Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Di bagian belakang rumah yang lembap dan terpencil, Intan berdiri mematung di ambang pintu sebuah kamar kecil yang luasnya tak lebih dari sepertiga kamar mandinya dulu.
Matanya menatap nanar ke arah sebuah tempat tidur kayu tua dengan kasur tipis yang tertutup sprei bermotif bunga yang sudah pudar warnanya.
Tidak ada lampu kristal. Tidak ada karpet bulu. Dan yang paling menyiksa bagi Intan: tidak ada AC.
Hanya ada sebuah kipas angin dinding kecil yang berderit bising dan hanya mampu memutar udara panas yang pengap.
"Aku tidak mungkin tidur di sini..." gumam Intan dengan bibir bergetar.
"Ini tempat sampah, bukan kamar manusia!"
Tiba-tiba, suara ketukan keras di pintu kayu yang sudah mulai lapuk itu mengejutkannya.
Bi Inah berdiri di sana dengan celemek yang sudah terpasang, wajahnya tampak datar tanpa rasa sungkan yang biasanya ia tunjukkan pada Intan.
"Nona Intan, jangan bengong saja," ucap Bi Inah tegas.
"Barang-barang Nona sudah dipindahkan. Sekarang, cepat ganti baju dan ikut saya ke dapur. Ibu Aisyah meminta saya untuk segera menyiapkan makan malam, dan Nona harus membantu saya memotong sayur dan mencuci piring-piring kotor yang menumpuk di wastafel."
Intan menoleh dengan tatapan tidak percaya. "Bi Inah! Kamu berani memerintahku? Aku ini anak di rumah ini!"
Bi Inah menghela napas, menatap Intan dengan rasa kasihan yang dibuat-buat.
"Ibu Aisyah bilang, di rumah ini sekarang hanya ada satu Nyonya, yaitu beliau. Dan hanya ada satu Tuan, yaitu Bapak Rizal. Nona sekarang adalah pekerja magang. Jika makan malam tidak siap dalam satu jam, Ibu bilang Nona tidak akan dapat jatah makan malam ini."
Mendengar ancaman itu, perut Intan yang sejak siang hanya berisi air mineral karena semua kartunya mati, mendadak berbunyi nyaring. Rasa lapar ternyata lebih kuat daripada harga diri.
Dengan tangan yang gemetar karena amarah, Intan melempar tas desainer-nya ke atas kasur tipis itu. Ia melangkah menuju dapur mengikuti Bi Inah.
Sesampainya di dapur, pemandangan mengerikan sudah menantinya: tumpukan bawang merah yang harus dikupas, sayuran yang masih berlumpur, dan yang paling parah, deretan panci besar yang berkerak.
"Ayo, Nona. Kupas bawangnya. Pastikan tipis-tipis, ya. Kalau tidak, Ibu Aisyah tidak akan suka," ujar Bi Inah sambil menyodorkan sebuah pisau kecil.
Intan memegang pisau itu seolah-olah sedang memegang bom.
Air matanya mulai menetes saat aroma tajam bawang merah menusuk matanya.
Di atas sana, di kamar utama yang dingin dan harum, Rizal sedang menikmati perlakuan ratu dari Aisyah, sementara di sini, Intan harus bergelut dengan bau amis dapur dan rasa panas yang menyengat.
Aroma tumisan sayur mulai memenuhi dapur yang panas itu.
Intan, dengan mata merah karena uap bawang dan peluh yang membasahi keningnya, mencoba memindahkan sebuah gelas kristal yang akan digunakan untuk menyajikan jus. Namun, tangannya yang terbiasa memegang tas mahal itu gemetar karena kelelahan.
PRANGG!
Gelas itu jatuh menghantam lantai marmer dapur dan hancur berkeping-keping.
Salah satu pecahan tajamnya melenting, menggores pergelangan kaki Intan hingga darah segar mengucur deras.
"Aww! Sakit!" jerit Intan sambil terduduk di lantai, memegangi kakinya yang terluka.
Mendengar suara pecahan dan teriakan itu, Aisyah yang sedang berada di ruang tengah segera bergegas menuju dapur.
Begitu melihat putrinya terduduk di lantai dengan darah yang mulai membasahi lantai, gurat naluri seorang ibu—meski hanya ibu tiri—sempat muncul di wajahnya.
"Intan! Kamu tidak apa-apa?" Aisyah mendekat dengan wajah cemas.
"Bi Inah! Cepat ambilkan kotak P3K!" teriak Aisyah kepada pelayannya.
Namun, sebelum Bi Inah sempat melangkah, suara ketukan tongkat kayu di lantai terdengar mendekat.
Rizal muncul di ambang pintu dapur, berdiri tegak dengan bantuan penyangganya.
Wajahnya dingin, tidak ada sedikit pun rasa kasihan di matanya.
