Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Kedua telapak tangan Felysha Anindhita menekan permukaan meja kayu yang dilapisi pernis bening, merasakan dinginnya material itu merambat ke kulitnya. Ia tidak segera bergerak, meski jam dinding di atas pintu apartemennya baru saja mengeluarkan bunyi klik kecil yang menandakan jarum panjang bergeser ke angka dua belas. Di bawah lampu ruang tamu yang sengaja ia redupkan, bayangan dirinya terpantul samar di atas permukaan meja, tampak seperti siluet yang tidak memiliki tepi.
Felysha menarik napas pelan, membiarkan dadanya naik-turun dalam irama yang sangat lambat. Ia menoleh ke arah tas sketsanya yang tergeletak di atas kursi sebelah. Di sana, di dalam kompartemen paling depan, ponselnya kembali mengeluarkan getaran pendek yang menghasilkan suara dengung di tengah kesunyian. Ia tidak perlu meraihnya untuk tahu bahwa itu adalah pesan dari Julian. Irama getaran itu—dua kali pendek, jeda satu detik, lalu satu kali panjang—adalah notifikasi khusus yang Julian minta agar ia pasang.
Langkahnya terasa berat saat ia bangkit dari kursi. Felysha berjalan menuju dapur kecilnya yang dibatasi oleh konter marmer berwarna abu-abu. Ia meraih teko listrik, membukanya, dan mengisinya dengan air dari keran. Bunyi gemericik air yang menghantam dasar teko terdengar sangat nyaring, memantul di antara dinding-dinding apartemen yang plafonnya terlalu tinggi untuk ditinggali seorang diri. Setelah menekan tombol power, ia berdiri diam menunggu air mendidih. Bunyi dengung dari teko yang perlahan memanas mulai memenuhi ruangan, menciptakan distraksi yang ia butuhkan dari pikirannya sendiri.
Ia teringat instruksi Julian di telepon satu jam yang lalu. "Jangan lupa minum susu hangat sebelum tidur, Fely. Aku sudah minta Andre memastikan stok susumu selalu baru di kulkas." Felysha membuka pintu kulkas, merasakan embusan udara dingin menerpa wajahnya. Di rak paling atas, berjejer rapi botol-botol susu dengan merek mahal yang Julian pilihkan. Semuanya berbaris sempurna, seolah-olah sedang mengawasi setiap gerakannya. Ia mengambil satu botol, meraba permukaannya yang berembun, lalu menutup kembali pintu kulkas dengan bunyi deb yang solid.
Jemari Felysha bergerak membuka tutup botol itu, mengeluarkan bunyi krek plastik yang pecah. Ia menuangkan isinya ke dalam gelas keramik, lalu memperhatikannya berputar-putar menciptakan pusaran kecil. Segala sesuatu dalam hidupnya sekarang terasa seperti pusaran itu—teratur, terukur, namun tidak memiliki jalan keluar. Ia merasa apartemen mewah ini, dengan segala fasilitas terbaiknya, mulai menyusut ukurannya setiap hari, mencekik ruang geraknya sampai ia merasa sulit untuk sekadar menarik napas panjang.
Ponsel di atas meja kembali bergetar. Kali ini lebih lama. Felysha akhirnya melangkah kembali ke ruang tamu, meraih benda tipis itu dan membalikkan layarnya.
Julian: Kamu sudah di tempat tidur? Kirimkan foto dirimu yang sudah siap istirahat. Aku ingin memastikan kamu tidak begadang mengerjakan pola lagi.
Felysha menelan ludah, merasakan kerongkongannya yang menyempit. Ia melihat ke arah manekin di sudut ruangan yang masih terbungkus kain biru tua setengah jadi. Ia belum menyelesaikan bagian keliman bawah, padahal Madame Claire meminta draf akhirnya besok pagi. Namun, perintah Julian tidak bisa dibantah. Ia tahu, jika ia tidak mengirimkan foto itu dalam lima menit, Julian akan menelepon Andre, dan Andre akan mengetuk pintunya hanya untuk memastikan ia baik-baik saja.
Dengan gerakan yang mekanis, Felysha berjalan menuju kamar tidurnya. Ia mengganti sweternya dengan piama sutra berwarna krem—juga pemberian Julian. Ia duduk di tepi tempat tidur, merapikan rambutnya sebentar, lalu mengangkat ponselnya setinggi mata. Klik. Cahaya lampu kilat sempat membuat matanya perih sejenak. Ia mengirimkan foto itu tanpa teks tambahan, lalu meletakkan ponselnya di atas nakas dengan posisi layar menghadap ke bawah.
