menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 4
Aria Putri tidak mempedulikan peringatan terakhir itu. Ia membalikkan badan dengan anggun, membiarkan rambutnya terayun saat ia melangkah menjauh meninggalkan gerombolan tersebut.
Baginya, tugas menegakkan aturan adalah yang utama, dan ia yakin ancaman memanggil orang tua adalah senjata paling ampuh untuk menundukkan murid nakal manapun.
Sasha hanya berdiri mematung, menatap punggung Aria yang menghilang di tikungan jalan. Ia menghela napas panjang, sebuah napas yang berat dan penuh tekanan.
Jemarinya bergetar hebat—bukan karena takut, melainkan karena ia sedang sekuat tenaga menahan monster di dalam dirinya agar tidak meledak.
Ia tahu, jika ia membiarkan tangannya melayang satu kali saja ke wajah sang Ketua OSIS, mungkin Aria tidak akan pernah bisa bangun lagi.
"Sialan," desis Sasha pelan, mengabaikan teman-temannya yang mulai bertanya-tanya.
---
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat sebuah taksi berhenti di depan gerbang raksasa yang terbuat dari besi tempa berlapis emas.
Di balik gerbang itu, terhampar sebuah dunia yang sangat kontras dengan kehidupan jalanan Sasha.
Sasha turun dari taksi, masih mengenakan *hoodie* putih yang kini kotor dan beraroma asap rokok. Ia berjalan menyusuri jalan setapak panjang yang membelah tanah seluas 15 hektar tersebut.
Di sana, kemewahan tidak lagi berteriak, melainkan berbisik dengan sombong.
Rumah itu lebih mirip istana modern. Taman-taman bergaya Prancis dengan air mancur kristal yang menyala di bawah lampu sorot, deretan mobil *supercar* yang terparkir rapi di garasi transparan, hingga pilar-pilar marmer Carrara yang menjulang tinggi menopang atap bangunan utama.
Lampu gantung *chandelier* yang terlihat dari jendela besar di lantai bawah cukup untuk membeli sepuluh sekolah seperti SMA Garuda Bangsa.
Inilah kenyataan hidup Sasha Arka; seorang anak dari keluarga konglomerat yang hartanya tidak akan habis tujuh turunan, namun ia memilih hidup seperti gelandangan.
Saat pintu ganda setinggi empat meter itu terbuka otomatis, embusan udara sejuk dari *central air conditioner* menyambutnya.
"Selamat datang kembali, Nona Sasha," sambut lima orang pelayan yang membungkuk serentak dalam barisan yang rapi.
Sasha tidak menyahut. Ia terus berjalan dengan langkah berat, sepatunya yang berlumpur meninggalkan jejak di atas lantai granit yang mengkilap.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi—Sang Kepala Pelayan—melangkah mendekat dengan sopan. "Nona, Anda baru pulang? Kami sangat khawatir. Apakah Anda ingin makan malam? Meja makan sudah disiapkan dengan menu favorit Anda."
Sasha menoleh sekilas ke arah ruang makan yang luasnya menyerupai aula hotel. Di atas meja panjang berbahan kayu jati langka, puluhan piring berisi makanan mewah mulai dari *wagyu steak* hingga *lobster* tersaji indah di bawah cahaya lampu temaram. Namun, pemandangan itu justru membuat perutnya mual.
"Aku malas," jawab Sasha singkat, suaranya terdengar sangat letih. "Aku ingin tidur saja. Jangan biarkan siapa pun menggangguku, termasuk orang tuaku jika mereka pulang."
"Tapi Nona, Anda belum makan sejak—"
"Aku bilang aku ingin tidur!" bentak Sasha tanpa menoleh lagi.
Ia menaiki tangga melingkar yang megah menuju kamarnya di lantai tiga. Begitu sampai di kamar yang luasnya lebih besar dari seluruh rumah warga biasa,
Sasha langsung melempar tasnya ke pojok ruangan. Ia masuk ke kamar mandi, membiarkan air hangat dari *rain shower* membasuh kotoran dan bau jalanan dari tubuhnya.
Setelah selesai, ia hanya mengenakan kaos tipis dan menjatuhkan dirinya ke atas kasur *king size* yang sangat empuk. Ia menatap langit-langit kamar yang dihiasi lukisan tangan yang indah.
Di tengah kemewahan yang memuakkan ini, Sasha merasa sangat hampa. Bayangan wajah Aria dan ancamannya tentang orang tua kembali melintas, namun rasa kantuk yang luar biasa akhirnya menariknya ke dalam kegelapan.
