Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Danu baru saja hendak memejamkan mata ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya.
Tok… tok… tok…
Danu membuka mata dan menoleh ke arah pintu.
“Siapa?” tanyanya.
“Mas… saya, Jaki.”
Danu bangkit lalu berjalan membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, terlihat Jaki, salah satu karyawan bengkelnya, berdiri di depan pintu dengan wajah sedikit canggung. Di tangannya ada gantungan kunci bengkel.
“Jaki? Jam segini?” tanya Danu heran.
“Maaf, Mas… ganggu sebentar.”
“Ada apa?”
Jaki mengangkat gantungan kunci itu.
“Saya mau ngasih ini, Mas. Kunci bengkel. Tadi saya yang terakhir nutup bengkel, jadi sekalian saya antar.”
Danu melihat kunci itu sebentar lalu tersenyum kecil.
“Udah, kamu aja yang pegang, Jak.”
Jaki terlihat bingung. “Loh, Mas?”
Danu bersandar di kusen pintu.
“Toh besok kalian libur sehari.”
Jaki mengangguk.
“Besoknya lagi baru bengkel buka dan kemungkinan aku juga nggak langsung ke sana. Paling setelah akad dua hari baru sempat ke bengkel.”
Jaki mengangguk mengerti.
“Oh… iya juga.”
Ia lalu tersenyum dan berkata santai,
“Saya besok datang, Mas. Sama anak-anak bengkel juga. Lagian besok mas kasih libur sehari.”
Danu tertawa kecil.
“Datang saja.”
Jaki mengangguk, lalu tiba-tiba menatap Danu dengan ekspresi sedikit jahil.
“Eh, Mas…”
“Apa?”
“Gimana… udah hafal akadnya?”
“Iya sih, Mas.”
“Gimana… udah hafal akadnya?”
Danu langsung menghela napas.
“Hafal.”
Jaki menyeringai.
“Coba sini latihan dulu.”
Danu menatapnya datar.
“Jam segini kamu mau jadi wali?”
Jaki langsung tertawa.
“Boleh juga, Mas.”
Danu mengambil bantal dari ranjang dan melemparkannya ke arah Jaki.
“Sudah sana pulang.”
Jaki menahan tawa sambil mundur.
“Iya, iya. Saya pulang.”
Sebelum benar-benar pergi, ia berkata lagi,
“Mas jangan grogi besok ya.”
Danu menggeleng sambil tersenyum.
“Pergi kamu.”
Jaki akhirnya berjalan keluar rumah. Tak lama suara motor menyala pelan sebelum menjauh dari halaman.
Danu menutup pintu kembali.
Kamar kembali sunyi.
Ia duduk lagi di tepi ranjang.
Ucapan Jaki tadi membuatnya tersenyum sendiri.
Pelan-pelan ia mengucapkan dalam hati kalimat yang besok akan ia lafalkan di depan semua orang.
Kalimat yang sederhana.
Tapi cukup untuk mengubah seluruh hidupnya.
Danu menutup pintu kamar kembali.
Rumah sudah benar-benar sunyi sekarang. Suara orang-orang di luar hampir tidak terdengar lagi. Hanya sesekali angin malam menggerakkan kain tenda di halaman.
Ia kembali duduk di tepi ranjang.
Ucapan Jaki tadi masih terngiang.
“Udah hafal akadnya?”
Danu menghela napas pelan.
Tangannya meraih ponsel di meja. Ia membuka layar, lalu beberapa detik hanya menatapnya tanpa melakukan apa-apa.
Kemudian jarinya bergerak membuka galeri.
Bukan galeri utama.
Ia masuk ke folder khusus yang jarang sekali ia buka.
Folder yang bahkan tidak pernah ia ceritakan pada
Siapa pun.
Di dalamnya ada beberapa foto lama.
Foto-foto Ara.
Bukan foto baru.
Foto saat Ara masih SMA.
Foto yang ia ambil diam-diam bertahun-tahun lalu.
Ada foto Ara sedang duduk di bangku taman sekolah, rambutnya diikat sederhana sambil membaca buku. Ada juga foto ketika Ara sedang berdiri bersama teman-temannya, tertawa tanpa sadar ada yang memotret dari jauh.
Danu tersenyum tipis.
Foto itu diambil bertahun-tahun lalu.
Semua foto itu tidak pernah Ara ketahui
Foto-foto itu ia simpan di folder tersembunyi.
Bukan karena sesuatu yang aneh.
