Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Bayangan di Balik Jendela
Malam semakin larut di Jakarta, namun lampu-lampu di koridor rumah sakit tetap menyala terang, memantulkan bayangan orang-orang yang lelah berjuang melawan takdir. Sean masih mendekap Lyra di depan ruang rawat Hana, memberikan kehangatan yang dibutuhkan istrinya di tengah dinginnya kenyataan bahwa Gunawan telah tiada.
"Ayo kita pulang, Lyra. Biarkan Arsen dan tim keamananku yang menjaga Ibu Hana di sini," bisik Sean, suaranya parau namun penuh otoritas yang menenangkan.
Lyra mengangguk lemah. Ia menoleh ke arah Arsen yang sedang berbicara serius dengan Edward di ujung koridor. Ada sedikit rasa lega melihat Arsen akhirnya mau membuka diri pada ayahnya, meski luka tiga puluh tahun tidak akan sembuh dalam semalam.
"Jaga Ibu, Arsen," ujar Lyra saat mereka berpapasan di lift.
Arsen memberikan anggukan singkat. "Dia aman bersamaku. Pergilah, kau butuh istirahat sebelum mengurus pemakaman Gunawan besok."
Saat pintu lift tertutup, Sean menarik Lyra ke dalam pelukannya lagi, mengabaikan rasa perih pada luka tembak di lengannya. Ia tidak peduli pada rasa sakit fisik; baginya, melihat Lyra hancur secara emosional jauh lebih menyiksa.
Di luar gedung rumah sakit, di bawah keremangan lampu jalan dan rintik hujan yang belum sepenuhnya reda, sebuah mobil tua terparkir di sudut gelap area parkir. Di dalam mobil itu, seorang wanita duduk dengan napas memburu. Wajahnya yang dulu cantik dan terawat kini tampak kusam, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menunjukkan bahwa ia tidak tidur selama berhari-hari.
Itu adalah Celia.
Ia memegang sepasang teropong, matanya tertuju pada pintu keluar lobi rumah sakit. Saat ia melihat Sean keluar sambil merangkul pinggang Lyra dengan sangat protektif, jemari Celia mencengkeram kemudi hingga kuku-kukunya memutih.
"Kau pikir kau sudah menang, Lyra?" desis Celia, suaranya penuh dengan racun kebencian. "Kau pikir setelah Vasco gagal, kau bisa hidup bahagia dengan Sean-ku?"
Celia tertawa kecil, tawa yang terdengar tidak waras di tengah kesunyian mobil. Ia berhasil kabur tepat sebelum polisi menggerebek kediaman rahasia Martha beberapa hari lalu. Sejak saat itu, ia hidup berpindah-pindah, menggunakan sisa uang tunai yang ia simpan secara sembunyi-sembunyi.
Bagi Celia, kehilangan Sean adalah kehilangan segalanya. Melihat Sean memperlakukan Lyra seperti permata yang paling berharga—hal yang tidak pernah Sean lakukan padanya meski mereka sudah bertunangan—membuat kewarasan Celia berada di ujung tanduk.
"Kau merebut posisiku, kau merebut kekayaanku, dan kau membuat Martha membusuk di penjara," gumam Celia sambil menatap layar ponselnya. Di sana terpampang foto Lyra yang diambilnya secara diam-diam. "Jika aku tidak bisa memiliki Sean, maka tidak akan ada satu orang pun yang boleh memilikinya. Terutama bukan anak haram dari Hana Wijaya sepertimu."
Celia melihat mobil SUV hitam Sean melaju pergi meninggalkan area rumah sakit. Ia tidak langsung mengikuti. Ia tahu Sean sangat waspada. Namun, ia sudah tahu ke mana mereka akan pergi—kembali ke penthouse yang menjadi saksi bisu awal mula pernikahan kontrak mereka.
Celia merogoh laci dashboard mobilnya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening dan sebuah alat suntik. Senyumnya melebar, sebuah senyum yang penuh dengan kegilaan murni.
"Darah Elgar dan Wijaya sudah terlalu banyak tumpah hari ini," Celia berbisik pada dirinya sendiri. "Sedikit lagi tidak akan membuat perbedaan, bukan? Aku akan memastikan pernikahan ini berakhir dengan sebuah tragedi yang jauh lebih indah daripada kematian Gunawan."
Di dalam mobil, Sean tiba-tiba merasa gelisah. Ia melirik ke kaca spion tengah berkali-kali, namun tidak ada tanda-tanda pengejaran. Instingnya sebagai seorang Elgar yang selalu dikelilingi bahaya memberitahunya bahwa ada mata yang sedang mengintai mereka.
"Ada apa, Sean?" tanya Lyra, menyadari kegelisahan suaminya.
Sean meraih tangan Lyra dan mencium punggung tangannya, mencoba menghilangkan kecemasannya sendiri. "Tidak ada. Hanya lelah. Begitu sampai di rumah, aku ingin kau langsung tidur. Jangan pikirkan apa pun, serahkan sisanya padaku."
Lyra tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya di bahu Sean. Ia merasa aman, tanpa menyadari bahwa di balik kegelapan malam Jakarta, seorang wanita yang sudah kehilangan segalanya sedang merancang skenario maut yang akan menguji batas cinta dan pengorbanan mereka sekali lagi.
Badai yang dibawa Vasco mungkin sudah berlalu, namun sisa-sisa dendam Celia baru saja akan meledak menjadi api yang siap membakar apa pun yang ada di depannya.
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...