Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden ruang tamu, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas karpet bulu. Suasana rumah masih sangat hening, hanya suara kicauan burung dari pohon mangga di halaman depan yang terdengar samar.
Baskara mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa berat, seperti dihantam gada besi, sisa dari demam dan kelelahan hebat yang menyerangnya kemarin. Ia mencoba menggerakkan bahunya yang kaku, namun ia merasakan sebuah beban hangat yang bersandar di lengan sofanya.
Pria itu menoleh perlahan. Jantungnya berdegup kencang saat melihat pemandangan di sampingnya. Ziva tertidur dalam posisi duduk di lantai, kepalanya bersandar pada bantalan sofa, tepat di samping lengan Baskara. Beberapa helai rambutnya menutupi wajahnya yang tampak lelah. Tangan kanan Ziva masih berada di dekat tangan Baskara, seolah baru saja terlepas dari sebuah genggaman.
Baskara tertegun. Ia ingat samar-samar tentang mimpi buruk yang menghimpit dadanya semalam—tentang api, tentang benturan logam, dan tentang suara tangisan Kirana. Namun, ia juga ingat sebuah sentuhan lembut yang mendinginkan dahinya dan suara bisikan yang memintanya untuk tenang.
"Ziva..." panggil Baskara lirih. Suaranya serak, khas orang yang baru bangun dari demam.
Ziva menggeliat. Ia mengerang pelan saat merasakan lehernya kaku karena posisi tidur yang tidak ergonomis. Perlahan, ia membuka mata dan langsung beradu pandang dengan mata hitam Baskara yang menatapnya dengan penuh kebingungan—dan sedikit rasa haru.
"Ziva... kamu kenapa tidur di sini?" tanya Baskara, tangannya refleks bergerak ingin menyentuh bahu Ziva, namun ia mengurungkannya.
Ziva mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan nyawa. Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, ia segera menegakkan duduknya dan merapikan rambutnya yang berantakan dengan canggung.
"Semalam lo ngigo kayak orang kesurupan, Kak. Gue cuma jagain lo biar nggak jatuh dari sofa atau teriak-teriak ganggu tetangga," sahut Ziva ketus, mencoba menutupi rasa pedulinya dengan nada bicara yang biasanya. Ia memijat lehernya yang terasa pegal luar biasa. "Gue nggak mau ya dikira lagi nyiksa suami kalau lo kenapa-napa."
Baskara terdiam, ia bangkit duduk di sofa, memijat pelipisnya. Ia melihat handuk kecil yang sudah mengering di atas meja dan satu gelas air yang tinggal setengah. Ia sadar, Ziva benar-benar menjaganya semalaman.
"Maaf... aku nggak tahu kalau aku semerepotkan itu," ucap Baskara rendah.
Ziva mengembuskan napas pelan. Ia tidak langsung berdiri untuk kabur ke dapur seperti biasanya. Ia tetap duduk di lantai, menatap ujung kakinya sendiri, lalu beralih menatap Baskara dengan tatapan yang lebih serius. Ada sesuatu yang berubah di atmosfer pagi ini.
"Kak," panggil Ziva. "Kayaknya kita perlu ngobrol. Beneran ngobrol, bukan cuma debat atau saling sindir."
Baskara mengangguk, ia memperbaiki posisi duduknya, memberikan perhatian penuh pada istrinya. "Katakan, Ziva. Aku dengerin."
"Gue cuma pengen hidup tenang," ucap Ziva tolong. Matanya berkaca-kaca, namun ia menahannya agar tidak jatuh. "Gue capek, Kak. Capek benci sama lo, capek ngerasa bersalah sama Kak Kirana, dan capek disabotase terus. Gue tahu lo selamat dan Kak Kirana nggak. Itu fakta yang nggak akan pernah berubah sampe kapan pun."
Ziva menarik napas dalam, mencoba menstabilkan suaranya. "Tapi semalam... pas liat lo ngigo dan minta maaf terus, gue sadar satu hal. Kita berdua ini sama-sama hancur. Lo nggak butuh dihukum terus-terusan, dan gue nggak butuh dikurung terus-terusan."
Baskara mendengarkan dengan dada yang terasa sesak. Setiap kata yang keluar dari mulut Ziva seperti kunci yang membuka kotak pandora yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
"Aku melakukan semua itu karena aku takut, Ziva," aku Baskara jujur. "Aku takut kalau kamu keluar dari rumah ini, dunia bakal jahat sama kamu kayak kecelakaan itu jahat sama Kirana. Aku pikir dengan menjaga kamu di bawah pengawasanku, kamu bakal aman. Tapi aku salah... aku justru jadi orang pertama yang bikin kamu nggak bahagia."
