Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 17
"Ini ..." sebuah tangan yang kokoh memberikan air mineral kepada Ayana dengan cepat, melihat hal itu semua orang menoleh.
Ayana terpaksa mengambil minuman itu sedangkan Mami Tanisa menepuk-nepuk punggung Ayana panik.
"Sudah lebih baik, Ayana?" tanyanya sedikit khawatir.
"ck! Kamu siapa hah? Kenapa Sok dekat sekali seperti itu?", kesal Gavin yang sedari tadi hanya bisa diam melihat hal itu. Dia juga tak tahu harus berbuat apa.
"Saya Reiner, teman sekolah Ayana dulu saat sekolah menengah atas. Aku tak mengira bisa bertemu dengan kamu di sini, Aya!" jawab pria bernama Reiner itu.
Pria itu cukup tampan bahkan sangat tampan, apalagi dia juga terlihat sangat perhatian kepada Ayana. Apa mereka sangat dekat? Kenapa wajah Ayana juga malah memerah dan terlihat malu-malu.
"Apa katanya tadi? Dia memanggilnya Aya? Apa sedekat itu hubungan mereka? Atau mungkin dulu mereka memiliki hubungan?" batin Gavin kesal bukan main.
"Kabar baik Reiner. Bukannya kamu ada di luar negri?" tanya Ayana, sedangkan Reiner tanpa di minta malah duduk satu meja dengan mereka.
"Aku baru pulang satu bulan lalu. Aku mencari kontak dan keberadaan kamu. Tapi tak ada satupun teman yang tahu kabar kamu. Kamu sepertinya sengaja menghilang dari radar teman-teman kita dulu. Tapi namanya jodoh kan nggak tahu juga bertemu di sini tanpa di duga," kekeh pria itu sedangkan Gavin rasanya ingin sekali memukul mulut pria itu yang dengan lancarnya mengatan mencari keberadaan Ayana, untuk apa?
"Memangnya ada apa kmu mencari keberadaan istriku?" tanya Gavin sombong.
Ayana melongo mendengar ucapan Gavin kepada Reiner, sedangkan Mami Tanisa mengulum senyum mendengar Gavin mengakui Ayana sebagai istrinya.
"Loh kamu ternyata sudah menikah Aya?" tanya Reiner kembali menatap Ayana di sana.
"ck! Sok dekat sekali kamu memanggil dia dengan sebutan Aya! Memang kalian sedekat apa hah?" kesal Gavin.
"Sejak kapan Aya kamu menikah?" tanya Reiner. Saat Ayana akan menjawab, Gavin lebih dahulu membuka mulut.
"Dua hari yang lalu! Jadi lebih baik kamu jauh-jauh deh! Silahkan pergi, kami masih ingin melanjutkan makan!" jawab Gavin mengusir Reiner.
"Aku pergi dulu Aya! Aku bersyukur melihat kamu dalam keadaan baik-baik saja!" ujar Reiner mengusap kepala Ayana sebelum pergi.
Bukan hanya Ayana yang kaget dengan perlakuan Reiner dengan kilat itu, tetapi Mami Tanisa dan juga Gavin yang lama-lama jadi kesal kepada Reiner.
"Hei! Tanganmu itu loh! Kenapa celamitan sekali usap-usap kepala menantuku!" kesal Mami Tanisa.
"Jaga dia dengan baik kalau tak mau aku merebutnya! Aku tahu kalau kamu tak mencintai Aya kan? Sekali aku melihat kamu menyakitinya, maka aku akan mengambil Ayana selamanya darimu!" bisik Reiner di sebelah Gavin.
"Kurang ajar kau!" desis Gavin.
Kenapa dia harus kesal dan marah kepada Reiner. Dia memang tak mencintai Ayana dan menikah juga karena iseng ingin membuat dia tak mentertawakan dirinya. Tapi melihat perlakuan dan tatapan Reiner yang penuh cinta juga kelembutan kepada Ayana membuatnya merasa kesal.
