Bayangkan di sebuah kehidupan indah Bumi, terdapat teror yang di rahasiakan pemerintah semua umat manusia. Teror Iblis, siluman, dan Kaiju.
Umat manusia yang memiliki kekuatan khusus disebut Exorcist mampu melawan 3 musuh besar umat manusia. Tapi umat manusia tidak bisa selamanya menang atau di bilang selalu kalah.
Kekuatan Iblis jauh lebih kuat dari pada Exorcist disebabkan kasta Level, sehingga umat manusia hanya bisa menutupi kekalahan dari teror mengerikan.
Akan tetapi itu tidak selamanya, karena Reyhan seorang siswa SMA biasa di Jakarta mendapatkan sebuah Sistem Pembunuh Iblis. Tugas Sistem itu memberi Reyhan sebuah misi dan kekuatan untuk mengalahkan Iblis-iblis lawan manusia.
Akan tetapi saat Reyhan melangkah lebih jauh sebagai Exorcist, Reyhan semakin tahu bahwa kekuatannya bukan apa-apa untuk Iblis atau Exorcist lainnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacarealitas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. perasaan petir
Zahra menarik nafas pendek dan menyandarkan punggungnya di kursi. "Ngomong-ngomong Reyhan, apa malam ini kita bisa keluar berdua?"
Flower tersenyum jahil, menaikan alisnya karena mengerti itu. "Aku ikut"
Zahra menunjuk Flower dengan main-main. "Tidak boleh, ini urusanku dengan Reyhan"
Flower tertawa dengan menepuk tangannya. "Lucu sekali, baiklah aku tidak akan menganggu"
Zahra kembali menatap Reyhan untuk menunggu setuju darinya. "Jadi bagaimana Reyhan?"
Reyhan mengangguk. "Ya, tapi aku harus piket kelas nanti, jadi tunggu saja"
"Oke tidak masalah" Zahra berdiri dan duduk di kursinya sendiri.
Flower juga berdiri dan duduk kembali di kursi nya, Reyhan mendengar suara Flower yang berbahasa Italia untuk berkomunikasi dengan ponselnya.
Namun tidak semua orang akan membiarkan kesenangan Reyhan terus berlanjut. Anak buah Devan, yang paling kuat dan cerdas adalah Ronald.
Ronald mengintai Reyhan dari balik kaca kelas. "Sayang sekali aku tidak akan membiarkan itu terjadi"
Ronald langsung berjalan pergi untuk memberi tahu anak buah Devan lainnya untuk memberi pelajaran Reyhan.
....
Begitu waktunya tiba, hanya tersisa Reyhan dan Zahra di dalam kelas. Zahra berdiri lalu mengeluarkan kartu dari sakunya.
Reyhan menyipitkan matanya. "Tunggu dulu untuk apa kartu itu?"
Zahra menatap kartunya sebelum kembali ke Reyhan. "Hanya untuk persiapan, senior Zeke menyuruhku untuk mencari keberadaan Gate. Jadi kita akan cari bersama di sekolah ini" tegasnya.
Reyhan mengangkat bahunya. "Yah itu terdengar bagus, tapi aku harus mengajak asistenku" membuka tirai dimana ada Asuna menunggu dengan motor.
Zahra pergi ke sebelah Reyhan, Zahra mengangguk main-main dan tersenyum tak percaya. "Kau buaya ya?"
Reyhan tersentak. "Hei kenapa kau memanggilku begitu? Aku tidak mengerti kenapa kau mengatakan itu"
Zahra mengibas tangannya tak mau mendrngar lagi. "Sudahlah, katakan saja dengan cepat padanya. Aku akan tunggu disini" duduk di meja seolah kesal.
Reyhan sedikit tidak paham kenapa Zahra bertingkah seperti itu, tapi dia langsung membuka jendela. "Asuna!" Teriak Reyhan.
Asuna menoleh ke atas, Reyhan melambaikan tangannya agar Asuna tahu dia memintanya kemari.
Asuna mengangguk paham lalu dia memarkirkan motornya di sekolah dan menatap lantai 3.
"Tuan! Saya akan melompat mohon anda jauhi jendela!" Ucapnya agak keras.