"Jangan, Aisyah. Biarkan dia," ucap Rizal dengan suara rendah yang penuh otoritas.
Aisyah menoleh, menatap suaminya dengan bingung.
"Tapi Mas, kakinya terluka cukup dalam..."
Rizal melangkah maju sedikit, menatap Intan yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Dia ingin bekerja sebagai pelayan, bukan? Seorang pekerja harus tahu risiko pekerjaannya. Biarkan dia mengobati lukanya sendiri setelah dia membersihkan pecahan gelas itu. Jangan memanjakannya lagi jika kamu ingin dia benar-benar berubah."
Intan mendongak, matanya yang sembab menatap Rizal dengan kemarahan yang meluap-luap.
Rasa sakit di kakinya kalah besar dibanding rasa terhina di hatinya.
"Jangan sok kamu ya!" bentak Intan sambil menunjuk wajah Rizal dengan jari yang gemetar.
"Kamu itu siapa?! Kamu baru saja menjadi suami Mama, tapi lagaknya sudah seperti Papa Taufik! Kamu pikir dengan menikahi Mama, darah miskinmu itu otomatis berubah jadi biru? Kamu tetap saja sampah di mataku!"
Rizal tidak terpancing dan justru tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat tenang namun menyakitkan bagi siapa pun yang melihatnya.
"Aku memang bukan Papa Taufik," sahut Rizal pelan.
"Tapi akulah yang sekarang memegang kunci rumah ini. Akulah yang memutuskan apakah malam ini kamu tidur di dalam kamar belakang yang panas itu, atau di pinggir jalan raya tanpa alas kaki. Pilihan ada di tanganmu, 'Putri' Baskoro."
Aisyah terdiam, menatap suaminya dengan rasa kagum yang baru.
Rizal benar-benar mulai menunjukkan taringnya. Aisyah kemudian menarik napas panjang dan mundur selangkah, melepaskan kotak P3K yang baru saja dibawa Bi Inah.
"Mas benar," ucap Aisyah pelan sambil menatap Intan dengan dingin.
"Bersihkan lantainya, Intan. Setelah bersih, baru kamu boleh mengobati dirimu sendiri. Jika masih ada satu serpihan kaca tersisa, jangan harap ada makanan di mejamu."
Intan ternganga, melihat mamanya kini sepenuhnya berpihak pada pria yang ia anggap sampah itu.
Intan meringis kesakitan saat cairan antiseptik menyentuh luka di tangannya.
Air matanya terus mengalir, bukan hanya karena perih, tapi karena rasa benci yang membara terhadap Rizal.
Dengan tangan yang dibalut perban seadanya, ia terpaksa berlutut di lantai dapur, memunguti satu per satu serpihan kaca kristal yang hancur itu dengan sapu dan pengki, di bawah pengawasan ketat Bi Inah.
"Cepat sedikit, Nona," tegur Bi Inah tanpa ekspresi.
"Waktu kita tidak banyak. Nenek Rimbi akan segera berangkat ke bandara, dan Ibu Aisyah ingin semua makanan sudah tertata rapi di meja sebelum itu."
Intan tidak menjawab. Ia hanya bisa menelan semua makian yang ingin ia lontarkan.
Setelah lantai bersih, Bi Inah langsung menyodorkan piring-piring besar.
"Sekarang, tata meja makan. Pastikan sendok dan garpunya lurus. Jangan sampai ada noda sidik jari di piring, atau Bapak Rizal akan menegur saya lagi," perintah Bi Inah.
Intan membawa piring-piring itu ke ruang makan mewah yang biasanya menjadi tempatnya bermanja.
Di sana, ia melihat Nenek Rimbi sudah duduk dengan wajah yang sangat pucat, seolah-olah seluruh jiwanya telah diperas habis.
Neneknya bahkan tidak berani menatap Intan saat ia meletakkan sendok di hadapannya.
Tak lama kemudian, Rizal dan Aisyah turun dari lantai atas.
Rizal tampak gagah meski dengan tongkatnya, mengenakan kemeja sutra pemberian Aisyah yang membuatnya terlihat seperti pria kelas atas yang sesungguhnya.
"Bagaimana, Intan? Sudah siap?" tanya Aisyah sambil menarik kursi untuk suaminya.
Intan hanya mengangguk kecil, kepalanya tertunduk dalam.
Ia harus berdiri di sudut ruangan, siap melayani jika ada yang membutuhkan tambahan air atau piring kotor yang harus diangkat, persis seperti pelayan yang selama ini ia remehkan.
Makan malam itu berlangsung dengan kesunyian yang mencekam.
Hanya terdengar denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.
Nenek Rimbi makan dengan terburu-buru, seolah ingin segera pergi dari rumah yang kini terasa seperti penjara baginya.
