Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 SEBUAH SYARAT
Taman belakang rumah sore itu terasa teduh. Pohon mangga tua berdiri kokoh di sudut, daunnya bergoyang pelan tertiup angin. Rumput hijau yang terawat memantulkan cahaya matahari senja, sementara bangku kayu panjang di bawah pohon menjadi saksi dua orang yang duduk saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat, namun tetap menyisakan batas yang terasa jelas.
Khay duduk dengan posisi santai, kedua kakinya sedikit menyamping. Di tangannya, sebuah gelas bening berisi jus jeruk yang masih dingin. Ia mengaduknya perlahan dengan sedotan, sesekali menyeruput sambil menatap langit yang mulai berwarna jingga. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya hidup ceria, berani, dan penuh kejujuran.
Di hadapannya, Revan duduk tegak. Punggungnya lurus, tangannya bertumpu di lutut. Ia mengenakan kemeja polos berwarna gelap, lengan digulung rapi. Wajahnya tetap datar, seperti biasa, namun ada sesuatu yang berbeda sore itu ia tampak lebih waspada, lebih hadir.
Hening menggantung cukup lama. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang penuh pikir.
Revan akhirnya membuka suara.
“Khayla,” ucapnya pelan, suaranya rendah dan tenang.
Khay menoleh, senyum kecil mengembang di bibirnya. “Iya?”
Revan menatapnya lurus. Tidak berusaha terlihat ramah, tidak pula dingin. Hanya jujur. “Aku ingin bertanya… dan aku harap kamu menjawab dengan jujur.”
Khay terkekeh kecil. “Sejak tadi juga aku jujur, kok. Tanya saja.”
Revan menghela napas singkat. “Kenapa kamu menerima perjodohan ini?”
Khay menghentikan gerakan tangannya. Sedotan berhenti berputar. Ia tidak langsung menjawab, tapi juga tidak terlihat ragu. Ia hanya menatap Revan balik tanpa menunduk, tanpa menghindar. “Karena Ayahku,” jawabnya lugas.
Revan sedikit terkejut. Alisnya terangkat tipis. “Hanya itu?”
Khay menggeleng pelan. “Bukan hanya itu.” Ia bersandar sedikit ke bangku, lalu melanjutkan dengan nada ringan, khas dirinya. “Aku baru saja belajar satu hal penting. Tentang memilih. Tentang memperjuangkan. Dan tentang tahu kapan harus berhenti.”
Revan menyimak, matanya tidak lepas dari wajah Khay.
“Aku pernah punya pacar,” lanjut Khay santai. “Selama setahun. Tapi ketika aku diminta memilih antara dia dan orang tuaku… dia bahkan tidak berdiri di sisiku.”
Revan terdiam.
“Kamu tahu?” Khay tersenyum kecil, namun sorot matanya tegas. “Saat itu aku sadar. Aku tidak butuh pria yang hanya bisa berjanji. Aku butuh pria yang mengerti arti tanggung jawab.” Ia mengangkat gelas jusnya, menyeruput sedikit. “Dan jujur saja, Mas Revan_”
Revan sedikit menegang saat namanya disebut.
“...kamu mungkin dingin, irit bicara, dan kelihatan galak,” lanjut Khay dengan senyum nakal. “Tapi dari caramu duduk saja aku tahu… kamu tipe orang yang tidak main-main dengan hidup.”
Itu membuat Revan terdiam lebih lama.
“Kamu tidak memaksaku,” sambung Khay. “Tidak merayuku. Tidak menjanjikan apa-apa. Kamu hanya datang… dan siap bertanggung jawab. Itu sudah cukup bagiku untuk memberi kesempatan.”
Revan menelan ludah. Ia tidak menyangka jawaban itu akan datang sejelas dan setegas ini. “Jadi,” ucapnya pelan, “bukan karena kamu mencintaiku.”
