NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji yang Terkoyak

​Musim dingin di Amsterdam mencapai puncaknya. Salju pertama mulai turun, membungkus kota dengan selimut putih yang mematikan. Di dalam gedung Stadsschouwburg, nama Aura Shenina terpampang besar di papan pengumuman digital. Pertunjukan tunggalnya bertajuk "The Silent Prayer" telah terjual habis. Media-media seni Eropa menyebutnya sebagai jembatan budaya yang paling emosional tahun ini.

​Namun, di tengah sorak-sorai kesuksesan yang memabukkan, sebuah getaran di ponsel Nina meruntuhkan segalanya. Sebuah panggilan dari rumah sakit di Yogyakarta.

​Maya dan Sari berdiri terpaku di balik panggung saat melihat Nina luruh ke lantai dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Wajah Nina pucat pasi, lebih putih dari salju di luar sana.

​"Ibu..." bisik Nina lirih.

​Fatimah dilarikan ke ruang ICU karena komplikasi paru-paru yang selama ini ia sembunyikan dari Nina agar putrinya bisa fokus di Belanda. Nina tidak berpikir dua kali. Ia membatalkan tur lanjutannya ke Paris. Dengan bantuan kontrak yang ia miliki, ia memesan tiket pesawat tercepat menuju tanah air.

​***

​Wangi karbol dan bunyi ritmis mesin pendeteksi jantung menyambut Nina di Yogyakarta. Ia masih mengenakan mantel tebal yang terasa salah di cuaca tropis yang lembap. Ia berlari menyusuri koridor rumah sakit, mengabaikan tatapan orang-orang.

​Di sana, di balik kaca ruang steril, Fatimah terbaring lemah. Selang-selang mengerikan menusuk tubuhnya yang kian ringkih. Nina masuk dengan pakaian dekontaminasi, menggenggam tangan ibunya yang terasa sedingin es.

​"Ibu... Nina pulang," isak Nina, menciumi tangan yang dulu kasar karena menjahit itu.

​Fatimah membuka matanya perlahan. Senyum tipis, sangat tipis, muncul di sudut bibirnya. Suaranya hanya berupa bisikan yang nyaris hilang tertelan bunyi mesin.

​"Cah ayu... anakku yang hebat," desah Fatimah.

​Di saat-saat kritis itu, Fatimah seolah mengumpulkan sisa tenaganya hanya untuk satu hal: memastikan putrinya tetap tegar. Ia tahu di Jakarta, persiapan pernikahan Arya sudah mencapai puncaknya. Kabar itu sudah tersebar di asrama Korem.

​"Nin... dengar Ibu," bisik Fatimah. "Cinta itu bukan tentang memiliki... tapi tentang martabat. Jangan pernah... merusak apa yang sudah menjadi garis orang tua. Mas Arya sudah memilih baktinya... kamu juga harus memilih baktimu."

​"Tapi Bu, Nina sakit..."

​"Sakit itu akan jadi tarian yang indah suatu hari nanti, Nak. Jangan benci Mas Arya... jangan benci ibunya. Ikhlaskan... supaya Ibu bisa jalan dengan tenang."

​Malam itu, H-1 sebelum pernikahan megah di Jakarta dilangsungkan, Fatimah menghembuskan napas terakhirnya tepat saat azan Subuh berkumandang. Nina tidak menjerit. Ia hanya memeluk jasad ibunya dalam keheningan yang memekakkan telinga. Maya dan Sari, yang menyusul pulang, hanya bisa menangis di ambang pintu, melihat sahabat mereka kini benar-benar menjadi yatim piatu di dunia ini.

​*

​Pemakaman dilakukan dengan cepat dan sederhana di samping makam Hamdan. Nina berdiri dengan pakaian hitam, matanya kosong. Ia tidak punya waktu untuk meratapi nasibnya lebih lama, karena ada sebuah "hutang" yang harus ia lunasi sebelum ia benar-benar menutup buku tentang masa lalunya.

​"May, Sar. Aku harus ke Jakarta sekarang," ucap Nina setelah bunga terakhir ditaburkan di makam ibunya.

​"Kamu gila, Nin? Kamu baru saja kehilangan Ibu! Hari ini pernikahan Arya!" protes Sari.

​"Justru karena itu. Aku harus mengembalikan apa yang bukan milikku. Aku tidak mau membawa beban ini ke Belanda lagi," jawab Nina dengan nada datar yang mengerikan.

"Tolong bawakan koper dan barang-barangku. Setelah bertemu kak Arya, aku akan langsung ke bandara"

​Dengan penerbangan terakhir sore itu, Nina berangkat ke Jakarta. Ia tidak membawa koper besar, hanya sebuah kotak kecil beludru di dalam tas tangannya.

​*

​Gedung pertemuan di kawasan elit Jakarta itu tampak seperti istana dalam dongeng. Bunga melati dan mawar putih menghiasi setiap sudut, menciptakan aroma wangi yang menusuk hidung. Para petinggi militer, pejabat negara, dan pengusaha papan atas berkumpul dengan pakaian terbaik mereka.

