NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Malam Sebelum Badai

H-1.

Aku bangun sebelum matahari terbit. Bukan karena aku tidak bisa tidur—aku bisa, dan anehnya tidurku nyenyak semalaman. Mungkin karena tubuh ini sudah terlalu lelah. Atau mungkin karena pikiranku akhirnya tenang setelah rencana tersusun rapi.

Aku duduk di beranda, menatap langit yang mulai memucat di ufuk timur. Udara pagi masih dingin, membawa bau embun dan tanah basah. Di dapur, samar-samar terdengar Hyun Moo menyiapkan sarapan.

Dua hari terakhir terasa seperti mimpi.

Dari pria tua yang setia tapi putus asa, Hyun Moo berubah menjadi prajurit yang matanya menyala. Setiap kali melihat karung mesiu, ada getaran di tubuhnya—campuran antara takut dan kagum. Aku tahu perasaan itu. Aku mengalaminya juga saat pertama kali melihat efek ledakan.

Tapi hari ini bukan hari untuk kagum-kaguman.

Hari ini adalah hari eksekusi.

---

Sarapan selesai dalam diam. Kami makan bubur yang sama seperti biasa, tapi rasanya berbeda. Mungkin karena ini bisa jadi sarapan terakhir.

"Hyun Moo," kataku setelah mangkuk kosong. "Kau yakin dengan ini?"

Pria tua itu menatapku. "Tuan, sejak kau bangun dari koma, kau selalu bertanya apakah aku yakin. Aku akan jawab sekali lagi: ya. Aku yakin."

"Tapi kau bisa mati."

"Aku sudah hidup empat puluh tahun lebih lama dari yang seharusnya." Dia tersenyum tipis. "Patriark menyelamatkanku saat aku muda. Sekarang waktunya membayar utang itu."

Aku diam. Tidak ada yang bisa kukatakan.

---

Kami mulai bekerja setelah matahari benar-benar terbit.

Pertama: menyiapkan "hadiah".

Aku punya sepuluh wadah besi. Bekas panci, periuk, dan tempat air yang sudah tidak terpakai. Hyun Moo menemukannya di gudang belakang—peninggalan zaman kejayaan klan. Besinya tebal, kuat. Sempurna untuk jadi bom fragmen.

Dengan hati-hati, aku mengisi setiap wadah dengan mesiu. Satu genggam, dua genggam, tiga genggam—tergantung ukuran wadah. Lalu kutambahkan pecahan besi kecil—paku, potongan bilah pedang rusak, serpihan logam—untuk jadi fragmen.

Hyun Moo mengawasi dengan tegang.

"Tuan, ini... ini sangat berbahaya."

"Aku tahu."

"Kalau satu saja meledak sekarang..."

"Aku tahu."

Tanganku tidak gemetar. Itu yang mengejutkanku. Di kehidupan sebelumnya, saat menangani bahan berbahaya, aku selalu ekstra hati-hati sampai gemetar. Tapi sekarang? Mungkin karena taruhannya lebih besar. Mungkin karena aku sudah mati sekali.

Setelah semua wadah terisi, aku menutupnya rapat-rapat. Hanya menyisakan lubang kecil di tutupnya untuk sumbu.

Sumbu.

Aku membuat sumbu dari kain yang direndam minyak dan sendawa, lalu dikeringkan. Panjangnya bervariasi—ada yang tiga puluh sentimeter, ada yang setengah meter. Waktu bakarnya sekitar satu sentimeter per detik. Cukup untuk memberi jeda tiga puluh sampai lima puluh detik.

Cukup untuk lari.

---

Sore harinya, kami berangkat.

Hyun Moo memimpin jalan. Dia tahu medan ini seperti punggung tangannya—setiap jalur, setiap celah, setiap titik buta penjaga. Aku mengikutinya dengan membawa karung besar di punggung. Berat. Tapi tubuh ini sudah jauh lebih kuat dari seminggu lalu.

