Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Membangun di Atas Kematian
Esok harinya, pelatihan dimulai. Tidak megah, hanya sekelompok orang dengan peralatan seadanya: tongkat sebagai tombak, batu sebagai pemberat, dan tekad yang mulai tumbuh. Ratri mengajar kelompok elemen sihir dasar di satu sisi lapangan, suaranya yang lembut namun tegas membimbing mereka merasakan dan mengendalikan energi. Aku dan Eveline melatih kuda-kuda, gerakan dasar menghindar, dan serangan dengan tombak kayu di sisi lain. Suara teriakan komando, instruksi, dan semangat yang mulai membara menggantikan keheningan putus asa.
Aku melihat seorang ibu manusia paruh baya dengan serius mencoba membentuk perisai angin kecil di depan anaknya yang latihan. Aku melihat Kael si iblis mengajar seorang pemuda elf cara menggunakan kecepatan dan cakarnya untuk serangan mendadak. Gregor mengorganisir sistem pos jaga bergilir.
Ini baru awal. Masih panjang dan berat. Tapi untuk pertama kalinya sejak tiba di pulau ini, aku melihat bukan hanya sekadar kelompok pengungsi yang selamat, tetapi benih sebuah komunitas yang bersedia berjuang untuk kelangsungan hidupnya sendiri. Dan itu, bagiku, adalah kemenangan yang lebih berharga daripada membunuh semua perompak dengan revenant. Ini adalah tentang membangun, bukan sekadar mempertahankan. Dan dalam proses membangun itulah, mungkin, aku bisa menemukan kembali keseimbangan moral yang sempat goyah, dengan berkontribusi pada kehidupan, bukan hanya bermain-main dengan kematian.
Esok harinya, setelah sarapan pagi yang sederhana, aku meminta semua pengungsi dewasa untuk berkumpul di lapangan rumput luas di antara perkemahan mereka dan rumahku. Suasana pagi yang sejuk diisi oleh kerumunan sekitar enam puluh orang dari berbagai ras—manusia dengan berbagai postur, elf dengan sikap anggun yang kini mulai mencair, dan iblis dengan ciri khas mereka yang beragam. Mereka berdiri bercampur, tidak lagi mengelompok berdasarkan ras. Itulah satu hal yang kuperjuangkan: tidak ada ras yang diunggulkan. Di mata ancaman dari luar, mereka semua sama-sama rentan. Dan dalam pertahanan, mereka semua harus sama-sama kuat.
Aku berdiri di atas sebuah batu datar yang berfungsi sebagai panggung sederhana, ditemani oleh Ratri di samping kanan dan Eveline di samping kiri. Ratri dengan wujud remajanya yang lebih tidak mengintimidasi, dan Eveline dengan postur kaku dan tatapan kosongnya yang biasa.
"Kalian semua," aku mulai, suaraku jelas dan tegas, terdengar hingga ke pinggir kerumunan. "Kita sudah melewati serangan yang tidak terduga. Kita beruntung bisa bertahan. Tapi keberuntungan tidak akan selamanya ada di pihak kita."
Aku memandang sekeliling, menatap mata setiap orang yang memandangku dengan serius. "Mulai hari ini, kita tidak boleh lagi hanya menjadi korban yang pasif. Kita harus bisa melindungi diri kita sendiri, keluarga kita, dan komunitas kita. Karena itu, kita akan mulai pelatihan pertahanan."
Desis persetujuan dan anggukan terdengar dari kerumunan.
"Pelatihan ini akan dibagi berdasarkan kemampuan alami masing-masing. Tidak ada yang dipaksa melakukan hal di luar kemampuannya. Tujuannya hanya satu: meminimalisir korban jika serangan serupa terulang. Agar paling tidak, kita punya kesempatan untuk bertahan sampai bantuan datang, atau musuh berpikir dua kali untuk menyerang kita."
