Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34. Pendukung
Malam turun perlahan di desa utara itu, menyelimuti hamparan pasir dengan jubah kegelapan yang pekat. Di halaman rumah kayu yang sederhana, sebuah api unggun menyala terang, lidah apinya menjilat udara dan menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding.
Angin gurun yang biasanya membawa debu kasar kini bertiup sepoi-sepoi, terasa lebih bersahabat seolah ikut tenang menyaksikan pertemuan yang langka ini.
Di sudut halaman, jauh dari jangkauan telinga kaum pria, Sin Yin dan Wahuwa Mei Lin duduk berdampingan di atas sebuah batu datar yang halus.
Cahaya api yang kemerahan memantul pada gaun merah hati Wahuwa, membuatnya berkilau lembut seperti permata delima.
Sementara itu, wajah Sin Yin yang biasanya beku bak es abadi, kini tampak melunak; garis-garis ketegangan di dahinya menghilang, digantikan oleh pendar hangat yang jarang terlihat.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu—sejak pedang dan tatapan tajam saling beradu—Sin Yin menarik napas panjang dan memberikan senyuman ramah.
“Aku minta maaf,” ucap Sin Yin pelan, suaranya tulus tanpa nada dingin yang biasa ia gunakan.
Wahuwa berkedip, bulu matanya yang lentik bergerak pelan karena terkejut. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Sin Yin.
“Untuk apa, Kak Sin Yin?”
“Aku tadi ketus. Dan cemburu,” aku Sin Yin sambil menunduk sedikit, jarinya memainkan ujung kain pakaiannya. Ada rona tipis yang muncul di pipinya, bukan karena panas api, melainkan karena pengakuan yang jujur.
Wahuwa Mei Lin menutup mulutnya dengan telapak tangan, mencoba menahan tawa kecil yang hampir meledak dari bibirnya yang mungil. Matanya berbinar jenaka.
“Jadi memang benar?”
Sin Yin mendesah pelan, menatap lidah api yang menari di depan mereka.
“Ya. Benar.”
“Apakah Kak Sin Yin memang sudah menjadi kekasih Kakakku?” tanya Wahuwa Mei Lin dengan nada menggoda, kepalanya sedikit dimiringkan untuk melihat ekspresi Sin Yin lebih jelas.
Pertanyaan itu seketika membuat wajah sang Bidadari Maut mendadak memerah hebat, menyamai warna bara api di hadapan mereka. Ia tampak kikuk, sebuah pemandangan yang mustahil dilihat di medan tempur.
“Kami, belum,” jawab Sin Yin terbata.
Wahuwa memiringkan kepala, tampak tidak puas dengan jawaban itu.
“Belum?”
Sin Yin menatap api unggun dengan tatapan menerawang, suaranya melembut, seolah ia sedang membicarakan rahasia paling berharga di dunia.
“Dia terlalu polos.”
Wahuwa Mei Lin tertawa kecil, suara tawanya bening seperti gemerincing lonceng perak.
“Polos? Gimana kak Sin Yin?”
“Kau tahu tidak,” lanjut Sin Yin sambil menunduk sedikit malu, kini suaranya terdengar seperti keluhan namun penuh kasih sayang, “dia bahkan tidak sadar kalau dia sering membuat gadis salah paham. Dia memiliki karisma yang berbahaya tanpa ia sadari sendiri.”
“Contohnya?” tanya Wahuwa, semakin penasaran.
“Dia tersenyum lembut pada semua orang. Bicara dengan ketulusan yang bisa meluluhkan gunung es. Menolong tanpa pamrih. Dan ketika aku bilang aku cemburu,” Sin Yin menghela napas, mengingat wajah bingung Wang Long.
“Dia justru bertanya dengan wajah sungguh-sungguh dan mata yang jernih seolah tanpa dosa, ‘Kenapa?’”
Wahuwa tak bisa menahan tawanya lagi hingga pundaknya terguncang.
“Hahaha! Itu memang Kakakku. Dia bisa membedakan seribu jurus musuh, tapi tidak bisa membedakan satu pun perasaan wanita.”
Sin Yin ikut tersenyum tipis, rasa cemasnya perlahan menguap.
“Kami belum jadian. Tapi entah kenapa… setiap ada gadis cantik mendekatinya, hatiku terasa panas seperti disulut api.”
“Itu namanya cemburu, Kak” goda Wahuwa lembut, menyenggol bahu Sin Yin dengan akrab.
Sin Yin mengangguk pelan, menerima kenyataan itu.
“Mungkin itu gambaran cinta.” Ia terdiam sejenak, menatap bayangan dirinya di atas pasir, lalu menambahkan lebih lirih, hampir seperti bisikan pada diri sendiri,
"Apakah kakak pernah terpikir kakak akan jadi istri bocah Naga itu?"
“Menjadi istri Bocah Naga itu… belum pernah kupikirkan sejauh itu.”