Kami tidak langsung menuju Aula Leluhur. Terlalu berisiko. Sebaliknya, Hyun Moo membawaku ke sebuah bukit kecil sekitar setengah li dari markas. Dari sini, Aula Leluhur terlihat jelas—bangunan megah dengan atap bersusun, halaman luas di depannya, dan puluhan obor yang mulai dinyalakan untuk menyambut malam.

"Di sana," bisik Hyun Moo, menunjuk. "Halaman itu. Besok pagi, semua akan berkumpul di sana."

Aku mengamati. Halaman itu cukup luas—mungkin seratus meter persegi. Di tengahnya, sebuah panggung kayu sedang didirikan. Untuk Hojun berpidato, pikirku. Di sekeliling halaman, barisan kursi untuk tamu dan tetua.

"Titik-titik strategis," gumamku.

"Apa, Tuan?"

Aku menunjuk. "Lihat. Di bawah panggung—pasti ada ruang kosong. Kita bisa selipkan wadah di sana. Di belakang kursi tamu—mungkin di balik tirai atau pot bunga. Di dekat pintu masuk—kolom-kolom kayu itu. Kalau bom meledak di dekat kolom, bisa runtuh."

Hyun Moo mengangguk-angguk. "Tapi bagaimana cara memasangnya? Penjagaan ketat."

"Itu tugasku nanti malam."

Hyun Moo menoleh cepat. "Tuan? Maksud Tuan?"

Aku tersenyum tipis. "Kau pikir aku akan diam saja di sini? Aku harus masuk. Melihat langsung. Menentukan posisi yang tepat."

"Tapi itu terlalu berbahaya!"

"Aku tidak akan terlihat. Aku punya rencana."

---

Malam turun dengan cepat.

Dari atas bukit, kami melihat lampu-lampu markas menyala satu per satu. Suara genderang dan seruling terdengar samar—mungkin pesta kecil untuk para tamu yang sudah datang. Hojun pasti sedang bergembira.

Bersenang-senanglah selagi bisa, pikirku.

Sekitar tengah malam, saat bulan berada di puncak, kami turun.

Hyun Moo memakai jubah hitam. Aku juga. Wajah kami ditutup kain. Di punggungku, karung berisi bom terasa berat—tidak hanya secara fisik, tapi juga secara mental.

Ini gila, pikirku. Ini benar-benar gila.

Tapi kakiku terus melangkah.

---

Kami menyusuri pinggiran markas, menjauhi jalan utama. Hyun Moo tahu setiap celah—lubang di pagar bambu, pohon besar yang menaungi area buta penjaga, selokan kering yang membelah halaman belakang.

"Penjaga berganti shift setiap dua jam," bisiknya. "Sekarang mereka baru setengah jam bertugas. Masih waspada. Kita tunggu satu jam lagi."

Kami bersembunyi di balik semak-semak, tidak jauh dari dapur belakang. Bau masakan masih tercium—daging panggang, sayur, rempah-rempah. Perutku keroncongan, tapi kutahan.

Satu jam berlalu seperti setahun.

Saat Hyun Moo memberi isyarat, kami bergerak.

---

Dapur belakang adalah titik paling lemah.

Para juru masak sudah tidur. Hanya tersisa beberapa pelayan yang sibuk membersihkan. Mereka lelah, mengantuk, tidak peduli dengan sekeliling. Kami melewati mereka tanpa suara—Hyun Moo dengan lincahnya, aku dengan hati-hati.

Aula Leluhur berada di depan.

Megah. Tua. Berwibawa.

Di pintu masuk, dua penjaga berdiri dengan pedang terhunus. Mata mereka sayu, tapi tetap waspada.

Hyun Moo menunjuk ke samping—jendela kecil di sisi barat. Kami merayap di sepanjang dinding, memanfaatkan bayangan.

Jendela itu tidak terkunci.

Dengan satu gerakan cepat, Hyun Moo membukanya. Kami masuk.

---

Di dalam, Aula Leluhur terasa dingin dan sunyi.