Khay tertawa kecil. “Belum.” Kejujurannya membuat udara terasa lebih ringan. “Dan mungkin tidak akan langsung,” lanjut Khay. “Aku tidak mau berbohong. Aku tidak romantis soal perjodohan. Tapi aku berani mencoba.”
Revan mengangguk pelan. “Aku menghargai itu.”
Hening kembali menyapa. Kali ini lebih hangat.
Beberapa detik kemudian, Khay menghela napas panjang. Ia menegakkan punggungnya, seolah sedang mempersiapkan sesuatu yang penting. “Aku juga ingin mengajukan satu syarat,” ucapnya tiba-tiba.
Revan langsung fokus. “Apa itu?”
Khay menatap ke arah taman, lalu kembali menatap Revan dengan sorot mata mantap. “Setelah menikah nanti… aku ingin kita tetap hidup terpisah.”
Revan terdiam.
“Bukan cerai,” Khay cepat menambahkan sambil mengangkat telapak tangan. “Tapi tinggal terpisah.”
Wajah Revan tetap tenang, tapi jelas ia sedang mencerna.
“Aku tidak ingin menjadi bahan gunjingan,” lanjut Khay tanpa ragu. “Aku masih kuliah. Aku anak kampung. Kamu pengusaha. Usia kita terpaut jauh. Orang-orang akan berbicara dan aku tidak mau hidupku diwarnai bisik-bisik.”
Revan menatapnya dalam-dalam.
“Aku ingin menjalani semuanya pelan-pelan,” kata Khay. “Tanpa sorotan. Tanpa pamer. Tanpa tekanan.”
Ia tersenyum kecil. “Lagipula, aku juga tidak mau kamu merasa terikat dengan seseorang yang belum benar-benar kamu kenal.”
Revan terdiam cukup lama. Angin berhembus pelan, menggerakkan daun-daun di atas mereka.
“Kamu berani,” ucap Revan akhirnya.
Khay mengedikkan bahu. “Aku hanya tahu apa yang aku mau.”
Revan mengangguk pelan. “Aku mengerti.”
Khay menatapnya, sedikit terkejut. “Benarkah?”
“Ya,” jawab Revan singkat. “Aku setuju.”
Khay membelalakkan mata. “Serius?”
“Serius,” ulang Revan. “Bagaimana pun, aku paham kenapa kamu tidak ingin mempublikasikan hubungan ini. Dan aku tidak ingin kamu merasa tertekan karena status istri.”
Ia menatap Khay dengan tatapan lurus. “Tapi ada syarat dariku.”
Khay menyeringai. “Nah, ini baru adil. Apa?”
“Kejujuran,” jawab Revan tegas. “Apa pun yang kamu rasakan, katakan. Jangan memendam. Aku tidak pandai membaca perasaan.”
Khay tertawa kecil. “Deal.”
“Dan satu lagi,” lanjut Revan. “Kita tetap saling menghormati. Meski terpisah, kamu tetap istriku. Dan aku akan menjaga namamu.”
Khay terdiam sejenak. Ada sesuatu yang hangat menyusup ke dadanya. “Aku suka itu,” ucapnya pelan.
“Terima kasih.”
Revan mengangguk. “Sama-sama.”
Mereka kembali terdiam. Namun kali ini, tidak ada jarak yang terasa canggung. Justru ada kesepahaman yang tumbuh pelan bukan karena cinta, tapi karena saling menghargai.
Khay bangkit berdiri, merentangkan tangan lagi, kali ini tanpa malu. “Yah, hari ini melelahkan juga ya.”
Revan ikut berdiri. “Cukup.”
Khay menoleh ke arahnya dengan senyum cerah. “Mas Revan.”
“Ya?”
“Mulai sekarang,” ucap Khay ringan, “kita bukan orang asing lagi.”
Revan menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Benar.”
Di bawah langit senja, di taman belakang rumah yang sederhana itu, dua orang yang dipertemukan oleh perjodohan membuat kesepakatan pertama mereka bukan tentang cinta, melainkan tentang pengertian.