Wahuwa menatap Sin Yin dengan tatapan yang sangat hangat, ada rasa haru yang tersirat di matanya.
“Itu cuma harapanku.”
Sin Yin menoleh cepat.
“Harapan?”
“Ya,” jawab Wahuwa pelan, suaranya penuh keseriusan.
“Setelah semua badai ini selesai, aku berharap Kakakku bersama gadis yang protektif terhadapnya. Dia terlihat sangat kuat di luar, tapi sebenarnya hatinya lugu dan terlalu mudah percaya pada orang. Dia butuh seseorang yang bisa menjadi perisainya dalam hal-hal yang tidak ia pahami.”
Sin Yin tersenyum kecil, ia merasa ada sebuah tanggung jawab manis yang diletakkan di pundaknya.
“Dia memang polos dan bodoh.”
“Tapi bodoh yang baik,” tambah Wahuwa sambil tersenyum lebar.
Keduanya tertawa pelan, menciptakan harmoni kecil di tengah kesunyian malam gurun yang dingin. Hening menyelimuti mereka sejenak, sebelum akhirnya Sin Yin menyipitkan mata, kilat nakal muncul di pupil matanya.
"Jadi nama kecilmu Wahuwa Mei Lin?"
"Iya, Kak Sin Yin."
"Tapi Wang Long terbiasa memanggilmu Mei Lin saat masih kecil?"
"Iya, Kak, tapi saat aku sadar di tempat guruku, aku ingat namaku Wahuwa saja," jawab Wahuwa Mei Lin sambil tersenyum ramah.
“Sekarang giliranku bertanya,” ujar Sin Yin, memutar tubuhnya menghadap Wahuwa.
Wahuwa mengangkat alis, sedikit waspada.
“Apa?”
“Apa hubunganmu dengan Shen Lie Cen?” tanya Sin Yin telak.
Wajah Wahuwa yang tadi tampak berani dan tenang kini berubah merah padam, persis seperti warna gaun merah hati yang ia kenakan. Ia mendadak salah tingkah.
“Kami, hanya saudara seperguruan,” jawabnya pelan, mencoba terdengar meyakinkan meski gagal total.
“Benarkah?” Sin Yin menyeringai tipis, ia tahu ia telah menemukan titik lemah sang Bidadari Merah.
Wahuwa menunduk, jarinya dengan gelisah memainkan ujung lengan bajunya yang panjang.
“Aku menyukainya,” akunya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Sin Yin tersenyum lebih lebar, merasa menang.
“Sejak kapan?”
“Entahlah. Mungkin sejak dia selalu berdiri di depanku setiap kali aku hampir terluka. Sejak dia menjadikan punggungnya sebagai perisai bagiku tanpa mengeluh sepatah kata pun.”
“Dan dia?” tanya Sin Yin lagi, menyelidiki.
Wahuwa menggeleng pelan, ada gurat keraguan di wajahnya yang cantik.
“Aku belum pernah mengatakannya. Aku takut… Pendekar Cen tidak menyukaiku seperti itu. Aku takut merusak ikatan persaudaraan kami.”
Sin Yin tertawa pelan, sebuah tawa yang penuh dengan kepastian.
“Tidak mungkin.”
Wahuwa mengangkat wajahnya, menatap Sin Yin dengan mata yang mencari jawaban.
“Kenapa Kakak begitu yakin?”
“Karena tadi,” lanjut Sin Yin dengan nada mantap, “saat kau menyebut hampir mati tiga kali dalam perjalanan mencarinya, aku melihatnya. Dia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih.”
Wahuwa terdiam, mencoba mengingat kembali momen itu.
“Dia mencoba terlihat tenang sekeras batu,” sambung Sin Yin, “tapi matanya tidak bisa berbohong. Tatapannya padamu penuh dengan kekhawatiran yang hanya dimiliki oleh seorang pria kepada wanita yang ia cintai.”
Wahuwa tersenyum malu-malu, sebuah binar harapan muncul di matanya yang indah.
“Benarkah?”
“Percayalah. Tidak mungkin Pendekar Naga Phoenix itu tidak menyukai adik seperguruannya yang cantik, Bidadari Merah Hati ini.”
Wahuwa tertawa kecil, merasa beban di hatinya sedikit terangkat.
“Kalau begitu, mungkin aku akan sedikit lebih berani nanti. Mungkin aku akan mulai menunjukkan perasaanku sedikit demi sedikit.”
Sin Yin mengangguk, menyetujui rencana itu.
“Ya, aku mungkin akan sedikit lebih jujur pada kakakmu. Aku akan berhenti bersembunyi di balik topeng kedinginanku.”
Kedua perempuan itu saling pandang, lalu tersenyum bersama. Tak ada lagi kecurigaan, tak ada lagi kecanggungan. Yang ada hanyalah pemahaman diam-diam antara dua jiwa yang sedang jatuh cinta.
