NovelToon NovelToon
Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:161
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.

Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.

Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.

Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.

Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Benang Perak dan Plester Bergambar

Gairah kreatif Nika meledak seperti kembang api di tengah malam yang gelap. Saran Devan tentang manekin yang rusak tadi benar-benar mengubah perspektifnya. Selama semalaman suntuk, dibantu oleh Maya yang sudah kembali bersemangat, Nika mengubah "sampah" hasil sabotase itu menjadi sebuah karya seni avant-garde. Gaun yang tadinya koyak itu kini dihiasi dengan ribuan payet perak yang menjuntai, menutupi bekas guntingan dengan kilauan yang menyerupai aliran air terjun di bawah sinar bulan.

"Ini bukan lagi gaun pengantin biasa, Maya," bisik Nika sambil menusukkan jarum terakhirnya. "Ini gaun peperangan."

Namun, di tengah kepuasannya, perasaan Nika tidak tenang. Devan belum pulang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Berkali-kali ia menghubungi ponsel suaminya, namun hanya suara operator yang menjawab. Rasa cemas mulai merayap, lebih tajam daripada jarum pentul yang tadi sempat menusuk jarinya.

Baru saja Nika hendak mengambil kunci mobil untuk menyusul ke kantor, pintu butik terbuka. Devan muncul, namun pemandangan itu membuat jantung Nika seolah berhenti berdetak.

Kemeja putih yang tadi pagi disetrika rapi kini sobek di bagian bahu, noda tanah dan bercak merah darah menghiasi lengannya. Sudut bibir Devan pecah, dan ia berjalan sedikit pincang sambil memegang perutnya.

"Mas!" Nika berlari menghampiri, hampir saja menjatuhkan manekin di dekatnya. "Apa yang terjadi?! Ya Tuhan, Mas... kamu habis berkelahi?"

Devan mencoba tersenyum, meski ringisan kesakitan lebih mendominasi wajahnya. "Hanya sedikit... diskusi fisik dengan beberapa preman bayaran Rendy di lokasi proyek, Ni. Mereka mencoba membakar gudang material. Tapi tenang saja, gudangnya aman."

"Aman apanya kalau kamunya begini!" Nika menangis tanpa sadar, ia menuntun Devan untuk duduk di sofa ruang tengah butik. "Tunggu di sini, jangan bergerak! Aku ambil kotak P3K!"

Inilah saat di mana naluri "perawat random" Nika mengambil alih. Nika kembali bukan hanya membawa kotak P3K, tapi juga sebuah handuk hangat, baskom berisi air aromaterapi, dan... sebuah bando suster mainan yang entah ia dapatkan dari mana (mungkin sisa properti foto koleksi baju anak-anak tahun lalu).

"Nika... kenapa kamu pakai bando itu?" tanya Devan, berusaha menahan tawa meski perutnya sakit.

"Diam! Aku sedang dalam mode serius. Pasien dilarang banyak tanya," ucap Nika dengan wajah yang dibuat-buat galak.

Nika mulai membersihkan luka di wajah Devan dengan sangat lembut. Setiap kali kapas beralkohol menyentuh kulit Devan, Nika akan meniupnya lama-lama sambil menggumamkan mantra aneh. "Sembuh... sembuh... sakitnya pindah ke Rendy... sakitnya pindah ke Papa..."

"Ni, alkoholnya tidak akan terasa dingin kalau kamu tiup terus seperti itu," goda Devan.

"Ini teknik pernapasan medis, Mas Bos. Jangan protes!" Nika kemudian beralih ke luka di bahu Devan. Saat melihat luka lecet yang cukup lebar, Nika merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sesuatu yang membuat mata Devan membelalak.

"Plester... gambar beruang kutub?" Devan menatap ngeri pada plester warna-warni di tangan Nika. "Nika, aku ini CEO. Bagaimana kalau besok aku harus rapat dan plester ini kelihatan?"

"Besok kamu tidak ada rapat! Besok kamu harus istirahat total di bawah pengawasanku," Nika menempelkan plester beruang itu tepat di atas luka bahu Devan dengan penuh kemenangan. "Lagipula, beruang kutub itu kuat. Biar lukamu cepat menutup."

Tak berhenti di situ, Nika memaksa Devan meminum ramuan "jamu rahasia" buatannya yang terdiri dari campuran madu, jahe, dan sedikit bubuk kayu manis. Rasanya sangat aneh, namun Devan meminumnya sampai habis karena ia tahu itu adalah cara Nika menunjukkan cintanya.

"Sudah lebih baik?" tanya Nika pelan, ia kini duduk di lantai, bersandar di kaki Devan sementara tangannya mengusap-ngusap lutut suaminya yang lebam.

Devan menghela napas panjang, ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, menatap langit-langit butik. "Jauh lebih baik. Bukan karena jamunya, tapi karena suster berbandonya."

Devan menarik tangan Nika, mencium jemari yang tadi sibuk mengobatinya. "Tadi di lokasi, saat aku dipukul, aku cuma ingat wajahmu. Aku berpikir, kalau aku tumbang, siapa yang akan memuji masakan anehmu? Siapa yang akan mengingatkanmu kalau 'shrimp' itu udang?"

Nika mendongak, matanya berkaca-kaca. "Mas... jangan pernah lakukan itu lagi. Biarkan polisi yang urus premannya. Aku tidak butuh pahlawan yang babak belur. Aku cuma butuh suami yang utuh."

"Aku janji," bisik Devan. Ia kemudian melirik ke arah gaun yang berdiri di tengah ruangan. "Wah... kamu benar-benar melakukannya. Gaun itu... luar biasa, Ni. Jauh lebih indah daripada desain aslinya."

"Itu karena kamu," Nika berdiri, memberikan kecupan kecil di ujung hidung Devan. "Karena asisten pribadiku yang sok tahu itu memberiku ide tentang gravitasi dan perak."

Malam itu, mereka tidak pulang ke rumah. Mereka tidur bergelung di sofa butik yang sempit, dengan Devan yang terbalut plester beruang kutub dan Nika yang masih mengenakan bando susternya. Di tengah aroma kain sutra dan obat merah, mereka merasa lebih dekat daripada sebelumnya.

Namun, di saku celana Devan yang tergeletak di lantai, ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor rahasia: "Pemanasan sudah selesai, Devan. Besok, aku akan mengambil apa yang paling berharga darimu: Adiguna Group."

Rendy belum selesai. Dan kali ini, serangannya bukan lagi lewat fisik atau gunting, melainkan lewat pengkhianatan dari dalam yang akan mengguncang pondasi perusahaan hingga ke akar-akarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!