Reyhan mengangguk lalu mundur. "Zahra, jauhi jendela"
Zahra mengerutkan kening. "Memang ada apa? Ada temanmu itu akan datang dari jendela?" Dengusnya.
Reyhan tersenyum seringai. "Iya kau benar"
Wush!, Asuna melompat dan memegang ujung jendela terbuka di kelas Reyhan. Zahra berdiri dengan terkejut.
Asuna menarik dirinya dan saat masuk dia menatap kelas Reyhan dan akhirnya pada Zahra.
"Siapa dia Reyhan?" Tanyanya dengan nada polos.
Reyhan berdehem. "Asuna kau bisa bertingkah seperti biasa saat bersamanya, karena dia tahu siapa aku"
"Oh" wajah Asuna kembali dingin lalu menatap Reyhan. "Kenapa tuan memanggil saya?"
Zahra menghilangkan tangannya menunggu penjelasan dari Reyhan, siapa gadis itu.
Reyhan hendak bicara tapi melihat raut wajah Zahra dia jadi tahu maksudnya. "Zahra dia adalah Asuna, dia juga berkemampuan seperti kita"
"Dia?" Zahra menilai Asuna dengan mengelilingi nya. "Memang dia memiliki energi hitam" Zahra mengerutkan kening. "Reyhan aku tak pernah dengar ada Exorcist memakai energi hitam, dimana kamu bertemu dengannya?"
Reyhan hendak menjawabnya namun pintu terbuka dengan kasar, Ronald masuk diikuti puluhan pria berpenampilan kasar bahkan memenuhi kelas.
Ronald menatap Zahra, Asuna, dan Reyhan lalu tertawa tipis. "Reyhan kau cukup berani ya bersenang-senang sendirian disini, kenapa tidak mengajakku?"
Reyhan mengerutkan keningnya lalu menghadap Ranold. "Kau adalah salah satu anak buah Devan, kenapa kau kemari"
Ranold menyeringai lalu menatap Zahra dan Asuna. "Untuk membawa mereka dan memberimu pelajaran"
"Ayo anak-anak!" Ranold memberi perintah dengan tegas.
"Baik!" Satu anak preman sekolah maju ke depan untuk meraih Zahra.
Namun Zahra mendecakkan lidahnya. "Jangan lakukan itu atau kau akan menyesal"
"Maaf sayang, aku pikir aku tidak akan menyesal karena menyentuhmu" menjilati bibirnya saat melihat tubuh Zahra.
Ronald mengangkat bahunya tak peduli. "Kau tak mau menolongnya Reyhan? Pria macam apa kau ini?"
Reyhan tersenyum. "Dia tak butuh bantuanku karena dia bisa mengatasinya sendiri"
"Yah, dia benar" Zahra dengan gerakan cepat mematahkan tangan preman itu.
"Akhh!" Tangannya mengeluarkan suara patah tulang dan dia jatuh ke lantai.
Ranold tercengang tak percaya. "K-kau bagaimana caramu melakukan itu!" Tunjuk nya dengan marah.
Zahra menggaruk kepalanya karena sudah kesal karena terus berisik. "Dengan begini!" Zahra memukul setiap orang yang mendekat.
Reyhan melirik Asuna dari bahunya. "Pergilah"
Asuna mengangguk lalu menyerang bagiannya sendiri, Ranold melihat dua perempuan Reyhan ternyata bisa bertarung.
"I-ini tidak mungkin nyata! Apalagi Zahra! Bukankah dia hanya gadis biasa di kelas?!"
Reyhan berjalan mendekat dengan perlahan. "Hm tapi itulah kenyataan nya" Reyhan dengan cepat meninju hidung Ranold.
Ranold terpukul mundur dan jatuh menabrak tembok memegangi hidungnya yang berdarah.
"M-mustahil, k-kau juga bisa melakukan itu"
Reyhan menyeringai. "Tentu saja, dan jika kau memberi tahu seseorang tentang kejadian ini maka percayalah kau akan merasakan akibatnya" ancam Reyhan.
Ranold bergidik ketakutan, dia melihat sekitarnya jika anak buahnya tergeletak di lantai karena dua gadis saja.