Aku menunjuk ke Ratri. "Ratri akan melatih kalian yang memiliki bakat sihir dasar—unsur api, air, tanah, angin, atau sihir pendukung seperti penguatan atau penyembuhan dasar. Dia akan mengajarkan cara mengontrol, mengarahkan, dan menggunakan sihir itu untuk pertahanan, bukan untuk menyerang secara membabi buta."
Ratri melangkah maju sedikit, memberikan senyum kecil yang menenangkan. "Kita akan mulai dari yang paling dasar. Jangan khawatir jika kekuatan kalian kecil. Yang penting adalah pengendalian dan kerja sama."
Lalu, aku menoleh ke Eveline. Semua mata juga tertuju padanya, beberapa dengan rasa takut yang samar. Mereka telah melihat kekuatan dan ketaatannya. Aku perlu memastikan instruksiku padanya sangat jelas, sangat sederhana, dan tidak membuka celah untuk interpretasi yang bisa berbahaya bagi manusia biasa.
"Eveline," ucapku, memastikan dia mendengarkan sepenuhnya. "Kau akan melatih mereka yang memiliki kekuatan fisik alami yang baik, ketangkasan, atau keinginan untuk bertarung jarak dekat."
Aku berhenti sejenak, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Perintahku ini sangat spesifik. Dengarkan baik-baik: Ajarkan mereka hanya teknik bertahan dan melumpuhkan yang aman untuk tubuh manusia biasa. Teknik itu tidak boleh menyebabkan cedera permanen, patah tulang, atau mematikan selama latihan. Selalu ingat bahwa lawan latihan mereka adalah sesama manusia, elf, atau iblis yang sama-sama teman satu komunitas. Kecepatan dan kekuatan yang kau gunakan untuk demonstrasi harus dibatasi setara dengan kemampuan terkuat dari peserta latihan yang ada, bukan kecepatan dan kekuatanmu sendiri. Apakah kau mengerti perintah ini dengan jelas?"
Eveline menatapku, matanya yang biru berkedip sekali. Otaknya yang bekerja dengan logika efisien memproses setiap batasan. "Ya, Tuanku. Aku mengerti dengan jelas. Aku akan mengajarkan hanya teknik bertahan dan melumpuhkan yang aman untuk tubuh organik teman satu komunitas. Kecepatan dan kekuatan demonstrasi akan kusamakan dengan peserta terkuat. Tujuannya: melatih, bukan melukai."
Jawabannya yang persis seperti parafrase perintahku membuatku lega. Itulah cara berkomunikasi dengan Eveline: eksplisit, tanpa ambiguitas.
"Bagus," aku mengangguk. "Dan untuk kalian yang akan dilatih Eveline," lanjutku ke kerumunan, "jangan takut. Dia akan mengikuti perintah ini dengan ketat. Manfaatkan pengalamannya. Belajarlah cara membaca gerakan, cara menghindar, dan cara melumpuhkan musuh tanpa harus membunuh."
Aku kemudian menghadap ke semua orang lagi. "Selain dua kelompok itu, akan ada kelompok ketiga: pengintaian dan pertahanan jarak jauh. Kelompok ini untuk kalian yang memiliki penglihatan tajam, kesabaran, atau keahlian dengan busur. Lyra," aku memanggilnya. Lyra yang sudah berdiri di barisan depan melangkah maju. Ekspresinya netral, tapi ada kesigapan di matanya. "Kau akan memimpin kelompok ini, berbagi pengetahuan elf tentang mengintai, menyamarkan diri, dan menggunakan lingkungan sebagai keuntungan."
Lyra mengangguk. "Siap."
"Dan untuk kalian yang tidak masuk dalam tiga kelompok itu—entah karena usia, kondisi fisik khusus, atau keahlian di bidang lain—kalian tetap memiliki peran penting. Kalian akan bertugas di dapur logistik, perawatan luka dasar, pembuatan perlengkapan, atau menjaga anak-anak saat yang lain berlatih. Tidak ada yang tidak berguna di sini. Pertahanan sebuah komunitas dibangun oleh semua tangan."