Tapi karena waktu itu perasaan itu belum punya tempat.
Bertahun-tahun setelah foto itu diambil…
Besok ia akan mengucapkan akad untuk gadis yang sama.
Danu terkekeh kecil.
“Kalau kamu tahu…” gumamnya pelan.
Ia mematikan layar ponselnya.
Bukan karena ingin menyembunyikan lagi.
Tapi karena ia merasa cukup.
Foto-foto itu dulu hanya kenangan diam-diam.
Sekarang tidak lagi.
Besok ia tidak perlu lagi menyimpan Ara dalam folder rahasia.
Karena besok…
Ara akan menjadi bagian dari hidupnya yang paling nyata.
Danu meletakkan ponselnya kembali di meja.
Ia merebahkan tubuhnya di ranjang, menatap langit-langit kamar sebentar sebelum akhirnya memejamkan mata.
Malam semakin tenang.
Dan perlahan, rasa yang dulu hanya berani ia simpan diam-diam…
Akan resmi ia jaga seumur hidup.
Di rumah Ara, malam juga berjalan pelan.
Ara belum benar-benar tidur.
Ia masih duduk bersandar di kepala ranjang, memeluk bantal. Rambutnya yang tadi dikeringkan masih terasa wangi bunga melati.
Ponselnya ada di tangan.
Ia membuka percakapan terakhir dengan Danu.
Tidak ada pesan baru.
Ara tersenyum kecil.
“Aneh ya…” gumamnya pada diri sendiri.
Ia masih menatap layar ponsel ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka lagi dengan agak cepat.
Ibunya berdiri di ambang pintu dengan tangan di pinggang.
“Kamu belum tidur juga?”
Ara langsung kaget sedikit lalu menoleh.
“Eh… Bu…”
Ibunya masuk beberapa langkah, wajahnya terlihat kesal tapi juga khawatir.
“Ini sudah malam sekali, Ara.”
Ara tersenyum kecil, mencoba menenangkan.
“Iya, Bu. Sebentar lagi juga tidur.”
Ibunya menghela napas panjang.
“Besok kamu akad. Pagi-pagi sudah harus siap. Make up, baju, belum tamu datang… kamu malah masih melek.”
Ara menunduk sedikit, seperti anak kecil yang sedang dimarahi.
“Tadi cuma lihat HP sebentar.”
Ibunya langsung mengambil ponsel dari tangan Ara dan meletakkannya di meja.
“Sudah. Tidak ada lagi ‘sebentar’.”
Ara hanya bisa tertawa pelan.
“Iya, Bu.”
Ibunya masih berdiri beberapa detik, memperhatikan wajah Ara yang sebenarnya terlihat tenang.
Nada suaranya akhirnya sedikit melembut.
“Kamu ini dari kecil kalau besok ada acara penting selalu begini. Bukannya tidur cepat malah bengong.”
Ara mengangkat wajahnya.
“Deg-degan sedikit, Bu.”
Ibunya menghela napas lagi, tapi kali ini sambil tersenyum tipis.
“Deg-degan boleh. Tapi tetap harus tidur.”
Ara mengangguk patuh.
“Iya.”
Ibunya lalu menarik selimut Ara sampai menutup kakinya seperti saat ia masih kecil dulu.
“Sudah. Tutup lampunya.”
Ara menurut. Ia mematikan lampu kecil di samping ranjang.
Kamar langsung menjadi lebih gelap.
Ibunya berjalan ke pintu, lalu berhenti sebentar sebelum keluar.
“Ara…”
“Iya, Bu?”
“Besok jangan nangis duluan sebelum akad.”
Ara langsung tertawa kecil di dalam gelap.
“Belum tentu juga.”
Ibunya menggeleng pelan.
“Tidur.”
“Iya, Bu.”
Pintu kamar akhirnya benar-benar ditutup.
Kamar menjadi sunyi.
Ara berbaring pelan di ranjangnya.
Menatap langit-langit kamar yang sudah ia lihat sejak kecil, walaupun sekarang hanya terlihat samar dalam gelap.
Besok pagi…
Ia akan duduk di ruang yang sama sekali berbeda.
Mengenakan kebaya pengantin.
Mendengar seseorang mengucapkan akad untuknya.
Ara menarik napas panjang.
Lalu memejamkan mata.
Malam itu akhirnya benar-benar tenang.
Malam terakhir sebelum dua hidup yang berbeda…
Akan resmi berjalan dalam satu arah yang sama.