NovelToon NovelToon
SURAT HATI

SURAT HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8

Gerbang besi mansion Storm terbuka pelan, mengeluarkan suara gesekan halus yang biasanya menenangkan, namun malam ini terdengar seperti vonis penjara bagi Luna. Hera menurunkannya di ujung jalan setapak, hanya memberinya kerlingan tajam sebelum memacu motornya pergi.

Luna melangkah masuk. Marmer putih di ruang tengah terasa sedingin es di bawah kakinya yang masih terbalut sepatu bot pinjaman. Di atas meja konsol, sebuah vas kristal berisi bunga lili putih berdiri tegak—sempurna, simetris, dan tanpa cacat.

Sama seperti hidup yang dipaksakan orang tuanya padanya.

"Kau terlambat dua jam, Luna."

Suara berat Alexander Storm memecah keheningan. Ayahnya duduk di kursi kulit besar di sudut ruang kerja yang pintunya terbuka lebar. Di tangannya, sebatang cerutu yang asapnya membubung tipis, menciptakan bayangan kelam di wajahnya yang tegas.

Luna terpaku. Jantungnya masih berpacu karena raungan mesin motor Zayn, dan sekarang ia harus menghadapi keheningan yang mencekam ini.

"Aku... aku hanya mencari udara segar, Ayah," bisik Luna. Tangannya gemetar di balik saku jaket denim hitam milik Hera—jaket yang berbau bensin dan asap api unggun. Bau Zayn.

Alexander berdiri, melangkah mendekat. Matanya yang tajam menyapu penampilan Luna—rambut berantakan, celana kulit, dan jaket kumal itu. "Udara segar? Atau kau baru saja menggali sampah di pesisir Malibu?"

"Ayah..."

"Aku melihatmu, Luna. Di The Pit." Suara Alexander merendah, namun setiap katanya penuh penekanan. "Zayn Graciano bukan lagi pemuda bodoh yang mengejarmu dengan piano. Dia adalah bom waktu. Ayahnya menghancurkan martabat, dan anaknya akan menghancurkan masa depanmu jika kau membiarkannya menyentuhmu lagi."

Luna ingin membantah. Ia ingin meneriakkan bahwa Zayn tidak menghancurkannya, Zayn justru terlihat seperti seseorang yang sedang hancur sendirian. Namun, bayangan mata kelabu Zayn yang dingin dan tatonya yang hitam pekat terus berputar di kepalanya.

Zayn yang dulu lembut, yang panik mencari apotek di tengah badai hanya karena takut merusak masa depan Luna, kini telah menjelma menjadi pria yang menatapnya seolah ia adalah musuh paling menjijikkan.

"Masuk ke kamarmu," perintah Alexander. "Dan jangan biarkan aku melihat pakaian sampah itu lagi di rumah ini."

Luna berlari menaiki tangga, mengabaikan tatapan prihatin ibunya, Eleanor, yang muncul dari balik pintu kamar. Begitu sampai di kamarnya yang luas, Luna mengunci pintu dan merosot ke lantai.

Ia menyentuh lengannya sendiri, tepat di titik di mana Zayn menarik tangannya dengan kasar tadi. Masih ada sisa panas di sana. Perubahan Zayn bukan sekadar tato atau motor besar. Ada kegelapan yang pekat di matanya—sebuah luka yang dalam yang entah bagaimana, Luna merasa dialah penyebabnya.

Luna membuka ponselnya, jemarinya ragu-ragu mencari sebuah nama yang sudah bertahun-tahun tidak ia hubungi.

Zayn.

Ia mengetik sesuatu, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu menghapusnya lagi. Pikirannya melayang pada malam badai itu. Zayn yang pucat karena alat pengaman yang sobek... Zayn yang rela melakukan apa saja demi dia.

Kenapa kau membiarkan dirimu mati di samping peti mati ayahmu, Zayn? batin Luna pedih. Dan kenapa aku merasa akulah yang memegang senjatanya?

Luna menutup pintu kamar dengan napas memburu. Ia melempar jaket denim Hera ke atas tempat tidur seolah benda itu berbahan api. Aroma bensin dan sisa parfum maskulin Zayn yang menempel di sana terasa seperti pengkhianatan di tengah kamar yang berbau aromaterapi lavender ini.

"Kau payah, Luna. Harusnya kau lihat wajahmu tadi, seperti baru melihat hantu."

Luna tersentak. Di ambang pintu penghubung balkon, Hera berdiri sambil menyulut rokok elektrik. Rambutnya yang dipotong shaggy berantakan, sangat kontras dengan rambut Luna yang biasanya lurus sempurna.

"Keluar, Hera. Ayah mencarimu," bisik Luna parau.

Hera tertawa sinis, asap tipis keluar dari bibirnya. "Ayah tidak mencariku. Dia sudah menganggapku mati sejak aku menato punggungku dan berhenti ikut les harpa yang membosankan itu. Dia hanya mencarimu, si boneka kedokteran kesayangannya."

Hera melangkah masuk, memungut jaketnya dari tempat tidur Luna. Ia mendekat, matanya menyipit menatap sisa air mata di pipi kembarannya. "Zayn sudah berubah, kan? Dia bukan lagi anak anjing yang memohon perhatianmu di ruang musik."

"Kenapa kau membawaku ke sana, Hera? Kau tahu itu akan menyakitiku," suara Luna bergetar.

"Aku membawamu ke sana agar kau bangun!" Hera mencengkeram bahu Luna, memaksa Luna menatap pantulan mereka di cermin besar. "Lihat kita! Kita Storm, tapi bagi Zayn, kita mungkin musuh. Aku memilih menjadi musuh yang jujur, sedangkan kau... kau memilih menjadi tawanan di penjara emas ini sambil merindukan pria yang sekarang membencimu."

Hera melepaskan cengkeramannya, lalu berbalik menuju balkon untuk melompat ke pohon ek besar, jalur rahasianya keluar masuk mansion.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
durrotul aimmsh
i just can say...wow
shabiru Al
apa yang akan terjadi ya jika ayahnya luna tau kehamilan ini
shabiru Al
mampir ya thor,, kayaknya menarik nih ceritanya
ros 🍂: Happy Reading 🥰
total 1 replies
Nurhasanah
ini fl nya luna apa hera ?? lebih suka hera sih badas nggak menye2 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!