Sebuah rumah kontrakan tua di pinggiran kota terlihat seperti rumah biasa.
Catnya kusam, halamannya sepi, dan harganya sangat murah. Terlalu murah untuk ukuran rumah sebesar itu.
Karena kebutuhan dan kondisi keuangan, tiga sahabat Raka, Bima, dan Siska memutuskan untuk menempatinya tanpa banyak bertanya.
Namun sejak malam pertama, mereka mulai menyadari bahwa rumah itu menyimpan sesuatu yang tidak biasa.
Pintu sering terbuka sendiri.
Kursi goyang bergerak tanpa ada yang menyentuh. Terdengar suara langkah dari loteng setiap tengah malam.
Dan yang paling mengejutkan… rumah itu ternyata sudah lama dihuni oleh makhluk tak kasat mata.
Pocong yang suka memasak mie di dapur. Kuntilanak yang gemar menonton sinetron.
Hingga sosok misterius dari kamar belakang yang jarang muncul, namun selalu membuat bulu kuduk berdiri.
Di rumah itu, manusia dan hantu hidup berdampingan… meski tidak selalu damai.
Karena satu per satu rahasia rumah tersebut mulai terungkap.
ini bukan rumah biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan di Tengah Malam
Serangan di Tengah Malam
Malam belum beranjak terlalu jauh ketika suasana di rumah tua itu berubah menjadi sangat tegang.
Para siluman serigala yang datang membawa kabar buruk kini sedang dirawat oleh Kuntilanak dan Kakek Penjaga Rumah. Beberapa dari mereka mengalami luka cukup parah akibat serangan pasukan vampir.
Di ruang tengah rumah tua, Siska membantu membersihkan luka salah satu siluman serigala dengan kain basah.
Wajahnya terlihat cemas.
“Lukanya dalam sekali…” katanya pelan.
Kakek Penjaga Rumah mengangguk.
“Serangan vampir memang seperti itu. Cakar mereka mengandung energi gelap.”
Di dekat pintu, Bima berdiri sambil memperhatikan keadaan sekitar.
Ia menggenggam perkakas dapur yang biasa ia gunakan untuk bertarung.
“Kalau mereka berani menyerang wilayah serigala… berarti kita juga tidak aman,” kata Bima serius.
Sementara itu di halaman rumah, api unggun kecil menyala menerangi kegelapan malam.
Raka berdiri di tengah halaman bersama Bondan, Ratu Kumbang, dan Neli.
“Berapa banyak pasukan vampir yang menyerang wilayah kalian?” tanya Raka kepada salah satu siluman serigala yang terluka.
Siluman itu menjawab dengan napas berat.
“Ratusan…”
Semua langsung terdiam.
“Dan mereka dipimpin vampir tingkat tinggi.”
Bondan menggeram pelan.
“Kalau begitu ini bukan sekadar serangan kecil.”
Neli mengepalkan tangannya.
“Ini jelas bagian dari rencana perang.”
Ratu Kumbang menatap ke arah hutan gelap.
“Target mereka pasti tempat ini.”
Tiba-tiba—
WHUUUSSSHHH!!
Angin dingin berhembus kencang dari arah hutan.
Api unggun bergoyang liar.
Kakek Penjaga Rumah yang keluar dari rumah langsung berteriak,
“Semua bersiap!”
Bima langsung berdiri di depan pintu rumah untuk melindungi Siska.
“Apa pun yang terjadi, kamu tetap di dalam,” kata Bima.
Siska menggeleng.
“Tidak! Aku juga bisa membantu!”
Beberapa detik kemudian…
Puluhan bayangan hitam melompat keluar dari balik pepohonan.
Mata merah menyala di tengah kegelapan.
Bondan langsung berubah setengah wujud menjadi siluman harimau.
“Pasukan vampir!”
Dalam sekejap mereka menyerbu halaman rumah.
Pertempuran langsung pecah.
Lodra melepaskan ledakan energi hitam yang menghantam beberapa vampir.
Kuntilanak melayang di udara menyerang dengan kekuatan gaibnya.
Pocong Ucup melompat tinggi menghantam vampir dengan pukulan energi.
“Ayo sini kalau berani!” teriaknya.
Di dekat pintu rumah, Bima bertarung melawan dua vampir sekaligus.
Tongkatnya berputar cepat menghantam tubuh para vampir.
DUAAAK!
Salah satu vampir terpental.
Namun vampir lainnya hampir menyerang dari belakang.
“SISKA!” teriak Bima.
Tiba-tiba Siska mengangkat tangannya.
Energi cahaya putih keluar dari telapak tangannya dan menghantam vampir itu.
BLAAAR!
Vampir tersebut terpental jauh.
Semua sempat terkejut melihatnya.
Siska sendiri terlihat sedikit kaget dengan kekuatannya.
“Aku… bisa melakukan itu?” gumamnya.
Namun di tengah kekacauan itu…
Tiba-tiba muncul sosok vampir besar dari antara pasukan mereka.
Aura merah gelap menyelimuti tubuhnya.
Ia tersenyum dingin.
“Akhirnya aku menemukan pewaris raja kegelapan.”
Raka menatap tajam.
“Siapa kau?”
Vampir itu menunduk sedikit.
“Aku Jenderal Vampir… tangan kanan Raja Dracula.”
Bondan langsung bersiap menyerang.
Namun vampir itu bergerak sangat cepat.
SRAAASH!!
Ia muncul di depan Neli dan menyerangnya dengan cakar tajam.
Neli menahan serangan itu, tetapi kekuatannya terlalu besar.
Tubuh Neli terpental keras menghantam tanah.
“NELI!” teriak Raka.
Darah terlihat di bibir Neli.
Melihat itu…
Mata Raka perlahan berubah merah gelap.
Aura kegelapan meledak dari tubuhnya.
Tanah di sekitar halaman bergetar hebat.
Para vampir berhenti bergerak.
Jenderal vampir menatap dengan penuh minat.
“Kekuatan itu…”
Raka berjalan perlahan ke depan Neli.
Suaranya berubah berat.
“Kalian… berani menyakitinya.”
Bima dan Siska yang melihat dari kejauhan merasakan tekanan energi yang luar biasa.
Bima berbisik pelan,
“Ini… kekuatan asli Raka.”
Raka mengangkat tangannya.
Aura kegelapan berputar seperti badai.
“Sekarang…”
Matanya bersinar merah menyala.
“Giliran kalian merasakan ketakutan.”
Dan jauh di kastil gelap Eropa…
Raja Dracula tersenyum menatap bulan merah.
“Bangkitlah… pewaris kegelapan.”
“Perang ini baru saja dimulai.”
Jika rasa penasaran kalian sudah tak tertahan, pastikan kalian terus mengikuti perjalanan ini… dan jangan lupa mampir untuk membaca, karena setiap halaman menyimpan rahasia yang tak akan kalian lihat sebelumnya. 🙏
Tulis di komentar ya 👇 Jangan lupa like dan vote supaya cerita ini terus lanjut ke session 2 ya...👍