Ziva menatap Baskara. "Gue mau kerja, Kak. Gue udah dapet panggilan interview lanjutan. Gue mau ngebuktiin kalau gue bisa mandiri tanpa harus lo awasin 24 jam. Gue mau kita tetep jalanin pernikahan ini—karena kontrak atau karena permintaan Ayah Bunda—tapi gue mau ada ruang buat gue napas. Jangan ada lagi blacklist, jangan ada lagi mata-mata."
Baskara menunduk, ia mengambil napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Ia menatap telapak tangannya, lalu beralih menatap Ziva dengan sorot mata yang penuh janji.
"Oke. Aku janji. Nggak akan ada lagi sabotase. Kamu bebas kerja di mana pun kamu mau. Aku akan belajar untuk percaya sama kamu, bukan cuma menjaga kamu."
Ziva merasakan sebuah beban besar terangkat dari pundaknya. Ia tidak menyangka Baskara akan mengalah semudah ini. Mungkin, kerentanan yang ia tunjukkan semalam adalah jembatan yang selama ini mereka butuhkan.
"Satu lagi," tambah Ziva. "Jangan panggil gue 'istri galak' lagi di depan temen-temen lo. Malu-maluin tau nggak."
Baskara sempat tertegun, lalu sebuah senyuman tipis—senyuman tulus pertama yang Ziva lihat sejak mereka menikah—muncul di wajah kaku sang perwira. "Tapi kamu emang galak, Ziv. Tadi malam saja kamu bilang aku kayak orang kesurupan."
"Kan emang bener!" Ziva berdiri, ia sedikit meringis karena kakinya masih terasa agak kaku. "Udah, sana mandi. Bau keringet. Gue mau bikin sarapan buat kita. Jangan geer, ini cuma bentuk syukur gue karena masa depan gue nggak lo hancurin lagi."
Baskara tertawa kecil, suara tawa yang membuat suasana rumah yang tadinya dingin mendadak terasa hangat. Ia melihat punggung Ziva yang berjalan menuju dapur dengan langkah yang sedikit lebih ringan.
Gencatan senjata telah dimulai. Di balik sisa-sisa luka dan duka atas kepergian Kirana, ada sebuah awal baru yang mulai tumbuh. Mereka mungkin belum saling mencintai, tapi setidaknya pagi ini, mereka sudah mulai saling memanusiakan satu sama lain.
"Ziva," panggil Baskara sebelum gadis itu hilang di balik tembok dapur.
Ziva menoleh. "Apa lagi?"
"Makasih... sudah jagain aku semalam."
Ziva terdiam sejenak, pipinya sedikit merona merah. "Terserah lo lah, Om! Mandi sana!"
Baskara menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ia bangkit dari sofa, merasa tubuhnya jauh lebih sehat bukan karena obat, tapi karena kedamaian yang akhirnya menyapa rumah mereka.
***
Pagi ini, suasana di rumah terasa jauh lebih cerah, secerah blazer berwarna pink pastel yang dikenakan oleh Ziva. Ia mematut dirinya di depan cermin besar di kamar, mematikan kerah blazernya yang senada dengan celana kain putih tulang. Penampilannya hari ini sangat mencerminkan kepribadiannya: profesional, namun tetap memiliki sentuhan feminin yang manis.
Ziva memulas lipstik berwarna peach tipis di bibirnya. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di sebuah perusahaan firma finansial ternama di daerah Sudirman. Setelah perjuangan panjang melawan sabotase dan rasa bersalah, akhirnya ia berdiri di titik ini sebagai Zivanya Aurora, seorang analis junior yang siap menaklukkan dunia kerja.
"Oke, Ziva. First day, no drama," gumamnya menyemangati diri sendiri.
Ia menuruni tangga dengan langkah yang sudah tidak pincang lagi. Di ruang tengah, Baskara sudah berdiri tegap. Pria itu sudah rapi dengan seragam dinasnya, namun tangannya memegang kunci mobil SUV-nya, bukan kunci motor patroli.
"Aku anter. Kali ini nggak ada penolakan," ucap Baskara tegas saat Ziva baru saja sampai di anak tangga terakhir. Matanya sempat terpaku sesaat melihat Ziva yang tampak sangat segar dengan blazer pink itu.
Ziva menghentikan langkahnya, ia menyipitkan mata dan hampir saja bibirnya terbuka untuk melayangkan protes rutinnya. Namun, ia teringat obrolan mereka kemarin subuh tentang "hidup tenang".
"Baru aja gue mau nolak lo, Kak," sahut Ziva sambil memutar bola matanya, namun ia tetap melangkah menuju pintu depan. "Tapi oke deh, itung-itung hemat uang jajan gue. Lumayan ongkos ojeknya bisa buat beli cilok nanti sore."
