NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: TOKOPAIJO

UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.

Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.

Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.

Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.

Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.

Namanya Raka.

Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.

Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Terlalu Sunyi

Gerbang besi itu masih sama.

Cat hijau tuanya sudah hampir habis dimakan karat, meninggalkan warna cokelat kusam yang terlihat kasar di bawah lampu jalan. Di beberapa bagian, besinya bahkan mulai mengelupas seperti kulit yang terlalu lama terkena hujan.

Nara berdiri di trotoar sempit di depan rumah itu.

Ia tidak bergerak.

Lampu jalan di atas kepalanya berdengung pelan, berkedip sekali sebelum kembali stabil. Cahayanya jatuh miring ke halaman rumah yang tampak kosong.

Rumah itu kecil. Satu lantai. Atapnya agak miring ke kiri seperti orang tua yang mulai kehilangan keseimbangan.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia berdiri di sini.

Nara menyelipkan kedua tangannya ke saku jaket.

Udara malam terasa sedikit lembap. Ada bau tanah basah dari taman kecil di depan rumah, taman yang dulu sering ia sirami ketika masih kecil.

Sekarang rumputnya tumbuh liar.

“Bagus,” gumamnya pelan. “Setidaknya sesuatu di rumah ini masih hidup.”

Ia mengangkat kepala dan menatap jendela ruang tamu.

Lampunya menyala.

Berarti ayahnya ada di dalam.

Pikiran itu membuat perutnya terasa aneh.

Nara menghembuskan napas panjang melalui hidungnya.

“Ayo,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Cuma masuk rumah, bukan masuk ruang sidang.”

Tetapi kakinya tetap tidak bergerak.

Angin malam mendorong daun-daun kering di halaman hingga bergesekan dengan beton, menciptakan suara kecil yang mengingatkannya pada sesuatu.

Dulu halaman ini tidak pernah sunyi.

Dulu ada suara sepeda kecil yang jatuh.

Ada suara ayahnya dari teras.

“Pelan-pelan, Nara. Kamu bukan sedang balapan.”

Ia masih bisa membayangkan dirinya yang berumur tujuh tahun, mengayuh sepeda merah kecil di halaman ini.

Ayahnya duduk di kursi plastik, minum teh, pura-pura membaca koran tapi sebenarnya memperhatikannya setiap beberapa detik.

Kalau ia jatuh, ayahnya selalu bangkit lebih dulu dari kursinya sebelum ia sempat menangis.

Sekarang halaman itu hanya dipenuhi bayangan.

Nara mengerjapkan matanya cepat.

“Ya Tuhan,” katanya pelan, sedikit kesal pada dirinya sendiri. “Baru lima menit di sini sudah nostalgia.”

Ia melangkah maju.

Sepatunya menggesek kerikil kecil di tanah.

Tangannya terangkat, ragu-ragu, lalu mendorong gerbang besi itu.

Gerbang itu tidak langsung terbuka.

Seperti menolak.

Nara mendorongnya sedikit lebih kuat.

Gerbang itu akhirnya bergerak dengan suara derit panjang yang kasar, suara logam tua yang bergesekan dengan paksa setelah terlalu lama tidak disentuh.

“Wah,” gumam Nara. “Tetangga pasti langsung tahu ada penjahat masuk.”

Ia menyeringai tipis pada dirinya sendiri.

Gerbang itu terbuka cukup lebar untuk dilewati.

Nara melangkah masuk ke halaman.

Saat ia melangkah melewati gerbang, suara deritnya perlahan berhenti di belakangnya.

Halaman rumah terasa lebih dingin daripada trotoar.

Lampu teras menyala redup, menarik bayangan panjang dari tubuhnya di lantai semen.

Ia berjalan pelan menuju pintu depan.

Setiap langkah terasa terlalu keras di telinganya.

Di dalam rumah, bayangan seseorang bergerak melewati jendela ruang tamu.

Nara berhenti.

Bayangan itu berhenti juga.

Ada jeda beberapa detik yang terasa terlalu lama.

Lalu bayangan itu bergerak lagi, perlahan duduk kembali.

Seperti seseorang yang sudah tahu siapa yang akan datang.

Nara menatap pintu kayu itu.

Cat cokelatnya mulai pudar.

Di tengah pintu masih ada bekas goresan kecil yang ia buat dulu dengan kunci sepeda.

Ayahnya marah besar waktu itu.