Aku melihat mereka semua, merasa tanggung jawab yang besar tapi juga tekad yang menguat. "Ingat, ini bukan untuk mencari musuh. Ini untuk mengatakan bahwa kita bukan mangsa yang mudah. Ini untuk memastikan anak-anak kita bisa tumbuh dengan aman. Kita mulai hari ini. Setiap pagi setelah pekerjaan penting selesai, dan setiap sore sebelum matahari terbenam. Gregor, Lirea, Kael," aku menunjuk ketua perwakilan, "tolong bantu mengorganisir pembagian kelompok berdasarkan minat dan kemampuan awal. Ratri, Eveline, Lyra, kalian bisa mulai sesi perkenalan dan penilaian dasar hari ini."
Tanpa banyak ceremonial lagi, kerumunan itu mulai bergerak. Suasana berubah dari pasif menjadi aktif penuh tujuan. Gregor dengan suara lantangnya mulai menanyakan siapa yang merasa memiliki bakat sihir. Lirea dengan suara lebih halus mengumpulkan mereka yang berminat dengan busur dan keahlian halus. Kael, dengan sikap blak-blakannya, memanggil mereka yang merasa kuat atau cepat.
Aku turun dari batu, mengamati. Ratri sudah memimpin sekelompok sekitar lima belas orang ke sisi lapangan yang lebih teduh. Dia berbicara dengan suara tenang, dan aku melihat beberapa orang mulai mengeluarkan percikan api kecil atau gelembung air di telapak tangan mereka, wajah mereka penuh konsentrasi dan sedikit keajaiban.
Eveline berdiri di tempatnya, menunggu. Sekelompok pria dan wanita—beberapa manusia besar, beberapa iblis yang bertanduk, dan bahkan beberapa elf yang ramping tapi gesit—berkumpul di hadapannya dengan ekspresi campuran antara hormat dan gugup. Aku mendekat untuk memastikan.
"Peserta latihan," ucap Eveline dengan suara datarnya yang khas, namun kali ini terdengar seperti instruktur manual. "Perintah Tuan Rian: aku mengajarkan teknik aman. Contoh pertama: menangkis serangan lurus." Dia mengangkat tangannya, dengan sangat pelan, memperagakan gerakan menepis. "Kecepatan ini. Kekuatan ini. Ulangi."
Para peserta dengan serius mulai menirukan. Saat seorang pria manusia bertubuh besar bernama Borin mencoba menyerang dengan pukulan lambat untuk simulasi, Eveline menangkisnya dengan kekuatan yang persis cukup untuk mengalihkan pukulan itu, tidak lebih. Itu sempurna. Dia mengikuti perintahku hingga ke huruf terakhir.
Di sisi lain, Lyra sudah mengajak sepuluh orang ke pinggir hutan. Dia menunjukkan cara berjalan tanpa suara, cara menggunakan bayangan, dan bagaimana memposisikan diri untuk memiliki pandangan terbaik. Beberapa peserta manusia terlihat kesulitan, tapi mereka berusaha.
Aku merasa puas. Ini baru awal, tapi setidaknya benihnya sudah ditanam. Mereka tidak lagi hanya menunggu diselamatkan. Mereka mulai mengulurkan tangan untuk mengambil kendali atas keselamatan mereka sendiri.
Beberapa anak kecil, yang dijaga oleh beberapa orang tua, memperhatikan dengan mata berbinar. Seorang anak elf kecil bertanya pada ibunya, "Ibu, nanti kalau aku besar, aku juga bisa belajar buat perisai angin seperti itu?"
Ibunya, yang sedang merajut jaring untuk perangkap, tersenyum lelah tapi penuh harap. "Bisa, sayang. Nanti pasti bisa."