"Siapa dia sebenarnya? Apa kalian pernah punya hubungan dulu?" tanya Gavin.
"teman," jawab Ayana kembali melanjutkan makan dengan santai tak peduli dengan wajah Gavin yang sudah di tekuk karena kesal. Ayana tahu Gavin kesal karena merasa harga dirinya sebagai pria di usik oleh Reiner.
"ck! Aku yakin kamu bohong! Dia saja manggil kamu Aya! Dekat sekali rupanya!" jawab Gavin masih belum puas dengan jawaban Ayana.
"Kenapa memangnya? Kalau Ayana punya pria yang mengaguminya? Wajar saja banyak pria yang mengejar Ayana, karena selain Dia cerdas, Ayana juga sangat cantik! Kalau disandingkan dengan Reiner juga cocok sih! Cantik dan tampan!" Mami Tanisa malah sengaja memancing emosi dari Gavin.
Mami Tanisa ingin tahu walaupun mereka menikah baru dua hari, tapi kedekatan mereka sudah berlangsung lebih dari tiga bulan. Setidaknya mereka sudah mengenal sifat satu sama lain, jadi seharusnya tidak ada masalah saat mereka hidup bersama dalam satu atap dan menjalani hidup rumah tangga. Walau Mami Tanisa sadar jika anaknya masih terlalu mencintai wanita yang sudah menipunya mentah-mentah. Entah bagaimana dia harus membuka mata dan hati anaknya yang sudah tertutup oleh tipu daya Vania dan keluarganya.
"Ya sudah nikah saja sana sama si Reiner!" kesal Gavin dan pergi dari sana.
"Idih, ngambek!" ujar mami Tanisa sedangkan Ayana tak menggubris perseteruan keduanya. Pikirannya masih memikirkan banyak hal yang lebih penting dari sekedar kelakuan kekanakan Gavin. Dia memiliki tugas yang si berikan Ren kemarin. Agak Sulit dengan tugasnya kali ini. karena orang itu bukanlah orang sembarangan.
"Mami, apa masih mau berbelanja? Atau mau pulang?" tanya Ayana.
"Kita pulang saja, barang bawaan kita banyak!" jawab Mami Tanisa. Ayana mengangguk dan mengambil semua paperbag belanjaan mereka yang banyak. Dia juga tak mengizinkan Mami Tanisa untuk membawa satupun. Ayana menghargai Mami Tanisa selain sebagai ibu mertuanya saat ini.
"Kita naik taxi saja, Mi," ujar Ayana saat mami Tanisa akan menghubungi seseorang di sebrang sana.
"Baiklah kalau begitu!" jawab Mami Tanisa.
sreeeeettttt.
Semua barang belanjaan yang di bawa oleh Ayana di ambil oleh Gavin tanpa banyak bicara dan memasukkan ke dalam mobilnya. Hal itu membuat Ayana dan Mami Tanisa saling pandang heran. Bukannya dia tadi ngambek dan pulang duluan? Kenapa masih ada dia sini?
"Mau pada pulang nggak!" tanya Gavin di dekat mobil.
"Kalau kamu galak-galak pada ibumu seperti itu lebih baik kami naik Taxi saja! Mulutmu itu ke orang tua belajar sekali-kali menurunkan nada bicaramu!" omel Ayana.
"ck! Gitu aja di permasalahkan! Kalian mau pulang sekarang atau mau kembali ke dalam mall?" tanya Gavin menurunkan nada bicaranya.
"Udah nggak mood!" jawab Mami Tanisa menarik tangan Ayana dan masuk ke kursi belakang.
Padahal Gavin sudah membuka pintu sebelah kemudian untuk ibunya. Astaga, dia kembali menjadi sopir mereka berdua. Bahkan paperbag Yanga da di kursi belakang sudah di pindah ke depan. Gavin kalah oleh dua wanita ras terkuat di bumi ini. Gavin hanya menghela napas panjang dan duduk di belakang kemudi.