Sasha tertidur, membiarkan dunia luar dan segala aturan sekolahnya lenyap sejenak dalam sunyi.
---
Heningnya malam di kediaman keluarga Arka baru terpecah saat jarum jam hampir menyentuh angka dua belas. Suara deru mesin mobil mewah yang halus terdengar di depan lobi utama istana tersebut.
Pintu besar terbuka, menampakkan sosok ayah Sasha, seorang pria paruh baya dengan wibawa yang luar biasa, mengenakan setelan jas Italia yang masih tampak rapi meski gurat kelelahan terpahat jelas di wajahnya.
Ia menyerahkan tas kantornya kepada seorang pelayan yang sudah bersiaga, lalu matanya menyapu ruangan luas yang terasa dingin itu. "Di mana Sasha? Apa dia sudah pulang?" tanyanya dengan suara bariton yang tenang.
Kepala pelayan segera maju dan membungkuk hormat. "Sudah, Tuan. Nona Sasha pulang sekitar pukul sembilan malam tadi."
Ayah Sasha melirik ke arah meja makan yang masih penuh dengan hidangan mewah yang kini sudah mendingin. "Dia sudah makan? Kenapa makanannya masih utuh?"
Kepala pelayan tersebut tampak ragu sejenak sebelum menjawab, "Nona menolak untuk makan, Tuan. Beliau terlihat sangat lelah dan langsung menuju kamarnya. Pesannya adalah tidak ingin diganggu oleh siapa pun."
Mendengar hal itu, ayah Sasha hanya bisa menghela napas panjang.
Ada beban berat yang tersirat dalam embusan napasnya—sebuah campuran antara rasa bersalah, frustrasi, dan ketidakberdayaan menghadapi putri tunggalnya yang semakin hari semakin menjauh dari jangkauannya. "Ya sudah.
Biarkan dia istirahat. Aku juga ingin beristirahat," ucapnya pelan sambil melangkah menaiki tangga marmer menuju kamarnya sendiri, meninggalkan kemewahan ruang tengah yang terasa hampa tanpa kehangatan keluarga.
---
Di sisi lain kota, di sebuah lingkungan perumahan yang tenang dan padat, berdiri sebuah rumah dua lantai yang sederhana namun terawat dengan sangat baik. Di lantai atas, cahaya lampu meja belajar masih menyala terang dari sebuah jendela.
Di dalam kamar itu, Aria Putri duduk dengan posisi yang sempurna. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda ia akan menyerah pada kantuk. Di atas mejanya, buku-buku latihan ujian akhir bertumpuk rapi, dan ia baru saja menyelesaikan baris terakhir dari penyelesaian soal kalkulus yang rumit.
Aria adalah definisi dari kerja keras; ia tahu bahwa baginya, masa depan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dengan peluh, bukan sesuatu yang diwariskan.
Pintu kamarnya terbuka perlahan dengan bunyi derit halus. Ibunya masuk sambil membawa segelas susu hangat di atas nampan kecil.
"Aria, sudah malam sekali, Nak. Jangan terlalu memaksakan diri," ucap ibunya dengan suara lembut yang menenangkan.
Aria menoleh dan tersenyum tipis—sebuah senyum tulus yang tidak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun di sekolah.
Ia menerima gelas itu dengan kedua tangannya. "Terima kasih, Ibu. Tinggal sedikit lagi, aku harus memastikan bab ini selesai malam ini agar besok aku bisa fokus pada urusan OSIS."
"Ibu bangga padamu, tapi kesehatanmu juga penting. Minumlah susunya, lalu segera tidur ya?" sang ibu mengusap bahu putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Bu. Aria sebentar lagi selesai," jawabnya patuh.
Setelah ibunya keluar, Aria menyesap susu hangatnya, merasakan kehangatan yang menjalar di tubuhnya. Ia menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan malam. Di kepalanya, ia masih memikirkan kekacauan yang dibuat Sasha tadi sore.
Perbedaan dunia mereka begitu nyata. Di satu sisi, ada Sasha yang memiliki segalanya namun seolah ingin menghancurkan dunia dan dirinya sendiri di balik tembok istana yang dingin.
Di sisi lain, ada Aria yang memiliki keterbatasan namun berusaha membangun dunianya dengan disiplin baja di dalam rumah kecil yang penuh kasih.
Dua kutub yang berbeda ini kini terpaksa berada di dalam satu ruang kelas, menunggu ledakan besar yang mungkin akan terjadi esok pagi saat ancaman Aria benar-benar dilaksanakan.
Bersambung...