Di tengah semua aktivitas itu, aku berpaling. Aku bukan bagian dari "kita" dalam pelatihan ini. Peranku sebagai koordinator, perencana, dan mungkin di masa depan, pembuat senjata dan pemanggil revenant hanya dalam keadaan terpaksa. Aku ingin mereka berdiri di atas kaki mereka sendiri, tanpa selalu bergantung pada keanehan dan kekuatanku yang asing. Karena suatu hari, mungkin, aku tidak akan lagi di sini. Dan ketika itu terjadi, aku ingin pulau ini, komunitas ini, tetap bertahan—bukan karena seorang "Pembangkit", tetapi karena kekuatan kolektif orang-orang yang belajar melindungi satu sama lain.
Hari pertama berjalan dengan lancar. Ada tertawa saat seseorang tidak sengaja membasahi dirinya sendiri dengan sihir air, ada erangan saat otot yang tidak terlatih mulai sakit, dan ada sorak-sorai kecil saat seseorang berhasil meniru gerakan Eveline dengan baik. Itu adalah musik dari sebuah komunitas yang belajar menjadi tangguh. Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.
Dua minggu berlalu sejak pelatihan pertahanan dimulai. Rutinitasnya telah terbentuk: tiga kali seminggu untuk pelatihan keterampilan khusus (sihir, bela diri, pengintaian), dan setiap pagi, semua orang dewasa yang mampu melakukan lari bersama sejauh kurang lebih tiga kilometer mengelilingi area permukiman dan pantai terdekat. Awalnya berat, tapi kini sudah terlihat kemajuan. Napas mereka tak lagi tersengal-sengal parah, dan ada semacam kebanggaan tersembunyi di mata mereka ketika menyelesaikan rute.
Tapi di balik kemajuan fisik dan semangat itu, ada satu masalah mendasar yang semakin hari semakin mengganggu pikiranku: tempat tinggal.
Setiap kali aku melewati perkemahan pengungsi, mataku selalu tertumbuk pada gubuk-gubuk darurat yang terbuat dari daun, ranting, dan kain terpal robek. Mereka hanya sedikit lebih baik dari tempat berteduh hewan. Beberapa sudah mulai lapuk diterpa hujan dan angin laut. Tenda-tenda dari kain layar kapal mereka yang diselamatkan juga mulai bolong di sana-sini. Ini tidak layak, apalagi untuk jangka panjang. Sebuah komunitas tidak bisa dibangun di atas pondasi ketidakpastian tempat berlindung.
Jiwa karakter sebagai "tukang", sebagai orang yang percaya pada kerja nyata dan pembangunan, mulai gelisah. Ini bukan lagi hanya tentang bertahan dari serangan. Ini tentang membangun kehidupan yang bermartabat. Pikiran itu terus mengusikku, hingga suatu sore, setelah sesi latihan, aku memanggil semua orang untuk berkumpul lagi.
"Kalian semua," aku mulai, berdiri di batu yang sama. "Kita sudah membuat kemajuan dalam melindungi diri. Tapi ada fondasi lain yang sama pentingnya: rumah. Tempat tinggal yang layak, yang bisa melindungi kita bukan hanya dari musuh, tetapi dari angin, hujan, dan dinginnya malam."
Aku menunjuk ke barisan gubuk yang terlihat compang-camping di kejauhan. "Lihat. Itu bukan rumah. Itu hanya tempat berteduh sementara. Dan sementara itu sudah berlangsung terlalu lama. Jika kita ingin pulau ini benar-benar menjadi rumah, kita harus mulai membangunnya dengan sungguh-sungguh."
Beberapa wajah tampak setuju, tetapi juga lelah. Mereka sudah bekerja keras untuk bertahan hidup setiap hari.
"Karena itu," lanjutku, "untuk sementara, pelatihan keterampilan khusus kita hentikan. Fokus kita selama beberapa minggu ke depan adalah satu: Membangun rumah untuk semua. Setiap keluarga, setiap individu, harus punya tempat berlindung yang kokoh sebelum musim badai berikutnya datang."
Ada desis persetujuan, dan sedikit kelegaan. Latihan itu penting, tetapi beban memiliki rumah yang nyata terasa lebih mendesak.