Baskara hanya mendengus geli mendengar alasan pragmatis istrinya. Ia membukakan pintu mobil untuk Ziva, sebuah gestur kecil yang membuat Ziva sedikit salah tingkah. Selama perjalanan, tidak ada perdebatan sengit. Baskara bahkan memutar radio yang memutar lagu-lagu pop ringan, bukan berita kriminal yang biasanya ia dengarkan.
"Jangan tegang. Kamu pintar, mereka beruntung punya kamu di tim mereka," ucap Baskara saat mobil berhenti di depan lobi gedung pencakar langit tempat Ziva bekerja.
Ziva menoleh, ia sedikit terkejut dengan pujian tiba-tiba itu. "Makasih, Kak. Lo juga... hati-hati di kantor. Jangan galak-galak sama tahanan."
Baskara mengangguk kecil. "Aku jemput jam lima?"
"Liat nanti. Kalau gue nggak lembur ya," jawab Ziva sambil keluar dari mobil. Ia melambaikan tangan singkat sebelum menghilang di balik pintu kaca putar gedung tersebut.
Ziva baru saja menduduki kursi kerjanya yang baru selama kurang lebih tiga puluh menit. Ia sedang sibuk merapikan alat tulis dan menyalakan laptop perusahaannya ketika seorang pria mengenakan seragam pengantar minuman masuk ke area kubikel kantornya.
"Misi, Mbak Zivanya Aurora?" tanya kurir itu sambil membawa sebuah kantong plastik yang tampak berembun dingin.
Ziva mendongak, alisnya bertaut bingung. "Iya, saya. Kenapa ya, Pak?"
"Ini ada Boba milktea buat Mbak. Rasa Brown Sugar dengan tambahan cheese foam," ucap kurir itu sambil meletakkan minuman berukuran besar tersebut di atas meja kerja Ziva yang masih bersih.
Ziva terbelalak. Ia menatap minuman itu seolah benda itu adalah bom waktu. "Loh, tapi saya nggak pesen, Pak. Kayaknya salah alamat deh. Saya baru kerja di sini setengah jam, mana mungkin saya sempet pesen ginian."
Kurir itu tersenyum sopan sambil mengecek struk di ponselnya. "Nggak salah kok, Mbak. Alamatnya bener, divisinya bener, namanya juga pas banget. Pesanannya atas nama Bapak Baskara."
Ziva tertegun. Mulutnya sedikit terbuka. "Baskara? Polisi yang badannya tinggi kaku itu?"
"Iya, Mbak. Di sini ada catatannya: 'Semangat hari pertamanya, Ziva. Jangan lupa minum yang manis biar nggak marah-marah terus'. Begitu Mbak pesannya," jelas sang kurir sebelum berpamitan pergi.
Ziva menatap Boba itu dengan perasaan yang benar-benar campur aduk. Teman-teman satu kubikelnya mulai melirik ke arah mejanya sambil berbisik-bisik kagum.
"Ciyeee, hari pertama udah dapet kiriman manis dari ayang ya?" goda salah satu rekan kerjanya yang bernama Maya.
Wajah Ziva seketika berubah merah padam sedalam warna blazer pink-nya. Ia segera menarik minuman itu mendekat ke arah laptopnya agar tidak terlalu mencolok.
"Duh, om-om ini bener-bener ya! Posesifnya pindah ke gula sekarang!" gerutu Ziva pelan, namun ia tidak bisa menahan senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya.
Ia merogoh ponselnya dan mengetikkan pesan dengan cepat.
Zivanya: Kak! Lo ngapain kirim Boba ke kantor?! Malu tau nggak ditanyain temen kantor!
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Baskara: Minum saja. Katanya cokelat dan gula bisa bikin suasana hati lebih baik. Aku nggak mau kamu pulang kerja dengan muka ditekuk kayak kemarin.
Ziva mendengus, namun ia menusukkan sedotan besar ke dalam gelas Boba tersebut. Rasa dingin dan manisnya karamel langsung menyapa lidahnya, memberikan sensasi nyaman yang tak terduga.
Sambil menyesap minumannya, Ziva menatap layar laptopnya yang menampilkan profil LinkedIn-nya. Di sana tertulis jelas namanya: Zivanya Aurora.
Ia merasa, hari ini ia benar-benar memulai hidupnya kembali. Bukan sebagai bayang-bayang masa lalu, tapi sebagai wanita yang dihargai bukan karena siapa kakaknya, melainkan karena siapa dirinya. Dan entah mengapa, dukungan kecil (dan manis) dari Baskara pagi ini membuatnya merasa bahwa mungkin, satu tahun pernikahan ini tidak akan seburuk yang ia bayangkan sebelumnya.
"Oke, Kak Baskara. Skor satu kosong buat lo hari ini," bisik Ziva sambil tersenyum lebar ke arah gelas Boba-nya.