Tetapi ia tidak pernah memperbaikinya.

Bekas goresan itu masih ada sampai sekarang.

Nara mengangkat tangannya.

Tangannya berhenti beberapa sentimeter dari pintu.

Ia menarik napas.

Kemudian mengetuk.

Tok. Tok.

Suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah.

Pelan.

Berat.

Langkah yang sangat ia kenal.

Langkah ayahnya.

Langkah itu berhenti tepat di balik pintu.

Ada jeda.

Kunci pintu diputar.

Klik.

Pintu terbuka sedikit.

Cahaya hangat dari ruang tamu menyelinap keluar ke teras yang gelap.

Dan suara ayahnya akhirnya terdengar.

“Sudah lama kamu tidak pulang.”

Suara ayahnya keluar pelan dari balik pintu yang terbuka setengah.

Kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan.

Tidak juga seperti sambutan.

Hanya sebuah pernyataan datar, seperti seseorang yang membaca informasi dari koran.

Nara masih berdiri di teras.

Lampu dari ruang tamu jatuh tepat ke wajah ayahnya.

Rambutnya lebih banyak uban daripada yang Nara ingat terakhir kali, garis di sekitar matanya juga lebih dalam. Ia mengenakan kaus rumah abu-abu dan celana panjang kain yang sedikit kusut.

Tangan kirinya masih memegang gagang pintu.

Ia tidak membuka pintu lebih lebar.

Nara mengangkat satu alis.

“Ya,” jawabnya ringan. “Biasanya orang tidak sering pulang kalau setiap pulang rasanya seperti mau diinterogasi.”

Ayahnya tidak bereaksi terhadap nada sarkastik itu.

Ia hanya membuka pintu sedikit lebih lebar dan melangkah ke samping, memberi jalan.

“Masuk.”

Tidak ada senyum.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada kata “apa kabar.”

Hanya satu kata.

Masuk.

Nara melangkah melewati ambang pintu.

Begitu ia masuk, pintu kayu di belakangnya ditutup kembali dengan suara klik pelan.

Rumah itu langsung terasa berbeda dari luar.

Udara di dalam lebih hangat, tapi juga lebih berat.

Ada bau yang sangat familiar.

Bau kayu tua.

Bau buku lama.

Dan sedikit bau debu yang tidak sepenuhnya hilang meskipun rumah ini jelas dibersihkan secara rutin.

Nara berdiri di ruang tamu.

Semuanya hampir tidak berubah.

Sofa cokelat tua masih berada di tempat yang sama, menghadap televisi kecil di sudut ruangan. Meja kayu di tengah ruangan masih memiliki bekas lingkaran samar dari cangkir-cangkir teh yang terlalu sering diletakkan tanpa tatakan.

Rak buku di dinding kiri masih penuh.

Ayahnya selalu punya terlalu banyak buku.

Di atas rak itu masih ada foto keluarga.

Nara menatapnya sebentar.

Foto itu diambil bertahun-tahun lalu.

Ia berdiri di tengah, tersenyum lebar dengan gigi depan yang masih sedikit ompong.

Ibunya berdiri di sebelah kanan.

Ayahnya di sebelah kiri.

Semua terlihat sangat normal dalam foto itu.

Seolah-olah keluarga itu tidak pernah retak.

Nara mengalihkan pandangannya sebelum pikirannya pergi terlalu jauh.

Ayahnya sudah berjalan kembali ke sofa.

Ia duduk, mengambil koran yang tadi ia baca, lalu melipatnya dengan rapi.

“Duduk,” katanya singkat.

Nara menjatuhkan dirinya ke sofa seberang.

Sofa itu mengeluarkan suara kecil dari pegas yang sudah tua.

Ada beberapa detik keheningan.

Ayahnya menatapnya sebentar, lalu berkata,

“Kamu kurus.”

Nara mengangkat bahu.

“Terima kasih.”

“Itu bukan pujian.”

“Ya, tapi tetap terdengar seperti itu.”

Ayahnya tidak menanggapi.

Ia hanya menatap Nara seolah sedang mencoba membaca sesuatu dari wajah anaknya.

Akhirnya ia berkata,

“Kamu kerja terlalu keras lagi?”

Nara mengangkat satu kaki dan menyandarkannya di lutut yang lain.

“Biasanya orang bertanya ‘apa kabar’ dulu sebelum masuk ke topik kerja.”