Zahra menjentikkan jarinya tak sabar. "Reyhan apa kau bisa cepat sedikit? 1 jam lagi sudah malam dan Iblis mungkin akan lebih aktif di sekolah"
Reyhan mengangguk mengerti. "Ya Zahra" Reyhan menatap Ranold lagi. "Maaf tapi ini akan sedikit sakit" Reyhan memukul wajah Ranold sampai pingsan.
Setelah itu Reyhan dan mereka berdua mencari keberadaan Gate melalui energi negatif yang paling pekat.
Setelah cukup lama mencari, mereka tahu jika energi itu berasal dari ruang guru. Tapi Zahra tidak akan sembarangan masuk karenabada CCTV.
"Reyhan, kita akan masuk tapi bukan sekarang. Karena ada Cctv maka kita semua akan terkena masalah"
Reyhan menatap ke pintu ruang guru dengan kesal. "Sial padahal sedikit lagi aku bisa melihat Gate"
Zahra menatap Reyhan dengan aneh. "Apa kau tidak pernah lihat Gate? Padahal gatenya sama saja dengan kartu yang memunculkan Gate" memegang kartu Gate.
Reyhan memandang kartu itu. "Sebentar, karena kita tidak jadi masuk apa rencana di batalkan?"
Zahra mengangguk pasrah. "Ya, aku tidak punya pilihan selain menunggu Gate nya aktif atau Senior Zeke datang"
Zahra melihat keluar jika matahari sudah tenggelam dan sekolah di terangi lampu. "Baiklah, karena sudah malam mari kita akhiri disini saja dan kembali besok pagi dengan rencana baru" Zahra berdiri lalu pergi duluan.
Reyhan memandang punggung Zahra lalu memerhatikan Asuna yang seperti cemas. "Asuna, ada apa?"
Asuna menekan dadanya dengan cemas. "Tuan saya merasakan entitas kuat disini, saya rasa kita harus segera keluar dari sini"
Reyhan terkejut tapi dia segera mengangguk dan pergi pulang. Saat dia naik motor, ia melihat sekolah nya di perjalanan.
"Entitas kuat..." Gumamnya.
....
Ketika tiba di rumahnya, Reyhan melihat ibunya tidak ada di rumah jadi Reyhan langsung segera mandi dan bersiap berlatih di balkon atas.
Saat dia tiba, Reyhan mengeluarkan pedang petir putih.
"Tuan" Asuna datang memakai pakaian Maiden yang membuat Reyhan tertegun sekaligus malu.
"Tuan saya disini bekerja sebagai pelayan anda, jadi saya akan melayani tuan selama di rumah ini" Asuna meletakan nampan berisi air dan kue kering di mangkuk.
Reyhan mengangguk gugup. "O-oke, kamu cukup berdiri saja disana aku akan berlatih menggunakan petirku"
Asuna mengangguk dengan mata terpejam, Reyhan menarik nafas lalu menggeleng kepala.
[Host, anda akan berlatih energi petir maka cuaca akan terpangaruh jadi host harus siap-siap]
Reyhan mengangguk mengerti. "Lakukan"
[Baik, host hanya perlu menarik nafas dalam-dalam dan merasakan energi listrik di otot host lalu mengeluarkan seperti air, semakin besar semakin kuat tapi semakin boros begitu pula sebaliknya]
Reyhan melakukan apa yang seperti di katakan sistem, aura petir nya samar-samar terlihat di tubuhnya.
Asuna saja sedikit melebarkan matanya karena itu petir yang sangat ganas.
Reihan menarik nafas lalu membuka matanya.
"Jedar!"
Petir putih panjang dan beruntun menyambar langit atas, cuaca menjadi mendung dan seketika hujan.
[Bagus, sekarang host hanya perlu memahami perasaan petir agar bisa memakai pedang petir]
Reyhan mengangguk mengerti. "Perasaan petir... " Reyhan memejamkan matanya lalu terbuka. "Perasaan petir adalah, emosi!"
"Jedar!"
Petir menyambar lagi tapi kali ini lebih panjang dan beruntun sampai membuat listrik harus padam.
.....