Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Fajar Baru Elgar dan Wijaya
Tiga minggu setelah malam berdarah di dermaga, Jakarta dikejutkan oleh sebuah undangan eksklusif yang dikirimkan ke seluruh taipan bisnis dan media papan atas. Grand Ballroom Elgar Tower didekorasi dengan kemegahan yang tenang namun mengintimidasi. Bukan sekadar pesta, malam ini adalah proklamasi kekuatan baru.
Di balik panggung, Lyra berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun sutra berwarna emerald yang membuatnya tampak sangat berwibawa. Di sampingnya, Hana duduk di kursi roda perak. Wajah Hana kini jauh lebih segar; binar matanya telah kembali meski ada guratan kesedihan yang tak akan pernah hilang sepenuhnya.
"Ibu, kau siap?" bisik Lyra, menggenggam tangan Hana.
Hana mengangguk, senyumnya tipis namun tulus. "Gunawan sudah memberikan nyawanya untuk momen ini, Lyra. Aku harus kuat untuk menyaksikan putrimu mengambil apa yang seharusnya menjadi haknya."
Pintu ruangan terbuka, dan Sean masuk dengan setelan jas hitam yang dijahit sempurna. Lengan kirinya yang tertembak masih menggunakan penyangga tipis di balik jasnya, namun aura dominannya sama sekali tidak berkurang. Ia berjalan mendekat dan langsung mengecup kening Lyra di depan Hana, tanpa rasa canggung sedikit pun.
"Dunia sudah menunggu, Nyonya Elgar," ujar Sean, suaranya rendah dan penuh kebanggaan. "Dan Kakakmu... dia sudah siap menghancurkan harga diri mereka yang meragukannya."
Lampu ballroom meredup, dan sorotan lampu fokus ke atas podium. Edward Elgar melangkah maju dengan langkah yang kini jauh lebih mantap. Di barisan depan, Kirana duduk dengan anggun, matanya berkaca-kaca menatap pria yang dulu meninggalkannya karena wasiat palsu.
"Malam ini, saya tidak berdiri di sini hanya sebagai CEO Elgar Group," suara Edward bergema lewat pengeras suara. "Saya berdiri sebagai seorang ayah yang ingin menebus kesalahan terbesar dalam hidupnya. Selama tiga puluh tahun, kebenaran telah dikubur oleh manipulasi. Namun hari ini, saya ingin memperkenalkan putra kandung saya, pewaris sah darah Elgar yang selama ini terpisah dari saya."
Pintu besar di ujung aula terbuka. Arsen melangkah masuk. Ia tidak lagi mengenakan jaket detektif yang usang. Ia mengenakan setelan jas navy yang membuatnya tampak seperti replika sempurna dari Edward di masa muda, namun dengan sorot mata yang jauh lebih tajam dan berbahaya.
Bisik-bisik riuh memenuhi ruangan. Arsen berjalan melewati barisan pengusaha yang dulu menghinanya di Singapura, tanpa menoleh sedikit pun. Ia berdiri di samping Edward, menjabat tangan ayahnya—sebuah simbol rekonsiliasi yang disaksikan oleh seluruh negeri.
"Namaku Arsen Elgar," ujar Arsen singkat di depan mikrofon, suaranya dingin dan menusuk. "Aku tidak di sini untuk meminta tempat, aku di sini untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik ibuku, Kirana. Dan untuk memastikan bahwa mulai hari ini, tidak ada lagi manipulasi yang bisa menyentuh keluarga ini."
Sean yang berdiri di pinggir panggung tersenyum miring. Ia tahu, dengan adanya Arsen, kekuatan Elgar Group akan menjadi tak terkalahkan, meski ia tetap harus waspada pada pengaruh kakaknya yang juga sangat protektif pada Lyra.
Setelah pengenalan Arsen, suasana kembali tegang saat pengacara keluarga Wijaya naik ke atas panggung. Ia membawa berkas asli yang telah diverifikasi ulang setelah kematian Gunawan.
"Berdasarkan wasiat terakhir Tuan Gunawan Wijaya yang telah disahkan secara hukum, seluruh aset Wijaya Group, termasuk saham pengendali dan properti internasional, secara resmi dialihkan kepada putri kandungnya, Lyra Graceva Wijaya," umum sang pengacara.
Lyra melangkah maju ke podium. Ia bukan lagi sekretaris yang ragu-ragu. Ia adalah pemilik tunggal kerajaan bisnis Wijaya. Saat ia berbicara tentang visinya untuk membersihkan nama Wijaya dari "Proyek Hitam" Martha dan Vasco, seluruh tamu terpaku.
Sean mendekat, berdiri tepat di belakang Lyra, meletakkan tangannya di pinggang Lyra secara posesif di depan puluhan kamera jurnalis. Ia ingin seluruh dunia tahu bahwa wanita paling berkuasa di ruangan itu adalah miliknya.
"Apapun yang istriku putuskan, Elgar Group akan memberikan dukungan penuh," ujar Sean tegas, matanya menatap tajam ke arah kamera seolah memberi peringatan pada siapa pun yang berniat jahat.
Acara tersebut berakhir dengan kesuksesan besar, namun di sebuah sudut gelap gedung seberang, sebuah bayangan terus memantau lewat layar televisi kecil di dalam mobil.
Celia mencengkeram layar televisi itu hingga retak. Ia melihat Lyra dan Sean berpelukan di layar. Ia melihat Hana yang tersenyum. Ia melihat Arsen yang kini menjadi pangeran Elgar.
"Kalian merayakan kemenangan di atas penderitaanku," gumam Celia dengan suara parau. Ia menyuntikkan sesuatu ke lengannya sendiri, matanya memerah karena amarah dan efek zat kimia yang ia konsumsi. "Nikmatilah fajar kalian, karena sebentar lagi aku akan memastikan matahari kalian terbenam selamanya dalam darah."
Celia menyalakan mesin mobilnya, perlahan menghilang ke dalam kegelapan malam, membawa rencana terakhir yang jauh lebih nekat dari apa pun yang pernah dilakukan Martha atau Vasco. Baginya, jika ia tidak bisa menjadi bagian dari kemegahan itu, maka ia akan membakarnya hingga menjadi abu.
mungkin dia salah karna terlalu protektif tapi lihat lah sekarang kalian bisa bebas seauai keinginan kalian dari belenggu Sean dengan dia mengorbankan lagi nyawanya sendiri.🤦♀️
tinggal menunggu gimana tuh nasih siluman sama demit ntar setelah apa yang akan pak Gunawan lakukan setelah tau keburukan istri dan anaknya.
pantes angkuh dan kayak benci banget sama Lyra waktu di kantor... tingkahnya sombong kayak emak bapaknya kali.🤭🤭
cukup beri kepercayaan sama Lyra semoga dia bisa jaga diri dan kepercayaanmu dan kamu coba sedikit merubah sifat over protektifmu.
ternyata tebak²an buah manggisku salah.😄😄😄