“Apa kabar?”

Nada ayahnya datar.

Sangat datar.

Nara menahan tawa kecil yang hampir keluar.

“Baik,” katanya.

Ayahnya mengangguk sedikit.

“Bagus.”

Keheningan jatuh lagi di antara mereka.

Jam dinding di ruang tamu berdetak pelan.

Tik. Tik. Tik.

Nara menatap sekeliling ruangan.

“Rumah ini masih sama,” katanya akhirnya.

Ayahnya menjawab tanpa melihat ke sekeliling.

“Tidak ada alasan untuk mengubahnya.”

“Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar.”

“Kursi masih bisa dipakai.”

“Bukan itu maksudku.”

Ayahnya akhirnya menatapnya lagi.

“Lalu apa maksudmu?”

Nara membuka mulutnya.

Kemudian menutupnya lagi.

Ia tidak tahu harus menjawab apa tanpa membuka percakapan yang mungkin terlalu besar untuk malam pertama ia kembali ke rumah ini.

Ayahnya berdiri.

“Pergi ke dapur.”

Ia berjalan menuju lorong kecil yang mengarah ke dapur.

“Kalau kamu lapar.”

Nara menatap punggungnya beberapa detik sebelum berdiri dan mengikutinya.

Langkah mereka bergema pelan di lantai keramik yang dingin.

Lorong rumah itu terasa lebih sempit daripada yang Nara ingat.

Ketika mereka sampai di dapur, lampu putih terang langsung menyilaukan mata Nara sesaat.

Meja makan kecil sudah terisi dua piring.

Seperti seseorang sudah menyiapkan makan malam.

Untuk dua orang.

Ayahnya menarik kursi.

“Kamu datang tepat waktu.”

Nara menatap meja itu.

Sup hangat masih mengeluarkan uap tipis.

Ia menatap ayahnya.

“Kamu sudah tahu aku akan datang?”

Ayahnya duduk di kursinya.

Ia mengambil sendok.

Lalu berkata dengan tenang,

“Kamu selalu datang ketika kamu tidak tahu harus pergi ke mana lagi.”

Kalimat itu menggantung di udara dapur seperti uap tipis dari mangkuk sup di meja.

Nara tetap berdiri beberapa detik.

Matanya menatap ayahnya yang sudah mulai makan seolah tidak mengatakan sesuatu yang aneh.

Sendoknya menyentuh mangkuk dengan suara kecil.

Ting.

Nara akhirnya menarik kursi di seberangnya dan duduk.

Kursi itu sedikit bergeser di lantai keramik dengan suara seret pendek.

Ia mengambil sendok.

Supnya masih panas.

Ia meniupnya pelan sebelum mencicipi.

Rasanya sama seperti dulu.

Sup ayam sederhana dengan sedikit lada dan potongan wortel yang terlalu besar.

Ayahnya tidak pernah pandai memasak hal lain.

Hanya ini.

Beberapa detik mereka makan tanpa bicara.

Jam dinding di ruang tamu masih terdengar dari sini.

Tik. Tik. Tik.

Akhirnya Nara berkata,

“Kamu masih masak sup ini.”

Ayahnya tidak mengangkat kepala.

“Ini yang paling mudah.”

“Dulu ibu selalu bilang kamu cuma bisa masak dua hal.”

“Apa yang satunya lagi?”

“Air panas.”

Ayahnya berhenti makan sebentar.

Kemudian ia menghela napas kecil melalui hidungnya.

Bukan tawa.

Tapi sedikit hampir tertawa.

Nara memperhatikan itu.

“Aku pikir kamu sudah berhenti membuat sup ini,” katanya.

Ayahnya mengangkat bahu sedikit.

“Tidak ada yang melarang.”

“Kamu juga tidak pernah menyukainya.”

“Aku tidak benci.”

“Kamu selalu bilang rasanya terlalu hambar.”

Ayahnya mengambil sendok lagi.

“Aku berubah pikiran.”

Nara menatapnya beberapa detik.

“Emang orang bisa berubah?”

Ayahnya menjawab tanpa ragu.

“Semua orang berubah.”

Nada suaranya tetap tenang.

Tapi ada sesuatu dalam cara ia mengatakannya yang membuat Nara merasa kalimat itu punya makna lain.

Nara menunduk ke mangkuknya lagi.

