kau memilih pergi,” katanya pada Melati. “Tanpa bicara padaku.”

Melati gemetar.

“Aku hanya ingin—”

“Kebebasan?” Kenjiro memotong. Senyum tipis. “Semua orang menginginkan kata itu sampai mereka melihat harganya.”

Aris tersenyum berdarah.

“Dia bukan milikmu.”

Kalimat itu membuat udara pecah.

Kenjiro memberi isyarat lagi.

Pukulan berikutnya lebih keras.

Melati menangis histeris.

“Cukup! Aku mohon… aku mohon!”

Kenjiro akhirnya mengangkat tangan. Semua berhenti.

Aris terengah di tanah.

Kenjiro menatap Melati lama sekali.

“Aku perlu kau mengerti,” katanya pelan. “Dunia ini tidak lembut. Dan orang yang membuatmu lupa itu… berbahaya.”

Melati menggeleng, air mata tidak berhenti.

“Dia hanya peduli…”

Kenjiro berlutut di depan Aris. Suaranya sangat tenang.

“Peduli tidak melindungi,” katanya. “Kekuatan melindungi.”

Aris tertawa lemah.

“Kalau itu benar… kenapa kau terlihat takut?”

Sunyi membeku.

Kenjiro berdiri.

Untuk pertama kalinya, kemarahannya terlihat jelas.

Bukan ledakan.

Tekanan.

“Aku tidak takut,” katanya.

Aris menatap Melati.

“Lari… kalau ada kesempatan lagi,” bisiknya.

Melati menjerit ketika tentara menarik Aris berdiri.

Kenjiro menatap Melati terakhir kali sebelum memberi perintah.

“Bawa dia,” katanya dingin. “Tapi jangan bunuh.”

Kalimat itu lebih menakutkan.

Aris diseret pergi.

Melati berusaha mengejar, ditahan.

Suara langkah menjauh.

Suara napas Melati pecah.

Taman kembali sunyi.

Kenjiro berdiri di depannya.

Lampion bergoyang, bayangan bergerak di wajahnya.

“Kau akan membenciku malam ini,” katanya.

Melati menangis tanpa suara.

“Aku tidak ingin kau menghancurkan orang yang baik,” bisiknya.

Kenjiro menatapnya lama.

“Orang baik sering mati lebih cepat,” jawabnya.

Melati jatuh berlutut.

“Kenapa kau melakukan ini…”

Kenjiro tidak langsung menjawab.

Akhirnya ia berkata pelan, hampir seperti pengakuan yang tidak ia sadari keluar:

“Karena aku tidak akan kehilanganmu.”

Melati menutup wajahnya.

Kalimat itu bukan cinta.

Itu sangkar.

Dan malam itu, di taman yang pernah terasa seperti satu-satunya tempat bernapas, Melati mengerti bahwa harapan bisa lebih menyakitkan daripada keputusasaan.

Aris datang membawa pintu.

Kenjiro menutupnya.

Dan Melati kembali sendirian dengan suara langkah yang terus menghantui—langkah seseorang yang mencoba menyelamatkannya, dan harus membayar harganya di depan matanya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!