Di Sisi Lain Api Unggun
Beberapa langkah dari mereka, Wang Long dan Shen Lie Cen berdiri tegak, memunggungi api unggun dan menghadap ke arah padang pasir yang gelap dan misterius. Angin malam meniup jubah mereka, menciptakan suara kepakan kain yang teratur di tengah keheningan.
“Kuil Dewa bukan sekadar organisasi biasa,” ujar Shen Lie Cen pelan namun berat. Matanya menatap tajam ke arah cakrawala yang kelam.
“Mereka telah membangun jaringan yang mengerikan, menyusup dari desa ke desa. Pengikut mereka bukan hanya fanatik, tapi juga terlatih secara militer. Dan yang paling berbahaya… mereka rela mati tanpa ragu demi doktrin mereka.”
“Aku sudah melihatnya sendiri di desa tadi,” jawab Wang Long dengan nada tenang namun mengandung ketegasan. Tatapannya lurus ke depan, seolah mampu menembus kegelapan malam.
“Mereka mencari sesuatu yang besar,” lanjut Shen Lie Cen, suaranya sedikit merendah.
“Ibuku, Bidadari Ungu, menduga mereka sedang mengumpulkan orang-orang dengan garis darah kuno yang tertentu.”
“Darah Naga?” tanya Wang Long singkat.
Shen Lie Cen menoleh dengan cepat, sedikit terkejut.
“Kau tahu?”
“Aku hanya mendengar rumor samar saat di perjalanan,” jawab Wang Long.
Shen Lie Cen mengangguk, kembali menatap kegelapan.
“Markas utama mereka tidak pernah tetap. Mereka berpindah-pindah bagaikan hantu. Tapi menurut intelijen guruku, ada satu pusat ritual keramat di utara jauh… lokasinya tersembunyi di balik reruntuhan Kuil Dewa Tanah tua.”
Mata Wang Long sedikit menyempit, kilatan emas muncul sesaat di pupil matanya. “Patung serigala.”
Shen Lie Cen terdiam sesaat, tampak terkejut mendengar detail tersebut keluar dari mulut Wang Long. “Kau juga mendengar itu?”
Wang Long mengangguk pelan. Angin berdesir lebih kencang, membawa aura maut yang samar dari kejauhan.
“Kalau begitu kita menuju tempat yang sama,” ujar Shen Lie Cen, suaranya kini terdengar seperti sebuah janji aliansi.
Wang Long menoleh dan menatapnya lurus ke dalam mata. “Kau mempercayaiku? Padahal kita baru saja bertemu dan pedangmu hampir mencabut nyawaku tadi?”
Shen Lie Cen tersenyum tipis, sebuah senyuman hormat antar pendekar. “Jika kau bukan kakaknya yang asli, Wahuwa tidak akan mungkin tersenyum sebahagia itu. Kegembiraannya adalah satu-satunya bukti yang aku butuhkan.”
Hening sejenak menyelimuti mereka. Suasana mendadak menjadi sangat serius.
“Dan jika kau menyakitinya,” tambah Shen Lie Cen, nada suaranya berubah menjadi dingin namun terkendali, “aku akan menantangmu dalam duel hidup mati.”
Wang Long tidak tersinggung, sebaliknya ia justru tersenyum kecil karena ia tahu perasaan itu. “Adil. Namun, saat ini perkataan itu adalah bagianku,” ujar Wang Long, auranya mendadak bangkit, memberikan tekanan yang berat.
“Maksudmu?” tanya Shen Lie Cen, mengerutkan dahi.
“Jangan pernah permainkan perasaan adikku. Jangan biarkan air mata jatuh dari matanya karena ulahmu, atau kau akan berhadapan dengan kemurkaanku ini,” kata Wang Long dengan suara rendah yang menggetarkan udara di sekitar mereka.
Shen Lie Cen menatap Wang Long tanpa rasa takut, matanya membalas tatapan Wang Long dengan keteguhan yang sama kuatnya.
“Tidak akan pernah. Aku akan melindunginya dengan nyawaku sendiri.”
Mereka saling menatap dalam waktu yang lama—bukan sebagai musuh yang saling benci, tetapi sebagai dua pendekar besar yang saling menghormati dan mengerti batas-batas suci mereka.
Di belakang mereka, Sin Yin dan Wahuwa yang masing-masing menyimpan perasaan yang dalam di dalam dada, tertawa pelan di bawah cahaya api. Tawa mereka seolah menjadi penawar di tengah kerasnya dunia persilatan.
Malam di utara itu terasa lebih hangat karena harapan dan kasih sayang yang mulai tumbuh.
Namun jauh di balik bukit pasir yang tinggi, bayangan hitam bergerak cepat. Sepasang mata merah mengintai dari balik kegelapan. Kuil Dewa telah mengirimkan algojo mereka, dan mereka tidak akan membiarkan kehangatan ini bertahan lebih lama lagi.
Bersambung...