“Kerjamu bagaimana?” tanya ayahnya tiba-tiba.

Nara mengangkat alis.

“Kenapa kita harus kembali ke topik kerja?”

“Itu topik yang aman.”

“Aman untuk siapa?”

Ayahnya tidak menjawab.

Nara memutar sendoknya di dalam sup.

“Aku masih di tempat yang sama.”

“Jam kerja?”

“Panjang.”

“Gaji?”

“Cukup.”

Ayahnya mengangguk kecil.

“Bagus.”

“Ya,” kata Nara datar. “Sangat memuaskan.”

Mereka makan lagi beberapa detik dalam keheningan.

Nara akhirnya berkata,

“Kamu masih baca koran?”

Ayahnya melirik ke arah ruang tamu.

“Kadang.”

“Tidak pakai internet seperti orang normal?”

“Koran tidak kehabisan baterai.”

Nara tersenyum tipis.

“Penjelasan yang bagus.”

Ayahnya mengangkat mangkuk supnya sedikit dan meminumnya langsung dari tepi mangkuk.

Kebiasaan lama.

Nara menatapnya.

Ia tiba-tiba sadar sesuatu.

Rumah ini benar-benar tidak berubah.

Jam yang sama.

Kursi yang sama.

Menu makan yang sama.

Seolah waktu berhenti di rumah ini bertahun-tahun lalu.

Ia berkata pelan,

“Kamu tidak pernah pindah dari rumah ini.”

Ayahnya meletakkan mangkuknya kembali.

“Tidak perlu.”

“Setelah ibu pergi?”

Sendok ayahnya berhenti.

Untuk pertama kalinya sejak Nara datang, dapur terasa benar-benar tegang.

Ayahnya tidak langsung menjawab.

Nara menatapnya.

“Aku hanya bertanya.”

Ayahnya akhirnya berkata,

“Rumah ini masih bisa dipakai.”

“Itu bukan jawaban.”

Ayahnya mengangkat matanya perlahan.

Tatapan mereka bertemu di atas meja makan.

Beberapa detik tidak ada yang berbicara.

Lalu ayahnya berkata pelan,

“Kamu datang ke sini untuk makan malam… atau untuk menginterogasiku?”

Nara mengangkat bahu.

“Belum tahu, tergantung jawabannya.”

Ayahnya menghela napas pendek.

Ia kembali mengambil sendok.

“Kalau begitu makan dulu.”

Nara menyandarkan punggungnya di kursi.

“Ya, tentu.”

Ia mengambil sendok lagi, tetapi sekarang ia tidak benar-benar makan.

Ia hanya mengaduk supnya.

“Rumah ini terasa seperti museum,” katanya akhirnya.

Ayahnya tidak melihat ke atas.

“Kenapa?”

“Karena semuanya terlihat seperti tidak pernah disentuh waktu.”

Ayahnya menjawab singkat.

“Benda tidak berubah kalau tidak dipaksa berubah.”

Nara tersenyum tipis.

“Manusia juga begitu?”

Ayahnya tidak menjawab.

Keheningan jatuh lagi.

Namun kali ini terasa lebih berat dari sebelumnya.

Nara menatap ayahnya beberapa detik.

Kemudian berkata dengan suara yang lebih pelan,

“Ayah.”

Ayahnya mengangkat matanya.

“Apa?”

Nara menatapnya lurus.

“Ayah sebenarnya bahagia tinggal di rumah ini sendirian?”

Ayahnya tidak langsung menjawab.

Ia menatap Nara cukup lama sampai suasana di dapur terasa semakin sempit.

Lalu ia berkata pelan,

“Pertanyaan itu sudah terlambat selama tujuh tahun.”

Nara menyandarkan siku di meja.

“Lebih baik terlambat daripada tidak pernah.”

Ayahnya menatapnya beberapa detik lagi.

Kemudian ia berkata dengan nada datar,

“Beberapa pertanyaan tidak punya jawaban yang akan membuatmu puas.”

Nara menghela napas panjang.

“Ya, kedengarannya seperti sesuatu yang selalu kamu katakan.”

Ayahnya mengerutkan alis sedikit.

“Apa maksudmu?”

Nara akhirnya mengangkat matanya lagi.

Tatapannya sekarang jauh lebih tajam.

“Ayah selalu punya cara untuk tidak menjawab apa pun.”

Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti sesuatu yang akhirnya terlepas setelah lama ditahan.

