Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Dari Kedalaman
Dunia yang baru saja terbebas dari ancaman nuklir tidak mendapatkan kedamaian yang dijanjikan. Di pesisir pantai Jepang, mulai dari Hokkaido hingga Okinawa, air laut tidak lagi surut atau pasang dengan normal. Air itu mulai berubah warna menjadi merah pekat, bukan karena limbah, melainkan karena reaksi kimia purba yang terjadi saat frekuensi "Jam Induk" di Aokigahara mati.
Hendrawan berdiri di pinggir tebing yang menghadap ke Samudera Pasifik. Di telinganya, suara Liora dan Adam terdengar sangat panik, bergetar di sela-sela statis radio analog yang ia pegang.
"Hendrawan, menjauhlah dari garis pantai!" teriak Liora. "Objek masif yang kita deteksi... itu bukan kapal. Itu adalah massa biologis yang telah tertidur sejak zaman Pre-Kambrium. Unit 731 menyebutnya 'The Leviathan Neural-Net'. Mereka membangun pangkalan bawah laut selama ini bukan hanya untuk riset, tapi untuk menyuntikkan 'obat penenang' frekuensi ke dalam makhluk ini!"
"Maksudmu, seluruh samudera ini adalah satu organisme?" tanya Hendrawan, wajahnya memucat saat melihat ombak merah itu mulai membentuk tentakel-tentakel raksasa dari air yang memadat.
"Bukan samudera, tapi kerak buminya," sahut Adam. "Manusia hanyalah parasit kecil yang hidup di atas kulit makhluk ini. Selama ribuan tahun, makhluk ini diredam oleh frekuensi magnetik bumi. Sekarang, setelah kau merusak sinkronisasi di Aokigahara, dia mulai 'terbangun' karena merasa terganggu."
Tiba-tiba, bumi berguncang dengan frekuensi yang sangat rendah hingga membuat gendang telinga Hendrawan berdarah. Dari balik cakrawala, muncul sebuah punggung raksasa yang terbuat dari batuan obsidian dan jaringan organik yang bercahaya biru. Ukurannya lebih besar dari kota Tokyo.
Ini bukan lagi konspirasi politik. Ini adalah pembersihan biologis oleh planet itu sendiri.
"Bagaimana cara menghentikannya?" Hendrawan berteriak sambil berlari menuju kendaraan jip tua yang ia temukan.
"Kau tidak bisa menghentikannya dengan senjata," suara Liora meredup. "Satu-satunya cara adalah dengan masuk ke dalam kesadarannya. Hendrawan, kau harus kembali ke Gunung Padang. Di sana terdapat 'Lubang Suara' yang terhubung langsung ke inti saraf makhluk ini. Tapi ada satu masalah... Elit yang tersisa, para penyintas dari Area 51 dan faksi Nevada, sudah berada di sana. Mereka ingin mencoba mengendalikan makhluk ini sebagai senjata terakhir mereka!"
Hendrawan memacu kendaraannya menembus jalanan Jepang yang kacau. Di mana-mana, orang-orang berlarian menjauhi pantai. Namun, di tengah kekacauan itu, ia melihat pesawat-pesawat tanpa tanda pengenal sisa-sisa dari The Reman terbang menuju arah Indonesia.
"Mereka ingin membajak 'Otak Bumi'?" gumam Hendrawan.
"Ya. Jika mereka berhasil memasukkan virus Unit 731 ke dalam sistem saraf Leviathan ini, mereka tidak lagi butuh Bahtera di Bulan. Mereka akan menjadi satu dengan bumi itu sendiri dan menghapus seluruh manusia dalam sekejap."
Hendrawan menyadari bahwa perjalanannya kali ini adalah perjalanan satu arah. Ia harus mencapai Gunung Padang sebelum faksi Elit menyempurnakan koneksinya. Namun, untuk sampai ke sana tanpa sistem navigasi digital, ia harus melakukan sesuatu yang gila: Ia harus menggunakan insting Adam yang kini tersimpan di dalam memori analog yang ia curi dari bunker Aokigahara.
"Adam, arahkan aku. Jangan gunakan radar, gunakan rasa!"
"Tutup matamu, Hendrawan. Rasakan tarikan magnet di tulang belakangmu. Ke arah tenggara... di mana jantung bumi berdetak paling kencang."
Di kejauhan, Leviathan itu mulai mengeluarkan suara raungan yang memecahkan kaca-kaca gedung di seluruh Jepang. Gelombang tsunami merah mulai menyapu daratan. Inilah awal dari akhir yang sebenarnya. Sebuah kiamat biologis yang dipicu oleh upaya penyelamatan yang salah sasaran.
Pembaca kini dihadapkan pada ketegangan baru: Musuh bukan lagi teknologi, melainkan alam yang murka. Dan Hendrawan, si kutu buku yang paling benci kekerasan, kini harus menjadi orang pertama yang "bernegosiasi" dengan nyawa planet ini.