NovelToon NovelToon
Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Genderang Perang di Puncak Awan

​Pegunungan Berkabut Utara selalu diselimuti keheningan yang sakral. Ribuan anak tangga batu giok membentang membelah awan, menuju gerbang agung Sekte Pedang Awan. Selama ratusan tahun, tempat ini tidak pernah tersentuh oleh hiruk-pikuk dan kotoran dunia fana.

​Namun hari ini, keheningan itu terkoyak oleh jeritan ketakutan.

​Dua orang tetua dari Keluarga Li Utara merangkak menaiki anak tangga terakhir dengan napas memburu. Tangan mereka gemetar saat menarik sebuah gerobak kayu sederhana. Di atas gerobak itu, terbaring sesosok tubuh yang dibalut jubah abu-abu compang-camping bersimbah darah kering.

​Penjaga gerbang sekte, dua murid bersenjata pedang, segera menghunus senjata mereka. "Berhenti! Manusia fana dilarang menginjakkan kaki di anak tangga suci—"

​Ucapan mereka terhenti saat mengenali wajah mengerikan di atas gerobak itu.

​"K-Kakak Seperguruan Ling Jian?!" salah satu penjaga berseru pucat.

​Kabar itu menyebar lebih cepat dari hembusan angin gunung. Dalam waktu kurang dari setengah jam, aula utama sekte yang biasanya ditutup kini terbuka lebar. Hawa dingin yang mematikan menguar dari dalam, membekukan embun di pilar-pilar batu.

​Penatua Bai berdiri mematung di tengah aula. Wajahnya yang biasa tenang bak air danau kini berkerut oleh amarah yang meledak-ledak. Di lantai di depannya, Ling Jian berbaring tak berdaya. Pemuda jenius itu kini tak ubahnya seonggok daging cacat—mulutnya hancur, Dantian-nya rata dengan tanah, dan tidak ada satu pun untaian Qi yang tersisa di tubuhnya.

​Ling Jian menatap gurunya dengan air mata keputusasaan, mengerang tanpa suara dengan mulut yang kosong. Tangannya yang gemetar mencelupkan jari ke dalam genangan darahnya sendiri, lalu menuliskan beberapa kata di atas lantai marmer putih.

​Pembangunan Fondasi. Monster. Dia menantang Sekte.

​Di bawah tulisan itu, Ling Jian menuliskan pesan terakhir Arya dengan garis darah yang putus-putus: Jika turun gunung... akan meratakan sekte hingga tak tersisa debu.

​BAM!

​Penatua Bai menghentakkan tongkat kayunya. Gelombang kejut dari energi spiritual tingkat puncak Kondensasi Qi meledak, menghancurkan kursi-kursi kayu jati di sekeliling aula menjadi serpihan. Dua tetua Keluarga Li yang mengantarkan Ling Jian ikut terhempas dan memuntahkan darah, pingsan seketika.

​"Kesombongan yang melewati batas langit!" raung Penatua Bai, suaranya bergema menggetarkan puncak gunung. "Seorang kultivator liar dari dunia fana berani menghancurkan muridku dan mengancam Sekte Pedang Awan? Ranah Pembangunan Fondasi? Cih! Bahkan jika dia adalah naga dari surga, dia harus menundukkan kepalanya saat berada di wilayahku!"

​Dari balik tirai di ujung aula, sebuah suara tua dan serak terdengar lambat namun memuat tekanan yang jauh lebih mengerikan daripada Penatua Bai.

​"Bai Tua, tenangkan dirimu."

​Seorang lelaki tua berambut putih panjang, mengenakan jubah putih bersulam emas, melangkah keluar. Dia adalah Pemimpin Sekte Pedang Awan, sosok mistis yang dikabarkan telah menembus Ranah Inti Emas setengah langkah.

​Semua orang di aula, termasuk Penatua Bai, langsung berlutut. "Hormat, Pemimpin Sekte!"

​Pemimpin Sekte menatap Ling Jian yang sekarat dengan pandangan datar. "Lawan ini bukan semut biasa. Ia berhasil menyembunyikan auranya dan memiliki kekuatan Pembangunan Fondasi. Jika kita turun gunung satu per satu, kita hanya akan membiarkannya memotong kita sedikit demi sedikit."

​Pemimpin Sekte mengangkat tangannya. Tiga pedang terbang yang memancarkan cahaya merah, biru, dan kuning melayang di belakang punggungnya.

​"Keluarkan Perintah Pembantaian Awan. Panggil kembali lima Penatua Inti yang sedang mengasingkan diri. Tiga hari dari sekarang, kita akan turun gunung bersama-sama. Kita tidak hanya akan membunuh pemuda bernama Arya itu, tetapi kita akan menguras seluruh energi spiritual di wilayah Selatan dan menjadikan Kota Emerald sebagai kuburan massal!"

​Sementara badai kemarahan sedang berkumpul di atas pegunungan, Kota Emerald justru menikmati malam yang tenang.