Ayahnya tidak langsung bereaksi.

Ia hanya menatap Nara.

Tatapan yang datar, tapi sekarang lebih tajam.

“Aku menjawab,” katanya akhirnya.

Nara menggeleng sedikit.

“Tidak, Ayah menghindar.”

Ayahnya bersandar di kursinya.

“Beda tipis.”

“Tidak juga.”

Keheningan singkat.

Nara meletakkan sendoknya di meja dengan suara kecil.

Tok.

“Ayah tahu apa yang paling aneh?” katanya.

“Apa?”

“Ayah selalu bicara seperti semuanya normal.”

Ayahnya mengerutkan alis sedikit.

“Normal bagaimana?”

“Seperti keluarga kita tidak pernah… hancur.”

Ayahnya tidak menjawab.

Nara tertawa kecil, tapi tidak ada humor di dalamnya.

“Kita duduk di sini makan sup seperti ini hanya makan malam biasa.”

Ayahnya berkata pelan,

“Ini memang makan malam biasa.”

Nara menatapnya tidak percaya.

“Serius?”

“Ya.”

“Setelah tujuh tahun kita hampir tidak bicara?”

Ayahnya mengangkat bahu kecil.

“Kamu yang pergi.”

Nara berkedip.

Kata-kata itu membuat dadanya terasa seperti dipukul.

Ia menatap ayahnya beberapa detik sebelum berkata,

“Ya, Aku pergi.”

Ayahnya tidak mengatakan apa-apa.

Nara melanjutkan,

“Ayah tahu kenapa?”

Ayahnya menjawab tanpa emosi,

“Karena kamu marah.”

“Tidak.”

Nara menggeleng.

“Aku pergi karena aku tidak tahan tinggal di rumah yang rasanya seperti kuburan.”

Ayahnya menatapnya tajam sekarang.

“Kata-katamu berlebihan.”

“Tidak.”

Nara menunjuk ke sekeliling dapur.

“Rumah ini berhenti hidup sejak ibu pergi.”

Ayahnya berkata dengan suara lebih rendah,

“Hentikan.”

“Kenapa?”

“Aku bilang hentikan.”

Nara tertawa kecil lagi.

“Lihat? Itu lagi.”

“Apa?”

“Ayah selalu melakukan itu.”

“Melakukan apa?”

“Menyuruh semua orang diam setiap kali topiknya mulai tidak nyaman.”

Ayahnya mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

“Aku tidak menyuruh siapa pun diam.”

Nara menatapnya.

“Oh ya?”

“Aku hanya tidak ingin percakapan ini berubah menjadi sesuatu yang tidak perlu.”

“Tidak perlu?”

Nada suara Nara naik sedikit.

“Ayah pikir pembicaraan tentang keluarga kita tidak perlu?”

Ayahnya menarik napas panjang.

“Nara...”

“Tidak,” potong Nara cepat. “Jangan pakai nada itu.”

“Nada apa?”

“Nada yang sama yang selalu Ayah pakai ketika Ayah ingin menutup pembicaraan.”

Ayahnya menatapnya beberapa detik.

Kemudian berkata dengan suara yang sangat tenang,

“Kamu datang ke rumah ini dengan banyak kemarahan.”

“Dan Ayah bertindak seperti tidak ada yang salah.”

“Apa yang kamu ingin aku lakukan?”

“Aku ingin Ayah menjelaskan sesuatu.”

“Apa?”

Nara menatapnya lurus.

“Kenapa Ayah tidak pernah mencoba memperbaiki apa pun?”

Ayahnya tidak bergerak.

Dapur terasa sangat sunyi.

Nara melanjutkan dengan suara lebih pelan sekarang, tapi jauh lebih tajam.

“Setelah ibu pergi.”

Tidak ada jawaban.

“Ayah tidak pernah menjelaskan.”

Masih tidak ada jawaban.

“Ayah tidak pernah mencoba menghentikan aku pergi.”

Ayahnya akhirnya berkata,

“Kamu sudah cukup dewasa untuk membuat keputusanmu sendiri.”

“Ya,” kata Nara cepat. “Tapi Ayah adalah ayahku.”

Ayahnya menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Apa yang kamu harapkan?”

Nara mencondongkan tubuh ke depan.

“Aku berharap Ayah peduli.”

Ayahnya tidak menjawab.