​Ibu Lastri tampak luar biasa bahagia, berdiri di samping Papi Sudrajat menyalami tamu-tamu terhormat. Di atas pelaminan, Maura tampak sangat mempesona dalam balutan kebaya pengantin yang sangat mewah. Namun, di sampingnya, Arya berdiri bagaikan patung marmer. Wajahnya datar, matanya kosong, seolah jiwanya telah mati jauh sebelum raga ini berdiri di sini.

​Tiba-tiba, kegaduhan kecil terjadi di pintu masuk. Seorang wanita muda mengenakan gaun hitam sederhana, tanpa riasan berlebih, berjalan masuk melewati barisan tamu. Langkahnya tenang, kepalanya tegak, namun auranya begitu kuat hingga membuat beberapa orang berhenti bicara.

​Itu Nina.

​Aurel dan Arista yang melihat kedatangan Nina hampir menjatuhkan gelas minuman mereka. Mereka tahu apa yang baru saja terjadi pada ibu Nina, dan mereka tidak menyangka Nina akan memiliki kekuatan untuk datang ke sini.

​Nina berjalan terus, lurus menuju pelaminan. Ibu Lastri terkesiap, wajahnya berubah pucat, takut Nina akan membuat keributan yang memalukan. Namun, Nina tidak berteriak. Ia menaiki tangga pelaminan dengan langkah seorang penari profesional—anggun dan pasti.

​Ia berdiri tepat di hadapan Arya dan Maura.

​Suasana gedung seketika menjadi sunyi senyap. Arya menatap Nina dengan mata yang bergetar. Ia bisa melihat duka yang sangat dalam di mata Nina—duka yang lebih besar daripada sekadar kehilangan kekasih.

​"Selamat atas pernikahannya, Kak Arya. Mbak Maura," ucap Nina pelan namun jelas.

​Nina membuka tasnya, mengeluarkan kotak beludru itu, dan meraih tangan Arya. Ia meletakkan cincin perak yang dulu Arya berikan ke telapak tangan pria itu.

​"Tugas Kakak untuk menjaga Nina sudah selesai. Dan tugas Nina untuk menunggu juga sudah usai. Hari ini, Nina kembalikan janji Kakak. Bawalah janji ini untuk istrimu," kata Nina.

​Nina mencondongkan tubuh, berbisik sangat lirih di telinga Arya, "Ibu meninggal kemarin pagi, Kak. Beliau titip salam... dan beliau bilang, terima kasih sudah pernah menjadi pelindung yang baik."

​Mendengar kalimat itu, pertahanan Arya runtuh seketika. Di depan ratusan tamu terhormat, di atas pelaminan yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan, air mata Kapten Pradipta Arya jatuh membasahi pipinya. Bahunya berguncang. Ia ingin meraup Nina ke dalam pelukannya, ingin berteriak bahwa ia menyesal, namun tangannya terkunci oleh cincin kawin yang baru saja dipasangkan Maura.

​Maura terpaku, melihat suaminya menangis hebat karena wanita lain. Ibu Lastri hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan, menyadari bahwa kemenangan yang ia raih ternyata adalah kehancuran bagi jiwa putranya.

​*

​Nina tidak menunggu jawaban. Ia memberikan senyum tipis yang paling menyakitkan kepada Arya, lalu berbalik. Ia menuruni tangga pelaminan tanpa menoleh sedikit pun.

​"Nina!" panggil Arya dengan suara serak, namun langkah Nina tidak berhenti.

​Ia berjalan melewati kerumunan tamu yang berbisik-bisik, melewati Papi Sudrajat yang menatapnya dengan rasa bersalah yang teramat dalam, dan melewati Ibu Lastri yang kini tampak kecil dan tak berarti di matanya.

​Begitu sampai di luar gedung, udara malam Jakarta yang panas menyambutnya. Nina menghirup napas dalam-dalam.

​Ia sendirian. Ayahnya sudah tiada. Ibunya sudah pergi. Dan pria yang ia cintai kini milik orang lain.

​Nina berjalan menuju taksi yang sudah menunggunya untuk membawanya kembali ke bandara. Ia akan kembali ke Belanda, kembali ke panggung tarinya. Ia hanya membawa dirinya sendiri dan kalung pemberian Arya dulu.

​Di dalam taksi, Nina menatap lampu-lampu Jakarta yang mulai kabur karena air mata yang akhirnya ia izinkan mengalir. Ia telah memenuhi janji ibunya. Ia telah menjaga martabatnya. Ia telah menari di atas garis takdir yang paling kejam, dan meski ia kehilangan segalanya, ia tahu bahwa jiwanya tetap utuh—tidak terjamah oleh kasta, tidak terkoyak oleh paksaan.

​Garis takdir mereka di Gatot Subroto kini benar-benar putus. Dan di tengah kesendirian yang mutlak, Nina mulai menata langkah tarinya yang baru. Langkah yang hanya akan ia tujukan untuk dirinya sendiri.

1
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!