​Di halaman belakang kediaman Kusuma, di bawah cahaya bulan purnama, Arya duduk bersila di atas rerumputan. Di sekelilingnya, terdapat puluhan kotak kayu berisi batu giok murni berkualitas tinggi yang baru saja dikirimkan oleh Han Shixiong. Harga total batu giok itu mencapai ratusan miliar rupiah, menyapu bersih seluruh persediaan giok kelas satu di negara tersebut.

​Arya mengambil sebongkah giok seukuran kepalan tangan. Ia memfokuskan Qi keemasan di ujung telunjuknya, lalu mulai mengukir Rune Formasi Spiritual di atas permukaan giok yang keras. Serpihan batu berjatuhan seiring ukiran kuno yang rumit mulai menyala redup dari dalam batu.

​"Sekte Pedang Awan pasti tidak akan diam setelah menerima 'bingkisan' dariku," gumam Arya santai.

​Ia tidak pernah meremehkan musuh, betapapun lemahnya mereka di matanya. Mengingat tubuh istrinya dan ayah mertuanya masih fana, satu serangan energi spiritual nyasar dari pertarungan tingkat tinggi bisa berakibat fatal bagi mereka.

​Oleh karena itu, malam ini Arya membangun Formasi Pertahanan Cangkang Kura-Kura Emas Langit. Ini adalah formasi tingkat dewa dari kehidupan sebelumnya. Meskipun ia hanya bisa menggunakan versi paling dasar karena keterbatasan material di Bumi, itu sudah lebih dari cukup untuk menahan serangan beruntun dari kultivator tingkat Inti Emas (Golden Core) sekalipun.

​"Arya?"

​Suara lembut dari arah teras menghentikan gerakan tangannya. Arya menoleh dan melihat Nadia berjalan mendekat. Istrinya mengenakan gaun tidur panjang berbahan sutra, memegang dua cangkir teh kamomil.

​Nadia menatap tumpukan batu giok bercahaya di sekeliling suaminya dengan mata terbelalak. "Apa yang sedang kau lakukan di tengah malam dengan... semua batu berharga ini? Apakah kau beralih profesi menjadi pengrajin perhiasan?"

​Arya terkekeh pelan. Ia menyembunyikan Qi di telunjuknya dan mengambil teh dari tangan Nadia. "Sesuatu seperti itu. Aku sedang merenovasi sistem keamanan rumah kita. Sistem alarm modern terlalu mudah diretas."

​Nadia duduk di sebelah Arya, melipat kakinya. Ia menatap lekat-lekat wajah tenang suaminya dari samping. Entah mengapa, setiap kali berada di dekat Arya, ada perasaan damai yang aneh. Udara di halaman belakang ini terasa jauh lebih segar dan jernih daripada udara di pegunungan Swiss yang pernah ia kunjungi.

​"Kau selalu melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, namun entah mengapa aku tidak bisa meragukanmu lagi," ucap Nadia pelan. Tangannya tanpa sadar meraba kalung giok yang menggantung di lehernya. "Akhir-akhir ini, aku merasa seperti berada di dalam mimpi panjang yang indah. Grup Kusuma aman, ayah sehat, dan kau... kau tidak lagi membiarkan orang lain menginjakmu."

​Arya meletakkan cangkir tehnya. Ia memutar tubuhnya menghadap Nadia.

​"Nadia, dengarkan aku," ucap Arya, nadanya kini sedikit lebih serius. "Dalam beberapa hari ke depan, mungkin akan ada badai kecil di kota ini. Cuaca mungkin akan sedikit... bising. Apa pun yang terjadi, jangan pernah melepas kalung giok itu sedetik pun, dan jangan tinggalkan area rumah ini atau Menara Emerald jika tidak benar-benar mendesak."

​Nadia mengerutkan kening, menangkap kekhawatiran yang disembunyikan dengan rapi di balik suara suaminya. "Badai? Apakah ini tentang keluarga-keluarga di Utara?"

​"Ini tentang sekumpulan orang sombong yang mengira mereka menguasai langit," jawab Arya dengan senyum menenangkan. Ia mengusap puncak kepala Nadia lembut. "Tapi jangan khawatir. Suamimu adalah ahlinya membumikan orang-orang yang terbang terlalu tinggi."

​Malam itu, di bawah langit berbintang, Arya diam-diam menanam kepingan giok terakhir ke dalam tanah di empat penjuru kediaman Kusuma. Begitu giok terakhir tertanam, sebuah kubah energi transparan berkedip sesaat menutupi seluruh area rumah, sebelum akhirnya kembali tak kasat mata.

1
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update nya
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
mlh gx update
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
up thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
up
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Dirman Ha
ih gk
Dirman Ha
hbk
Dirman Ha
hv gb bn
Dirman Ha
jg gb BBM
Dirman Ha
ig di
Dirman Ha
jg CV
Dirman Ha
ih gb np
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!