Nara menatapnya beberapa detik sebelum berkata dengan suara yang jauh lebih pelan,

“Ayah bahkan tidak pernah terlihat seperti ingin punya keluarga.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Ayahnya tidak bereaksi selama beberapa detik.

Kemudian ia berkata dengan suara yang jauh lebih rendah dari sebelumnya,

“Kamu tidak tahu apa-apa.”

Nara tersenyum tipis.

“Ya, itu juga masalahnya.”

“Apa?”

“Ayah tidak pernah memberi kesempatan Aku untuk tahu.”

Ayahnya berdiri tiba-tiba.

Kursinya bergeser keras di lantai.

Srek.

Ia mengambil mangkuknya dan membawanya ke wastafel.

Air keran dibuka.

Suara air mengalir memenuhi dapur.

Nara tetap duduk di kursinya.

“Ayah bahkan tidak bisa menjawab satu pertanyaan,” katanya dari belakang.

Ayahnya tidak berbalik.

Ia hanya berkata,

“Beberapa hal tidak perlu dibicarakan lagi.”

Nara menatap punggungnya.

“Bagi Ayah mungkin.”

Ayahnya mematikan keran.

Dapur kembali sunyi.

Nara berdiri dari kursinya.

“Tidak apa-apa,” katanya.

Ayahnya tidak bergerak.

Nara melangkah menjauh dari meja makan.

“Seperti biasa,” katanya pelan. “Percakapan kita selalu berakhir seperti ini.”

Ia berjalan menuju lorong belakang rumah.

Ayahnya berkata dari dapur,

“Kamu mau ke mana?”

Nara tidak berhenti berjalan.

“Cari angin.”

Ia melewati lorong sempit menuju bagian belakang rumah.

Lampu lorong itu redup.

Dindingnya dipenuhi foto-foto lama.

Nara hampir tidak melihatnya.

Ia terus berjalan sampai mencapai ujung lorong.

Di sana ada sebuah pintu kayu tua.

Pintu gudang.

Pintu yang dulu selalu dilarang untuk dibuka.

Nara berhenti di depannya.

Ia menatap gagang pintu itu.

Debu tipis menempel di sekelilingnya.

Dari dapur terdengar suara ayahnya lagi.

“Nara.”

Ia tidak menjawab.

Tangannya terangkat perlahan menuju gagang pintu.

Gagang itu dingin.

Logamnya terasa kasar di telapak tangannya, seolah tidak pernah benar-benar disentuh selama bertahun-tahun.

Nara memutar gagangnya sedikit.

Pintu itu tidak langsung bergerak.

Seperti terkunci oleh waktu.

Dari dapur terdengar langkah kaki ayahnya mendekat beberapa langkah.

“Nara.”

Nada suaranya sekarang lebih tegas.

Nara tidak menoleh.

Matanya tetap tertuju pada pintu gudang itu.

“Ayah pernah bilang aku tidak boleh masuk ke sini,” katanya pelan.

Ayahnya berhenti beberapa meter di belakangnya.

“Betul.”

“Kenapa?”

“Karena itu gudang.”

“Itu bukan alasan.”

“Ada banyak barang berbahaya di sana.”

Nara tersenyum kecil tanpa humor.

“Seperti apa? Mesin waktu?”

Ayahnya tidak menjawab.

Nara memutar gagang pintu sekali lagi.

Kali ini pintu itu bergerak sedikit.

Debu jatuh dari sela-sela kusennya.

Ayahnya berkata dari belakang,

“Jangan dibuka.”

Nada suaranya rendah.

Bukan marah.

Lebih seperti seseorang yang berharap sesuatu tidak terjadi.

Nara akhirnya menoleh.

Ayahnya berdiri di lorong dengan tangan di samping tubuhnya.

Tatapannya serius.

“Kenapa?” tanya Nara.

Ayahnya tidak menjawab langsung.

Ia hanya berkata,

“Itu hanya barang-barang lama.”

“Bagus, Aku suka barang lama.”

“Nara.”

“Ayah selalu bilang aku tidak boleh masuk ke sini sejak aku kecil.”

Ayahnya tidak bergerak.

Nara menatapnya beberapa detik sebelum berkata,

“Aku selalu penasaran kenapa.”

Ayahnya menghela napas pelan.

“Sekarang bukan waktu yang tepat.”

Nara mengangkat alis.