"Nenek sudah selesai?" tanya Rizal dengan nada tenang namun berwibawa.
"Mobil sudah siap di depan. Aku dan Aisyah akan mengantar Nenek sampai ke pintu keberangkatan."
Nenek Rimbi mengangguk pelan. "Ya, terima kasih, Rizal," ucapnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Mendengar neneknya memanggil nama "Rizal" dengan nada hormat, hati Intan serasa diiris-iris.
Ia melihat mereka bertiga bangkit dari meja makan dan berjalan menuju pintu depan, meninggalkannya sendirian di ruang makan yang megah itu dengan tumpukan piring kotor yang menantinya di dapur.
"Jangan lupa cuci semua piringnya sebelum tidur, Intan," pesan Aisyah sebelum menutup pintu besar itu.
Sopir segera melajukan mobilnya menuju ke bandara untuk mengantarkan Nenek Rimbi.
Sesampainya di bandara, Aisyah meminta Nenek Rimbi untuk tidak usah memikirkan yang terjadi di Indonesia.
"Jaga diri kamu baik-baik, Aisyah." ucap Nenek Rimbi sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah mengantar Nenek Rimbi sampai ke pintu jet pribadiny.
Aisyah dan Rizal kembali ke mobil mewah mereka.
Suasana kabin mobil yang hening dan dingin mendadak berubah saat Rizal menyentuh tangan istrinya.
"Aisyah, jujur saja, makanan di rumah tadi terlalu kaku untukku," bisik Rizal dengan senyum kecil.
"Boleh kita mampir ke suatu tempat sebelum pulang?"
Aisyah mengangkat alisnya, penasaran. "Tentu, Mas. Mas mau ke restoran mana? Biar aku minta sopir putar balik."
"Bukan restoran. Kita ke pinggir jalan daerah persimpangan dekat tempat kerjaku dulu," jawab Rizal.
Beberapa menit kemudian, mobil Mercedes-Benz hitam itu menepi di depan sebuah gerobak sederhana dengan lampu neon kuning yang berkedip.
Asap dari panggangan daging mengepul, menyebarkan aroma mentega dan daging yang kuat.
"Burger 'Bang Jago'?" baca Aisyah pelan, matanya sedikit membelalak melihat keramaian orang yang mengantre sambil berdiri di pinggir trotoar.
"Ini burger terbaik di kota ini, meski harganya tidak sampai sepersepuluh dari piring yang kita pakai tadi," ujar Rizal sambil turun dari mobil, dibantu tongkatnya.
Aisyah, yang mengenakan gaun sutra elegan dan perhiasan minimalis namun mahal, tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya. Saat Rizal memesan dua burger spesial dengan ekstra keju, Aisyah berdiri dengan kaku di sampingnya. Ia terus merapikan gaunnya, merasa sedikit kikuk karena orang-orang mulai memperhatikan mereka.
Begitu pesanan siap, Rizal membawa dua bungkus burger yang dibalut kertas minyak itu ke kap depan mobil mereka.
"Silakan, Nyonya Baskoro," canda Rizal sambil menyerahkan satu bungkus yang panas.
Aisyah membukanya dengan ragu. Saus sambal dan mayones tampak meluber dari sisi roti yang tebal.
Ia mencoba menggigitnya dengan sangat hati-hati, berusaha menjaga etika makannya yang perfeksionis, namun sausnya justru menetes ke jarinya yang lentik.
"Duh, Mas. Ini berantakan sekali," ucap Aisyah salah tingkah, wajahnya merona merah karena bingung bagaimana cara menghabiskan makanan sebesar itu tanpa merusak riasannya.
Rizal tertawa renyah, tawa yang benar-benar lepas sejak ia mengalami kecelakaan.
Ia meletakkan tongkatnya sejenak, lalu mendekat ke arah istrinya.
"Begini sayang cara makannya," ucap Rizal lembut.
Ia mengambil tisu, membersihkan sedikit saus di sudut bibir Aisyah, lalu menunjukkan cara memegang burger dengan kedua tangan yang mantap.
"Jangan dipikirkan etikanya. Di sini, yang penting adalah rasanya. Gigit saja yang besar, jangan ragu."
Rizal memberikan contoh dengan menggigit burgernya dengan lahap.
Aisyah terpaku sejenak melihat suaminya yang tampak begitu bebas dan bahagia. Ia pun memejamkan mata, membuang gengsinya, dan melakukan gigitan besar pertamanya.
"Mas, ini jauh lebih enak daripada steak di hotel kemarin!"
Mereka tertawa bersama di bawah lampu jalanan, menikmati momen sederhana sebagai suami istri tanpa beban nama besar Baskoro.
Untuk sejenak, mereka melupakan Intan yang sedang menderita di dapur dan rahasia-rahasia gelap yang mereka simpan.