Episode 1 – Pertemuan yang Tak Pernah Terduga
Arga Wibawa adalah putra dari seorang ayah yang memiliki perusahaan ternama di Jakarta. Takdir mempertemukannya kembali dengan Alya Putri Kirana, cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Sejak perpisahan mereka di bangku SMA, Arga harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Bali karena ayahnya mendapatkan proyek besar di sana. Mau tak mau, Arga meninggalkan Jakarta dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Pulau Dewata. Meski waktu terus berjalan, bayangan Alya tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, Arga akhirnya lulus dari kuliahnya. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari sang pujaan hati. Sebulan setelah kelulusannya, Arga bersiap dan terbang menuju kota yang penuh kenangan itu.
Setibanya di Jakarta, Arga mulai mencari pekerjaan sambil berusaha menelusuri keberadaan Alya.
Sementara itu, kehidupan Alya tak berjalan semulus ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandi Wabaswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 – Di Antara Napas dan Harapan
Alya menanti dengan penuh harap agar ayah dan suaminya segera diberikan kesembuhan. Di ruang tunggu rumah sakit yang sunyi, ia terus melangitkan doa, memohon keajaiban dari Sang Pencipta.
Tak berselang lama, dokter keluar dari ruang perawatan. Kabar baik pun datang. Ayah Alya akhirnya siuman. Namun, sesuai saran dokter, beliau belum diperbolehkan untuk diajak berbicara dan harus mendapatkan waktu istirahat yang cukup agar kondisinya segera pulih.
“Dok, bagaimana keadaan ayah saya?” tanya Alya dengan suara bergetar, menahan cemas.
“Pak Hermawan sudah menunjukkan perkembangan yang baik. Namun, beliau masih membutuhkan banyak istirahat dan belum boleh terlalu banyak beraktivitas. Untuk sementara, kami akan memindahkan beliau ke ruang rawat inap agar pengawasannya lebih maksimal,” jelas dokter dengan nada tenang.
Alya mengangguk pelan. Rasa syukur mengalir di dadanya. Setidaknya, satu harapan mulai menunjukkan sinarnya.
Namun, di sudut lain rumah sakit itu, Arga masih terbaring tak sadarkan diri, berjuang di antara hidup dan mati.
Hari demi hari pun berlalu. Kondisi Ayah Alya perlahan membaik. Wajahnya kini tampak lebih segar, meski tubuhnya masih terlihat lemah.
“Ayah…” panggil Alya dengan suara bergetar. “Bagaimana keadaan Ayah sekarang?”
“Alhamdulillah, Nak. Keadaan Ayah semakin membaik,” jawab Pak Hermawan sambil tersenyum tipis.
Pak Hermawan terdiam sejenak, lalu menatap putrinya penuh cemas.
“Bagaimana keadaan Arga, Nak?”
Alya menunduk. Air matanya kembali menggenang.
“Arga belum juga siuman, Yah. Sudah seminggu ia koma sejak penyerangan Rayhan dan anak buahnya.”
Wajah Pak Hermawan seketika berubah muram.
“Begitu kejamnya Rayhan… Ayah kira dia laki-laki baik. Ternyata…” Suaranya terhenti, dadanya terasa sesak.
Perlahan, air mata menetes dari sudut matanya.
“Maafkan Ayah, Nak. Seandainya Ayah tidak egois dan memaksakan kehendak, mungkin semua ini tak akan terjadi. Maafkan Ayah…”
Ibu tiri Alya pun tak mampu menahan tangisnya.
Alya segera memeluk keduanya.
“Sudah, Yah… Bu… Alya sudah memaafkan. Jangan lagi menyalahkan diri sendiri. Yang penting sekarang kita bersama-sama mendoakan Arga agar segera sembuh.”
Seminggu pun kembali berlalu.
Di ruang perawatan, Alya setia duduk di sisi tempat tidur Arga, menggenggam tangan suaminya, tak henti melantunkan doa.
Tiba-tiba, jemari Arga bergerak perlahan. Sangat lemah, namun nyata.
“Alya…” lirih Arga, nyaris tak terdengar.
Tubuh Alya membeku. Ia menatap wajah Arga tak percaya.
“Arga…?” suaranya gemetar, air mata kebahagiaan mengalir deras.
Tangannya mencengkeram jemari Arga lebih erat.
“Alhamdulillah… kamu sadar, Ga…”
“Dok, dokter…” panggil Alya dengan suara gemetar.
Dokter segera menghampiri.
“Ada apa, Bu?”
“Dok, suami saya sudah sadar,” ucap Alya dengan mata berkaca-kaca.
“Alhamdulillah. Sebentar, saya periksa dulu keadaannya,” jawab dokter sambil mendekati tempat tidur Arga.
Dokter memeriksa kondisi Arga dengan saksama: tekanan darah, denyut nadi, serta respons tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, dokter menoleh ke arah Alya.
“Bagaimana, Dok?” tanya Alya cemas.
“Keadaan pasien sudah mulai membaik. Namun, kami harus terus memantau kondisinya secara rutin karena benturan di bagian kepalanya cukup keras. Pasien perlu istirahat total dan pengawasan intensif.”
Alya mengangguk pelan. Air matanya jatuh tanpa mampu ia tahan.
Segala penantian, doa, dan ketakutannya akhirnya terbayar. Harapan yang sempat redup kini kembali menyala.
Hari demi hari berlalu. Keadaan ayah Alya semakin membaik hingga akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Sementara itu, kondisi Arga juga terus menunjukkan perkembangan yang positif. Dokter menyatakan bahwa beberapa hari lagi Arga sudah boleh pulang, meskipun ia masih harus menghindari aktivitas berat.
Kedua orang tua Alya pun menghampiri kamar tempat Arga dirawat.
Krek… suara pintu terdengar saat dibuka.
“Bagaimana keadaanmu, Nak?” tanya Ayah Hermawan dengan wajah penuh harap.
“Alhamdulillah, keadaanku sudah jauh lebih baik, Yah,” jawab Arga tersenyum lemah.
“Bagaimana dengan ayah?”
“Alhamdulillah, ayah sudah diperbolehkan pulang,” jawab Ayah Hermawan dengan mata berbinar.
Suasana haru dan syukur menyelimuti ruangan itu.
Namun, di sisi lain, di balik jeruji besi penjara, Rayhan masih menyimpan dendam yang membara. Rasa sakit hati dan kebenciannya kepada Arga dan Alya semakin menguat karena mereka telah membuatnya mendekam di balik penjara.
Tatapan matanya penuh amarah, seolah merancang sesuatu yang belum berakhir.
Langit sore tampak mendung ketika Arga akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Tubuhnya masih lemah, namun semangat hidupnya kembali menyala. Alya setia menggenggam tangannya, seolah tak ingin melepaskan sedetik pun.
Mobil berhenti di depan rumah sederhana yang kini menjadi tempat mereka memulai kehidupan baru.
Saat Arga turun perlahan dari mobil, langkahnya terhenti.
Seorang pria paruh baya berdiri di depan rumah. Rambutnya sudah memutih di beberapa bagian, wajahnya tampak menua, namun sorot matanya masih sama.
“Arga…”
Suara itu bergetar.
Tubuh Arga membeku. Jantungnya berdetak kencang. Ia mengenali suara itu, suara yang selama ini hanya hadir dalam ingatan.
“Ayah…?”
bersambung...
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