NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.

Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Sidang Pleno 15 Gadis

Lantai bawah Wisma Lavender malam itu tidak terasa seperti ruang makan, melainkan seperti ruang sidang pengadilan militer. Arka berdiri kaku di ujung meja panjang kayu jati yang bisa menampung dua puluh orang. Di hadapannya, lima belas pasang mata menatapnya dengan intensitas yang berbeda-beda—mulai dari tatapan menyelidik, sinis, hingga ada yang menatapnya seolah ia adalah spesies langka yang baru ditemukan di hutan Amazon.

Di kursi utama, Oma Rosa duduk dengan santai sambil memegang tongsis, mengarahkan kamera ponselnya ke arah Arka. "Ayo, Le, senyum dikit. Ini mumpung penonton live Oma sudah tembus seribu orang. Mereka mau lihat siapa 'Tumbal Lavender' tahun ini."

Arka hanya bisa meringis tipis. "Tumbal", sebuah kata yang sama sekali tidak menenangkan hatinya.

"Diam dulu, Oma. Ini masalah serius," potong Sari sambil mengetukkan pulpennya ke meja. Ia sudah berganti pakaian dengan piyama satin berwarna biru tua, namun kacamata kotak hitamnya tetap bertengger di hidung, memberikan kesan otoriter. "Nama lengkap, umur, jurusan, dan motivasi masuk ke sini. Sekarang."

Arka berdehem, mencoba menghilangkan rasa kering di kerongkongannya. "Nama saya Arka Putra. Dua puluh satu tahun. Mahasiswa Teknik Informatika tingkat akhir. Motivasi saya... yah, jujur saja karena harganya murah dan internetnya kencang."

"Murah itu relatif," sahut Lulu, si mahasiswi Akuntansi, sambil sibuk mencatat sesuatu di buku pengeluaran kecilnya. "Kamu tahu tidak kalau satu orang laki-laki di sini berarti beban listrik akan naik? Kamu pakai laptop berapa watt? Pakai hair dryer tidak? Sering charge HP sampai pagi?"

"Saya nggak pakai hair dryer, Kak," jawab Arka pelan.

"Jangan panggil Kak, panggil nama saja," sela Gendis yang sedang sibuk mengoleskan hand cream beraroma mawar. "Kecuali kalau kamu mau jadi asisten konten aku, baru boleh panggil 'Sultanah'."

"Ehem!" Sari mendehem keras, mengembalikan perhatian ke jalannya sidang. "Lanjut. Kamu tahu kan kalau ini kos putri? Kenapa tetap nekat?"

"Saya nggak tahu awalnya, sumpah," Arka mengangkat dua jarinya membentuk huruf V. "Pas lihat iklan di tiang listrik, nggak ada tulisan 'Khusus Putri'. Pas sampai sini, Oma Rosa langsung suruh tanda tangan kontrak."

Manda, mahasiswi kedokteran yang duduk di sebelah Arka, tiba-tiba menoleh dengan wajah linglung. "Hah? Ini kos putri ya? Kok aku baru sadar?"

Semua penghuni meja menepuk dahi bersamaan. Manda memang dikenal sangat pintar secara akademis tapi seringkali 'tidak ada di bumi' untuk urusan realita sehari-hari.

"Abaikan Manda," ucap Bella tanpa mengalihkan pandangan dari layar Nintendo Switch di tangannya. "Yang penting, dia nggak boleh ganggu bandwidth pas gue lagi push rank. Arka, lu jago benerin PC kan? Kalau iya, lu boleh tinggal."

"Bisa, sedikit-sedikit," jawab Arka.

Satu per satu gadis-gadis itu mulai melontarkan pertanyaan yang semakin absurd. Nia dan Nio, si kembar, bergantian bertanya hal yang sama hanya untuk mengetes apakah Arka bisa membedakan mereka (Arka gagal total). Rara bertanya berapa limit deadlift-nya, sementara Chika bertanya apakah Arka hafal koreografi lagu terbaru NewJeans.

"Cukup!" Sari mengangkat tangannya. Ruangan seketika hening. "Berdasarkan insiden kamar mandi tadi sore, kami sudah berdiskusi. Arka, kamu boleh tinggal di sini dengan masa percobaan satu bulan. Tapi, ada tugas tambahan untukmu sebagai kompensasi 'gangguan visual' yang kamu timbulkan."

"Tugas tambahan?" Arka merasa firasatnya memburuk.

"Kamu adalah 'Penjaga Hati' Wisma Lavender," lanjut Sari dengan nada dramatis. "Artinya: kamu yang angkat galon, kamu yang buang sampah besar ke depan gang, kamu yang hadapi kurir paket yang galak-galak, dan kamu yang jadi tameng kalau ada mantan pacar anak-anak kos yang datang bikin rusuh. Mengerti?"

Arka menoleh ke arah Oma Rosa, berharap ada pembelaan. Namun, Oma Rosa justru sedang asyik membaca komentar di layar ponselnya. "Wah, Arka, ada yang komen di live Oma: 'Masnya sabar banget, mau dong jadi kesetnya'."

Arka menghela napas panjang. Ia menatap piring nasi goreng di depannya yang sudah dingin. Menjadi penengah bagi lima belas perempuan dengan kepribadian yang meluap-luap ternyata jauh lebih melelahkan daripada mengerjakan skripsi.

"Baik, saya setuju," jawab Arka akhirnya.

"Bagus," Sari menutup bindernya dengan suara brak yang mantap. "Sidang selesai. Selamat makan malam, Arka. Jangan lupa cuci piringmu sendiri, dan piring Dira, karena hari ini dia yang masak."

Dira, si jago masak, memberikan tatapan tajam dari ujung meja. "Satu noda lemak tertinggal di piringku, kamu tidur di teras."

Arka hanya bisa mengangguk pasrah. Di tengah riuh rendah suara obrolan para gadis yang kembali normal, Arka mulai menyuap nasi gorengnya. Rasanya enak, sangat enak malah. Mungkin ini adalah kompensasi kecil dari Tuhan atas penderitaan mental yang akan ia lalui selama setahun ke depan.

Ia melirik ke sekeliling meja. Wisma Lavender mungkin memang sarang lebah yang berbahaya, tapi entah kenapa, di tengah kebisingan dan aturan-aturan aneh itu, Arka merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak merantau.

"Internet satu giga, nasi goreng enak, dan dikelilingi cewek-cewek cantik..." Arka bergumam pelan pada dirinya sendiri. "Yah, kalaupun gue mati kena serangan jantung karena dikerjain mereka, kayaknya ini cara mati yang lumayan elit."

Tanpa ia sadari, di balik ponselnya, Oma Rosa tersenyum penuh kemenangan. Konten TikTok-nya malam itu baru saja pecah rekor.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!