NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: DANAU BEKU

Dua hari setelah pertempuran melawan Seolma, rombongan kecil itu semakin mendalam ke wilayah pegunungan es.

Salju kini setinggi pinggang, memaksa mereka berjalan lambat dan hati-hati. Kuda-kuda telah ditinggalkan di desa terakhir—mereka tidak bisa melanjutkan di medan seberat ini. Kini hanya ada empat manusia dan persediaan yang mereka bawa sendiri.

Putri Sohwa berjalan paling belakang, langkahnya tertatih. Lukanya di lengan sudah sembuh, tapi kelelahan terlihat jelas di wajahnya. Namun ia tidak mengeluh. Sejak insiden dengan Seolma, ia seperti berubah—lebih percaya diri, lebih tenang.

Di depannya, Miho berjalan dengan waspada. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan Putri Sohwa baik-baik saja. Pandangan mereka kadang bertemu, dan Miho akan tersenyum kecil sebelum kembali fokus ke depan.

Nyonya Hwa Ryun yang melihat interaksi itu hanya tersenyum tipis. Sebagai wanita yang lebih tua dan lebih berpengalaman, ia bisa membaca tanda-tanda yang tidak disadari kedua gadis itu.

"Istirahat."

Perintah Namgung Jin disambut dengan napas lega. Mereka berhenti di bawah tebing batu yang sedikit melindungi dari angin. Miho segera membagikan makanan kering, sementara Nyonya Hwa Ryun memeriksa perlengkapan.

Putri Sohwa duduk di batu, memijat kakinya yang membengkak. Tiba-tiba, Namgung Jin duduk di sampingnya.

"Perlihatkan."

"A-Apa?"

"Kakimu."

Putri Sohwa ragu, lalu perlahan memperlihatkan kakinya yang terbungkus kain. Namgung Jin membuka balutan itu dengan hati-hati. Kulitnya lecet dan bengkak di beberapa tempat.

"Kau terus berjalan dengan luka ini?"

"Aku... tidak mau memperlambat."

Namgung Jin tidak menjawab. Ia mengeluarkan botol kecil berisi minyak hijau, mengoleskannya ke luka Putri Sohwa. Hangat, menenangkan.

"Ini obat dari Magyo. Esok lukanya akan sembuh."

"Terima kasih, Guru."

Mata Putri Sohwa bersinar—bukan hanya karena rasa terima kasih, tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat.

Miho yang melihat dari kejauhan, tiba-tiba merasa dadanya sesak. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan, berpura-pura sibuk dengan ranselnya.

Nyonya Hwa Ryun mendekatinya.

"Kau baik-baik saja?"

"Aku baik." Jawabannya terlalu cepat.

"Hmm." Nyonya Hwa Ryun tersenyum tahu. "Jangan dipendam. Itu tidak sehat."

"Aku tidak tahu apa maksudmu."

"Tentu kau tahu."

Miho diam. Tangannya memainkan ujung jubah.

---

Malam harinya, mereka berlindung di gua kecil yang ditemukan Miho. Lebih luas dari sebelumnya, dengan langit-langit cukup tinggi dan dinding batu yang kokoh.

Api unggun menyala di tengah. Mereka duduk melingkar, menikmati hangatnya api setelah seharian melawan dingin.

"Besok kita akan sampai di kaki Gunung Es," kata Namgung Jin membuka peta kulit. "Dari sana, kita harus mendaki setengah hari ke puncak. Danau beku ada di sana."

"Apa yang akan kita hadapi?" tanya Nyonya Hwa Ryun.

"Tidak tahu. Legenda bicara tentang penjaga, tapi tidak spesifik."

"Berarti kita harus siap untuk apa pun."

Mereka diam, merenungkan tantangan esok hari.

Putri Sohwa tiba-tiba bergeser, duduk lebih dekat ke Namgung Jin. Bukan karena dingin—api sudah cukup hangat. Tapi karena... karena ia ingin dekat.

Miho melihat itu. Lagi-lagi dadanya sesak.

"Aku akan jaga malam pertama," katanya tiba-tiba berdiri.

"Kau yakin?" tanya Nyonya Hwa Ryun. "Kau juga lelah."

"Aku yakin."

Miho berjalan ke mulut gua, duduk membelakangi mereka. Angin malam berdesir, membawa salju dingin. Tapi dingin di luar tidak sebanding dengan dingin yang ia rasakan di dalam hati.