"Tapi," tekananku, "kita akan melakukannya dengan prinsip yang sama: bekerja sama, dan tidak mengandalkan kekuatan instan." Aku menoleh ke arah empat revenant perompak yang kubangkitkan, yang selama ini berdiam di pinggir hutan dalam keadaan diam menunggu perintah. Mereka akan berguna, tapi dengan batasan.
"Empat revenant ini akan membantu. Tapi mereka hanya akan melakukan pekerjaan berat yang membutuhkan kekuatan berlebih dan berisiko tinggi bagi kita: mengangkut balok kayu besar, menumpuk batu fondasi, atau memotong kayu di area berbahaya. Mereka tidak akan menggantikan peran kalian."
Aku memandang kerumunan. "Kalian, yang memiliki roh, darah, dan keringat, adalah arsitek kehidupan ini. Kalian yang akan merancang, merakit, dan merasakan kepuasan membangun rumah sendiri. Setiap keluarga akan bertanggung jawab atas rumah mereka, dibantu oleh tetangga. Kita akan buat sistem gotong royong."
Rencananya diterima dengan antusiasme yang lebih nyata daripada saat pengumuman latihan militer. Ini adalah kebutuhan dasar yang mereka semua pahami.
"Hari ini, kita bagi tugas. Pertama: survei lokasi. Kita perlu area yang lebih teratur, dekat dengan sumber air, tapi aman dari banjir dan mudah dipertahankan. Kedua: kumpulkan material. Kayu dari bagian hutan yang sudah kita tentukan, batu dari sungai, daun dan rotan untuk atap."
Gregor, Lirea, dan Kael segera mengambil inisiatif, membagi orang-orang berdasarkan keahlian: pencari kayu, pengumpul batu, perajin tali, dan sebagainya. Suasana berubah dari lapangan latihan menjadi lokasi pembangunan yang ramai.
Aku sendiri memiliki proyek tambahan di benakku. Saat semua orang sibuk dengan rumah mereka, aku akan membangun sesuatu untuk kepentingan bersama: Menara Pengawas.
Dengan bantuan Eveline dan dua revenant, aku memilih sebuah titik tinggi di tebing yang menghadap ke teluk timur dan barat—tempat di mana perompak mendarat. Dari sini, pandangan ke laut cukup luas. Aku menggunakan kayu-kayu pilihan yang kuat dan lurus. Dengan desain sederhana: platform persegi di ketinggian sekitar delapan meter, dilindungi oleh dinding kayu setinggi dada, dengan atap sederhana untuk melindungi dari hujan dan matahari. Sebuah tangga dari papan dan tali dibangun di sisi belakangnya yang lebih landai.
Pekerjaan ini lebih cepat karena melibatkan revenant untuk mengangkat material berat dan Eveline yang dengan presisi memakukan sambungan-sambungan kritis. Tapi untuk bagian yang membutuhkan keahlian—seperti mengikat tali yang kuat atau meratakan platform—aku yang mengerjakan.
Selama beberapa hari, pulau itu berubah menjadi sarang lebah yang sibuk. Bunyi palu, kapak, dan gergaji menggantikan suara latihan sihir dan teriakan komando. Asap dari perapian tembikar sederhana untuk membuat gentong air mengepul di udara.
Aku melihat seorang lelaki manusia paruh baya, yang sebelumnya selalu murung, kini dengan penuh semangat mengajari anak remajanya cara memotong kayu dengan sudut yang tepat. Seorang ibu elf yang biasanya pendiam, ternyata memiliki keahlian merajut atap dari daun palem dengan pola yang rapat dan indah. Kaum iblis, dengan kekuatan fisik mereka, bergotong-royong mendirikan tiang utama rumah-rumah yang lebih besar.
Lyra, yang revenant, juga terlibat. Meski tatapannya kosong, dia menggunakan ingatannya tentang arsitektur elf untuk menyarankan posisi jendela yang optimal untuk sirkulasi udara dan cahaya. Ayahnya, Elrondir, dengan bangga melihat putrinya tetap berguna.