Lilin-lilin di altar masih menyala, menerangi tablet-tablet leluhur yang berjejer rapi. Di sinilah nama-nama besar Klan Jin diabadikan—termasuk ayah Jin Tae-Kyung. Untuk sesaat, aku berhenti, menatap tablet paling baru.

Maaf, Patriark. Aku tidak bisa memberi hormat dengan cara yang layak. Tapi aku akan selamatkan klan ini. Dengan caraku sendiri.

Hyun Moo menarik lenganku. Waktu tidak banyak.

Kami bergerak cepat.

Pertama: bawah panggung. Panggung kayu di halaman itu ternyata memiliki ruang kosong di bawahnya—cukup untuk menyembunyikan tiga bom ukuran sedang. Kuselipkan wadah-wadah itu di antara penyangga kayu, memastikan tidak terlihat dari luar. Sumbu kuhubungkan ke satu titik, lalu kususun lilin-lilin kecil.

Lilin akan menyala perlahan. Satu lilin tinggi lima sentimeter—waktu bakar sekitar tiga puluh menit. Tapi kami tidak butuh tiga puluh menit. Kami butuh waktu yang tepat.

Aku menghitung mundur.

Upacara dimulai sekitar pukul sembilan pagi. Jika kami menyalakan lilin pukul delapan, maka ledakan akan terjadi sekitar pukul setengah sembilan—saat Hojun sedang berpidato.

Perfect.

Kedua: di belakang kursi tamu. Di sepanjang dinding halaman, ada deretan pot bunga besar. Aku menyelipkan bom di balik pot-pot itu, menyembunyikannya dengan dedaunan.

Ketiga: di dekat pintu masuk. Kolom kayu penyangga atap. Bom terbesar kuselipkan di celah antara kolom dan dinding. Kalau ini meledak, atap teras bisa runtuh. Kekacauan maksimal.

Empat: cadangan. Satu bom kutanam di dekat altar leluhur. Bukan untuk merusak—aku tidak ingin menghancurkan tempat suci ini. Tapi untuk jaga-jaga, kalau Hojun lari ke dalam.

Selesai.

Keringat membasahi punggungku. Tanganku gemetar—bukan karena takut, tapi karena adrenalin.

"Tuan, waktunya habis," bisik Hyun Moo. "Penjaga akan lewat sebentar lagi."

Kami keluar melalui jendela yang sama. Tidak ada yang melihat.

---

Kembali ke bukit kecil.

Dari sini, markas klan terlihat seperti lautan lampu yang tenang. Tidak ada yang tahu apa yang tersembunyi di balik kegelapan malam.

Aku duduk di tanah, menarik napas panjang-panjang. Detak jantungku mulai melambat.

"Tuan," suara Hyun Moo pelan. "Kau hebat. Aku tidak menyangka Tuan bisa melakukannya."

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap markas itu.

Di dalam Aula Leluhur, di bawah panggung, di balik pot bunga, di celah kolom, bom-bom itu menunggu. Lilin-lilin kecil menyala pelan, sumbu-sumbu mengering, mesiu diam membisu.

Dan besok pagi, mereka akan berbicara.

---

Kami menghabiskan sisa malam di bukit itu. Tidak tidur. Hanya diam, menunggu fajar.

Saat langit mulai memucat, Hyun Moo bertanya, "Tuan, apa yang akan Tuan lakukan setelah ini? Setelah Hojun jatuh?"

Pertanyaan itu menghentakku.

Setelah ini.

Aku tidak berpikir sejauh itu. Selama ini pikiranku hanya terfokus pada satu tujuan: bertahan hidup, melawan Hojun. Tapi setelah itu?

"Aku tidak tahu," jawabku jujur. "Mungkin... membangun kembali klan. Mungkin... membuat lebih banyak mesiu."

Hyun Moo tersenyum. "Itu sudah lebih dari cukup, Tuan."

Aku menatapnya. "Kau tidak takut? Dengan apa yang kita lakukan?"

Pria tua itu diam sejenak. Lalu dia berkata, "Aku takut, Tuan. Tapi rasa takut itu tidak sebesar keyakinanku pada Tuan."

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku diam.

---

Matahari terbit.