---

Beberapa jam kemudian, Nyonya Hwa Ryun bangun untuk menggantikan Miho. Ia menemukan gadis itu masih duduk di tempat yang sama, memeluk lutut.

"Kau belum tidur?"

"Tidak bisa."

Nyonya Hwa Ryun duduk di sampingnya. * "Karena Sohwa?"*

Miho tidak menjawab, tapi diamnya adalah jawaban.

"Kau suka padanya?"

"Pada Guru?" Miho tertawa getir. "Apa tidak kentara?"

"Kentara. Tapi Sohwa juga suka padanya."

"Aku tahu."

Keheningan. Salju terus turun perlahan.

"Aku tidak tahu harus bagaimana," lanjut Miho lirih. "Aku hanya gadis desa biasa. Mantan mata-mata. Sementara dia putri kerajaan. Pantas saja Guru lebih memerhatikannya."

"Apa kau lihat Guru lebih memerhatikan Sohwa?"

"Tadi, saat mengobati kakinya... aku tidak pernah melihat ekspresi seperti itu di wajah Guru."

Nyonya Hwa Ryun tersenyum. "Kau salah, Miho. Guru tidak memilih-milih. Ia memperlakukan kita semua sama—dingin di luar, tapi hangat di dalam. Yang kau lihat tadi mungkin hanya... rasa tanggung jawab."

"Atau mungkin lebih."

"Mungkin. Tapi kau tidak akan tahu jika hanya diam dan menebak."

Miho menatapnya. "Apa kau juga suka padanya?"

Nyonya Hwa Ryun tertawa kecil. "Aku? Aku sudah terlalu tua untuk hal-hal seperti itu. Aku hanya ingin belajar darinya, menjadi lebih kuat."

"Jadi kau tidak akan..."

"Tidak akan. Jadi kalian berdua bisa berebut tanpa pesaing."

Miho tersipu. * "Aku tidak berebut—"

"Ya, ya." Nyonya Hwa Ryun berdiri, menepuk pundaknya. "Sekarang tidur. Besok kita harus kuat."

---

Pagi harinya, mereka melanjutkan perjalanan.

Gunung Es menjulang di depan, putih bersih, memantulkan sinar matahari dengan silau yang menyakitkan mata. Puncaknya hilang di balik awan, seolah menyentuh langit.

Pendakian dimulai. Medan semakin curam, salju semakin licin. Mereka harus menggunakan kapak es sederhana yang dibuat Nyonya Hwa Ryun dari kayu dan batu.

Putri Sohwa berjuang keras. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung sendiri. Tapi ia terus maju, tidak mau ketinggalan.

Di satu titik, kakinya terpeleset. Ia hampir jatuh ke jurang, tapi tangan Miho cepat meraihnya.

"Hati-hati!"

"Ma-maaf."

Miho tidak melepaskan tangannya. "Pegang aku. Kita jalan bersama."

Putri Sohwa menatapnya terkejut. Lalu tersenyum. "Terima kasih, Miho."

Mereka berjalan berpegangan, saling membantu. Di belakang, Nyonya Hwa Ryun tersenyum puas.

Namgung Jin yang melihat dari depan hanya diam. Tapi di sudut hatinya—sudut yang jarang ia sadari—ada kehangatan kecil melihat mereka akur.

---

Menjelang sore, mereka tiba di puncak.

Di sana, terbentang Danau Beku—hamparan es luas sejauh mata memandang. Airnya membeku total, permukaannya licin mengilap seperti kaca raksasa. Di tengah danau, sebuah pulau kecil dengan batu besar menjulang. Di atas batu itu, tertancap sebuah pedang.

Pedang itu berwarna biru es, berkilauan memantulkan sinar matahari senja. Auranya dingin, bahkan dari kejauhan mereka bisa merasakannya.

"Hyeollyunggeom..." bisik Namgung Jin.

Tapi di antara mereka dan pedang itu, ada sesuatu.

Makhluk-makhluk es mulai muncul dari permukaan danau. Mereka seperti manusia, tapi transparan, dengan mata biru menyala. Puluhan, mungkin ratusan. Mereka membentuk barisan, melindungi jalan menuju pulau.

"Penjaga danau."

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!