“Sejak kapan rumah ini punya waktu yang tepat untuk apa pun?”

Ayahnya tidak menjawab.

Nara kembali menatap pintu itu.

“Kalau memang hanya gudang,” katanya pelan, “Ayah tidak akan terlihat setegang ini.”

Ia mendorong pintu.

Pintu itu terbuka dengan suara derit panjang yang lebih keras dari gerbang depan tadi.

Udara dingin bercampur debu langsung keluar dari ruangan gelap itu.

Lampu di dalam gudang tidak menyala.

Hanya cahaya redup dari lorong yang masuk melalui pintu.

Partikel debu melayang di udara seperti kabut tipis.

Nara melangkah masuk satu langkah.

“Nara,” kata ayahnya lagi.

Ia tidak berhenti.

Gudang itu lebih besar dari yang ia bayangkan.

Ada rak-rak kayu penuh kotak kardus tua.

Sepeda rusak.

Kipas angin lama.

Beberapa perabot yang sudah tidak dipakai lagi.

Bau debu dan kayu lembap memenuhi udara.

Nara berjalan pelan di antara kotak-kotak itu.

Sepatunya menggesek lantai semen.

Ayahnya masih berdiri di pintu gudang.

“Nara,” katanya sekali lagi. “Keluar dari sana.”

Nara mengabaikannya.

Ia menelusuri rak pertama.

Kotak foto lama.

Buku-buku tua.

Kaset musik.

Kemudian matanya tertarik pada sebuah kotak kayu kecil di rak paling bawah.

Kotak itu berbeda dari yang lain.

Lebih tua.

Kayunya gelap dan dipoles halus.

Tidak tertutup debu setebal benda-benda lain di ruangan itu.

Seperti seseorang pernah menyentuhnya belum lama ini.

Nara berjongkok di depan kotak itu.

Ia membuka tutupnya perlahan.

Engsel kecilnya berbunyi pelan.

Di dalamnya hanya ada satu benda.

Sebuah jam tangan tua.

Jam itu terlihat berat.

Bingkainya terbuat dari logam gelap dengan ukiran halus di sekelilingnya.

Jarumnya berhenti tepat di angka 11:17.

Tali kulitnya sudah sedikit retak, tetapi masih utuh.

Nara mengambil jam itu.

Logamnya terasa dingin… lalu perlahan hangat di tangannya.

Ia mengerutkan alis.

“Ayah,” katanya sambil menatap jam itu. “Ini punya Ayah?”

Ayahnya tidak langsung menjawab.

Ketika Nara menoleh, ia melihat ayahnya berdiri kaku di ambang pintu gudang.

Wajahnya pucat.

“Letakkan itu kembali,” katanya.

Nada suaranya berubah.

Tidak lagi datar.

Sekarang ada sesuatu di dalamnya.

Sesuatu yang hampir terdengar seperti… ketakutan.

Nara mengangkat jam itu sedikit.

“Kenapa?”

“Letakkan.”

“Ini cuma jam.”

“Nara.”

Nada suaranya sekarang jauh lebih keras.

“Letakkan.”

Nara menatap jam itu lagi.

Jarumnya masih diam.

Ia memutar jam itu di tangannya.

Ukiran kecil di sisi bingkai menangkap cahaya dari lorong.

Di sana ada tulisan kecil yang hampir tidak terlihat.

Nara mendekatkan jam itu ke wajahnya.

“Ini tulisan apa...”

Tiba-tiba.

Jarum jam itu bergerak satu detik.

Tik.

Nara membeku.

Ia menatap jam itu.

Jarumnya bergerak lagi.

Tik.

Udara di gudang terasa tiba-tiba lebih berat.

Lampu lorong berkedip sekali.

Ayahnya melangkah cepat ke dalam gudang.

“Nara, jangan...”

Nara tanpa sadar memutar kenop kecil di sisi jam itu.

Klik.

Dunia terasa seperti ditarik dari bawah kakinya.

Udara berputar.

Debu di ruangan itu tiba-tiba melayang seperti tertarik oleh angin yang tidak terlihat.

Lampu lorong berkedip lebih keras.

Ayahnya berteriak,

“NARA!”

Cahaya putih tiba-tiba memenuhi pandangan Nara.

Lantai gudang menghilang dari bawah kakinya.

Dan tubuhnya terasa jatuh ke dalam sesuatu yang tidak memiliki arah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!