Dari atas bukit, kami melihat orang-orang mulai berdatangan ke Aula Leluhur. Para pendekar berjajar. Para pelayan sibuk. Para tamu mulai mengambil tempat duduk.

Dan di tengah semua itu, seorang pria berjubah mewah melangkah ke panggung.

Jin Hojun.

Dari jarak ini, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi posturnya tegap, percaya diri. Dia melambaikan tangan pada para pendekar yang menyambutnya.

Tersenyumlah selagi bisa, pikirku.

Hyun Moo menatapku. "Tuan, waktunya."

Aku mengangguk. "Kau siap?"

"Siap."

"Kalau kau mati di sana..."

"Aku tidak akan mati, Tuan. Aku belum melihat Tuan menjadi Patriark."

Dia tersenyum. Lalu dia melompat, turun dari bukit, menghilang di antara pepohonan.

Aku sendirian.

---

Di bawah, upacara dimulai.

Genderang berbunyi. Seruling mengalun. Para tetua memberi sambutan. Aku terlalu jauh untuk mendengar kata-katanya, tapi aku bisa melihat gerak-gerik mereka. Hormat. Tunduk. Patuh pada pemimpin baru.

Jin Hojun berdiri di atas panggung, tangan terangkat, memberi pidato.

Sekarang.

Di dalam pikiranku, aku menghitung.

Lilin-lilin itu kususun dengan tinggi yang berbeda. Yang di bawah panggung—paling pendek. Yang di belakang kursi—sedang. Yang di dekat kolom—paling panjang.

Ledakan pertama harus datang dari bawah panggung. Tepat saat Hojun berbicara.

Aku menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Apakah sumbunya mati? Apakah lilinnya jatuh? Apakah...

DUAR!

Ledakan pertama mengguncang pagi.

Dari atas bukit, kulihat asap putih membumbung dari bawah panggung. Panggung itu oleng. Orang-orang berteriak. Jin Hojun jatuh, tersungkur.

Dan sebelum mereka sempat bereaksi—

DUAR! DUAR! DUAR!

Ledakan kedua, ketiga, keempat.

Dari belakang kursi tamu. Dari dekat pintu masuk. Asap di mana-mana. Pecahan besi beterbangan. Teriakan makin keras.

Aku melihat kolom di pintu masuk oleng. Perlahan. Lalu—

KRAAKK!

Atap teras runtuh. Menimbun mereka yang berlari ke pintu.

Kekacauan.

Kekacauan total.

---

Dari tengah asap dan teriakan, sesosok bayangan hitam melesat.

Hyun Moo.

Dia bergerak seperti angin. Pedangnya menyala—bukan api, tapi Qi. Dalam kekacauan itu, tidak ada yang melihatnya. Tidak ada yang bisa menghadang.

Arahnya satu: panggung yang hancur. Jin Hojun.

Aku menahan napas.

Hyun Moo mencapai panggung. Pedangnya berayun. Hojun—yang baru bangkit dari jatuhnya—hanya bisa mengelak. Tapi dia terlambat.

Sabetan pertama mengenai bahunya. Darah muncrat.

Jeritan Hojun terdengar bahkan sampai ke atas bukit.

Tapi Hyun Moo tidak membunuhnya. Sesuai rencana. Dia hanya melukai, membuatnya terlihat lemah. Lalu dia mundur, menghilang dalam asap dan kekacauan.

Semua terjadi dalam hitungan detik.

---

Aku duduk di atas bukit, menatap pemandangan di bawah.

Asap mulai menipis. Teriakan mereda menjadi isak tangis dan erangan. Para pendekar berlarian kacau, tidak tahu harus berbuat apa. Pemimpin mereka terluka. Musuh tidak terlihat. Kekuatan yang menghancurkan upacara itu—dari mana asalnya?

Di tengah semua itu, aku tersenyum.

Bukan senyum kejam. Bukan senyum puas. Tapi senyum lega.

Rencana gila ini berhasil.

Tapi ini baru awal.

---

[Bersambung ke Bab 6]

1
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!