Ia tidak langsung berbaring. Felysha duduk memeluk lututnya, menatap ke arah balkon yang tertutup tirai tebal. Ia merasa seperti sedang menjalankan sebuah rutinitas yang bukan miliknya. Di Jakarta, ia dulu sering mencuci piring sambil bersenandung, atau membantu ibunya menjahit di ruang tengah sambil membicarakan desain-desain aneh yang muncul di kepalanya. Di sini, ia hanya bicara dengan mesin jahit, dengan manekin, dan dengan suara Julian melalui sinyal digital.
Ia turun dari tempat tidur, kakinya yang tidak beralas menyentuh lantai kayu yang terasa sedikit kasar. Felysha berjalan kembali ke ruang tamu tanpa menyalakan lampu tambahan. Ia mendekati meja kerjanya, menyentuh tepian kain biru tua yang terasa dingin di bawah jemarinya. Ia ingin sekali mengambil gunting, memotong sisa benang yang menjuntai, dan menyelesaikan karyanya. Namun, bayangan kamera keamanan di lorong atau laporan Andre yang mungkin saja melihat cahaya lampu studionya masih menyala, membuatnya mengurungkan niat.
Ia merasa terjebak. Bukan terjebak di kota yang buruk, tapi terjebak dalam perhatian yang berlebihan. Julian memberinya "kebebasan" untuk kuliah di Paris, tapi di saat yang sama, Julian memasang tali yang sangat pendek di lehernya. Setiap keping Euro yang ia gunakan untuk membeli perlengkapan jahit adalah pengingat bahwa ia berutang budi. Dan utang budi itu dibayar dengan ketaatan yang mutlak.
Felysha berjalan menuju jendela besar, menyibakkan sedikit tirainya. Di bawah sana, Paris tidak pernah benar-benar gelap. Lampu-lampu jalanan yang berwarna kuning hangat menerangi trotoar yang mulai sepi. Ia melihat sebuah bus malam melintas, lampunya membelah kegelapan jalanan Passy yang elegan. Ia membayangkan orang-orang di dalam bus itu—mungkin mereka baru pulang kerja, mungkin mereka baru saja berkencan, atau mungkin mereka hanya sedang berkeliling karena tidak ingin pulang.
Ia merindukan perasaan itu. Perasaan menjadi orang asing yang tidak dikenal siapa pun. Di apartemen ini, ia merasa identitasnya hanya satu: Milik Julian.
Felysha kembali ke dapur, mengambil gelas susunya yang sudah mendingin. Ia meminumnya dalam satu tarikan napas, meskipun rasanya tawar di lidahnya. Ia mencuci gelas itu di bawah kucuran air keran, memperhatikan bagaimana butiran air menghilang di lubang wastafel. Ia mengelap tangannya dengan serbet, lalu mematikan lampu dapur.
Satu per satu, ia memastikan semua pintu dan jendela terkunci. Bunyi setiap kunci yang berputar memberikan rasa aman yang sekaligus menyesakkan. Ia masuk kembali ke kamar, merebahkan tubuhnya di atas kasur yang terlalu empuk. Ia menatap langit-langit yang tinggi, mencoba menghitung berapa hari lagi ia harus menjalani rutinitas seperti ini.
Kegelisahan itu merayap naik, membuat dadanya terasa sesak. Felysha memejamkan mata, namun yang ia lihat bukan kegelapan yang menenangkan, melainkan wajah Julian yang tersenyum di layar ponsel, wajah ibunya yang menangis di Jakarta, dan manekin di studio yang seolah sedang menatapnya. Ia membalikkan posisi tidurnya ke arah kiri, lalu ke kanan, namun tidak ada posisi yang terasa nyaman.
Di tengah kesunyian malam Paris, Felysha Anindhita menyadari bahwa ia tidak benar-benar sedang hidup. Ia hanya sedang menunggu instruksi selanjutnya. Dan rasa terjebak itu mulai tumbuh menjadi dorongan yang berbahaya—dorongan untuk melangkah keluar, melepaskan semua pengawasan ini, meskipun hanya untuk satu jam di bawah lampu kota yang tidak mengenalnya.